Iklan
Penistaan Agama

Logo Minuman Jägermeister Digugat, Dianggap Menistakan Agama Kristen

Pengadilan Swiss menolak gugatan itu, kendati ada yang percaya logo minuman beralkohol tersebut berpotensi menyinggung santo umat Katolik.

oleh Jelisa Castrodale
20 Februari 2020, 11:56am

Ilustrasi botol dan logo ikonik Jägermeister. Foto via Getty Images 

Pengadilan Swiss baru saja mengumumkan putusan penting: logo minuman beralkohol kondang Jägermeister tidak menistakan agama Kristen. Lho, lho, lho... Ada apa ini? Merek ini kan sudah dijual sejak 1935 kok tiba-tiba ada yang mempermasalahkan?

Pemicunya ternyata lembaga Swiss Federal Institute of Intellectual Property yang mengajukan gugatan resmi ke pengadilan. Kelompok swadaya ini, mengaku mewakili konsumen, merasa logo Jägermeister memakai ikonografi khas kepercayaan Katolik secara tidak semestinya untuk produk alkohol dan kaos yang mereka produksi. "Logo tersebut berpotensi menyinggung sebagian iman dan kepercayaan konsumen di Swiss," seperti dikutip dari naskah gugatan resmi mereka.

Kantor berita SWI Swissinfo.ch melaporkan majelis hakim menolak gugatan tersebut sepenuhnya. Logo yang dipakai Jägermeister, kata putusan hakim, "sudah tidak terlalu bernuansa religius."

Jadi apanya yang religius? Apakah simbol salib di atas rusa itu?

Untuk memahami sejarah kelahiran logo Jägermeister, mari kita mengenal cerita kondang dari Abad ke-7, tentang lelaki bernama Hubert. Dia anak bangsawan di kawasan Nuestria, sebelah utara Prancis modern, yang malas ke gereja. Saban hari Minggu, bukannya ikut misa, dia malah asyik berburu merujuk kanon cerita Katolik yang terkenal.

Suatu hari, saat keluarganya beribadah di gereja, seperti biasa Hubert berburu di Hutan Ardennes. Di tengah perjalanan, dia bertemu seekor rusa jantan dengan tanduk amat besar. Mereka saling bertapap mata agak lama.

Mendadak, salib kemilau muncul di antara tanduk rusa tersebut. Binatang itu kemudian berbicara layaknya manusia. "Hubert, jika kau tidak segera bertobat dan kembali pada jalan yang diberkati Tuhan, maka kau sudah pasti akan masuk neraka," kata si Rusa. Hubert ketakutan melihat semua itu, tapi tak langsung bertobat. Baru setelah istrinya meninggal, bertahun-tahun kemudian, dia ingat pada momen ajaib tersebut. Hubert menjual semua hartanya, lalu pindah ke Maastricht—kini di Belanda—lalu banting setir jadi pendeta.

Hubert, juga dikenal dengan nama Hubertus, meninggal pada tahun 728 Masehi. Dia berbuat baik sepanjang akhir hidupnya dan ditahbiskan gereja sebagai santo. Secara spesifik, Hubert adalah santo untuk para pemburu, matematikawan, serta pandai besi.

Di sinilah persinggungan cerita sang santo dengan logo Jägermeister. Gambar rusa dan salib kemilau dianggap menggambarkan proses spiritual sosok orang suci bagi umat Katolik tersebut. Secara harfiah, Jägermeister artinya adalah "ahli berburu" dalam bahasa Jerman. Agak wajar sih jika Jägermeister dianggap memakai ikonografi Santo Hubert.

Namun, dalam pandangan hakim Pengadilan Federal Swiss, tak ada hal yang menistakan agama dari pemakaian logo Jägermeister. Hakim mengakui logo tersebut terinspirasi oleh kisah yang terkenal di kalangan umat Katolik Eropa. "Namun kaitannya dengan motif agama tertentu sudah sangat sedikit," merujuk sikap tertulis majelis hakim.

Dengan begitu, Jägermeister diizinkan tetap memakai logo tersebut untuk pemasaran di Swiss. Logo yang sama juga boleh dipakai untuk semua kegiatan promosi, serta digunakan buat lini produk Jägermeister di luar minuman beralkohol, mulai dari "kosmetik, ponsel, hingga layanan telekomunikasi."

Hoo, jadi Jägermeister juga bikin ponsel? Tidak tertarik menjualnya di pasar selain Eropa nih?

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES

Tagged:
Jägermeister
Katolik
Agama
Minuman Beralkohol
Santo Katolik