Sejarah Musik Singkat

Distorsi Gitar Sebetulnya Tak Sengaja Mengubah Sejarah Musik Modern

Tanpa 'kecelakaan' menghasilkan bunyi distorsi, mustahil lahir genre macam rock, metal, punk, hardcore, sampai noise. Sejarah setara 4 SKS kami mampatkan buat artikel ini.

oleh J.J. Anselmi; Diterjemahkan oleh Yudhistira Agato
18 Desember 2017, 12:15pm

Sumber foto Metallica: Total Guitar Magazine / Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Penemuan distorsi gitar mungkin adalah salah satu ‘kecelakaan’ paling menyenangkan dalam sejarah musik modern. Lahir dari amplifier yang disfungsional, jeritan feedback yang khas telah membentuk fondasi banyak karir musisi (dan genre musik). Mulai dari band doom metal super heavy hingga punk rock yang pemberontak abis hingga musik noise yang bising, distorsi gitar dan ampli adalah jantung bagi beberapa jenis musik paling berpengaruh yang pernah diciptakan.

Mari kita mulai dari awal: amplifier gitar mulai diproduksi secara massal di 1931. Berbentuk kotak kayu kecil berisikan sebuah speaker, ampli 10-watt Electro String terlihat seperti tidak lebih dari aksesoris bagi Frying Pan, gitar elektrik pertama yang diproduksi massal. Selama 16 tahun ke depan, ampli gitar tidak melebihi 10 watt.

Kemudian Leo Fender muncul dengan sebuah bom: Super Amp.

Ampli Fender keluaran 1947 memiliki tenaga 18 watt, menghasilkan suara yang lebih keras. Gitaris di AS lantas tergopoh-gopoh merusaha membeli ampli Super tersebut, dan menemukan bahwa produk tersebut ternyata menawarkan kelebihan lainnya. Ketika volumenya dipolin, amplinya masuk ke ranah overdrive, menyelimuti note gitar dalam distorsi penuh fuzz. Sama seperti banyak kemajuan teknologi lainnya di dunia, distorsi gitar ditemukan secara tidak sengaja.

Sekitar dua tahun sebelumnya, musisi swing Western, Junior Barnard mendesain sebuah pickup humbucker sederhana untuk gitarnya, mengkombinasikan dua pickup untuk menghilangkan bunyi dengung menyebalkan single-coil dan menghasilkan tone yang lebih bulat. Barnard menggenjreng gitar dengan keras, dan kerap sampai senarnya putus. Output yang lebih tinggi dari proto-humbucker ini, dikombinasikan dengan gaya bermain gitar yang lebih kencang mendorong amplinya ke ranah overdrive. Banyak musisi country, Western swing, dan blues sudah lama mencari sound yang lebih kotor, sound yang bisa merepresentasikan ‘kotornya’ musik mereka. Tone sederhana Barnard tiba-tiba menjadi jawabannya.

Ketika kabar menyebar di 1947 bahwa kamu bisa mendapatkan tone gitar Barnard dengan menyetel kencang-kencang Fender Super, semua gitaris keren langsung membeli ampli tersebut. Overdrive lantas menyebar luas bagaikan wabah mematikan. Fender tidak lama kemudian mengembangkan desain Super, dan menaikkan outputnya hingga 50 watt. Banyak perusahaan rival langsung mengikuti langkah ini. Ampli 50 watt menjadi senjata mematikan, mengubah wajah musik saat itu, sama seperti senjata mengubah kondisi perang. Namun teknologi hanya sebaik penggunanya, dan ampli 50 watt tersebut membutuhkan musisi yang bisa membawa namanya menuju puncak.

Tanggung jawab ini diambil oleh gitaris Goree Carter. Lahir di area miskin dan penuh kekerasan Fifth Ward di Houston, AS, Carter mulai memainkan musik blues di umur 12 tahun. Dia ingin musiknya menangkap intensitas pengalaman tumbuh di dalam kota yang sangat rasis. Dengan ampli 50 watt, dia bisa memproyeksikan rasa frustrasi, sakit hati, dan kegembiraan dalam bentuk yang sangat liar. Selain volume ampli yang kencang, Carter menyukai bagaimana tone gitarnya tetap dibalut fuzz ketika volume gitar dikecilkan.

Bekerja keras di penggilingan padi di siang hari, Carter membentuk The Hepcats dan menjadi bintang kancah musik Houston yang kompetitif. Sangat dipengaruhi oleh T-Bone Walker, The Hepcats memainkan versi musik blues yang cepat dan agresif, sama seperti kultur automobil yang sedang melahap Amerika saat itu. Pada 1949, Carter dan bandnya menulis “Rock Awhile,” lagu rekaman pertama yang menampilkan gitar overdrive. Dia menggenjreng dengan presisi mengerikan, menenggelamkan note-note gitarnya dalam distorsi. Semua instrumentasi dalam lagu keren, tapi gitar Carter memotong frekuensi seperti sinar memotong ruang gelap gulita. Mati aja Elvis. Goree Carter harusnya ditahbiskan sebagai raja sejati Rock ‘n’ Roll.

Distorsi Carter memang inovatif, tapi tone fuzz yang kini kita kenal ketika membicarakan distorsi dan overdrive belum muncul hingga 1951, ketika Jackie Brenston dan His Delta Cats merilis “Rocket 88” ke dunia. Kings memiliki nama pesohor sebagai salah satu anggotanya: gitaris Willie Kizart. Biarpun reputasi Ike Turner lebih banyak dikenal orang, seharusnya nama Kizart-lah yang menggema di seantero jagad.

Tidak ada yang tahu bagaimana ampli Kizart rusak sebelum sesi “rocket 88” dimulai. Mungkin saja amplinya jatuh dari atas mobil ke jalanan dalam perjalanan ke studio. Ike bercerita bahwa air hujan telah merembes masuk ke dalam bagasi mobil dan merusak kabel ampli tersebut. Namun pada akhirnya, ini tidak penting. Yang penting adalah sound yang ampli rusak tersebut hasilkan. Kizart tidak menyadari amplinya rusak hingga dia menyalakannya di studio. Dia langsung jatuh cinta dengan soundnya yang kotor. “Rocket 88” memang tidak lebih dari standar lagu boogie yang dimainkan dengan lebih cepat, tapi tone gitar Kizart merupakan sebuah revolusi.

Sebelum mendengarkan “Rocket 88,” bayangkan kamu belum pernah mendengar distorsi fuzz sebelumnya. Bayangkan kamu sedang minum-minum di sebuah bar pada 1951—di daerah South AS, misalnya Nashville, Kansas City, atau Houston. Musik mengandalkan vokal macam Nat King Cole dan Tony Bennett mendominasi gelombang radio. Dalam hits macam “Too Young” dan “Because of You,” instrumentasi adalah kelas kedua, bertugas mengiringi vokal. Tanpa sadar, kamu mulai merasa bosan dengan musik macam ini. Kamu ingin mendengar sesuatu yang baru. Tiba-tiba rasanya seperti seseorang baru menyumpel sesuatu kedalam telingamu. Kamu berjalan ke jukebox, mengira speakernya jebol. Ternyata bunyi gitar Kizart baru saja merasuk ke otak.

Sepuluh tahun kemudian, Grady Martin menggunakan preamp murahan dalam konsol rekaman untuk menciptakan distorsi yang lebih fuzzy untuk lagu Marty Robbins, “Don’t Worry.” Sesungguhnya tembang country yang tidak berbahaya, bunyi distrosi Martin merobek track ini di menit 1:26, menghasilkan tone gitar tebal seperti bunyi kentut penyihir yang kini banyak digunakan band doom dan sludge metal.

Mencoba menciptakan ulang sound kotor Martin, ahli elektronik Orville Rhodes menciptakan pedal fuzz sederhana untuk teman-temannya di band The Ventures. Perusahaan gitar Gibson memanfaatkan ide ini, merilis pedal Fuzz-Tone pada 1962—menjadi ciri khas lagu The Rolling Stones, “(I Can’t Get No) Satisfaction.” Pada 1964, setahun sebelum sound gitar Keith Richard membuat semua orang kagum, Dave Davies dari The Kinks merusak corong speaker di kabinet gitarnya dengan pisau tajam guna mendapatkan sound yang lebih galak. Hasilnya adalah distorsi menonjok di lagu “You Really got Me.” Di saat itu, mendengarkan lagu seperti ini bagaikan mendengarkan Black Sabbath pertama kali sekitar enam tahun kemudian.

Dekade 60-an dan 70-an menjadi kompetisi sengit bagi para pencipta ampli dan pedal distorsi, membuka banyak kesempatan bagi para musisi. Memang dasarnya jenius, Jimi Hendrix membuat fuzz dan reverb menjadi bagian penting dari aksi manggungnya yang rusuh, menggunakan teknologi sebagai instrumen itu sendiri. Deep Purple kemudian mendorong sound ke ranah senjata pada 1972, membuat tiga orang pingsan dengan sound classic rock pada tingkat 117 desibel di Rainbow Theatre, London. Guinness mencetuskan kategori World’s Loudest Band tiga tahun kemudian, memberikan mahkota raja kebisingan kepada Deep Purple.

Motörhead mengikuti jejak ini, menyerang audiens dengan sound. Salah satu band pertama yang menggunakan tone distorsi berat untuk bass, Motörhead mencapai 130 desibel dengan tumpukan ampli dan kabinet di konser 1984 di Cleveland. Sound Motörhead yang luar biasa kencang menyebabkan tumpukan plester atap Variety Theatre copot. Bayangkan seperti apa rasa gendang telinga penonton saat itu. Namun justru kegilaan macam ini yang membuat penggemar semakin menyukai band. Penggemar datang ke konser Motörhead berharap akan digilas oleh sound.

Di gig My Bloody Valentine di akhir 80-an dan awal 90-an, Bilinda Butcher, Kevin Shields dan Debbie Googe kerap memanjangkan bunyi feedback di akhir lagu “You Made Me Realize” menjadi siksaan kebisingan selama 15 menit. Sesuai artikel ditulis Tom Ewing, “hampir semua orang [di konser My Bloody Valentine] berharap meninggalkan acara dengan kuping sakit.”

Nenek moyang musik elektronika Leftfield mencapai 137 desibel di Brixton Academy pada 1996, mencapai rekor baru untuk tingkat volume—satu-satunya grup house/dance yang memegang rekor tersebut. Duo asal Inggris tersebut menenggelamkan audiens mereka dalam ritme yang berdetak tanpa henti dan atmosfir lapisan bunyi nyaring. Sama seperti konser Motörhead di Cleveland, intensitas dari sound Leftfield di Brixton menyebabkan debu dan plaster berjatuhan dari atap.

Sejak momen itu, musisi terus mendorong distorsi dan amplifikasi ke bentuk ekstrem yang lebih jauh. Bagi konsumer dan pencinta volume ekstrem, mendengarkan musik saja sudah tidak cukup. Kita harus bisa merasakan musiknya menggetarkan tulang. Meneruskan warisan musisi pencinta noise macam Whitehouse, SPK, dan Merzbow, komposer musik elektronik kontemporer Tim Hecker menjelaskan proses menulisnya dalam wawancara dengan Resident Advisor sebagai “sebuah pengalaman yang brutal, penuh darah, dan meremukkan tulang.”

Menggunakan sususan ampli dan kabinet yang mematikan, dia memastikan penampilannya akan menyiksa para penonton. Memasukkan elemen amplifikasi peremuk tulang ke dalam dunia hip-hop, Dälek menenggelamkan penontonnya dengan adukan beat, bar penuh tema sosial, dan bebunyian synth yang opresif. Trio asal New Jersey ini sudah pernah berbagi panggung dengan nama besar macam Godflesh dan Isis; mereka baru saja merilis sebuah album baru via label Profound Lore, menegaskan bahwa hip-hop bisa juga memekakkan telinga sama seperti genre lain.

Legenda drone Sunn O))) juga menerapkan penggunaan amplifikasi dan distorsi guna melumpuhkan audiens (dan mereka sendiri) dalam 19 tahun terakhir. Lewat bunyi drone sub-bass tanpa ampun, gitaris Stephen O’Malley dan basis Greg Anderson mengirim para pendengarnya ke dalam ranah kesurupan. Setiap album band ini memang brilian, tapi mendengarkan Sunn O))) di rumah jauh berbeda dengan mengalaminya langsung di depan panggung. Setelah konser Sunn O))) usai pada 2010, saya menyaksikan seorang penggemar muntah di pinggir jalan, di luar Blue Bird Theatre, Denver. Tekanan bertubi-tubi dari amplifikasi band membuatnya tidak enak badan.

Gazelle Amber Valentine, gitaris-vokalis band Jucifer, menggunakan 30 kabinet untuk menciptakan yang dia beri istilah “Three White Wall Ov Death” dan selalu menggunakan format ini selama 24 tahun. Dia dan sang suami, drummer Edgar Livengood, saling bermain dari energi satu sama lain, energi kinetik mereka saling bergaung, memberikan rasa nikmat dan sakit yang silih berganti. Manajer venue kerap mengeluhkan tingkat volume Jucifer yang ngawur (sering mencapai tingkat 140 desibel), tapi penggemar mereka tetap saja menikmati. Merespon berbagai keluhan ini di sebuah wawancara dengan WV Rockscene, Valentine menjawab, “Kami Jucifer. Kami tidak bisa bermain pelan...Kami ingin merasakan dan mendengar tebalnya sound. Dan saya ingin membentuknya, menunggangi feedbacknya.”

Di awal karir duo sludge, The Body, gitaris-vokalis Chip King sering tampil tanpa mikrofon, biarpun dia menggunakan tumpukan kabinet yang sanggup mencapai level volume Jucifer. Di bawah tumpukan distorsi, vokalnya berteriak, memberikan kesan dia sedang dicekik oleh amplifikasinya sendiri. Seiring teknologi semakin meresap ke dalam eksistensi kita, seniman macam The Body akan terus mengeksplor amplifikasi dan distorsi untuk berkarya.

Amplifikasi ekstrem menangkap ketidakmampuan manusia melawan teknologi, tapi juga menampilkan cara untuk melawan kembali. Tanpa mempedulikan gendang telinga kita, ampli, speaker, dan teknologi distorsi hanya akan terus berkembang seiring musisi terus mencari cara untuk menghasilkan volume yang lebih tinggi. Dalam era di mana banyak ketidakpastian politik dan sosial, ada satu hal yang pasti: masa depan musik sudah pasti akan sangat kencang.

Follow J. J. Anselmi di Twitter, jangan ragu ajak ngobrol soal musik.