Iklan
Opini

Tips Mengidentifikasi Gerakan Komunis Terselubung di Indonesia ala Purnawirawan Militer

Sosok seperti Pak Kivlan Zen, dan belakangan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, membantu masyarakat agar tak terjerumus komunisme. Salah satunya: jangan suka rapat di warung!

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
26 Januari 2019, 8:23am

Kolase foto oleh VICE Staff. Sumber: Foto Ryamizard Ryacudu oleh Darren Whiteside/Reuters; Logo antikomunis via wikimedia commons lisensi cc 2.0

Indonesia masih dihantui gerakan komunis terselubung, kendati partainya sudah masuk kubur dan anak cucunya dihabisi sejak 1966. Pejabat militer berulang kali mengingatkan kita soal bahaya ini. Tentara selalu benar. Di mana dan seperti apa sih wujud orang-orang itu? Apakah teman-teman kantorku komunis? Jangan-jangan mbak yang jaga kosanku komunis juga? Atau salah satu babang ojek online yang pernah mengantarku berideologi kiri? Haduh, lebih sial lagi kalau tanpa kusadari sebetulnya aku ini komunis....

Eits, walaupun sulit diraba, bukan berarti tidak ada. Ingat, kalau pakai akal sehat memikirkan persoalan ini, sama saja kalian menghina—bahkan tidak menghargai—upaya-upaya purnawirawan jenderal yang tak lelah mengingatkan bangsa soal bahaya komunisme.

Misalnya Pak Kivlan Zen, pensiunan jenderal yang membaktikan masa pensiunnya sebagai pemburu "hantu-hantu komunis" profesional. Beliau berbaik hati memaparkan beberapa ciri bagi orang awam untuk mengidentifikasi, gerombolan macam apakah komunis itu. Salah satunya, komunis zaman sekarang cenderung akrab sama bisnis sablon. Kok bisa? Sebab orang-orang ini merasa butuh mengenakan atribut palu arit yang dulu dipakai Partai Komunis Indonesia. "PKI ini punya kelompok. Mereka ramai-ramai membuat kaos dan bendera," kata Kivlan saat diwawancarai media.

Aku segera teringat temanku yang sering menerima orderan kaos dari anak-anak kampus di Bandung. Oke, dia harus masuk daftar teratas dicurigai komunis.

Nah, beberapa hari lalu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memaparkan satu ciri tambahan untuk mengidentifikasi komunis terselubung di negara ini. Ciri itu dia sampaikan sembari menjustifikasi tindakan tentara merazia buku-buku kiri beberapa pekan terakhir.

Buku-buku yang membahas seputar tragedi 1965, ataupun kajian ilmiah sosialisme yang biasa dibaca anak-anak jurusan ilmu politik ataupun ilmu sejarah, adalah gizi bagi para komunis terselubung yang konon sedang "bergerak lagi" kata Menhan. Jika sumber gizi dipangkas, pastilah mereka akan kelaparan dan gagal membesar. Lagi-lagi, kalian yang sok pakai akal sehat mungkin bertanya, "oke deh pak purnawirawan jenderal, emang wujudnya seperti apa sih komunis gaya baru di negara ini?"

Ternyata mudah sekali kita pantau. KELOMPOK KOMUNIS TUH DISINYALIR HOBI RAPAT DI WARUNG MAKAN!

"Kalau mereka tidak berbuat apa-apa, enggak ada masalah. Ini rapat sana, rapat sini. Bukan kita enggak tahu rapat apa. Itu mau apa? Biasa sajalah. Kenapa rapat di tempat makan? Kayak serius," ujar Ryamizard kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta.

Wah, praktis sekali sarannya Pak Ryamizard. Aku kadang bingung melihat lebih dari 10 orang berkumpul di warung makan, pas malam. Ada yang bawa notebook. Ada yang kayak jadi ketuanya. Dulu aku sering sih lihat kumpulan macam itu di sekitaran kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor, almamaterku. Seingatku, mereka membahas evaluasi malam keakraban himpunan mahasiswa jurusan. Bisa jadi topik itu semua hanya kedok. Dasar komunis licik!

Peringatan purnawirawan jenderal seperti Pak Ryamizard harus kita syukuri. Selama ini masyarakat—baik itu mahasiswa kere ataupun anak agency yang enggak dapat tunjangan rapat di luar kantor—sering banget memanfaatkan tempat makan jadi lokasi rapat dadakan. Belinya masing-masing cuma latte secangkir, rapatnya lebih dari empat jam. Ckckckck.... Makanya, kalau ke tempat makan tuh beneran makan dong. Tiru tuh anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang butuh uang perjalanan dinas harian lebih dari Rp2 juta agar bisa rutin makan lobster.

Jangan keburu baper, menganggap peringatan Pak Ryamizard menghalang-halangi keasyikan kalian nongkrong di tempat makan. Tak perlu merasa tertuduh, kalau kalian memang tak termasuk komunis licik. Ubah kebiasaan sajalah. Hargai peringatan para purnawirawan militer. Yuk, kita mulai gerakan bawa pulang makanan kita. Beberapa pengguna medsos di Tanah Air juga sudah memulai anjuran ini. Mulia betul.

Lagipula, anjuran Pak Ryamizard bisa membantu kelancaran bisnis tempat makan. Definisi tempat makan luas sekali kan. Mulai dari warung tegal tempat kalian biasa ngutang kalau sudah di atas tanggal 15, kedai kopi instagrammable, sampai resto cepat saji yang jadi tempat anak kuliahan kerja kelompok menyusun laporan praktikum. Siapa sih pemilik tempat makan yang suka melihat meja-mejanya diisi bocah yang itu-itu saja, sementara nilai pesanan mereka enggak seberapa. Artinya, selain menghambat gerakan komunis terselubung, gerakan bawa pulang makanan mendukung perkembangan bisnis kuliner di Tanah Air.

Bagaimanapun, gerakan komunis di Indonesia Abad 21 memang tak bisa dianggap remeh. Menurut Pak Kivlan, ada 15 juta simpatisan Partai Komunis yang masih aktif di republik berasaskan Pancasila ini. Jika dijumlah dengan anak cucunya, maka pendukung komunis bisa mencapai 60 juta orang. Ini jelas bukan klaim kecil dan sembarangan dong? 60 juta orang itu kurang lebih seperempat jumlah penduduk di negara ini.

Mereka semua diklaim Kivlan akan bangkit pada 2019. Seram. Pokoknya seram dulu. Enggak perlu kalian tanya buktinya di mana. Kalau penasaran, sono cari sendiri saja komunisnya di sekitar tempat tinggal kalian. Ingat, mereka setara seperempat jumlah penduduk. Pedagang sayur, tetanggamu, bahkan gurumu pun bisa jadi kuminis.

Andai kamu pernah sesuai ciri-ciri di atas, dan kamu yakin bukan kuminis, segera lakukan taubatan nasuha. Ikut gerakan kurangi nongkrong di tempat makan (dan jangan nyablon atau pakai kaos-kaos kuminis). Untung Pak Ryamizard tidak sekadar memojokkan, melainkan juga menyediakan solusi. Kita memang dilarang suka pada paham komunisme, namun masih ada kok komunis yang bisa dijadikan teman baik bagi rakyat Indonesia. Yakni negara (bekas) komunis yang sekarang kapitalis banget macam Tiongkok atau Rusia.

"Tidak usah suka komunis, [tapi] Komunis di Rusia, Cina, teman semua kok, enggak ada masalah," kata Ryamizard.


Tonton dokumenter VICE tentang genre disko di Indonesia yang berkembang ketika Orde Baru memberi ruang anak muda merayakan budaya Barat:


Begitu pula jika kamu tidak paham apa sebenarnya tujuan ideologi ini, maka bacalah banyak buku ilmiah jangan sering-sering makan apalagi rapat di warung makan. Serta, ada baiknya kalian hindari semua unsur benda yang mengombinasikan palu dan arit.

Ingat, simbol palu arit itu bisa nempel di uang rupiah 100 ribu seperti yang dituding Rizieq Shihab sebelum kabur ke Arab Saudi. Bayangkan, ada berapa orang terbiasa menggunakan uang pecahan Rp100 ribu tiap hari? Belanja di warung saja bisa membuatmu tanpa sadar jadi kuminis. Maka benarlah Jason Ranti dengan segala peringatannya.

Untungnya, pecahan paling besar di dompetku seringnya mentok cuma dua lembar Rp20 ribuan. Kecil kemungkinanku kena tuduhan bersimpati pada komunisme.

Alhamdulilah.

Tagged:
indonesia
Pelanggaran HAM
Satir
Komunisme
Tragedi 1965
Antikomunisme
Ryamizard Ryacudu
Kivlan Zen
Purnawirawan Jenderal