Pandemi Corona

Strategi Rental Sound System Jakarta Bertahan, Banting Setir Jadi Jasa Antar Belanjaan

Akibat pandemi, perusahaan Bayusvara yang mengandalkan konser dan seminar nol pemasukan selama tiga bulan. Agar tak PHK karyawan, mereka memakai truk dan pickup jadi layanan antar belanja harian.
20 Mei 2020, 8:51am
Rental Sound System Bayusvara ganti bisnis jadi jasa antar belanjaan Segarsvara selama pandemi
Salah satu acara konser yang memakai sound system Bayusvara [kiri] dari arsip perusahaan; ilustrasi truk belanja sayuran via pixabay

Sejak pandemi corona merebak di Indonesia dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diberlakukan, ekonomi karut marut, terutama di sektor-sektor bisnis yang melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Industri kreatif terpukul telak. Berbagai event dilarang dan dibatalkan, mulai dari festival musik dan konser, resepsi pernikahan hingga acara keagamaan.

Bayusvara, sebuah perusahaan penyedia jasa rental sound system, salah satu yang paling terdampak bisnisnya. Tidak adanya event otomatis membuat seluruh operasi bisnis mereka percuma. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa ada peringatan atau proses gradual.

CEO Bayusvara, Bayu Fajri Hadyan mengaku semuanya masih terasa normal di awal bulan Maret. Perusahaannya masih menerima banyak orderan dan tidak ada tanda-tanda bahwa situasi akan memburuk dengan cepat. Namun, pada minggu kedua Maret, angka orderan tidak tanggung-tanggung langsung anjlok ke angka nol. "Itu ngagetin banget, terlebih karena ada sekitar 20-30 event yang udah DP akhirnya pada minta tarik semua," kata Bayu kepada VICE. "Karena mereka cancel, bilang _event_-nya gak bisa dilanjutin, dilarang."

Otomatis, perusahaan kehilangan semua potensi proyek sepanjang Maret hingga Mei, dan tidak memiliki penghasilan sama sekali. Padahal biasanya bulan-bulan inilah yang menjadi ladang panen pemasukan sebelum jeda bulan puasa. "Harusnya sebelum puasa itu peak," tutur Bayu. "Orang penutupan bikin event, biasanya omzetnya besar banget, tapi tahun ini karena Covid-19, mau enggak mau nol. Turun 100 persen omzetnya."

Sebelum corona, Bayusvara bisa meraup pendapatan kotor Rp150 juta-Rp200 juta sebulan. Mengesampingkan bulan Januari dan Ramadan yang memang selalu sepi event, rata-rata setiap bulannya Bayusvara mendapat sekitar 50 orderan. Bermodalkan sepuluh orang staff—kantor dan lapangan—dan pekerja lepasan, perusahaan Bayu menerima segala bentuk event, mulai dari acara formal seperti seminar, meeting, talkshow, event company, hingga acara keluarga seperti siraman dan pengajian, bahkan pensi-pensi sekolah dan gig komunitas di Rossi Musik.

Nol orderan membuat perusahaan berada dalam posisi genting. "Kalau hanya ngandalin tabungan Bayusvara, saya yakin cuman bertahan paling lama 2-3 bulan," ujar Bayu sebagai CEO. Sialnya lagi, perusahaannya juga tidak mendapatkan persetujuan bank untuk relaksasi kredit.

Kepanikan mulai dirasakan para karyawan. Banyak teman-teman di industri yang lain dan yang sama yang sudah mulai dirumahkan. Prasudi Adityo, seorang staf lapangan dan supervisi produksi Bayusvara mengaku khawatir akan masa depannya sendiri. "Sempat kepikiran kalau order gak ada, gimana kantor mau bayar karyawannya?" kata Adit kepada VICE. "Banyak PHK di mana-mana,” tambahnya, "Semua industri hiburan termasuk panggung, genset, dan lain-lain langsung enggak ada order."

Di titik kritis, perusahaan ini membuat keputusan berani buat sekalian banting setir, masuk ke sebuah jalur bisnis baru demi mencoba bertahan. Memanfaatkan infrastruktur Bayusvara yang sudah ada seperti truk pikap dan aset-aset lainnya yang nganggur di kantor, mereka menyediakan jasa pengantaran grocery atau bahan makanan sehari-hari di tengah era pandemi ketika banyak orang memilih untuk tidak sering keluar rumah dan melakukan transaksi online. Mulai minggu kedua April, jasa pengantaran yang diberi nama Segarsvara ini resmi dibuka untuk publik.

Idenya muncul ketika Bayu menyaksikan betapa seringnya stok bahan makanan pokok kosong di supermarket-supermarket tapi di saat yang sama, omset pedagang di pasar tradisional yang menjual produk yang sama justru menurun drastis. “Kebetulan mertua saya punya toko kelontong di pasar serpong, dia curhat pendapatan semua pedagang menurun,” cerita Bayu.

Bayu menjelaskan bahwa banyak orang takut ke pasar, terutama pasar tradisional di era pandemi. Banyak yang mempertanyakan kehigienisan pasar, dan takut tertular Covid-19. "_Image_-nya pasar tuh seolah-olah sarang penyakit, mengerikan," ujar Bayu. "Padahal sama aja, namanya virus ya ada di mana-mana."

Untuk memastikan keselamatan para karyawan di lapangan yang harus ke pasar, pelatihan pun dilakukan sebelum Segarsvara mulai beroperasi. Selain dilatih memilih makanan, dan melakukan packing ala supermarket, pekerja lapangan diharuskan mengenakan alat perlindungan diri seperti masker, sarung tangan, pakaian tertutup, dan topi. Adit yang tetap bertugas sebagai staf lapangan dan supervisi produksi mengatakan semua karyawan dibawakan hand sanitizer dan disinfektan, selain harus sering membersihkan diri.

Setelah sekitar sebulan beroperasi, omset Segarsvara masih jauh dibanding bisnis rental sound system, begitu pengakuan Bayu. Namun, kondisi demikian "jauh lebih baik daripada tidak berpenghasilan sama sekali."

Adit sebagai karyawan justru lebih optimis. Segarsvara berhasil menutup sekitar 80 persen gajinya di Bayusvara dulu, dan "optimis bisa balik 100 persen melihat masih potensi naik terus penjualannya," ujarnya sembari pamit, karena hendak menuju pasar cimanggis ciputat untuk memulai shift kerjanya hari itu.

Tentu tidak semua orang seberuntung Adit dan tidak semua perusahaan punya kesempatan seperti Bayusvara untuk melakukan pivot bisnis begitu saja, apalagi korporat-korporat besar dengan puluhan ribu karyawan. Namun Bayu sebagai CEO ingin menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan mencari celah, terutama bagi pemilik-pemilik usaha yang bisa membantu menjaga kelangsungan hidup para pekerjanya. "Jangan nyerah lah, cari terus selanya," tutur Bayu. "Pasti ketemu jalannya, yang penting berani keluar dari zona nyaman dan memulai lagi yang baru, mau enggak?"

Bayu tentunya berharap industri akan kembali normal, dan Bayusvara bisa kembali beroperasi suatu hari nanti. Tapi dia juga tidak menutup kemungkinan bahwa Segarsvara akan terus dilanjutkan, dan akibatnya menyediakan semakin banyak lapangan pekerjaan.

Di saat ketika banyak bisnis melakukan layoff atau merumahkan pegawainya dan infrastruktur yang ada memang tidak berpihak kepada teman-teman pekerja, rasaya apa yang dilakukan Bayusvara/Segarsvara, mengambil risiko besar dan mengajak pekerjanya untuk berjuang bersama-sama, layak diancungi jempol.