Foto-foto oleh Matt Lutton.

Wajah Baru Kaum Sayap Kanan Ekstrem Eropa : Pengendara Motor ATV Pemburu Kaum Imigran

Aaron Lake Smith

Februari ini, seorang bekas pegulat dan pemilik penampungan barang rongsokan berumur 30 tahun bernama Dinko Valev mendadak terkenal di level internasional setelah mengunggah sebuah video yang diambil dengan telepon selular berisi aksinya memburu kaum...

Foto-foto oleh Matt Lutton.

Cerita ini dimuat di majalah VICE edisi Juni.

Februari ini, seorang bekas pegulat dan pemilik penampungan barang rongsokan berumur 30 tahun bernama Dinko Valev mendadak terkenal di level internasional setelah mengunggah sebuah video yang diambil dengan telepon selular berisi aksinya memburu kaum imigran di daerah pegunungan terpencil Strandzha di Bulgaria, dekat dengan perbatasan Turki. Dalam salah satu video yang awalnya dipost di akun Facebooknya, Dinko terlihat menginterogasi seorang lelaki Afganistan berumur 20an yang dia tangkap, sebelum menyerahkannya ke pihak yang berwajib. "Anda seorang teroris?" tanya Vavel. Mata lelaki Afgan tersebut terbelalak dan dia mengeluarkan tawa yang canggung. "Saya? Tidak." Di video lain yang terlihat seperti video buatan rumah amatir, Valev terekam sedang mengendarai motor ATVnya sebelum video tersebut meloncat ke adegan 15 imigran — buruan yang dia tangkap — dengan wajah terbenam di lumpur. "Saya dan beberapa teman sedang mengendarai motor dan coba lihat apa yang kami temukan," cerita Vavel. "Siapakah para kaum imigran ini? Sampai kapan ini akan berlanjut?"

Video-video Valev berkualitas buruk, tidak jauh berbeda dengan video-video ribut orang mabuk di internet. Namun,yang mengerikan adalah justru lewat video-video buruk ini lah, Valev dinobatkan sebagai seorang pahlawan di Bulgaria. Dan Valev tidak sendirian. Segerombolan nasionalis berpakaian camo yang tergabung dalam Organization for the Protection of Bulgarian Citizens (OZBG) menjadikan pemburuan kaum imigran sebagai sebuah aktifitas olahraga yang dengan santainya mereka namakan "Jalan-jalan di hutan" semenjak September 2015 lalu.

Di bulan Maret, Perdana Menteri Boyko Borisov memuji kelompok ini di depan publik dan memerintahkan kepala polisi perbatasan Bulgaria untuk memberikan mereka penghargaan atas kerja "sukarelawan" mereka. Kendati para pejabat menarik pujian mereka dan Valev telah dituduh melanggar hak asasi manusia, aksi pemerintah tidak bisa menghentikan penyebaran fenomena perburuan para imigran ini. Malah, dalam kasus Valev, penangkapannya justru menaikkan status dia menjadi pahlawan rakyat. Sebuah polling yang dilakukan stasiun TV Bulgaria baru-baru ini menunjukkan bahwa 84 persen responden mendukung tindakan patroli-sukarela yang dilakukan Valev dan kawanannya. Seorang pembawa berita Bulgaria yang terkenal bahkan menyebut Valev sebagai "pahlawan" yang berjuang melawan kaum imigran "dengan tangan kosong."

Bulgaria merupakan salah satu negara paling miskin di Uni Eropa. Bulgaria juga kurang beruntung karena berada di garis depan benua Eropa, berbagi tanah perbatasan seluas 223 km dengan Turki dan daerah perbatasan pegunungan dengan Yunani utara seluas 470 km — wilayah yang telah dilewati sebanyak 50.000 pencari suaka semenjak tahun 2011. Sebagai bentuk kekhawatiran mereka, pemerintah Bulgaria telah membangun pagar kawat berduri sepanjang 80 km sepanjang perbatasan Turki, yang disebut oleh direktur eksekutif Frontex — badan perbatasan Uni Eropa — sebagai "tanah perbatasan paling penting di Uni Eropa." Bulgaria berencana untuk menyelesaikan pagar ini ketika musim panas tiba.

Sementara itu, ketika pejabat pemerintah mengobral omong kosong tentang bagaimana mengatasi masalah migrasi dan vigilante, ada pihak-pihak lain yang mengeksploitasi orang-orang yang putus asa untuk keuntungan pribadi. Di bulan Februari, sebuah video bocor menampilkan 60 orang menyeberangi perbatasan Bulgaria-Turki dengan bantuan para pedagang manusia sementara penjaga perbatasan hanya diam melihat saja. Di bulan Maret, penyelidikan dari Kementrian Dalam Negeri Bulgaria berujung pada penangkapan lima polisi perbatasan, termasuk seorang komandan, karena dituduh terlibat kasus penyelundupan.

Di tengah kekacauan dan kesimpangsiuran ini, beberapa warga Bulgaria di perbatasan selatan berusaha membuat negara mereka menjadi setidak-bersahabat mungkin bagi para pencari suaka. Pendekatan yang dilakukan Valev, dalam hal ini, mengingatkan kita akan sentimen anti-imigran di Amerika Serikat yang membuat negara mereka sangat tidak nyaman sehingga kaum imigran memilih untuk melakukan "deportasi sukarela" daripada bermukim di Amerika Serikat.

Valev dan OZBG merupakan perwakilan anti-imigran yang paling menonjol. Namun, patroli vigilante bersenjata lainnya telah bermunculan, melanjutkan usaha mereka dengan harapan bisa dianggap sebagai patriot. Bulgaria merupakan "sebuah kegagalan, pemerintahnya korup, dan negara ini dipimpin oleh sebuah oligarki," kata Iliana Savova, direktur dari Refugee and Migrant Program for the Bulgarian Helsinki Committee. "Cara paling mudah untuk mengalihkan perhatian dari perbuatan keji anda sendiri adalah dengan menuding pihak lain yang mencolok dan menyalahkan mereka."

Salah satu pegawai Valev menggunakan obor las untuk membongkar sebuah bis menjadi kepingan-kepingan metal.

Saat ini, ada rencana untuk mendirikan patung Valev di Yambol. Para pemuja Valev membandingkannya dengan Vasil Levski, pahlawan kebebasan nasional Bulgaria di abad 19 yang berjuang guna mewujudkan ide-ide Revolusi Perancis dan memimpikan Bulgaria yang plural dengan etnis yang beragam serta menjunjung toleransi beragama. Akhir Maret, ketika Valev dibawa ke kantor polisi lokal untuk diinterogasi mengenai tuduhan yang dijatuhkan kepadanya, beberapa puluh orang berkumpul untuk menunjukkan dukungan untuknya. Pendukung Valev ini mengenakan bendera Bulgaria sebagai mantel dan berteriak, "Valev! Jantung dan jiwa Bulgaria!" dan "Dinko seorang pahlawan!" "Komite Helsinki brengsek," kata Valev di depan kamera ketika dia tiba sambil tersenyum penuh kemenangan ala-ala Donald Trump. "Saya tidak peduli...Saya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."

Yambol merupakan kota berisikan pabrik-pabrik dan gudang sisa era Komunis yang telah terbakar dan penuh dengan alang-alang. Yambol terletak di dekat perbatasan tenggara Turki, di tepi Sungai Tundzha yang penuh dengan tanaman. Yambol tidak terlalu "dianggap" di Bulgaria. Kota ini hanya dikenal karena sebuah video musik yang saking-buruknya-malah-jadi-lucu yang difilmkan di sana. Di video tersebut, seorang rapper lokal yang bentukannya mirip Uncle Fester — dari cerita fiksi Addams Family — berjalan-jalan di kota dengan boneka burung gagak di bahunya, menggumamkan lirik, "Yamboolllll...kota terbaik."

Valev menemui saya di depan sebuah mal kecil di Yambol, mengenakan setelan olahraga berwarna hijau-camo. Dia terlihat seperti Vin Diesel — aktor favoritnya. Ada sebuah tato salib Kristen Ortodoks raksasa yang dihiasi bunga-bunga di dadanya. Tato tribal juga memenuhi lengannya yang selalu dia pamerkan setiap saat. Valev datang bersama Dennis, tangan kanannya yang terlihat bodoh. Para penduduk setempat berdatangan untuk bersalaman dengan Valev dan mengucapkan selamat. Di dalam mal, seorang nenek yang sedang mengawasi cucunya bermain langsung berpaling dan berseru "Ada Dinko di sini!". Sang nenek menghampiri Valev untuk menjabat tangannya dan mengatakan bahwa Valev adalah pria yang baik. Di dalam sebuah kafe di mal, dua barista muda mengerubunginya ketika dia sedang duduk dan memesan sebuah kue.

Valev mengaku bahwa ia merasa terpanggil untuk menjadi vigilante ketika dia sedang mengendarai motor ATVnya di jalan setapak dalam hutan dekat perbatasan dan tiba-tiba segerombolan imigran — menurut ceritanya — meloncat keluar dari semak-semak dan mencoba membunuhnya. Setelah kejadian itu, dia mulai melakukan patroli dengan sekelompok teman-temannya sambil mengendarai motor ATV. Dalam patroli mereka yang pertama, mereka menangkap sekitar satu lusin imigran. Dia mengaku bahwa tidak lama kemudian sebuah situs jihad menaruh hadiah sebesar 52 juta rupiah bagi pihak yang mampu membunuh dirinya. "Saya sudah pernah melihat mereka (imigran) sebelumnya, tapi saya baru mulai memburu mereka setelah mereka menyerang saya," ujar Valev. "Saya ini bukan siapa-siapa, tapi harus ada yang memulai tindakan."

Dia mengaku terganggu oleh tindakan polisi perbatasan yang sering mengusiknya. Menurut Valev, ini terjadi karena polisi perbatasan melakukan korupsi dan terlibat dalam aksi penyelundupan. "Polisi perbatasan menerima uang suap untuk menyelundupkan para imigran, saya yakin seratus persen," kata Valev. Meski tidak banyak bukti yang membuktikan bahwa korupsi di perbatasan separah yang Vavel katakan, yang perlu dicatat adalah bagaimana sikap Valev didasari atas ketakutan akan suatu demografis tertentu. Dengan ditutupnya jalur transit Balkan Barat dari kepulauan Aegean di Yunani hingga Macedonia dan Eropa Barat bulan Maret lalu, banyak politisi dan warga Bulgaria khawatir negara mereka akan menjadi jalur alternatif bagi para imigran untuk melintas. Di perbatasan Yunani, polisi Bulgaria telah melakukan latihan menggunakan meriam air untuk menghadapi ratusan imigran — diperankan oleh aktor — yang melempari mereka dengan batu. Para pejabat Bulgaria juga mulai mengadakan latihan angkatan laut di sepanjang pantai Laut Hitam untuk mengantisipasi para imigran yang mungkin akan menggunakan jalur tersebut. "Apabila para penyelundup bisa mengangkut para imigran melalui Laut Hitam seperti ketika mereka melewati Laut Tengah, "kata Yavor Siderov, seorang sarjana ilmu politik di Sofia, "maka bukan tidak mungkin Laut Hitam akan menjadi pintu masuk utama."

Di dalam gedung ini di Pastrogor, para pengungsi menunggu pemerintah untuk memutuskan apakah mereka akan dibiarkan menetap di Bulgaria.

Setelah menghabiskan kue, Valev kembali bekerja di tempat barang rongsokan miliknya. Kami naik ke mobil Mercedes CLS350 berwarna putih miliknya. Tanda salib dan lambang Kristen Ortodoks tergantung di kaca spion. Sebelum memulai liputan ini, saya sempat membaca tentang koleksi kendaraannya. Selain Mercedes, Valev juga memiliki sebuah mobil Hummer, Porsche SUV, sebuah kendaraan bersenjata yang telah dinon-aktifkan, dan tentu saja, beberapa motor ATV. Dia juga memiliki 20 ekor kuda.

Ada banyak rumor dan pertanyaan tentang bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak uang hanya dengan bisnis tempat barang rongsokan. Savova dari Komite Helsinki Bulgaria berpendapat bahwa Valev sebetulnya terlibat di penyelundupan. Aksi vigilante yang ia lakukan hanyalah sebuah pencitraan. Tuduhan ini telah dibantah oleh Valev. Ada juga yang menyebutkan bahwa Valev terlibat dengan mafia Bulgaria. Surat kabar Capital mengatakan bahwa rekan rahasia bisnis tempat barang rongsokan Valev tidak lain adalah Kamen Zhelev, yang beberapa tahun lalu tidak mengaku memiliki perusahaan penagih hutang bernama Creditline yang menjalankan bisnis mereka secara sadis mirip film Godfather. Menurut laporan Capital, "pihak yang berhutang ditampar, dipukul, ditendang, ditelanjangi dan diancam akan diperkosa, disiksa, dibakar kakinya dan dicabut kukunya menggunakan tang."

Tempat barang rongsokan Valev terletak di pinggiran kota Yambol, yang dipenuhi tanah-tanah lapang berumput. Tempat barang rongsokan ini merupakan hamparan luas aspal penuh dengan bis, dikelilingi oleh sisa-sisa pabrik yang telah ditinggalkan. Sekitar satu lusin pekerja menghancurkan bis-bis tersebut menggunakan palu besar dan obor las. Ketika Valev keluar dari mobilnya, para pekerja ini mengerubunginya. Valev membagikan tumpukan uang kepada mereka sambil berbicara melalui telepon-telepon genggam yang mereka dekatkan ke telinganya.

Para pegawai Valev bekerja atas kemauan mereka sendiri. Mereka dibayar 50 hingga 60 leva untuk setiap bis yang mereka hancurkan — sekitar 420.000 rupiah. Kebanyakan dari mereka merupakan bangsa Gipsi — yang masih menjadi sasaran prasangka buruk orang-orang dan menduduki kasta terbawah di masyarakat Bulgaria — namun baru-baru ini seorang lelaki Afrika bernama Jamal dari Pantai Gading ikut bergabung.

Saya bertanya kepada Valev bagaimana dia bisa memperkerjakan kaum imigran dalam bisnisnya sementara dia memburu para imigran lainnya di perbatasan. Jawaban yang keluar dari mulutnya mengingatkan saya akan tipe-tipe jawaban yang biasa dilontarkan warga Amerika Serikat. "Saya tidak punya masalah dengan orang yang memang sudah tinggal di sini," kata dia. "Tapi saya tidak suka dengan orang-orang yang berusaha menyerbu negara kami."

Siang itu, sebuah awak TV Bulgaria tiba di tempat Valev bekera. Valev memberikan interview spontan tentang bagaimana beberapa malam sebelumnya dia dicegat oleh polisi perbatasan karena registrasi mobilnya telah kadaluwarsa. "Para pengungsi melintasi perbatasan dan polisi tidak melakukan apa-apa," kata dia. "Mereka malah mencari masalah dengan saya. Tentu saya kecewa." Ketika awak video publikasi Jerman Der Spiegel tiba, Valev mencoba berbicara dalam bahasa Jerman sebelum akhirnya kembali menggunakan bahasa Inggris : "Kalian mau apa? Mau apa lagi? Mau lihat saya naik motor ATV?"

Valev dan salah satu pegawainya

Keesokan harinya, saya mengunjungi sebuah pusat suaka di pinggir sebuah desa perbatasan bernama Pastrogor. Di sini, orang-orang menunggu berbulan-bulan selagi pemerintah memproses surat permohonan mereka dan menonton video interview para pemohon untuk menentukan apakah mereka sudah cukup menderita untuk mendapatkan ijin untuk tinggal dan bekerja di Eropa. Saya diberi tahu bahwa warga Suriah didahulukan mendapat suaka dibanding warga negara lainnya. Pusat suaka ini terlihat seperti bunker militer yang sudah berkarat, dikelilingi oleh pagar besi, pegunungan dan tanah lapang. Pusat suaka ini juga dijaga dengan ketat dan terlihat seperti sebuah penjara berkeamanan minim.

Di Bulgaria, ada sekitar setengah lusin pusat imigran bagi mereka yang mencoba melalui proses suaka yang legal, dan tiga pusat penahanan bagi mereka yang tertangkap ketika mencoba masuk Bulgaria secara ilegal (biasanya mereka yang ditangkap oleh kelompok-kelompok viligante berakhir di sini). Fasilitas-fasilitas di sini kebanyakan berada dalam kondisi yang buruk karena mereka merupakan bekas gedung atau barak yang tak terpakai di daerah terpencil. Komite Helsinki Bulgaria melaporkan bahwa salah satu fasilitas di dekat Yambol, di desa Elhovo akan ditutup sementara waktu karena melanggar "standar kebersihan dan kehidupan yang layak." Menurut lembaga swadaya masyarakat pengawas perbatasan Bulgaria, graffiti supremasi kulit putih dan lambang swastika memenuhi sebuah fasilitas di ibukota Sofia. Para pencari suaka disediakan makanan, namun tidak ada fasilitas dapur atau pun fasilitas pendukung lainnya.

Para petugas melarang kami masuk fasilitas di Pastrogor, namun dua orang pria menembus hujan rintik-rintik kala itu untuk menyapa kami : Idriss, seorang lelaki paruh baya yang riang dari Pantai Gading mengenakan seragam kerja hijau, dan seorang pria Kurdis yang telah meninggalkan Suriah utara yang dipanggil Rom. Idriss merupakan seorang "pengungsi senior" di pusat tersebut; dia telah berada di sana selama empat bulan, terus menceritakan kisah hidupnya ke para petugas, menunggu apakah ia akan mendapatkan status pengungsi yang legal. Dia baru saja menganut agama Kristen di Pantai Gading sebelum meninggalkan keluarganya untuk datang ke Eropa. Dia dan Rom memilih untuk melintasi perbatasan resmi kota Svilengrad dan membiarkan diri mereka tertangkap. Ini merupakan langkah pertama untuk melewati proses suaka resmi.

"Semua tempat di Eropa sekarang ditutup dengan kawat duri," kata Idriss. "Kini melintasi perbatasan sangat beresiko. Saya sekarang berada di Bulgaria dan saya ingin tetap tinggal di sini." Idriss hanya mengerti sedikit bahasa Bulgaria, dan dia mengenal Jamal, pria Pantai Gading yang bekerja untuk Valev. Saya bertanya kepada Idriss mengapa dia memilih untuk datang ke sini dan tidak mencoba jalur Aegean-Yunani yang berbahaya seperti pencari suaka lainnya dan berharap berakhir di negara yang lebih ramah terhadap pengungsi seperti Jerman atau Swedia. Dia mengatakan bahwa ia memilih lewat Bulgaria karena takut tenggelam (di tahun 2016 saja, sudah 1.361 orang telah meninggal atau hilang). "Anda harus berpikir baik-baik sebelum mengambil keputusan," kata dia. "Jalur laut lebih susah ditebak, saya bisa saja sudah mati sekarang."

Sebuah bendera Turki terlihat dari desa Rezovo, Bulgaria. Kota ini terletak di perbatasan pantai, dan hanya kanal kecil inilah yang memisahkan dua negara tersebut.

(Tidak lama kemudian, Savova mengatakan bahwa peluang Idriss untuk mendapatkan status pengungsi sangatlah kecil — tidak ada pencari suaka dari Pantai Gading yang pernah mendapatkan status ini di Bulgaria.)

Rom hanya berbicara sedikit bahasa Inggris dan sama sekali tidak berbicara bahasa Bulgaria, namun dia menunjukkan keinginan untuk tinggal di Jerman. Beberapa bulan sebelumnya, dia kabur dari wilayah yang dikuasai Kurdis di Suriah Utara — dimana penduduk lokal dipaksa wajib militer — karena dia tidak mau melawan ISIS atau Daesh. "Suriah baik-baik saja, tapi pemerintahnya tidak baik," kata dia. "Kurdis punya masalah besar dengan Daesh. Tembak, tembak."

"Apa yang dia coba katakan," potong Idriss, "orang Kurdis menganggap Daesh menyerang mereka." Dia menaruh tangannya di bahu Rom dan tersenyum. "Yang satu ini, dia bukan tipe prajurit." Semua orang tertawa.

Banyak orang lain yang berada di posisi yang jauh lebih tidak beruntung daripada Idriss dan Rom. Kelompok-kelompok Vigilante telah menangkap lebih dari seratus imigran yang memasuki Bulgaria secara ilegal. Menurut laporan Human Rights Watch, imigran yang lain dipukuli dan diperas oleh penjaga perbatasan Bulgaria. Di bulan Oktober 2015, seorang penjaga perbatasan menembak mati seorang pencari suaka dari Afganistan. Lalu bulan Maret silam, dua mayat ditemukan dekat persimpangan pegunungan di sebuah kota bernama Malko Tornovo.

Di bulan yang sama, menurut laporan BBC, kepala desa Topòlovgrad meminta kementrian pertahanan untuk memberikan 30 buah AK-47, mobil baja pengangkut personil, dan peralatan militer lainnya untuk mempersenjatai "sukarelawan patroli perbatasan" yang terdiri dari 200 penduduk setempat. Kota tersebut ingin mengambil alih dua stasiun perbatasan dan mengubah mereka menjadi pusat pelatihan patroli. Kepala desa itu akhirnya membatalkan permintaannya, dengan dalih dia telah salah dimengerti, namun jelas bahwa pada titik itu keadaan telah menjadi semakin berbahaya.

Valev, sebelah kiri, di sebuah selebrasi kehormatan dirinya di Sofia.

Satu malam, saya sedang berada di halaman belakang satu-satunya restoran hotel mewah di Topòlovgrad. Kota ini berukuran sedang dan menyenangkan, seperti Yambol, tanpa kehadiran sang rapper dan boneka gagaknya. Saya datang ke sini dan diperkenalkan dengan seorang bekas penyelundup yang akan saya panggil Tim. (Saya setuju untuk tidak membuka identitasnya agar ia mau diinterview). Selama setengah jam percakapan kami, Tim tidak makan, minum ataupun merokok.

Dia bercerita tentang awal dia terjun ke dalam bisnis ini ketika beberapa orang penyelundup mendatanginya di sebuah kafe lokal, ditemani seorang penerjemah, dan berkata "Halo, boleh tanya sesuatu?" Mereka memberi Tim sejumlah uang dan mengatakan bahwa uang itu boleh dia simpan apabila dia mau menuntun segerombolan orang asing melewati hutan dan masuk ke Bulgaria. Tim setuju. Dalam proyek pertamanya, dia mengatakan bahwa dia mendapatkan Rp.10.500.000 per orang. Dia bertugas menuntun lima orang melintasi perbatasan. Di hutan, ada beberapa batu bertuliskan angka dan dia diperintahkan untuk menunggu sekelompok pengungsi di salah satu batu ini. Dia mengatakan bahwa seorang pria Turki di kota perbatasan Edirnelah yang mengatur semua hal ini. "Kadang-kadang ada perjanjian dengan para polisi, kadang-kadang tidak," kata Tim. Dia mengatakan bahwa kadang-kadang dia melihat polisi perbatasan di dalam hutan ketika dia menuntun para imigran melewati pepohonan pinus. "Mereka mungkin melihat saya," kata dia, namun kemudian mereka "meninggalkan saya seakan-akan mereka tidak melihat apa-apa."

Namun, seiring waktu, jumlah orang yang dia selundupkan bertambah sementara harga per orang menurun. "Harganya bermacam-macam," kata dia. "Harganya sama ketika pengungsi datang sendiri, tapi ketika mereka membawa keluarga mereka, harganya naik." Lama kelamaan, untuk mengatasi masalah konstruksi pagar perbatasan, para penyelundup mengganti metode mereka menggunakan bus-bus mini dan truk. Suatu hari polisi menangkap Tim mengendarai sebuah bus mini berisikan pengungsi dan sekarang dia berada dalam masa percobaan.

Lucunya, saya dikenalkan ke Tim oleh seorang kenalan Valev — Dimitar Semerdjiev, salah seorang pengusaha Topòlovgrad paling terkenal. Kerap dijuluki "Bos", Dimitar merupakan seorang pria paruh baya fit yang mengenakan seragam olahraga Paulie Walnuts dan menjabat sebagai deputi walikota yang akan membentuk tim patroli sukarelawan. Saya juga penasaran tentang gosip yang mengatakan Semerdjiev terlibat dengan mafia — dia mengatakan bahwa dia memiliki beberapa hotel. Dari yang saya baca Dimitar memiliki macan peliharaan dan ia merupakan tangan kanan seorang mafia tersohor Bulgaria, Brendo, alias "Raja Kokain." Ketika saya menanyakan opininya tentang orang-orang yang terlibat dengan bisnis penyelundupan, dia menjawab, "Apakah anda mau bertemu salah satu orang tersebut?" Sepuluh menit kemudian, kami berada di salah satu hotel Semerdjiev bersama Tim. Tidak jelas apa hubungan mereka, tapi Tim memanggil Semerdjiev "Bos."

Sangat mudah untuk memahami mengapa seseorang seperti Tim terjun ke bisnis penyelundupan, dan mengapa seseorang seperti Semerdjiev mengaku "membenci" penyelundup. Seperlima penduduk Bulgaria hanya berpenghasilan Rp. 2.235.000 per bulan — kurang dari seperlima jumlah yang Tim terima dari hasil kerja penyelundupan selama sehari. Sementara itu, 2 juta warga Bulgaria juga merupakan imigran yang pergi ke negara lain di Eropa untuk mencari nafkah — terkadang ke negara-negara Eropa Barat yang juga menjadi tujuan para pengungsi.

Valev memberi makan anjing-anjingnya di tempat barang bekas miliknya.

Sebelum saya meninggalkan Bulgaria, saya pergi ke ibukota Bulgaria, Sofia, bersama Valev. Sekelompok warga berencana untuk memberikan Valev medali kehormatan atas aksi pemburuan imigran yang dia lakukan. Kami tiba di monumen Tsar Liberator, di seberang Bulgarian National Assembly. Di sana,sekitar dua puluh kaum nasionalis menggelar pawai tanpa ijin sementara lagu militer terdengar menggelegar dari speaker PA. Salah satu dari mereka, mengenakan kaos yang bertuliskan: "ISLAM DILARANG DI EROPA!"

Ketika Valev berjalan ke atas podium dan memulai pidatonya, saya menyadari bahwa perburuan kaum imigran tidak lebih dari sekedar olahraga bagi Valev, bukan komitmen ideologis atau politis. Meski kejam, konsep ini sesuai dengan pandangan Valev mengenai sikap patriotis Bulgaria yang dibuktikan lewat ketenaran dan kehormatan yang dia dapatkan. Kita semua tentu ingat bahwa Valev memperkerjakan kaum imigran, dan jumlah imigran yang dia tangkap sebetulnya tidak begitu banyak. Dengan demikian, aksinya sepertinya hanya berfungsi sebagai peringatan bagi para kaum imigran yang hendak datang (Jangan masuk ke Bulgaria) dan sebentuk pariwara kegagahan Valev semata. Mungkin inilah alasan mengapa Valev dianggap sebagai seorang pahlawan bagi sebagian orang : Dia menyampaikan pesan xenophobia menjijikan yang kini mewabah di Eropa. Namun pesan ini masih angan-angan semata. Sejalan tak kunjung redanya perang di Irak dan Suriah dan ketidakmampuan Uni Eropa dalam mengatasi masalah pengungsi, Bulgaria akan semakin terjepit di dalam konflik ini.

"Kita perlu melindungi tanah air kita," teriak Valev ke arah segerombolan pendukungnya yang tengah bersorak, sebelum kembali masuk ke mobil Mercedesnya dan meninggalkan lokasi. "Saya ingin orang-orang tinggal di sini, di negara ini, dan bukan meninggalkannya."

More VICE
Vice Channels