Warisan Silat Maut Si Pitung Yang Bikin VOC Kalang Kabut
Easy Riders

Warisan Silat Maut Si Pitung Yang Bikin VOC Kalang Kabut

Pitung adalah sosok robin hood Indonesia, dari Kampung Marunda, Jakarta Utara. Jurus-jurus silatnya kini terus dipertahankan oleh warga kampung halamannya.
29 September 2017, 6:57am

Si Pitung adalah pencuri legendaris dari era kolonial Hindia Belanda. Banyak orang menyamakan tindakannya dengan Robin Hood. Bang Pitung semasa hidupnya rajin merampok iring-iringan kapal Kongsi Dagang Hinda Belanda (VOC), lalu membagikan jarahannya kepada warga Batavia yang melarat.

Ada banyak sumber yang berusaha menjelaskan sosok Si Pitung. Salah satu dari sekian versi legenda menjabarkan bahwa Pitung merupakan jawara yang sempat lama tinggal di kampung Marunda, Jakarta Utara, walaupun lahir di Rawa Belong. Nama aslinya, berdasarkan telaah sejarawan Belanda Margreet Van Tiil, adalah Salihoen. Rumah di kawasan Marunda, yang menjadi tempat persembunyian Pitung selama dikejar aparat Hindia Belanda, sekarang ditetapkan sebagai cagar budaya.

Menjelang akhir Abad 19, kawasan Marunda dipenuhi kaum nelayan papa yang sering ditindas 'kumpeni', julukan bagi tenaga pengamanan VOC. Belum lagi adanya penindasan tuan tanah Betawi yang berkomplot dengan Belanda. Perkampungan penduduk ada di kawasan rawa-rawa, kanan-kirinya masih hutan bakau. Namun di tengah berbagai kesulitan, keberanian Pitung merampok VOC menginspirasi para penduduk untuk terus melawan kolonialisme serta menjaga harkat serta martabat mereka.

Berselang dua abad kemudian, di Marunda, tentu saja kondisi sudah jauh berubah. Namun rawa-rawa, serta semangat juang Pitung, terus dipertahankan oleh warga. Salah satunya dengan cara tetap mempelajari seni bela diri silat yang dipratikkan Pitung pada masa kolonial.

Silat Marunda agak berbeda dari mazhab pencak silat nusantara lainnya. Sumbernya, menurut salah satu instruktur yang kami temui, terinspirasi dari "perkelahian monyet melawan biawak." Siapa sangka, berdasarkan kesaksian warga, Marunda dulu dipenuhi monyet. Sekarang primata itu sudah tidak ada lagi. VICE merekam saat warga belajar silat pitung dalam seri foto berikut.

Selain mewarisi jurus silatnya, penduduk Marunda juga meyakini betapa arwah Pitung masih terus menjaga mereka sampai sekarang. Banyaknya versi cerita tentang Pitung tentu membingungkan bagi awam. Belum lagi kalau kita sudah masuk pada perbedaan informasi mengenai kuburan Pitung, yang mati muda karena akhirnya dieksekusi Belanda akibat pengkhianatan sahabatnya.

Yang jelas, Si Pitung adalah simbol keberanian khazanah budaya Betawi, tentang perlunya manusia melawan kezaliman sekaligus welas asih pada sesama yang membutuhkan. Dengan semangat seluhur itu, akurasi sejarah tak penting lagi. Pitung akan terus abadi.