Seorang perempuan berjalan gontai melintasi tenda-tenda darurat korban gempa di Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Nestapa Para Pengungsi Sepekan Setelah Gempa Lombok Melanda

Kekurangan makanan dirasakan banyak warga terutama yang mengungsi di perbukitan. Stok darah pun jadi masalah krusial. Pemerintah masih tak menetapkan Lombok sebagai bencana nasional.

|
Ags 11 2018, 4:48pagi

Seorang perempuan berjalan gontai melintasi tenda-tenda darurat korban gempa di Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Trauma akan adanya gempa susulan membuat sebagian besar warga Lombok yang terdampak lindu memilih bertahan di pengungsian ketimbang mencoba membangun kembali rumah yang telah rubuh. Gempa susulan yang tak henti-henti, terlebih Kamis (9/8) kemarin ada gempa susulan yang skalanya hebat, membuat warga takut mendekati rumah maupun gedung.

"Warga tidak ada yang tinggal di rumah, karena masih takut ada gempa susulan," kata Syarif, 32 tahun, warga Dusun Lenah Galung Desa Sokong, Tanjung, Lombok Utara.

Saat ini Syarif beserta istri dan anaknya memilih bertahan di tenda pengungsian, tenda terpal yang luasnya tak seberapa. Ada dua tenda terpal dipasang di tempat Syarif mengungsi, masing-masing sebenarnya hanya muat ditinggali oleh maksimal sepuluh orang. Tapi keadaan mendesak membuat tenda itu dihuni melebih kapasitas maksimum. Kedua tenda itu dipakai bernaung oleh hampir 44 kepala keluarga sekaligus.

Bukan hanya tenda sempit yang jadi masalah, makanan pun kadang ada kadang tidak. Mereka yang mengungsi di Desa Sokong masih bergantung pada bantuan logistik yang dikirim regu penyelamat. Pasokan makanan yang tak tentu membuat daya tahan tubuh para pengungsi menurun. Ditambah setiap malam mereka tidur dengan alas dan selimut seadanya, jadilah para pengungsi mudah terserang penyakit, terutama anak-anak dan warga usia lanjut.

"Lokasi tempat kami mengungsi ini berada di ketinggian supaya terhindar dari tsunami. Kalau malam kami kedinginan dan anak-anak kami banyak yang sakit," kata Syarif.

Salah satu anak korban gempa menangis menunggu makanan datang di pengungsian kawasan Sigar Penjalin, Lombok Utara. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Syarif sempat mendengar sudah ada upaya pengiriman bantuan berupa makanan dan selimut ke tempat mereka mengungsi. Tapi bantuan itu keburu habis diambil pengungsi yang ada di daerah lain, yang lebih dulu dilalui regu penyelamat. Ia mendengar para pengungsi di daerah lain mengambil paksa bantuan logistik karena terdesak keadaan. “Bantuan tidak pernah sampi dusun kami, padahal kami butuh makanan dan minuman terutama,” kata Syarif. “ Tolong kalau mau bawa bantuan diam-diam saja, nanti dirampok yang lain.”


Tonton dokumenter VICE soal inisiatif pembuatan drone asli Indonesia untuk memantau aktivitas vulkanik di negara ini:


Nyaris sepekan setelah gempa hebat yang pertama, Lombok kini masih berstatus tanggap darurat. Daerah yang paling parah terkena dampak gempa adalah Lombok Utara. Menurut data Kamis (9/8)dari 259 korban tewas yang tercatat aparat, 212 berasal dari Lombok Utara. Data ini kemungkinan akan terus bertambah sebab pencarian masih berlangsung hingga hari ini. Masih banyak korban yang terjebak di reruntuhan belum bisa dievakuasi karena keterbatasan alat berat.

Jumlah pengungsi pun belum kunjung berkurang salah satu sebabnya karena gempa susulan masih sering sekali terjadi. Badan Meteorologi dan Geofisika mencatat sejak lindu besar Minggu (5/8) lalu, setidaknya ada 521 gempa susulan terjadi, salah satunya yang berskala 6,2 magnitudo Kamis kemarin.

Salah satu dokter relawan yang ditemui di daerah Tanjung, Lombok Utara, Fatturahman mengatakan berbagai penyakit kini mulai menyerang para pengungsi. “Karena mereka kelelahan, pengungsi jadi lebih rentan oleh penyakit,” katanya. “Paling banyak itu terserang diare, penyakit kulit, dan gatal-gatal karena kurang air bersih,” kata Fatturahman.

Fatturahman bersama tim datang dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Timnya terdiri dari lima dokter umum dan tiga perawat. Mereka berkeliling dari satu lokasi pengungsian ke lokasi pengungsian lain untuk mengatasi penyakit-penyakit ringan yang diderita warga. Dalam sehari tim dokter yang dibawa Fatturahman bisa menangani lebih dari 100 pasien. “Kami datang dengan ambulans. Ambulans disediakan bagi mereka yang luka berat atau mengalami patah tulang,” katanya.

Dokter relawan lain, Nasir, mengatakan selain obat-obatan, tim medis juga membutuhkan stok darah yang memadai. Kantong-kantong darah diperlukan untuk menangani korban gempa yang luka berat. Warga yang ingin menyumbang darah, kata Nasir, bisa segera mendatangi rumah sakit atau posko PMI terdekat. “Keadaan seperti ini masih akan berlangsung setidaknya sampai dua pekan depan,” katanya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat saat ini ada sekitar 270 ribu warga yang masih mengungsi. Setiap daerah dan lokasi pengungsian membutuhkan bantuan yang berbeda-beda. Tak hanya itu, tingkat kesulitan mencapai lokasi pengungsian pun juga bervariasi. Menurut salah seorang petugas BPBD Lombok Utara, Muhamad Ihsan, distribusi logistik hingga kini masih terkendala jalan retak, longsor, serta jembatan putus.

“Belakangan juga ada masalah keamanan, banyak warga menyetop kendaraan ditengah jalan dan meminta logistik,” katanya. Hero, salah seorang warga yang ditemui di Bayan, mengatakan hal serupa. Begitu malam tiba, warga harus berjaga-jaga karena aksi penjarahan mulai marak. “Malam banyak yang ronda keliling, untuk menjaga dari penjarahan,”katanya.

More VICE
Vice Channels