Iklan
Tanggap Bencana

Penyebab Jawa dan Sumatra Rutin Terguncang Gempa Besar Berhasil Dipetakan

Penduduk Jakarta wajib waspada, pada 1699, gempa 7.4 magnitudo pernah melanda kawasan yang kini jadi ibu kota. Selama ini penelitian lempeng gempa terlalu fokus di Sumatra.

oleh Adi Renaldi
15 Desember 2018, 6:05am

Warga membersihkan puing rumahnya yang roboh akibat gempa di Pengalengan, 189 kilometer dari Jakarta. Foto oleh Supri/Reuters

Para ilmuwan dari lembaga Geoscience Australia menemukan sumber penyebab gempa besar yang pernah melanda Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Dalam sebuah studi yang terbit di Bulletin of the Seismological Society of America para ilmuwan, yang menggunakan serangkaian data dan riset gempa yang terjadi di masa lalu, menyimpulkan bahwa gempa intralempengan (intraslab) yang terjadi di dalam zona subduksi lempengan itu sendiri menjadi penyebab gempa bumi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Peneliti Jonathan Griffin dari Geoscience Australia mengatakan gempa intraslab terbesar yang pernah terjadi di Jawa berkekuatan 7.4 magnitudo pada 1699 di sekitar Jakarta dan 7.8 magnitudo pada 1867 di Jawa Tengah. Para peneliti juga menemukan sepanjang kurun 1815 hingga 1820 terjadi tiga gempa berkekuatan besar di Flores Thrust hingga timur Pulau Jawa.

"Indonesia telah membuat pemetaan risiko gempa menjadi prioritas sejak gempa berkekuatan 9.1 magnitudo di Sumatra-Andaman Thrust yang menyebabkan gempa dan tsunami pada 2014," kata Griffin dikutip dari phys.org. "Namun kebanyakan riset hanya terkonsentrasi di Sumatra."

Ciri gempa tektonik paling kentara di Indonesia adalah tumbukan lempeng India dan Australia di bawah lempeng Sunda dan Burma. Tumbukan tersebut pernah menyebabkan gempa megathrust pada 2004 di Sumatra. Namun penelitian tersebut belum menemukan bukti adanya gempa megathrust di Jawa pada masa lalu.

Griffin dan rekan-rekan juga menemukan model penaksiran probabilitas risiko seismik (probabilistic seismic hazard assessments) yang dilakukan oleh Indonesia. Model penaksiran probabilitas atau PSHA juga bisa digunakan untuk memprediksi seberapa besar probabilitas kondisi terburuk akan terjadi di lokasi studi. Metode ini memungkinkan untuk memperhitungkan pengaruh faktor-faktor ketidakpastian dalam analisis seperti ukuran, lokasi, dan frekuensi kejadian gempa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di waktu bersamaan terus melakukan pemutakhiran peta gempa berdasarkan metode PSHA tersebut. Peta tersebut, yang dapat diakses di tautan ini, penting untuk perancangan bangunan tahan gempa, sebagai masukan untuk perencanaan tata ruang, kesiapsiagaan, pembuatan peta risiko, dan prioritas mitigasi bahaya gempa.

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sendiri telah memetakan tiga penyebab gempa di Indonesia di antaranya adalah megathrust di Selat Sunda, patahan aktif di sekitar Jakarta, dan intralempengan di bawah Jakarta.

Kepala bidang mitigasi gempa bumi PVMBG Sri Hidayati mengatakan lempengan Sunda memiliki potensi gempa megathrust yang berada di selatan Jawa yang berjarak hingga 200 kilometer. Dari jarak tersebut, menurut kalkulasi PVMBG, jika terjadi gempa bermagnitudo 8 hingga 9.5 bisa merambat hingga Jakarta.

Sri memaparkan bahwa beberapa gempa yang dirasakan sampai Jakarta pernah terjadi beberapa kali di antaranya, gempa Indramayu (2007), gempa Tasikmalaya (2009 dan 2016), dan gempa Lebak, Banten pada Januari 2018.

"Ini pertanda selain faktor amplifikasi tinggi, ada media perambatan gempa melalui jalur-jalur patahan aktif," kata Sri.

Tentu saja, walau data pemetaan kini lebih lengkap, memprediksi gempa dan tsunami masih mustahil meski peneliti bisa mempelajari sifat dan pergerakannya. Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mudrik Rahmawan Daryono bersama beberapa ahli melakukan penelitian paleo-seismologi yang mempelajari rekaman kejadian gempa bumi tua berdasarkan rekaman geologi.

Dari hasil penelitian tersebut dapat diperoleh frekuensi dari gempa bumi di suatu daerah. Riset sejarah gempa, menurut Daryono, penting ketika memprediksi gempa adalah mustahil, setidaknya manusia dapat mengetahui polanya sehingga bisa dijadikan modal tambahan dalam menghadapi bencana.

Daryono dan timnya pernah meneliti segmen gempa Saluki di Sulawesi Tengah yang dekat dengan Sesar Koro - penyebab gempa dan tsunami di Palu Oktober lalu. Dari penelitian di Saluki tersebut diketahui gempa terjadi dengan interval setiap 130 tahun dengan kisaran magnitudo 6 hingga 7. Gempa terakhir di Saluki, menurut Daryono, terjadi pada 1909. Kemudian dua gempa bumi yang lebih tua lagi diketahui terjadi pada 1285 dan 1415.

"Intinya gempa bumi tidak terjadi secara acak, namun rutin," kata Daryono.