Aplikasi VR Bisa Membuatmu Tak Lagi Takut Pada Kematian

Shayla Love

Virtual reality mampu menstimulasi otak agar merasakan sensasi keluar tubuh. Belakangan teknologi yang sama dapat memberi kita sedikit gambaran rasanya mati.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Kamu duduk di kursi, melihat ke bawah. Seperti yang mungkin kamu bayangkan, kamu melihat anggota tubuhmu sendiri: lengan atau kakimu yang tertekuk. Namun, itu bukan tubuhmu yang sebenarnya. Itu adalah “tubuh tiruan” yang diciptakan Mel Slater, guru besar bidang virtual reality dari University of Barcelona.

Saat kamu bergerak, tubuh tiruan yang kamu lihat melalui kacamata VR mengikutinya. Kamu berhadapan dengan sebuah cermin besar. Tiap kamu melambaikan tangan, bayanganmu melakukan hal serupa. Lalu, muncul bola biru yang memantul dan mengenai pergelangan tangan dan kakimu. Kamu juga bisa merasakannya langsung—tapi pada tubuh yang mana? Batas antara tubuh aslimu yang sedang menggunakan kacamata VR dan tubuh tiruan yang terkena bola tersebut menjadi kabur.

Ternyata tidak butuh lama bagi kesadaranmu untuk meninggalkan tubuh aslimu dan menempati tubuh tiruan. Hal ini disebut sebagai ilusi memiliki tubuh secara keseluruhan, dan Slater berujar bahwa ia dan yang lainnya memandang ini sebagai “kepemilikan tubuh tiruan yang sangat kuat dan terjadi begitu cepat.”

Ini merupakan trik yang apik, namun bisa dilakukan lebih jauh lagi. Slater menemukan fakta apa yang terjadi dengan tubuh tiruanmu bisa memengaruhi tubuh aslimu setelahnya. Ia telah menunjukkan bahwa pada saat orang kulit putih menempati tubuh tiruan orang berkulit hitam, bias bawaan mereka—yang mengukur preferensi ras secara tidak sadar—menjadi menurun. Ia sudah melakukan percobaan terhadap tubuh asli orang dewasa dan menempati tubuh tiruan anak berusia empat tahun. Setelah itu, mereka merasa dirinya menjadi lebih kekanakan dan menganggap dunia di sekitar mereka terlihat lebih besar. Ia juga pernah menempatkan seorang lelaki ke dalam tubuh tiruan perempuan, lantas mengubah mereka menjadi psikolog virtual (jika mereka berwujud seperti Sigmund Freud, berarti hasilnya lebih baik).

Akan tetapi, bagaimana jika kamu keluar dari tubuh tiruan tersebut – dan ragamu juga meninggalkan tubuh aslimu? Bagaimana kalau ragamu melayang menuju langit-langit dan menatap tubuh aslimu? Dalam hasil VR terbarunya, Slater menggunakan pengalaman ini demi menyelidiki pertanyaan mendasar. Bisakah simulasi VR mengurangi rasa takut kita terhadap kematian?

Banyak penelitian melaporkan orang yang pernah mengalami keadaan hampir mati atau mati suri (biasa disebut NDE oleh kalangan ilmuwan), akan memiliki pandangan baru soal hidup. Mereka bisa berubah menjadi lebih murah hati, peduli terhadap orang lain, dan bisa berkurang rasa takutnya menghadapi kematian.

NDE masih dianggap topik yang kontroversial di lingkungan kedokteran, karena kita tidak yakin apa yang terjadi sebenarnya dengan otak kita pada saat kejadian itu berlangsung. Orang-orang yang pernah mengalami keadaan ini melaporkan sensasi yang serupa, baik pengalaman tersebut tercipta dari otak maupun pengalaman asli. Mereka melihat cahaya terang, terowongan, anggota keluarga yang sudah meninggal, dan yang paling sering terjadi, mereka meraga sukma (OBE). Raga mereka melayang di atas tubuhnya dan bisa melihat tubuh asli itu. Bagian pengalaman inilah yang ingin Slater tangkap menggunakan VR, dan semoga saja yang juga berhubungan dengan berkurangnya rasa takut akan kematian.

Bagaimana caranya meniru pengalaman OBE tanpa benar-benar mati? Penelitian tentang tangan karet (tangan palsu) menunjukkan betapa ide kepemilikan tubuh lebih sering berubah-ubah dari yang dikira orang awam. Dalam beberapa percobaan, peneliti menunjukkan jika kamu meletakkan tangan karet di dekat tubuhmu, maka kamu bisa mengelabui pikiranmu kalau tangan buatan itu adalah tanganmu. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menyentuh atau mengelus tangan aslimu dan menyentuh tangan karet tersebut pada waktu bersamaan. Studi yang sama juga menunjukkan apabila seseorang membahayakan tangan karet dengan sesuatu, misalnya palu, maka otakmu akan memberikan sinyal panik layaknya itu tangan aslimu. Rasa panik dan takut akan melonjak bersamaan dengan meningkatnya ancaman.

Olaf Blanke, seorang direktur the Laboratory of Cognitive Neuroscience di EPL dan profesor neurologi di University Hospital of Geneva, yang turut menulis karya ilmiah pada tahun 2007 menunjukkan betapa manusia dapat sukses menciptakan ilusi kepemilikan tubuh secara keseluruhan, dan pengalaman meragasukma menggunakan sarana virtual reality.

Pengalaman OBE berbasis laboratorium dapat menawarkan pandangan akan interaksi antara otak dengan tubuh dan bagaimana ini memengaruhi kesadaran kita, ujar Hyeongdong Park, seorang mahasiswa pascasarjana di laboratorium Blanke. Mereka telah menggunakan OBE untuk mencoba memengaruhi persepsi rasa sakit, yang berpotensi menyembuhkan rasa sakit kronis. OBE juga dapat membantu kita memahami mekanisme saraf lebih dalam bagi pengidentifikasian dan penempatan secara otomatis serta perspektif orang pertama.

Ini adalah cara kerja mendasar pikiran manusia. Namun ada contoh kejadian pada saat mesin tersebut rusak. Pada 1942, ahli neurologi Josef Gerstmann menemui dua pasien yang menderita kerusakan pada korteks temporoparietal bagian kanan dan mengalami hilangnya kepemilikan tangan kirinya. Kondisi ini disebut somatoparaphrenia. Meskipun lengan dan tangannya masih ada, tapi mereka merasa itu bukanlah tangannya. Pada beberapa orang, ini dapat menyebabkan lainnya: Mereka akan mengakui tangan atau badan orang lain menjadi miliknya.

Masalah neurologis serupa dapat menyebabkan apa yang disebut fenomena autoscopic, yang membuat seseorang tidak dapat melihat tubuhnya, tempatnya atau mengetahui identitasnya dengan benar. Orang yang mengidap heautoscopy seringkali mengaku melihat salinan tubuhnya di tempat lain, atau “mengalami hubungan dekat dengan tubuh autoscopic ini,” tulis Blake di makalah ulasan terhadap penelitian OBE. Kami masih belum mengetahui kelainan otak apa yang dapat menyebabkan heautoscopy.

“Orang dewasa mengalami “tubuh aslinya” yang “berada” di “tubuhku dan merupakan subyek (atau ‘aku’) pengalaman dan pikiran,” tulis Blanke. “Aspek kesadaran ini, seperti pengalaman yang dialami secara sadar terikat pada diri sendiri dan pengalaman entitas yang menjadi kesatuan (‘aku’), sering dianggap menjadi salah satu ciri pikiran manusia yang mengherankan.”

Dalam penelitiannya baru-baru ini, Slater menguji dua versi OBE menggunakan virtual reality, yang berdasarkan penelitian Blanke dan studi OBE lain sejenis yang dipublikasikan 10 tahun lalu. Dua skenario ini memiliki aturan yang sama: Kamu berada di tubuh tiruan, tubuh ini mengikuti gerakanmu dan ada bola memantul yang dapat kamu rasakan sentuhannya (melalui penggunaan tiruan tubuh aslimu). Pada saat kamu sudah mendapatkan ilusi kepemilikan tubuh dan merasa tubuh tiruan itu adalah tubuhmu, pandanganmu mulai melayang menuju langit-langit.

Dalam versi pertama, Slater akan tetap memunculkan bola yang memantul di lantai yang dekat dengan tubuhmu. Kamu masih dapat merasakan sentuhan bola tersebut, dan apabila kamu menggerakkan lengan, lengan di tubuh tiruan akan mengikutinya. Namun, sudut pandang visualmu berada di langit-langit. “Ini akan menyebabkan kebingungan, atau rasa aneh, karena berada di dua tempat berbeda pada saat bersamaan,” kata Slater. “Pandanganku ada di langit-langit, namun aku masih merasakan gerakan tubuhku yang ada di bawah. Ini membuatku merasa ada di dua tempat sekaligus.”

Dalam versi kedua, Slater akan melayangkan bola itu bersamamu. Kamu bisa merasakannya di dekat langit-langit, bukan di bawah. Ketika kamu menggerakkan anggota tubuh, tubuh tiruan di bawahmu tidak akan melakukan apa-apa; kamu benar-benar terpisah darinya. “Ini akan menyebabkan rasa terpisah dari tubuh yang ada di bawahmu,” ujar Slater. “Sekarang aku benar-benar keluar dari tubuh ini.”

Dari seluruh 16 peserta penelitian yang berfisik sehat, ia menemukan bahwa paparan terhadap skenario kedua dapat mengurangi rasa takut, tapi tidak pada yang skenario pertama. Ia menganggap OBE dapat menyebabkan perpindahan psikologis mengenai kematian, tapi hanya dengan pemisahan total dari tubuh, tidak sebagian.

“Apa yang kami kira terjadi yaitu entah bagaimana otakmu mempelajari secara terpisah bahwa memisahkan kesadaran dari tubuh mungkin saja terjadi,” ujarnya. “Itu tubuhku, aku keluar dari tubuhku dan aku masih memiliki kesadaran penuh. Itu berarti kesadaran dapat dipisahkan dari tubuh. Jika kesadaran bisa dipisahkan dari tubuh, maka kita bisa saja bertahan hidup di luar tubuh asli kita.”

Penelitian Slater telah menginspirasi peneliti lainnya di luar lingkungan sains, seperti desainer asal Belanda bernama Frank Kolkman. Kolkman sudah memiliki impian akan rancangan medis sebelumnya, seperti Robot Bedah buatannya sendiri, yang menyodorkan ide akses pembedahan swadaya untuk semua orang.

Kolkman memberitahuku bahwa ketika ia membaca keadaan penanganan kritis saat ini, ia terheran dengan betapa terfokusnya orang-orang dalam memperpanjang masa hidup, bukannya menerima kenyataan akan kematian. “Sekarang, ini adalah cara sejajar yang terbatas untuk menangani kematian, atau menangani pasien yang kritis,” ujarnya. “Kadang hal ini tidak lepas dari persoalan menang atau kalah. Kamu mendengarnya saat kita membahas ini.”

Dalam aturan Kolkman, kamu berdiri di depan kepala robot yang dipasang di trem listrik yang bergerak. Kepala itu memiliki kamera di rongga matanya dan pada saat kamu menggunakan kacamata VR, kamu akan melihat apa yang dilihat kepala robot itu: bagian belakang tubuhmu.

Juuke Schoorl


Melalui pengeras suara di telinga robot itu, kamu mendengar suara yang datang dari posisi kepala robot, bukan kepalamu. Ketika kamu menggerakkan kepala, kepala robot itu akan mengikuti gerakanmu. Pada saat kepala robot mulai bergerak secara perlahan menjauhi tubuhmu, kamu merasa tubuhmu mengikutinya.

“Kebanyakan orang merasa terhubung dengan kepala robot itu,” kata Kolkman. “Mereka merasa berada di posisi robot itu, bukan di tubuh mereka.”

Seiring kamu menjauhi tubuh aslimu, kamu bisa lanjut melihat sekeliling dari sudut pandang robot. Ketika kamu sampai di ujung rel, Kolkman akan membangunkanmu secara kasar: sebuah cermin. Kamu akan melihat wajah robot berwarna putih pucat pada saat kamu menoleh ke cermin – Kolkman menyebut ini sebagai pengalaman meraga sukma yang paling ekstrem.

Kemudian, kepalanya bergerak kembali menuju tubuhmu. Dalam fase ini, orang-orang “merasa sedang melayang”, katanya. “Mereka bisa saja ada di dalam robot atau tubuh mereka sendiri, atau bisa juga di antaranya. Ini merupakan perasaan yang cukup aneh.”

Lebih dari 2.000 orang pernah mencoba mesin Kolkman pada acara pertunjukan Embassy of Health saat Dutch Design Week, dan ia mengatakan hampir seluruhnya menggambarkan ini sebagai pengalaman meraga sukma. Bagaimana dengan mengurangi rasa takut akan kematian? Itulah yang ingin ia telusuri ke depannya, dengan harapan bisa berkolaborasi dengan peneliti-peneliti lain. Ia secara khusus merancang aturan ini untuk menyesuaikan dunia klinis: Pengalaman ini terjadi sangat cepat, jauh lebih cepat dari CT scan.

“Saya harap mesin seperti ini, atau cara berpikir ini, dapat ditambahkan ke dalam perbincangan keadaan kritis,” ujarnya. “Mungkin kita bisa mengurangi sedikit rasa takut, dan menggantikannya dengan penerimaan akan kematian. Itu berarti orang bisa memilih secara berbeda. Mereka mungkin memilih untuk tidak melakukan penanganan yang mungkin saja bisa menambahkan masa hidupnya, tapi bisa saja muncul sesuai kualitas hidup dan keadaan ekonomis. Saya harap ini bisa meringankan sistem tersebut.”

Pertanyaannya, bisakah pengalaman ini diterapkan untuk penanganan masa kritis? Saya bertanya ke Craig Blinderman, direktur Layanan Penanganan Paliatif Dewasa di Columbia University Medical Center, yang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menjamin ini sebelum mencobanya pada orang yang memiliki penyakit serius, dan yang rasa takutnya akan kematian bukanlah perasaan takut semata.

Slater menyetujui asumsi tersebut. Dia mengatakan percobaannya bisa menjawab pertanyaan spesifik mengenai dampak yang muncul dari ilusi tubuh. “Sisanya hanyalah pendapat,” ujarnya. “Saya tidak tahu apakah ini bisa berguna pada pasien yang sakit keras. Perkiraan saya lebih cocok untuk mereka yang sehat dan memiliki rasa takut akan kematian.” Slater sedang melakukan penelitian terbaru mengenai pengalaman meraga sukma dan dampaknya, dan mereka memiliki makalah lain yang sedang diulas.

Blinderman memberitahuku bahwa rasa takut ini tidak didokumentasikan pada pasien dengan penyakit serius. Namun ia tahu bahwa sejumlah pengidap kanker memiliki kesengsaraan eksistensial, terutama tiga bulan awal setelah diagnosis, dan menghilang dengan sendirinya. Ia juga mengatakan bahwa alasan paling umum menggunakan kematian dengan hukum martabat adalah eksistensialnya, seperti takut akan masa depan, menjadi beban orang lain atau hilangnya otonomi.

Meskipun begitu, ia merasa ada yang salah dengan pengalaman VR selama ini. Kalaupun ada konsep VR yang berhasil, ini bisa saja menciptakan semacam kepercayaan baru yang sebelumnya tidak dialami otak manusia. “Ada upaya manipulatif dengan ‘menciptakan’ kepercayaan psikologis yang menganggap bahwa ‘ada kehidupan setelah kematian’ atau ‘hanya tubuhku yang mati, tapi entitasku akan tetap hidup,” katanya. “Ini semua terasa seperti “keluar dari dunia nyata.”

Juuke Schoorl

Ia menyarankan agar kita memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya, bukan menjauhinya, melalui praktik seperti memahami diri secara penuh atau meditasi. Ia mengatakan intervensi cara tradisional seperti psikoterapi yang berfokus pada mencari makna dan martabat, atau intervensi dengan pemuka agama lebih penting, sebelum mencoba menciptakan OBE dengan VR.

Pada saat bersamaan, ia juga menyetujui pemakaian psilocybin, senyawa psikedelik yang berasal dari spesies khusus dari jamur “ajaib”, yang dianggap sebagai pilihan terapetik nontradisional yang lebih menjanjikan. Anthony Bossis, asisten doktor bidang psikiatri di NYU, baru-baru ini menerbitkan studi pengujian obat dengan placebo yang terkontrol terhadap dampaknya, ketika ia dan rekan peneliti mengatur keadaan aman terkontrol untuk pengidap kanker.

Bossis menganggap manusia selalu memikirkan atau merasa takut akan kematian, bahkan saat kita masih muda dan sehat. “Kita mencoba untuk mengabaikannya,” ujarnya. “Tapi kita tidak bisa. Pemikiran ini sangat berdampak terhadap sebagian orang. Kalau kamu manusia, kamu pasti selalu memikirkan bagaimana kamu akan mati.” Tapi seberapa sering mereka memikirkannya, ia setuju dengan Kolkman: budaya kita, terutama di bidang kedokteran, sangat buruk saat membahas kematian. Kita harus cari cara yang lebih baik untuk membahasnya.

Bossis menjelaskan psilocybin dapat memicu pengalaman misti kepada pasiennya, yang menyebabkan perubahan perilaku mengenai hidup dan mati. “Ketakutannya sangat berkurang,” ujarnya saat dihubungi Tonic. “Kami menemukan bahwa perasaan ini sangat berkurang setelah beberapa sesi.”

Pasien Bossis mengatakan bahwa mereka merasakan rasa bersatu dengan semua makhluk hidup, transedensi, menemukan makna dan kesucian. Bossis menganggap rasa transedensi ini sangat penting. “Dalam studi kami, beberapa orang menganggap ini sebagai sesuatu yang lebih abadi.”

Apakah ini berbeda dari yang ingin dicapai oleh virtual reality milik Slater? Bossis berujar bahwa tujuannya terdengar sangat serupa, meskipun penerapannya harus diteliti lebih lanjut. “Mungkin kami bisa menciptakan transedensi dengan teknologi ini,” ujar Bossis. Ia menganggap ini tidak melenceng, karena ia percaya bahwa manusia mungkin saja memiliki semacam pengalaman transedensi ini, baik melalui kacamata VR, jamur ajaib, pengalaman hampir mati, atau, memahami diri dan meditasi.

Bagaimana kalau ini hanya untuk lari dari kenyataan? Untuk mengelabui otak kita?

“Bagaimana kalau ini hanya ilusi?” ucap Bossis. “Orang-orang yang ada di penelitianku masih memandang bagaikan, cinta itu penting dan perasaan terhubung satu sama lain juga penting, tapi apakah pandangan mereka untuk melampaui tubuhnya hanyalah delusi? Menurutku, ini adalah ilusi terkeren yang bisa dialami selama beberapa jam."

More VICE
Vice Channels