Iklan
Wawancara

Vinnie Stigma dari Agnostic Front: Pria Mengaku Anak Punk Pertama di New York

Kami ngobrol bareng salah satu pilar skena NYHC tentang album ke-11 mereka 'The American Dream Died', rambut Mohawak, fanzine, hingga rasanya stage dive di usia 60 tahun.

oleh Reed Dunlea
03 Mei 2018, 11:49am

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Tiga puluh tahun setelah Agnostic Front menggebrak kancah hardcore New York dengan dua album penting Victim in Pain dan United Blood, mereka akhirnya kembali dengan album baru pada 2015. The American Dream Died adalah album studio ke-11 Agnostic Front yang diedarkan label Nuclear Blast. Lagu-lagu dalam album tersebut adalah kumpulan tribut dan reka ulang Roger Miret Cs terhadap momen-momen penting sepanjang karir bermusik mereka. Semua subgenre terangkum dengan baik dalam album ini, mulai dari hardcore punk klasik, crossover melodik sampai ke chorus singalong yang berutang banyak pada gerakan Oi Punk.

Tak lama setelah album tersebut diluncurkan ke pasaran, kami ngobrol bareng sosok penting dalam kancah hardcore New Yok, sekaligus gitaris Agnostic Front, Vinnie Stigma, di NYHC Tattoo. Di toko milik Vinnie itulah, kami membahas album ke-11 Agnostic Front, masa awal skena hardcore New York, rencana Vinnie melakukan stage dive di ulang tahun ke-60, hingga tips memasak kuliner Italia.

Noisey: Agnostic Front punya album baru nih. Ceritain soal album itu dong.
Vinnie Stigma: Album baru kami dirilis tanggal 7 April nanti. Setelah merilis album, kami akan menggelar tur pendek. Minggu depan kami bakal main di Florida dan Puerto Rico bareng Coldside. Harusnya sih turnya menyenangkan. Musim dingin tahun ini panjang banget kan?

Kamu pernah ke Puerto Rico sebelumnya?
Pernah dong. Keren banget lah pokoknya. Dollar Coronas! [tertawa]. Oh iya, waktu itu aku ke Puerto Rico bareng seorang teman. Nama panggilannya Black Joey. Tempat tinggal Joey ada di seberang tempat Camacho meninggal. Camacho yang petinju itu loh. Semua temanku tinggal di sana. Jadi, aku enggak ragu, langsung buka pintu dan baru mau masuk. Saat itulah, dari dalam keluar seekor kuda. Aku bingung terus langsung bilang “Woi, apa-apaan nih?” Pria yang bawa kuda itu menjawab, “Ini tetangga saya menaruh kudanya di balkon.” Nah bayangin deh. Di Puerto Rico kamu bisa lihat kuda lewat begitu saja pas kamu sedang asik nonton TV dan kuda itu bisa eek sembarangan. Ini beneran loh kejadianya. Begitu aku mengalami aku sadar dan bilang “Gue benar-benar sudah sampai di Puerto Rico.”

Album 'The American Dream Died' ini tema besarnya apa sih?
Album ini semacam throwback lah, gampangnya gitu. Agnostic Front punya pemain gitar baru pas album itu rilis. Namanya Craig Silverman, teman nongkrong kami. Dulu dia pernah ngeband di Blood For Blood. Aslinya sih dari Boston yang punya musim dingin paling bangsat sedunia itu. Craig baru saja punya anak. Bayi kecil bernama Henry. Balik lagi ke masalah album, intinya kami mulai latihan lagi dan mulai merekam album ini tepat di hari aku ultah. Waktu itu kami sedang berada di California. Alhasil kami rekaman di sana. Menurutku sih, kami berhasil bikin album keren. Di album ini, kamu punya lagu-lagu hardcore pendek, mirip seperti track-track di Victim In Pain dan United Blood. Lalu, kami punya track-track seperti dalam album My Life My Way. Album baru kamu punya tempo yang asik. Kamu bisa menikmati lagu-lagu dengan durasi pendek. Kamu juga bisa menemui lagu dengan dengan durasi standar serta satu lagu yang melodik. Album ini bakal membawa kamu menyusuri album-album lama kami. Aku suka sekali album ini. Aku yakin album ini enggak akan lekang dimakan waktu.

Jadi kalian menyajikan nostalgia ke beragam era dalam karir kalian nih?
Bisa dibilang begitu lah. Kami punya sebuah lagu hardcore new school di album ini. Kami sudah bermusik nyaris 35 tahun, jadi kami sudah pernah menyajikan hardcore dengan macam-macam gaya. Sudah banyak pula yang kami lakukan dalam perjalanan dan perjungan. Intinya sih, ini album bakal sangat keren. Kamu pasti suka deh.

Lantas apa tema utama lirik dalam album ini?
Antimasyarakat, dari dulu kami memang mengusung tema ini. Agnostic Front itu band sosial, tapi aku malas jadi terlalu politis. Tentu saja, kebijakan itu bisa berubah. Bahkan dalam hidupku, dunia berubah kok. Kamu ngertilah prosesnya. Kamu boleh berpegang teguh pada paham politik yang kamu yakini selama kamu enggak mengutuk orang lain dan mendewakan sosok-sosok tertentu. Kenapa? Ya karena lama-lama tindakan macam itu ngeselin. Lama-lama kita akhirnya ngomong, “Iya deh, aku ikut kamu. Puas?” Yang jelas sekarang Agnostic Front sudah balik lagi. Kami punya album baru. Liriknya anti pemerintah dan anti polisi. Pokoknya hardcore abis. Album ini tentang keluarga dan kebersamaan. Tema-tema ini sangat mewakili perasaan kami dan segala yang kami lalui.

Bagaimana rasanya jadi gitaris Agnostic Front selama hampir 35 tahun?
Jangan lupa, kami di Agnostic Front pernah ditusuk, ditembak bahkan di penjara. Setelah 30 tahun ngeband, beberapa anggota band ada yang masuk penjara. Jadi, mau enggak mau, yang ada di luar harus menunggu sampai mereka keluar baru bisa aktif lagi.

Sebagai veteran di skena ini, apakah menurutmu hardcore berubah selama 35 tahun terakhir?
Hardcore sudah banyak berubah. Sekarang anak hardcore sering bilang, “Bentar ya gue mau ngetweet dulu biar terkenal.” ngerti kan? Pada selalu ada kegiatan akar rumput di kancah hardcore. Bagi-bagi selebaran salah satunya. Aku kenal semua rekan-rekanku di kancah hardcore di gig. Bukan di internet loh ya. Ya enggak apa-apa juga meluaskan jaringan di internet. Itu baik kok. Cari banyak temen dan jangan bikin musuh. Sekarang itu lebih mudah dilakukan. Jauh lebih mudah. Aku masih main gitar. Aku masih main dengan cepat dan keras. Sekarang kami punya gitaris baru, Craig Silverman. Dia orangnya baik dan keren. Craig adalah salah satu pemain gitar terbaik di kawasan pantai timur [Amerika Serikat]. Selain aku, tentu masih ada Roger Miret dan Pokey Mo di drum. Mo pernah juga main di Leeway. Basis kami masih Mike Gallo yang keren. Dia kadang bisa disuruh nyukur rambu. Dia juga punya tempat cukur dan tato, udah tahu kan?

Wah, kebetulan aku butuh tukang cukur baru.
Pastinya.

Yuk ngobrol lagi tentang sejarah musik New York. Apa yang bisa kamu ceritakan tentang The Eliminators?
Itu band tua dari New York. Masih seangkatan dengan The Stimulators dan Dead Boys dan bandku The Eliminator. Aku selalu tergabung dengan band New York yang bagus. Aku selalu berada di dalam mosh pit. Aku selalu terlibat. Aku punk rock total. Aku juga punya rambut yang paling keren. Kalau rambut ini aku dispike, dan aku ganti warnanya, kamu pasti akan pangling.

Katanya kamu dulu pernah mohawk?
Rambutku selalu di-mohawk. Dan akan dimohawk di ulang tahunku ke-60 nanto. Setiap hari ulang tahun, rambutku selalu di-mohawk, dan aku melakukan stage dive. Aku tinggal bilang, “Keluarkan jaringnya! Keluarkan jaringnya!”

Sambil manggung?
Iya, iya. Atau band yang manggung bareng kami, seperti Naysayer, Take Offense, atau teman tur. Coldside. Siapapun itu. Mereka baru merilis album baru juga, dan aku akan tur bareng mereka. Mereka dari Florida. Salah satu temanku, dia seorang ahli anggur. Setiap kali pergi ke toko anggur, aku telpon dia, memfoto anggurnya dan mengirimkannya ke dia. “Gimana menurutmu? Beli gak?” Buat memulai percakapan aja gitu. Nomor kamu berapa? Nanti aku telpon iseng-iseng juga. aku emang kurang kerjaan. Aku suka menelpon iseng orang. Seru!

Apa kamu memainkan karakter-karakter yang berbeda?
Pastinya. “Bisa tolong telpon temanku gak? Dia gak bisa datang ke gig.” “Namanya siapa? Joey? Buruan telpon dia.” Nyambung ke mesin penjawab. “Joey, mana lo? Katanya mau datang ke gig, dasar brengsek. Kalau elo gak dateng, gue patahin kaki lo entar. Lain kali gue dateng ke kota elo, kalau gak dateng gue cari lo ya!” Klik. Begitu deh.

Kamu main bass untuk The Eliminators?
Iya, Aku main bass. Aku jago loh main bass. Aku lebih jago main bass daripada gitar. Tapi sekarang aku merasa lebih jago main gitar dibanding bass.

Kalian sempat berapa kali manggung?
Kami manggung beberapa kali, sempet tur juga. Sering main di DC. Sempat juga ke Ohio. Kami sering main. CBGB, Max’s Kansas City, dan yang paling legendaris A7 Club.

Seperti apa manggung di A7?
A7 gelap, waktu itu sudah larut. Gignya baru dimulai jam 2 pagi. Dulu acara punk dan hardcore dimulai sangat larut. Ini setelah Max’s ditutup, dan memang tempat ini buka larut malam. Banyak memori seru dari tempat itu. Joe Jackson pernah membelikanku bir di sana. Dia datang, dan membelikanku bir. Joe tinggi banget, pokoknya aku enggak akan pernah lupa. Yellow Man, seorang lelaki Rasta, dulu nongkrong di sana setiap Kamis. Setiap Kamis ada malam Rasta. Aku pasti ngeganja dulu. Mereka semua tahu karena aku enggak berusaha berbicara seperti mereka. Aku enggak mau sok-sokan Rasta, aku Vinnie! Aku malas berpura-pura. Teman-temanku juga kerja di sana. Seru sekali.

Kamu sempat bikin fanzine juga kan?
Aku menulis fanzine sebelum mulai menjadi punk rocker. Sebelum hardcore menjadi hardcore. Nama fanzineku Crash Magazine. Tebak siapa yang berada di foto sampul majalahnya? Aku sendiri! Norak ya? Tapi aku dulu menulis laporan skena, tapi kayaknya itu enggak cocok buatku karena aku bukan penulis. Aku bisa menulis lagi dan liriknya. Tambah sedikit melodi, terus buang deh.

Kamu menulis lagu “Power” pada 1977. Itu benar enggak sih?
Benar.

Kok bisa sih menulis lagu di usia semuda itu?

Aku menulisnya di dapur ibuku. Aku juga enggak ngerti gimana kejadiannya. Kuncinya dibeatnya. Aku panggil Pokey Mo deh. Beat macam itu mirip dengan band Charlie Harper, UK Subs. Teman baik aku juga. Aku selalu bilang ke dia, “Gue bunuh juga lo.” Dia jawab, “kenapa?” “Gue pengin jadi punk rocker paling tua sedunia.”

Roger Miret kan dari Jersey, apa ada hubungan antara skena New Jersey dan New York?
Sebenarnya banyak kemiripan antara New Jersey dan New York. Jujur saja ya, aku dulu satu-satunya anak punk rock di New York City. Asalku bukan dari Queens atau Jersey. Aku bisa jadi musisi seperti sekarang ini karena CBGB. Aku sudah kepingin manggung di CBGB sejak namanya masih Hilly’s on the Browery. Dulu sebelum ada Agnostic Front, aku punya band namanya Black Angus. Kami sering latihan di basement sebuah gedung di 68 Broadway.

Apa benar kamu pernah memaku tembok CBGB?
Bener banget. Waktu bandku The Eliminators sedang manggung di CBGB tahun 1977 lalu, aku memindahkan seluruh alat musik karena ruangan yang kami pakai banjir. Kayaknya ada pipa bocor. Aku pakai jaket waktu itu dan bingung mau ditaruh di mana karena enggak ada gantungan. Akhirnya aku cari paku dan palu di dapur, dan memaku tembok untuk gantung jaket.

Dengar-dengar kamu jago buat bakso ya?

Enggak yakin deh kalau bakso, tapi aku jago buat segala macam pasta. Aku juga bisa buat hidangan penutup atau crepe. Itu emang makanan Perancis, tapi buatanku enak banget. Apalagi aku punya teflon yang bagus. Omong-omong, aku jago masak.

Kamu belajar masak dari mana?
Ibu dan nenekku. Mereka orang Italia. Kamu orang Italia juga, bukan?

Bukan.
Tapi kamu mirip orang Italia. Apalagi dengan kumis seperti itu. Kayak polisi Italia.

Ada lagi yang pengin kamu sampaikan kepada para pembaca?
Bersenang-senanglah. Cari teman sebanyak mungkin. Datang ke New York Hardcore Tattoos. Banyak seniman tato yang jago di sana. Boleh banget kalau kamu mau nonton Agnostic Front. Temui aku selesai tampil supaya kita bisa ngobrol-ngobrol.