Diktator di Eropa

Mengunjungi Belarus, Negara Terakhir di Eropa Masih Dipimpin Diktator

Belarus, bekas Uni Soviet, baru mulai menerima turis bebas visa tahun ini. Warga di sana bukan hanya sangat kuat minum alkohol, tapi juga paling susah 'move on' dari kejayaan masa lalu.

oleh Dave Hazzan
17 Oktober 2017, 1:30am

Semua foto oleh Jo Turner

Di bandara Minsk, Republik Belarus, pengamanan di loket imigrasi bukan urusan remeh. Kecuali Israel, tidak ada negara lain selain Belarus yang memeriksa paspor saya sedemikian rupa.

Perempuan muda itu cemberut dalam balutan seragam hijau kelonggaran memeriksa paspor saya memakai kaca pembesar, menyorot tiap halamannya dengan sinar UV, mengecek tiap cap, mensejajarkan foto paspor ke wajah saya, lalu mengulang prosedur itu dari awal.

"Mana asuransi kesehatan Anda?" tanya perempuan itu dengan nada datar.

Saya menyerahkan sebuah surat dari perusahaan asuransi. Dia membaca setiap kata dengan seksama, sebelum memutuskan surat itu tidak dapat diterima. Dia memanggil seorang kolega lewat radio, yang kemudian mengarahkan saya pada staf yang menjual asuransi kesehatan di dekat pintu. Berbekal asuransi baru di tangan, saya mengantre lagi, mengulang seluruh proses sekali lagi.

Setelah melalui Imigrasi, saya kesulitan menemukan ATM yang aktif atau pedagang valas di lorong-lorong bandara. Di luar, saya dan fotografer Jo Turner diberondong sopir taksi dari segala macam perusahaan swasta; walau sebetulnya hanya perusahaan taksi pemerintah yang secara resmi memberikan layanan transportasi dari bandara.

Rentetan pengalaman itu bisa dibilang perkenalan yang buruk dengan Belarus, tapi ya semua masih wajar. Mereka tidak terbiasa sama pelancong, sehingga masih berjuang menyediakan infrastruktur wisata. Belarus baru membuka negara mereka untuk para turis tanpa visa dari 80 negara termasuk Kanada, pada 12 Februari 2017.

Inilah tempat yang sungguh-sungguh perlu saya kunjungi. Setelah berbulan-bulan berkeliling Eropa, sampai visa Schengen saya kadaluarsa, Belarus menjanjikan dunia yang berbeda dari wilayah Eropa lainnya. Republik ini digadang-gadang sebagai "kediktatoran terakhir di Eropa."

Belarus merupakan mantan anggota Soviet yang terletak di antara Rusia dan Polandia. Bahasa Belarus adalah bahasa nasional republik tersebut, tapi sepertinya tidak digunakan oleh orang-orang di Minsk. Sebagian besar orang di sana berbicara dalam Bahasa Rusia. Sembilan setengah juta orang hidup di Belarus, negara yang besarnya hampir dua kali Pulau Jawa.

Seperti kebanyakan diktator, pemimpin Belarus Alexander Lukashenko tidak senang melihat arus pelancong asing. Belarus hanya senang melihat pemasukan devisa dari pelancong asing tersebut. Jadilah mereka memutuskan menyambut para pelancong tanpa visa, meski masih ada batasan-batasan tertentu.

Di luar permasalahan birokrasi bandara, hanya ada sedikit (jika bukan tak ada sama sekali) tanda-tanda negara ini dikuasai seorang diktator; di mana para pembangkang ditahan, demonstrasi damai dibubarkan, dan pers disensor. Potret Lukashenko tidak digantung pada setiap dinding. Sepanjang jalan tol dari bandara, saya lebih sering mendapati reklame iklan kasino dibandingkan reklame soal ketertiban umum. Selain itu, lebih banyak pasukan keamanan di jalanan Paris dan Roma daripada di Minsk; beberapa pasukan yang saya lihat bahkan tidak bersenjata dan asyik nongkrong di museum Seni Nasional.


Baca juga catatan perjalanan jurnalis VICE ke Eropa Timur lainnya:

Induk semang Airbnb kami, Svetlana*, adalah seorang babushka yang membuatkan kami panekuk Rusia bernama blinis di pagi hari. Ia senantiasa menyelipkan stoples selai apel buatannya sendiri dalam tas kami. Dia mencintai kedua kucingnya yang berwarna abu-abu. Salah satu kucingnya sedang motah.

"Dia sedang berahi," ujar Svetlana. "Dia tahu kamu laki-laki baik, makanya dia berisik!" Saya bergumam dengan diri sendiri, mengingatkan bahwa saya kini berada dalam kediktatoran terakhir di Eropa, tinggal di rumah seorang perempuan yang menginginkan agar saya bercinta dengan kucingnya.

Pelancong hanya diizinkan tinggal selama lima hari di Beralus sehingga saya kesulitan mengunjungi kota-kota lain di luar Minsk tanpa mobil. Saya tidak bisa menyewa mobil karena SIM saya sudah kadaluarsa dan saya tak mampu menyewa pemandu. Jadi, saya menetap di Minsk saja. Saya paham, saya jadi tak bisa menilai negara ini secara adil. Mungkin mirip dengan pelancong yang menilai "di Kanada banyak orang brengsek" padahal cuma menginap lima hari di Toronto. Tapi bedanya, pemerintah Kanada memberikan sebagian besar pelancong tiga bulan untuk menjelajah satu ujung negara ke ujung lain.

Halo sosialisme! Foto oleh Jo Turner.

Jelas, saya tidak bisa menilai keseluruhan negara ini sekilas saja. Tapi saya bisa yakinkan, Minsk adalah tempat keren. Wilayah "upper city," sejenis kota tua, hanya berisi balai kota yang dipugar, segelintir gereja, dan restoran buat turis yang mahal. Sebaliknya kota yang berada jauh dari sana membuat kunjungan ke Belarus sepadan.

Sebagian besar bangunan di sini runtuh pada Perang Dunia II dan dibangun kembali menuruti kehendak Soviet. Gedung pemerintahan yang panjang mendominasi sebagian besar kota, buah instruksi pemerintah pada zaman itu. Alih-alih membosankan, seperti monster beton hasil imajinasi Barat, sebagian besar bangunan ini mengesankan. Tapi bangunan-bangunan ini hanya bisa dipandang dan dikenang, karena kalau nekat memotretnya bisa-bisa saya diusir dari republik itu. Lantai pusat kota terbuat dari marmer. Di Lenin Square, saya memandang langsung patung Vladimir Ilyich memimpin para pekerja menggerakkan revolusi.

Melancong ke negara-negara mantan Soviet, saya menemukan beragam reaksi soal Kerajaan Soviet yang sempat agung. Sebagian orang merindukannya (di Rusia), sebagian orang merasa ambivalen (di Moldova, Kazakhstan), dan sebagian orang lega kerajaan itu hancur (di Estonia, Latvia, Lthuania).

Di Belarus, kerajaan itu seakan-akan tak pernah runtuh. Bendera mereka memang berbeda, tapi sisanya sama saja. Pasukan polisi rahasia -bermarkas di Niezalienznasci dekat apartemen Svetlana- masih disebut KGB. Dinding-dinding stasiun kereta bawah tanah Oktyabrskaya dipenuhi mosaik yang merayakan sosialisme. Di Minsk Boshoi -di mana saya menyaksikan pertunjukan balet Giselle oleh grup Adolphe Adam dengan tiket seharga 10 Euro saja- para balerina mengenakan kostum penuh ornamen palu arit berwarna emas. Pegawai negeri sipil di sana masih mengenakan seragam hijau, lengkap dengan topi instansi raksasa yang dikenakan jenderal Rusia di film-film thriller Perang Dingin. Saya selalu berasumsi topi instansi digambarkan secara berlebihan oleh Hollywood. Di Belarus saya sadar asumsi saya keliru.

Tapi itu semua tidak membuat McDonald's, H&M, Coca-Cola, dan distributor kapitalisme lainnya mundur dari kota ini. Mereka hanya tidak kentara di balik fasad sosialis-realis di sana.

Di manapun perayaan Uni Soviet berada, akan ada nostalgia atas Perang Dunia II, atau yang mereka kenang sebagai "Perang Patriotis Agung." Kecuali Polandia, tidak ada negara yang dilanda perang separah negara-negara Soviet, dan Belarus, yang berada di wilayah barat jauh Soviet, mengalami kerugian terbesar. Belarus kehilangan sepertiga populasi mereka, termasuk 800.000 warga Yahudi. Kamp Maly Trostenets, yang terletak 12 kilometer dari timur Minsk, adalah kamp konsentrasi Nazi terburuk setelah Auschwitz, Madhanek, dan Treblinka.

Museum perang yang harus diakui keren banget.

Tugu peringatan perang ada di mana-mana, dan Museum Perang Patriotik Agung adalah monumen terpenting di kota. Museum perang ini, yang ditempatkan dalam kubah kaca dengan bendera Soviet di seluruh sudutnya, adalah museum perang terhebat yang pernah saya kunjungi. Kebanyakan museum perang bahkan tidak memiliki seperempat koleksi museum ini. Dari tangki, senapan, dan pesawat (baik milik Jerman maupun Soviet), hingga medali, seragam, dan foto-foto di situ membuat saya takjub.

Tentu, ini propaganda. Republik Baltik dijajah dan diduduki, bukannya "tergabung" dalam USSR sebagaimana dijelaskan panel-panel di museum ini. Namun kalau mesin pembunuh milik Nazi menewaskan seperti populasi dan membumi hanguskan negaramu, kemungkinan besar kamu akan memandang hal-hal ini melalui sudut tertentu. Dalam perjalanan keluar museum, ada toko oleh-oleh yang menjual cangkir kopi, flask, gelas syot alkohol dengan wajah Joseph Stalin dan cap CCCP. Barang-barang ini dijual dari harga $2.

Kota ini tidak cuma berisi museum dan monumen-monumen membosankan. Saat berjalan melewati Victory Square, ada beberapa parade pasukan di sekitar tiang-tiang setinggi 38 meter dengan bintang merah di atasnya. Dari jarak dekat, saya sadar mereka bukan pasukan, melainkan pelajar SMA berpakaian seragam hijau yang tampak seperti militer. Mungkin mereka kadet. Saya tidak mendapatkan penjelasan yang cukup jelas dalam Bahasa Inggris dari siapapun. Tingkat kemampuan berbahasa Inggris mereka rendah, sementara saya sama sekali tak mengerti bahasa mereka. Tapi mereka paham kata "war," yang berarti perang, dan mereka mengulang kata itu berkali-kali. Sejauh pengetahuan saya atau Svetlana, itu bukan parade untuk merayakan hari libur nasional tertentu. Itu hanya upacara biasa.

Bisa dibilang warga Minsk paham caranya berpesta. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Belarus sebagai negara yang warganya paling kuat minum alkohol di dunia. Rata-rata mereka mengonsumsi sekitar 17,5 liter alkohol murni per tahun, per individu. (Pemerintah mereka berselisih soal angka ini.) Vodka dan brandy dituang dan dijual di setiap tempat, dan bar-bar dipenuhi mereka yang gemar minum bir dan anggur. Meski begitu, tidak banyak pemabuk yang ricuh di jalan-jalan. Meski mereka mabuk, mereka tetap menjaga sikap.

Pada hari Sabtu, di Palace of Art, yang sebetulnya tak sesuai disebut palace dan lebih cocok dibilang pusat konvensi kecil, banyak orang mengonsumsi alkohol di Recast Moto Show. Saya tidak tahu arti recast moto, tapi kayaknya acara itu melibatkan banyak motor tua.

Saya bertemu seorang perempuan bernama Claudia Liebenberg, seniman Afrika Selatan yang melukis motor tua pada canvas dengan cat air. Dia terbang jauh-jauh dari Cape Town hanya untuk menghadiri acara tersebut. Dia lega, akhirnya ada orang yang bisa diajak ngobrol lancar.

Birnya enak, makanan biasa aja, pelayanannya lebih buruk lagi. Begitu slogan bar ini.

Di lantai bawah, banyak patung hewan bergaya steampunk yang terbuat dari roda gigi yang berkarat. Anak-anak di situ sangat menyukai patung-patung ini. Mereka juga menyukai band yang tampil di luar. Keluarga berjoget bersama pada iringan musik rockabilly dan alternatif, di halaman yang dipenuhi truk bir dan makanan.

Di dekat sungai, setelah Stasiun kereta Oktybrskaya dan di belakang Lenin Square, ada bar bernama Doodah King yang menurut Google Maps bagus. Ternyata bar itu dipenuhi asap, bau, dan terasa sangat grunge. Kecuali daftar menu koktail dan reklame dengan kelakar "Warm beer! Lousy food! Bad service!", bar itu dipenuhi orang-orang yang berbahasa Belarus dan Rusia.

Ada dua band, keduanya memainkan musik pop punk ala Green Day, termasuk beberapa cover, yang dinyanyikan dalam Bahasa Inggris. Saya enggak memikirkan hal ini secara serius, tapi mungkin memainkan musik seperti ini termasuk aksi perlawanan bagi remaja di situ.

Pada hari Senin, sopir taksi kami menggunakan argo alih-alih 'nembak' ongkos seperti saat pertama kali. Kami perlu ke bandara, dan kami tidak bisa menawar dalam Bahasa Belarus. Antrian di Pemeriksaan Imigrasi relatif sepi, tapi sekali lagi kami harus menunggu lima menit sementara seorang perempuan muda memeriksa setiap lembar paspor kami, menyorotnya dengan sinar UV, dan memandangnya lewat kaca pembesar seperti sedang menilai permata. Saya paham mengapa mereka gugup saat mengizinkan pelancong masuk, tapi saya kira mereka akan lebih santai saat kami pergi.

Di kereta dalam bandara menuju penerbangan Air Baltic dengan tujuan Riga, kami berjumpa dengan seorang perempuan muda dari Denmark yang jelas-jelas terguncang. "Saya tinggal di sana lebih dari lima hari," ujarnya sambil menenggak air putih. Dia berasumsi bahwa izin tinggal selama lima hari dimulai sejak mendarat, dan tidak menghitung waktu perjalanan. Dia dibawa ke sebuah ruangan kecil, diinterogasi, tasnya diperiksa, dan didenda. Saat saya bertanya jumlah dendanya, dia bilang tidak tahu. Sepertinya pemerintah Belarus akan mengiriminya tagihan.

Saya penasaran apakah perempuan itu akan membayar denda. Saya sih tidak sudi. Mengingat Belarus adalah republik yang mengisolasi diri dari komunitas internasional, saya rasa mereka tidak punya cukup kuasa memaksa warga asing membayar denda. Satu-satunya masalah terjadi kalau dia kembali ke sana. Saya sih mau-mau saja ke Belarus lagi. Syaratnya, mereka bersedia memberi waktu lebih banyak dan tanpa konsekuensi ditahan dalam sel interogasi.

* Namanya saya ubah. Saya enggak mau dia terlibat masalah karena menyediakan penginapan bagi seorang jurnalis.