Sepakbola

Piala Dunia 2002, Ajang Sepakbola Paling Kontroversial Sepanjang Masa

Gelaran Piala Dunia di Korsel dan Jepang dikenang sebagai panggung terakhir Ronaldinho, Rivaldo dan Ronaldo. Namun, kacaunya perilaku wasit membuatnya juga terus dikenang buruk di memori pecinta bola.

oleh Will Magee
19 Juli 2017, 7:04am

Foto pertandingan Italia vs Korsel oleh PA Images

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Gelaran Piala Dunia 2002 sepatutnya dikenang sebagai momen bersinarnya timnas-timnas underdog. Senegal, sejak lama dikenal sebagai timnas gurem, menyingkirkan juara bertahan Perancis di fase grup. Senegal lantas mengirim Swedia pulang lebih awal di babak 16 besar. Turki maju sampai semifinal sebelum dikalahkan tipis oleh Brazil dengan skor tipis 0-1. Dan yang paling mencengangkan: Korea Selatan, salah satu tuan rumah selain Jepang, mencatatkan rekor terbaik mereka sepanjang sejarah Piala Dunia. Timnas Negeri Ginseng melenggang hingga semifinal dengan menekuk dua nama besar: Spanyol dan Italia. Final Piala Dunia 2002 memang tak menawarkan kejutan berarti: Jerman bertemu Seleção—julukan timnas Brazil. Justru berkat serangkaian kontroversi di babak menjelang finallah yang bikin gelaran Piala Dunia 2002 sebagai salah satu kompetisi sepakbola paling kontroversial.

Di lain pihak, bintang utama turnamen kala itu adalah tridente Brazil, Ronaldinho, Rivaldo dan Ronaldo. Ketiganya terus menari, menunjukkan skill tingkat dewa mereka sampai ke babak pamungkas. Tetap saja, ketika ditanya momen apa yang masih diingat dari Piala Dunia 2002, mayoritas orang akan melupakan delapan gol yang dilesakkan Ronaldo. Hanya sedikit juga yang masih ingat lob legendaris Ronaldinho yang bikin David Seaman keki. Sebaliknya, yang dikenang oleh banyak orang dari Piala Dunia 2002 adalah beragam kontroversi yang menyelimutinya, mulai dari politik kotor FIFA, pengenalan aturan golden goal dan wasit yang berat sebelah.

Salah satu coreng Piala Dunia 2002 bahkan terjadi enam tahun sebelum kick off pertandingan pembuka dilakukan, ketika Jepang dan Korea Selatan terpilih sebagai tuan rumah bersama. Sebelumnya, kedua negara harus berjibaku untuk terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia. Ini adalah kali pertama penyelenggaraan Piala Dunia dipercayakan pada dunia negara yang bertetangga lantaran baik Jepang maupun Korea Selatan tak memiliki infrastruktur yang memadai untuk menjadi tuan rumah tungga. Fakta bahwa sebelum mengajukan diri sebagai tuan rumah, timnas Jepang tak pernah lolos kualifikasi Piala Dunia sendiri jadi sorotan publik sepakbola saat itu. Hal lain yang bikin terpilihnya kedua negara sebagai penyelenggara Piala Dunia adalah permasalahan logistik yang dihadapi para fan sepakbola yang datang untuk menonton pertandingan secara langsung.

Para suporter harus menyebrangi lautan mengejar pertandingan yang mereka incar. Belum lagi, perbedaan waktu antara benua Asia dan Eropa ada PR tersendiri bagi pecandu sepakbola di Eropa. Mereka harus menonton pertandingan di pagi hari. Imbasnya, jam kerja jutaan orang di Eropa acak-acakan. Sebagai gelaran Piala Dunia pertama di Asia, Piala Dunia 2002 dianggap sebagai permainan politik FIFA yang mengorbankan kenyamanan supporter sepakbola. Puncaknya, muncul pertanyaan besar tentang kultur sepakbola Korea Selatan dan Jepang—pertanyaan sama banyak muncul seiring terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Tentu saja kita bisa menuding komentar-komentar miring hanyalah bentuk arogansi publik sepakbola Eropa. Lagipula, FIFA waktu itu tak berpikir bakal menganulir rencananya mengeksploitasi pasar Asia yang besar cuma lantaran gerutuan rezim sepakbola lama. Malah, pada akhirnya, publik dibuat tercengang dengan kultru sepakbola Korea Selatan yang menarik, meski di Jepang sambutan akan gelaran terbesar sepakbola ini terasa suam-suam kuku belaka setelah Jepang menyerah pada Turkki di babak 16 besar.

Di bawah panduan Guus Hiddink, timnas Negeri Ginseng itu jauh mengungguli rekannya sesama penyelenggara Piala Dunia 2002 dan mengorbankan badai Piala Dunia dari Gwangju hingga Ulsan, Daegu hingga Seoul. Penggunaan metafora "badai" sangat populer dalam pemberitaan Piala Dunia waktu itu lantaran digelar di musim angin moonsoon—ada kekhawatiran akan terjadi badai yang tak sedikitpun terbukti—dan juga karena badai kritik yang diterima karena catatan kesuksesan timnas Korea Selatan di ajang itu.

Semasa fase grup, timnas Setan Merah melenggang tanpa satu pun insiden berarti. Korea Selatan menang dengan menyakinkan atas Portugal dan Polandia dan bermain imbang dengan skor 1-1 melawan Amerika Serikat. Memang, ada sedikit kontroversi dalam partai melawan Portugal. Dua anggota skuad Portugal, Beto dan Joao Pinto diusir ke luar lapangan. Namun, saat itu, Korea Selatan memang pantas keluar sebagai kampiun dan menjadi pemuncak grup. Yang kerap dianggap sebagai pertandingan kontroversial adalah pertemuan Korea Selatan melawan Italia di babak 16 besar, yang dimenangkan Korea Selatan dengan skor 2-1.

Ahn Jung-Hwan menyundul bola melewati Gianluigi Buffon tiga menit sebelum perpanjangan waktu kedua berakhir. Performa tim azzurri sepanjang Piala Dunia 2002 sebenarnya tak bagus-bagus amat, kalau tak bisa dibilang busuk meski diperkuat nama besar seperti Maldini, Cannavaro, Totti, Nesta, Inzaghi, Materazzi, dan Vieri. Namun tetap cara mereka kalah dari timnas Negeri Ginseng yang menorehkan luka mendalam di hati publik sepakbola Italia.

Suporter Italia terduduk lemas dan sedih, setelah timnas-nya dikalahkan Korea Selatan. Foto oleh EPA Images/Ciro Fusco

Skuad Korea Selatan yang ditukangi Hiddink turun dengan formasi menyerang 3-4-3 dan pressing tingi yang diterapkan Korea Selatan bikin Italia keteteran sejak awal. Meski Vieri mengoyak gawang Korea Selatan di menit ke-20, fan Azzurri dibikin keki oleh serangkaian pelanggaran yang dibiarkan begitu saja. Alhasil, pengadil lapangan waktu itu Byron Moreno asal Ekuador memberikan kesempatan Korea Selatan menyerang habis-habisan tanpa halangan berarti. Sebaliknya, Italia harus menerima hukuman berat dari Moreno. Francesco Totti diusir keluar lapangan karena dituduh melakukan diving. Damiano Tommasi sempat bikin gol yang lekas dianulir wasit karena konon sudah dalam posisi off-side. Choi Jin-cheul melayangkan tekel dua kaki terhadap Gianlca Zambrotta sementara Kim Tae-Young dengan santai bisa menyikut Alessandro Delpiero. Italia memang tak lepas dari kesalahan dalam pertandingan yang berlangsung keras. Namun, yang menjengkelkan serangkaian pelanggaran keras Korea Selatan lolos begitu saja.

Di Italia sendiri, banyak yang menolak mengakui kemenangan Korea Selatan. Bahkan sebagai bentuk balas dendam, status pinjaman Jung-hwan dihapus dari tim Serie A, Perugia. Headline surat kabar Italai tak kalah pedasnya. Giorgio Tosatti, seorang jurnalis sepakbola legendaris Italia, bahkan sampai menulis di Corriere della Sera "Italia didepak dari Piala Dunia kotor yang mengubah wasit dan hakim garis menjadi pembunuh bayaran."

Beberapa teori konspirasi mengenai pengadil asal Ekuador itu mulai marak tersebar. Imbasnya, FIFA segera menyelidiki serangkaian kontroversi yang melibatkan Moreno. Bahkan orang nomor satu di FIFA saat itu Sepp Blatter sampai angkat bicara. Baginya, kesalahan yang terjadi di lapangan murni "kesalahan manusia bukan sesuatu yang direncanakan." Tentu saja, ucapan Blatter tak serta ditelan mentah-mentah oleh publik sepakbola Italia. Opini yang berkembang di Italia saat itu adalah bahwa pertandingan itu sudah diatur sedemikian rupa agar Korea Selatan bertahan lebih lama dalam turnamen dan kepentingan FIFA di Asia bisa diselamatkan tanpa memerdulikan prinsip fair play sepakbola.

Saat Korea Selatan kembali menjungkan tim raksasa Eropa, Spanyol di babak perempat final, kemarahan media Eropa berlipat ganda. Kali ini, wasit asal Mesir, Gamal Al Al-Ghandourm, yang jadi pusat kontroversi setelah menganulir dua gol bersih dari Spanyol sementara—di sisi lapangan—pelatih Spanyol José Antonio Camacho memprotes keras keputusan wasit, mengangkat kedua tangannya tinggi-tingi sampai kedua ketiaknya yang basah terlihat jelas (barangkali sampai saat ini, ini adalah ketiak basah paling kesohor dalam sejarah sepakbola).

Kegeraman mengemuka lewat halaman surat kabar Inggris The Telegraph. Kolomnis olahraga Paul Hayward menulis: "Laporan menunjukkan bahwa Korea Selatan mengalahkan Spanyol dalam adu pinalti di Gwangju Sabtu lalu. Ini bohong belaka dan turnamen ini sudah berubah jadi lelucon." Hayward juga mengkritik keras politik internal dalam pemilihan wasit. Baginya, keputusan FIFA untuk menggunakan wasit dari negara-negara minor dalam kompetisi sepakbola sebagai tindakan "anti-meritocratic." Tentu saja, media massa Spanyol tak kalah berangnya, mereka menuduh hasil pertandingan perempat final itu sebagai hasil kecurangan.

Timnas Korsel merayakan kemenangan mereka atas Spanyol. Foto oleh: PA Images

Kalau saja Korea Selatan berhasil mengalahkan Jerman di semifinal, kemungkinan besar bakal terjadi kerusuhan besar, setidaknya di luar kantor surat kabar ternama di Eropa. Untungnya mimpi indah Korea Selatan diakhir oleh gol tunggal tim Panzer dari kaki Michael Ballack. Meski kalah, anggota timnas Korea Selatan diperlakukan layaknya pahlawan di semenanjung Korea. Bahkan, Ri-Kwang-gun, ketua Asosiasi Sepakbola Korea Utara, sampai harus mengirimkan ucapan selamat kepada musuh bebuyutannya.

Di Italia dan Spanyol, Piala Dunia 2002 masih dikenang sebagai pengalaman pahit yang selalu bkin geram. Seiring dengan terbongkarnya skandal FIFA di tahun 2015, kecurigaan ada permainan politik di dalam FIFA yang membuat timnas mereka tersingkir oleh skuad negara gurem makin menebal. Tapi, apapun terjadi, dua pertandingan itu dikenang sebagai memori yang membanggakan di Korea Selatan. Gerutuan, omelan, dan protes keras dari benua Eropa tak akan bisa menghapus kenangan terbaik mereka atas Piala Dunia.

Follow penulis artikel ini lewat akun @W_F_Magee untuk membahas serba-serbi sepakbola.