LGBTQ di Indonesia

Pembuat Komik Gay Muslim di Instagram Buka Suara: Aku Tak Berusaha Menghina Agama

"Aku tidak merasa bisa mengubah masyarakat. Tapi yang pasti, kalau aku meneruskan komik ini, muslim gay di luar sana bisa tahu kalau mereka tidak sendirian."

oleh Alpantuni; seperti diceritakan pada Adi Renaldi
25 Februari 2019, 10:37am

Kolase foto oleh Ilyas Rivani.

Komik Alpantuni yang disebar lewat Instagram memicu kontroversi. Cerita-ceritanya yang gamblang seputar tantangan hidup seorang gay muslim di Indonesia (dan Malaysia) menuai protes. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengancam Instagram agar memblokir akun tersebut. Alpantuni sempat hilang, tapi ternyata bukan karena ancaman blokir pemerintah Indonesia.

Kepada VICE, pengelola akun sekaligus komikus di balik Alpantuni bersedia menceritakan motivasinya merilis karya kontroversial di negara yang dikenal cukup homofobik. Berikut penuturannya, yang disarikan ulang oleh Staff Writer kami Adi Renaldi, menjadi narasi dengan sudut pandang orang pertama.


Aku datang dari keluarga Muslim yang cukup taat. Sejak kecil aku dididik agar salat lima waktu, membaca Al Quran setiap hari, dan ikut pengajian di taman pendidikan Alquran (TPA) dekat rumah tiap sore. Beberapa sanak familiku ada yang menjadi ustaz. Kehidupanku terlihat baik-baik saja, jika dilihat sepintas lalu. Keluargaku cenderung mapan dan lurus. Nyaris tak ada konflik berarti di dalam keluarga kami.

Masa kecilku tergolong bahagia dikelilingi oleh keluarga besar. Aku punya kerabat yang tinggal di Indonesia dan Malaysia, yang membuatku kerap menghabiskan waktu di dua negara tersebut. Ini membuatku sedikit banyak paham soal budaya dan agama di kedua negara serumpun itu.

Semuanya berubah, sewaktu aku menginjak usia remaja. Aku mulai sadar lebih tertarik sama cowok. Aku berusaha sekuat tenaga. Bermacam doa kupanjatkan, tapi perasaan tersebut tak kunjung enyah. Malah semakin kuat. Aku sempat mengunjungi psikolog tapi tak membuahkan hasil. Aku mendalami teks agama, fatwa ulama, dan hadis, untuk mencari tahu apa pandangan Islam soal orientasi seksual sesama jenis. Semuanya tertulis secara gamblang dalam ajaran agamaku: Aku tidak normal, gay itu haram, dan darahku halal.

Aku semakin bimbang. Perasaanku semakin tertekan. Rasanya seperti hidup di kurungan. Aku takut di-bully, ditolak teman dan keluarga. Aku menyembunyikan orientasi seksualku hingga hari ini. Hidup dalam keterasingan identitas inilah yang menginspirasiku menuangkan kegelisahan dan pandangan hidupku ke dalam komik.

Aku bukan kreator komik profesional. Aku punya pekerjaan lain untuk menyokong hidup. Sebelum membuat Alpantuni, paling banter aku cuma bikin komik iseng yang kusebar ke kawan-kawan dekat. Kebetulan aku pembaca setia manga dengan genre suspense/horor seperti Parasyte, Dragon Head, Monster, dan Uzumaki. Menurutku orang bisa lebih relate dengan tokoh fiksi dalam komik. Penyampaian pesan pun lebih gampang, dibanding aku menulis cerpen atau novel.

Jika dibedah, mungkin 60 persen isi komik Alpantuni datang dari pengalaman pribadi. Sisanya datang dari mengamati kondisi masyarakat. Ada satu hal yang sampai sekarang kuanggap sebagai titik balik kenapa aku membulatkan tekad membuat komik dengan tokoh gay muslim. Momen itu adalah insiden penembakan di sebuah klub gay di Orlando, Amerika Serikat, pada 2016 yang menewaskan 49 orang dan melukai 53 lainnya. Pelakunya, Omar Mateen, ternyata seorang Muslim keturunan Afghanistan. Penembakan tersebut menuai kecaman di banyak negara, tapi, ironisnya, justru disambut positif pengguna medsos asal Indonesia dan Malaysia. Banyak komentar yang kubaca saat itu seperti, "Alhamdulillah, semoga si penembak mendapat pahala," atau "Kenapa enggak mati semuanya."

Aku marah membaca respons akun-akun medsos riil yang mengidentifikasi dirinya sebagai penganut Islam itu. Inikah Islam yang aku percaya selama ini? Bukankah Islam selalu mengajarkan cinta dan perdamaian?

Aku merasa kecewa sama Islam sejak kejadian di Florida tersebut. Aku merasa tidak nyaman. Beruntung pasanganku mampu mengembalikan kepercayaanku terhadap agama.

"Aku tahu kamu merasa Islam itu zalim karena mereka menghina, menghujat, dan mengancam kamu," kata pasanganku suatu hari. "Tapi Islam yang digaungkan sekarang hanyalah satu dari banyak interpretasi. Itu tidak berarti interpretasi lain itu tidak membawa kita ke surga."

Aku semakin bingung dan bimbang. Aku bilang kepadanya, kalau dia ingin betul-betul mengikuti ajaran Islam, kami harus putus. Apalagi hukum dalam Islam sudah jelas sikapnya soal LGBTQ.

Dia lantas terdiam sejenak mencerna kalimat itu.

"Allah itu kan penyayang," jawabnya dengan nada berat. "Dia memahami situasi kita. Seganas-ganas beruang, mereka tetap tidak akan membenci dan menyakiti anak-anaknya. Aku berserah diri kepada Allah saja soal itu."

Sejak hari itu, aku seperti menemukan pencerahan. Itulah Islam yang aku cari selama ini, bukan Islam yang hanya menegakkan jalan kekerasan terhadap pendosa. Aku jelas bukan Muslim yang sempurna, tapi aku mencoba menjadi manusia yang baik. Lewat Alpantuni, aku berharap komik ini bisa memberi semangat pada gay lain di luar sana. Aku tidak merasa bisa mengubah masyarakat. Tapi yang pasti, kalau aku meneruskan komik ini, orang Muslim gay di luar sana bisa tahu kalau mereka tidak sendirian.


Tonton wawancara VICE bersama Jovi Adhiguna, influencer queer di Indonesia yang berusaha mempertahankan identitas kendati banyak menerima hujatan:


Rintangannya ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Setelah Alpantuni mulai banyak dibaca, orang-orang menuduhku menghina Islam. Aku heran di bagian mana komikku menghina dan menjelekkan Tuhan atau Nabi? Di mana letak pornografi yang selama ini dituduhkan? Semua email dan komentar yang masuk ke DM akun Instagram berisi hujatan kepadaku. Tapi aku tidak sedikitpun membenci mereka.

Ya, kadang-kadang aku merasa sedikit takut kalau pemerintah mau mempidanakanku. Tapi kan aku tidak berbohong. Apa yang aku ungkapkan memang benar terjadi di kenyataan. Itu semua hasil observasi. Maka kalau memang berkata benar, kenapa aku harus takut?

Sampai hari ini aku masih menyembunyikan identitas seksualku. Untung aku tinggal di kota besar, jadi enggak menemui banyak masalah. Tidak ada yang tahu kalau aku gay, kecuali aku kelak memutuskan coming out. Pasanganku, sayangnya, datang dari kota yang konservatif. Jadi dia harus berkelakuan ‘manly’ di tempat umum agar orang lain tidak curiga.

Di depan orang tua, akupun begitu. Aku sempat berpikir, satu-satunya jalan agar aku bisa tinggal dengan pasanganku ketika kelak kedua orang tuaku meninggal. Aku tidak tahu apakah pikiran ini jahat atau tidak, tapi yang jelas aku tak bisa menggugurkan kehormatan keluargaku begitu saja demi pilihan egois tinggal bersama pasangan.

Aku tidak pernah bercerita kepada orang tua, sampai aku menginjak usia 28 tahun, ketika sudah bekerja dan mandiri. Aku memberanikan diri memberitahu ibu kalau aku gay. Aku tahu ibu akan sedih. Aku tahu impiannya melihatku berkeluarga dan memberinya cucu, terpaksa berantakan. Ibu berusaha membuatku ‘normal’ kembali. Ibu sempat membawaku ke masjid, ke orang pintar, ruqyah, dan diajak ke pesantren. Tapi nihil. Aku kelas tak sedih karena terbukti masih menyukai lelaki. Aku hanya semakin bersedih melihat ibu.

Sampai sekarang, ibu tidak menerima keadaanku. Ibu tidak mau membicarakannya lagi.

Ibu pernah bilang, dia sudah ikhlas kalau aku memang tidak akan menikah karena identitas seksualku. Tapi yang penting bagi beliau, dia mohon satu perkara saja: agar aku tidak meninggalkan salat. Aku tidak tahu apakah dia masih berharap aku bisa menjadi "normal" lagi. Tapi aku bersyukur, setidaknya beliau masih melihatku sebagai anaknya.

Di masyarakat kita, gay mungkin akan selalu dianggap kotor, menjijikkan, penyebar virus, dibenci Allah, mengundang azab gempa, dan tsunami.

Aku hanya ingin menguatkan mereka agar tetap percaya pada diri sendiri, lewat komik Alpantuni. Selama kita masih memiliki mentalitas korban yang terlunta-lunta hanya karena menyadari identitas seksual ini, maka kita akan tetap berpikir seperti korban di mana pun kita berada.