rock bottom

Beratnya Tinggal di Rumah Selama Liburan Ketika Kalian Mengidap Depresi

Liburan sangat menyebalkan bagi penderita gangguan mental. Bagiku solusi terbaik hanyalah tiduran di kamar dan memelihara kucing.

oleh Katyusha Methanisa
26 Desember 2016, 12:30am

Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina

Aku akan menegaskannya sejak kalimat pertama: aku benci liburan. Walau memang selama liburan, aku memiliki banyak waktu melepaskan diri dari kesibukan kuliah. Tapi, di sisi lain, momen ini artinya aku harus menghabiskan 100 persen waktuku bersama keluarga. Kegelisahan yang biasanya aku alami karena beban kuliah tidak digantikan oleh euforia kebahagiaan™. Yang ada, aku akan semakin gelisah karena tindak-tanduk keluargaku.

Aku tidak bisa menjadi diri sendiri selama tinggal di rumah orang tuaku. Alasan utamanya, karena aku harus minta izin ke mereka jika ingin pergi atau melakukan sesuatu. Aku seperti jadi anak-anak lagi di rumah. Aku harus menjaga lisan saat berbicara, supaya percakapan antara keluarga 'normal' ini tidak berubah menjadi ajang saling berteriak atau berujung pada tangisan salah satu dari kami. Aku harus menyembunyikan fakta pada orang tuaku, jika aku mengidap depresi yang sudah dekat dengan kegilaan, karena mereka terus menanyakan alasan aku jarang tersenyum. Dipicu semua alasan itu, serta beberapa faktor trauma masa kecil, aku biasanya menghabiskan momen liburan panjang berdiam di kamar saja. Sisa energiku kugunakan merawat seekor kucing. Dalam sesi terapi bersama psikolog, aku diberi nasehat agar buru-buru menikah saja, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan orang tuaku lagi. Saran yang jitu bu psikolog.

Aku tidak pernah berbicara terbuka kepada kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Kami tidak tahu kabar masing-masing, karena kami saling memblokir akun media sosial satu sama lain. Kadang-kadang, aku iseng mengintip linimasa Instagram keluarga menggunakan akun yang kubuat untuk kucing peliharaanku. Momen yang jarang dan sebentar itu segera mengingatkanku alasan kami memilih tidak saling follow. Kendati begitu, sesekali aku akan menyimpan screenshot postingan abangku, karena dirinya itu sosok yang pantas sekali jadi bahan meme.

Aku bagaikan karakter film The Mist yang terjebak di supermarket. Hanya saja, dalam cerita hidupku, monster di film itu bisa bisa berbicara. Lalu karakter perempuan gila yang terlampau religius diperankan bocah 13 tahun.

Keluargaku tidak merayakan Natal. Keluarga besar kami berkumpul saat Idul Fitri. Momen Idul Fitri kusambut separuh bersukacita sekaligus hampa. Aku biasanya menghabiskan nyaris seluruh momen liburan di rumah nenek. Tinggal bersama anggota keluarga besar, sepupu jauh dan om atau tante kita, rasanya sangat aneh. Perlu dijelaskan di sini, aku tidak membenci mereka. Keluarga besarku sebetulnya sangat baik (Terutama tanteku yang sering mengingatkan agar aku lebih rajin makan nasi).

Masalahnya, aku tidak tahu harus membicarakan apa. Otakku seakan otomatis berhenti bekerja jika aku terlibat pembicaraan bersama keluarga besar. Adakah cara paling sederhana untuk menjelaskan pada kerabatmu, bahwa kamu menyayangi mereka, tapi kamu sedang ingin menjadi diri sendiri dan tidak ingin diajak bicara?

Keluarga jauh juga akan datang ke rumah nenek pada momen Idul Fitri. Mereka akan ngobrol basa-basi dengan orang tuaku atau om dan tante, bisa lebih dari dua jam. Saat orang-orang dewasa berbincang, adik sepupuku akan naik tangga, pura-pura menyibukkan diri supaya tidak dipanggil atau diajak ngobrol. Sementara sepupuku yang lain, yang dekat denganku (karena dia menjadi kawanku di Snapchat), bercerita bahwa para keponakan berkumpul main truth or dare. Permainan itu tidak membuatku berselera gabung. Mereka intinya hanya duduk melingkar saling menanyakan hal-hal pribadi dan tidak pantas, yang aku juga tidak tertarik mengetahui jawabannya. 

Supaya tidak direcoki, dalam pertemuan keluarga aku biasanya berinisiatif membawakan jajanan ke meja tempat orang-orang dewasa ngobrol. Setidaknya kemudian aku akan punya waktu nonton tutorial makeup tanpa dipanggil-panggil. Aku bagaikan karakter film  The Mist yang terjebak di supermarket. Hanya saja, dalam cerita hidupku, monster di film itu bisa bisa berbicara. Lalu karakter perempuan gila yang terlampau religius diperankan bocah 13 tahun.

Selama pertemuan keluarga tahun ini, aku terus-terusan dijuluki "cewek yang rambutnya dicat hijau" oleh saudara-saudaraku. Mereka memadanku, seakan-akan ada tahi nangkring di atas kepala. Untung saja, aku ini punya badan yang biasa-biasa saja, sehingga tidak ada yang mengomentari fisikku. Tetap saja, kadang ada yang membandingkan diriku dengan salah satu sepupu. Kami berdua jadi sama-sama tidak nyaman. Sampai-sampai aku ikut merasa bersalah karena membiarkan diriku jadi bahan perbandingan. Apakah normal jika kita meminta maaf pada sepupu yang badannya diejek oleh tante kita, hanya karena kita merasa ikut bersalah atas ejekan tersebut? Pertanyaan ini beberapa kali membuatku terjaga semalaman.

"Adakah cara paling sederhana untuk menjelaskan pada kerabatmu, bahwa kamu menyayangi mereka, tapi kamu sedang ingin menjadi diri sendiri dan tidak ingin diajak bicara?"

Selama menulis catatan ini, aku berusaha mencari apa saja hal-hal paling menyenangkan dari momen liburan. Setidaknya aku berhasil memperoleh dua hal. Pertama adalah kesempatan terbuka lebar mengisi perut sepuas-puasnya. Ini kebiasaan aneh bagiku, karena muncul hanya saat liburan. Di hari-hari biasa, aku bukan tipe yang suka makan banyak. Hal kedua adalah tidak ada anggota keluarga besarku yang suka kepo membahas kapan keponakannya menikah. Padahal topik ini biasanya rutin dibicarakan keluarga lain di Indonesia. Aku cukup bangga pada keluarga besarku untuk perkara satu itu. Kadang memang nenek akan memberi nasehat, mengingatkan jangan sampai payudaraku disentuh laki-laki sebelum aku menikah. Tapi santailah. Itu nasehat yang tidak sampai masuk kategori gengges.

Jadi, seandainya ada orang sepertiku yang tidak nyaman selama masa liburan, siapa ya yang kira-kira bisa menikmati momen semacam itu? Mungkin cuma Bruce Wayne

Biar bagaimanapun, sebagai penderita depresi klinis, aku ingin berbagi pesan ini: jangan ragu menghabiskan waktu bersama keluarga. Apalagi jika hal itu sebenarnya berat kalian lakukan. Berkumpul saja bersama keluarga sebisa kalian, lalu tumpahkan semua beban ketika sendirian. Apabila masih terasa berat, beli saja kado buat diri sendiri. Aku cuma ingin bilang, wajar kok bila ada dari kalian yang merasa tidak nyaman saat berkumpul bersama keluarga dekatmu. Jangan pula merasa bersalah jika solusi ketidaknyamanan ini adalah merengkuh nilai utama kapitalisme, yakni konsumsi tanpa henti.  

Sedikit bocoran: Ya itulah makna liburan yang sebenarnya. Perasaan tidak nyaman dan munculnya rasa bersalah karena kita menghambur-hamburkan uang.


Seri Rock Bottom adalah kolom VICE Indonesia membahas isu-isu kesehatan mental. Setiap dua kali sebulan,  Katyusha Methanisa menulis artikel mengenai gangguan mental dari sudut pandang personal, topik yang masih tabu dibahas di negara ini.