Culture

Rebecca Nyuei: Waria Berkerudung Melawan Stigma di Indonesia

Rebecca Nyuei, transperempuan bergiat dalam pelbagai aktivisme sosial di Jakarta, ingin menghapus citra waria yang lekat dengan profesi pekerja seks dan berpenampilan seronok.
01 Desember 2016, 1:01pm
Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina

Rebecca Acacia menggelar pesta pergantian nama secara sederhana, beberapa bulan lalu. Syukuran kecil-kecilan itu dilakuan di apartemen mungil kawasan Jakarta Selatan. Ada tiga kawan aktivis perempuan dan anak-anak angkat kawan-kawannya hadir di sana. Rebecca menyajikan bubur merah-putih, sajian yang selalu muncul dalam seremoni pergantian nama, serta ayam bakar bagi para tamunya. Saya beruntung menghadiri pertemuan itu secara tidak sengaja sebagai tetangga apartemen.

Sejak pesta kecil itu dilangsungkan, Rebecca Acacia tak lagi ada. Sosoknya berganti nama menjadi Rebecca Nyuei.

Rebecca mengganti nama berkali-kali. Saat lahir, dia diberi nama Reki Saputra. Nyuei adalah nama sang ibu, keputusan yang menandai akhir pencarian jati diri panjang Rebecca atas identitas seksualnya. Reki sempat mengganti nama menjadi Rebecca Barbie, berlanjut Rebecca Acacia, sebelum akhirnya memantabkan hati memilih nama belakang ibunya.

Rebecca adalah transperempuan di sebuah negara yang banyak warganya sangat fobia pada gerak-gerik komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Beberapa politikus kondang Indonesia menyuarakan penolakan pada keberadaan penyuka sesama jenis maupun para transperempuan yang mengganti identitas gendernya. Jadi tidak perlu heran jika mendengar pejabat pemerintah menuding komunitas LGBT sebagai antek Barat untuk melemahkan keamanan nasional. Seperti misalnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, yang menyimpulkan eksistensi gay dan transgender di Indonesia lebih berbahaya dari "perang nuklir." Tekanan ini termasuk tindakan represif sebagian massa intoleran terhadap komunitas LGBT. Sebuah madrasah khusus bagi transperempuan di Yogyakarta ditutup paksa oleh kelompok Islam garis keras Februari tahun ini.

Posisi transperempuan cukup unik di negara ini. Di satu sisi, ada stigma yang melekat bahwa kebanyakan wanita pria (waria)—istilah khas transperempuan di Indonesia—merupakan pekerja seks. Namun di momen-momen tertentu mereka tidak lebih dibenci daripada gay atau lesbian, bahkan bisa melejit menjadi selebritas. Contohnya adalah sosok Dorce Gamalama yang malang melintang di dunia hiburan Tanah Air selama bertahun-tahun sebagai aktris, komedian, termasuk menjadi pembawa acara bincang-bincang televisi. Popularitas Dorce bertahan sampai sekarang, merambah hingga kawasan pelosok Indonesia.

Dalam situasi sosial canggung semacam itulah Rebecca bergulat mencari jati diri.

Reki Saputra lahir sebagai bayi laki-laki, 24 tahun lalu, di Rejang Lebong. Kampung halamannya berjarak 100 kilometer dari Kota Bengkulu. Dia melewati masa kecil seperti anak-anak lelaki pada umumnya. Dia tak merasa berbeda dengan teman-teman sebayanya. Hingga suatu hari dia mimpi basah.

"Waktu SMP mereka cerita, mereka mimpi basah itu bermimpi berhubungan intim dengan kakak kelas yang cantik. Aku merasa mimpiku beda dengan teman yang lain, makanya aku tertutup sejak itu," katanya.

Seiring dia menyadari perbedaan identitasnya dari lelaki lain, Reki mulai kerap dirisak. Perawakannya yang kemayu dan gemar bergaul dengan teman-teman perempuan jadi bahan olok-olok. Agar tak terus dirundung kawan-kawan sebaya, Reki pernah mencoba berjalan tegap di depan tukang ojek. Upaya itu tetap gagal menyembunyikan perawakan aslinya yang feminin dan lembut.

Saat duduk di bangku SMP, Becca mencari tahu akar segala perbedaan yang ada pada dirinya. Dia menonton televisi, membaca buku, hingga mendengar siaran radio. "Aku menemukan satu kata yang bilang bahwa penyuka sesama jenis itu homoseksual, disebut gay," ujarnya. "SMP, aku yakin banget aku gay."

Kesadaran sebagai gay belum memuaskannya. Dia justru ragu identitas gendernya adalah laki-laki. Jauh di lubuk hatinya Reki yakin dirinya adalah perempuan. "Karena yang aku pahami gay itu kan laki-laki yang suka laki-laki lainnya. Sedangkan aku kan merasa aku perempuan," ujarnya.

Masa SMA, tekanan sosial tidak berkurang. Pergulatan batin Rebecca semakin menguat. "Aku merasa aku enggak boleh merasa bahwa aku perempuan, karena aku laki-laki," ujarnya. "Doktrin mengatakan kalau aku merasa perempuan, kamu salah, kamu dosa. Itu yang bikin aku semasa SMA makin bergejolak."

Usai menyelesaikan pendidikan SMA, Reki sempat kuliah setahun di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri di Bengkulu, menempuh jurusan Perbankan Syariah. Kuliah tak menarik baginya. Dia memilih drop out, lalu bekerja di sebuah hotel melati.

Karir Reki di Hotel Melati hanya seumur jagung. Dia tak betah hidup di Bengkulu. Becca memilih hijrah ke Jakarta, 800 kilometer jauhnya dari kampung halaman, yang kemudian menjadi awal baginya menemukan jati diri baru.

Di Jakarta, Reki pertama kali mengganti namanya menjadi Rebecca. Dia sudah mantab menjadi transperempuan. Sayangnya hidup sebagai transperempuan di megapolitan itu sangat berat. Di Jakarta, menurut Becca, hanya ada dua lapangan pekerjaan yang ramah bagi seorang waria: menjadi pengamen atau pekerja seks.

"Empatinya luar biasa untuk korban kekerasan seksual, ibu petani Kendeng, teman buruh, mungkin karena sering diskusi"—Veronica "Pheo" Iswinahyu.

Dia memilih profesi yang disebut belakangan. Area operasinya adalah Taman Lawang, Menteng, pusat praktik prostitusi waria di Ibu Kota. Mudah menemui transperempuan di kawasan ini menjajakan seks di pinggir jalan, mengenakan baju ketat dan rok pendek. Menjadi pekerja seks sangat berisiko. Orang 'baru' seperti Becca nyaris mustahil diizinkan ikut menjajakan layanan seks. Ada banyak geng waria yang beroperasi di Taman Lawang. "Kalau bukan satu daerah, engga bisa masuk," kata Becca.

Berkat bantuan seorang teman, Becca bisa menjadi pekerja seks di Taman Lawang. Dia mengaku setelah beberapa saat bisa memperoleh pendapatan rutin setidaknya Rp 100.000 per malam. Kendati begitu, Becca tak merasa nyaman. Suasana Taman Lawang membuatnya selalu gelisah. "Tengah malam di jalan, kan banyak risiko yang mungkin enggak kita bayangkan akan terjadi. Ada preman dan lain-lain," ungkapnya.

Becca lalu pindah ke pangkalan pinggir rel kereta Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Menurutnya, situasi di pinggir rel tersebut lebih aman. Bersama teman-teman sesama waria, dia mencegat pelanggan yang sedang menikmati gerobak dangdutan keliling.

Selama menjalani profesi sebagai pekerja seks di Jatinegara, Becca masih menyempatkan diri mencari-cari informasi di internet tentang komunitas yang mengulas isu-isu LGBT. Di sela-sela pencarian, dia menemukan jadwal acara diskusi dan pemutaran film. Dia mendatangi lokasi komunitas para aktivis di Jakarta itu. Becca jatuh cinta pada pandangan pertama.

Veronica "Pheo" Iswinahyu, salah satu kawan dekatnya, mengingat saat pertama kali bertemu Becca. Yakni pada momen pemutaran film dokumentar Emak Dari Jambi karya Anggun Pradesha dan Rikky M Fajar, diproduseri Nia Dinata. Pheo dan Rebecca lantas sama-sama terlibat dalam gerakan One Billion Rising, sebuah kampanye global melawan kekerasan terhadap perempuan.

"Menjadi transperempuan itu (menurut masyarakat) seronok, penampilannya vulgar, dan seksi. Sebenarnya engga begitu semua, ada yang berpenampilan biasa dan berkerudung"—Rebecca Nyuei.

Becca, menurut Pheo, adalah sosok yang rajin mengikuti diskusi. Bahkan Becca tak hanya tertarik dengan isu LGBT. Lambat laun, Becca rajin menambah informasi mengenai buruh dan gerakan perlawanan pembangunan pabrik semen di Kendeng oleh para petani.

"Dia juga berusaha mempelajari akar kekerasan terhadap perempuan," kata Pheo. "Empatinya luar biasa untuk korban kekerasan seksual, ibu petani Kendeng, teman buruh, mungkin karena sering diskusi."

Becca mungkin keluar dari perkuliahan, namun dia tidak pernah berhenti belajar. Terutama lewat Internet. Pada 2012, Becca menemukan sebuah video di youtube mengenai TranSchool. Ia kemudian mendaftar.

TranSchool adalah sekolah alternatif untuk waria muda, menggabungkan proses belajar dalam kelas, luar kelas, dan magang. Kelas ini merupakan bagian dari Sanggar Swara yang dibentuk Juni 2006 sebagai sebuah sub-program dari Yayasan Srikandi Sejati, berfokus pada isu kesehatan reproduksi terkait HIV & AIDS.

Dua tahun bergabung dengan TranSchool membuat Becca banyak belajar tentang transgender, konsep kebutuhan, dan penerimaan diri. Dia tak lagi terdorong drop out seperti saat kuliah. Dia menggemari semua aktivitas komunitas ini karena mentornya berasal dari kaum waria juga.

"Dari situ aku mulai menyadari bahwa aku ini transperempuan," katanya.

Di Indonesia, istilah transperempuan belum populer. Orang lebih sering menggunakan kata 'waria'. Istilah waria digunakan sejak era Orde Baru, mengandung kata 'wanita' yang secara politis bermasalah bagi para pegiat. Dalam bahasa Jawa, wanita dipahami sebagai akronim bertendensi melecehkan: wani ditata [bersedia diatur]. Setelah mempelajari itu semua, Becca memutuskan menggunakan istilah transperempuan.

Pada 2014, TranSchool mengadakan pemilihan Miss Remaja Waria. Becca terpilih jadi pemenangnya. "Setelah aku mengikuti (pemilihan) itu, aku jadi coming in kalau aku perempuan. Setelah itu aku berdamai dengan diriku," katanya.

Penerimaan diri pada tubuhnya dan identitas barunya itu menumbuhkan rasa bangga pada dirinya. Dia pun mengabarkan identitas anyar ini pada keluarganya di rumah. Saatnya untuk coming out.

Di luar dugaan, keluarga besar menerima identitas barunya. Plong. Becca mengaku lebih fokus untuk aktif di organisasi setelah itu. Becca kini menjadi Ketua Koperasi di Sanggar Swara. Koperasi penting untuk memberdayakan rekan-rekan sesama transperempuan yang mengalami penolakan dari keluarga. Data Lembaga Arus Pelangi menunjukkan ada 6.000 transperempuan mengalami pengusiran dari rumah.

"Kan ada teman-teman urban dari luar Jakarta itu kan banyak yang kabur dari rumah, engga punya KTP (Kartu Tanda Penduduk), mereka tidak bisa nabung di bank. Jadi kita bikin alternatif buat mereka nabung di koperasi," katanya.

Setelah berdamai dengan dirinya, Becca punya misi baru: melawan stigma tentang transgender. Dia memutuskan selalu memakai kerudung sejak setahun lalu. Keputusan ini diambil saat Becca berziarah di makam ibunya sebelum lebaran 2015. Tak ada reaksi berlebihan dari tetangganya, bahkan sebagian tak mengenalinya.

Mengapa Becca ingin berkerudung? "Aku engga tahu kenapa, jauh di bawah alam bawah sadarku, aku memimpikan menjadi perempuan yang mainstream Indonesia: ber-higheels, ber-make-up, dan berkerudung."

Obsesi menjadi perempuan dalam bayangan alam bawah sadar ini juga dialami oleh kawan-kawan transperempuan lainnya.

"Sebenarnya di permasalahan teman-teman transperempuan itu, mereka berusaha tampil seperempuan mungkin. Mereka bahkan ada yang sampai operasi payudara, operasi suntik silikon di pinggul, agar pinggulnya besar seperti perempuan," katanya.

Hingga hari ini, Becca mengaku tak berminat melakukan operasi atau suntik. Ia trauma pada temannya yang meninggal karena suntik silikon.

Becca memilih kerudung sebagai representasi perempuan di alam bawah sadarnya. Walaupun, katanya, pemakaian kerudung sebenarnya tak ada kaitan dengan urusan agama. Dia hanya ingin meluruskan stereotip masyarakat terhadap kaumnya.

"Menjadi transperempuan itu (menurut masyarakat) seronok, penampilannya vulgar dan seksi. Sebenarnya engga begitu semua, ada yang berpenampilan biasa dan berkerudung," katanya.

Tahun ini, Becca dipercaya menjadi koordinator TranSchool. Sekolah yang membuatnya belajar dan menerima identitas barunya. Motivasinya bertambah setelah melihat siaran sidang Mahkamah Konstitusi (MK) saat melakukan uji materi terhadap Peraturan Hukum Pidana atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Sidang uji materi ini diajukan oleh Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA), atas dalih menekan angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak. Salah satu caranya adalah wacana mempidanakan para pelaku hubungan seks di luar nikah, termasuk hubungan seksual sesama jenis.

Dari perdebatan yang mencemaskannya itu, Rebecca melihat banyak transperempuan membutuhkan uluran tangannya. Apalagi di masa-masa seperti sekarang, ketika tekanan kelompok intoleran mencoba mempengaruhi sistem hukum agar mendiskriminasi keberadaan kalangan LGBT.

"Kalaupun mereka tidak bisa menerima perbedaan, tidak bisa menerima transperempuan, ya sudah perlakukanlah mereka itu sama seperti manusia lainnya."

Iklan