Silakan Panik, Ponsel Bisa Menguping dan Merekam Semua Pembicaraanmu

Begini caraku yakin ponsel pintar zaman sekarang betulan bisa menguping semua obrolan kita untuk kepentingan pengiklan.

|
Jun 6 2018, 9:48pagi

All photos by Carla Adamo

Beberapa tahun lalu, ada kejadian aneh yang saya alami. Ceritanya saya dan teman sedang ngobrol di kafe. Kami ngebahas soal liburan kami di Jepang beberapa waktu sebelumnya. Kami juga sempat ngomong ingin balik lagi ke sana. Waktu itu, kami tidak mengeluarkan ponsel sama sekali. Kami biarkan di saku celana. Besoknya, kami berdua dapat iklan tiket pesawat murah ke Tokyo di Facebook. Aneh banget kan? Awalnya saya kira ini kebetulan saja, tapi ternyata orang lain pernah mengalami hal yang sama. Apa ini hanya sugesti saja, atau memang ponsel kita bisa mendengarkan pembicaraan kita?

Dr. Peter Hannay, konsultan keamanan senior di perusahaan keamanan siber Asterisk, mengatakan kalau itu sangat mungkin terjadi, tapi caranya tidak segila yang kita kira.

Ponsel bisa mendengarkan pembicaraanmu karena ada pemicunya, seperti saat kamu ngomong “ hey Siri” atau “ okay Google.” Apabila tidak ada pemicu, maka data yang kamu berikan hanya diproses dalam ponsel saja. Meskipun begitu, aplikasi third party yang kamu punya di ponsel—seperti Facebook—masih bisa mengakses data “non-pemicu”. Semua tergantung pada mereka akan menggunakan datanya atau tidak.

“Cuplikan suara memang masuk ke server [aplikasi lain seperti Facebook] tapi tidak belum jelas apa pemicunya,” terang Peter. “Baik itu waktu, lokasi, atau pemakaian fungsi tertentu, aplikasi bisa memanfaatkan izin mikrofon secara berkala. Semua internal aplikasi akan mengirim data ini dalam bentuk terenkripsi, jadi sulit menentukan pemicunya.”

Dia menjelaskan kalau aplikasi seperti Facebook atau Instagram bisa memiliki ribuan pemicu. Percakapan sehari-hari dengan teman saja bisa mengaktifkan pemicunya. Meskipun memungkinkan, tapi platform seperti Facebook menolak mendengarkan percakapan kita.

Akhirnya aku membisikkan hal yang bagus-bagus pas pegang ponsel.

“Berhubung Google melakukannya, maka saya pribadi menganggap platform lain juga melakukannya,” kata Peter kepada VICE. “Tidak ada alasan buat mereka untuk tidak melakukannya. Strategi ini sangat menguntungkan pemasaran. Selain itu, kesepakatan end-use dan hukum mengizinkannya, jadi saya yakin mereka melakukannya. Tapi ini belum pasti juga.”

Saya melakukan percobaan untuk memastikan ini. Selama lima hari, saya mengucapkan hal-hal yang bisa jadi pemicu dua kali sehari. Contohnya seperti Saya ingin melanjutkan kuliah atau Saya butuh kemeja baru murah buat kerja. Setelah itu, saya mengecek postingan sponsor di Facebook untuk melihat apa ada perubahan.

Perubahan betulan terjadi dalam semalam dong. Saya menemukan iklan berbagai universitas, dan toko pakaian murah. Saya dapat iklan paket kuota 20 GB murah waktu saya ngobrol dengan teman soal kehabisan kuota paket. Penawarannya memang menarik sih, tapi saya jadi takut karena ponsel memang bisa mendengarkan omongan kita.

Aku sebelumnya enggak pernah dapat iklan "quality clothing" sebelum ngobrol di ponsel kalau lagi butuh baju.

Menurut Peter, meskipun tidak ada data yang terjamin aman, dia meyakinkanku kalau pada 2018, tidak ada jejaring sosial yang menjual data mereka ke pengiklan. Tapi kita semua tahu kalau pengiklan tidak butuh data kita untuk menampilkan iklan.

“Daripada mengatakan ini daftar orang yang mengikuti demografismu, mereka lebih pilih mengatakan beri kami uang, dan kami akan membuat demografis tersebut atau siapa saja yang tertarik melihat iklan ini. Apabila mereka membiarkan datanya diketahui publik, maka mereka akan kehilangan akses ekslusifnya. Karena itu mereka sebisa mungkin merahasiakannya.

Peter menjelaskan bahwa walaupun layanan jejaring sosial menghargai data kita, bukan berarti data kita aman dari instansi pemerintah. Kebanyakan perusahaan teknologi berada di AS, jadi NSA atau CIA bisa saja meminta mereka mengungkapkan datamu, tidak peduli itu legal atau tidak di negaramu.

Intinya, ponsel kita memang bisa mendengarkan ucapan kita dan memanfaatkannya. Tapi, menurut Peter, kita tidak perlu khawatir dengan ini.

Kalau kamu bukan jurnalis, pengacara atau tidak memiliki perang yang berhubungan dengan informasi sensitif, maka akses datamu hanya untuk pengiklan. Tidak ada bedanya dengan pengiklan yang melacak riwayat pencarianmu.

“Kalau iklan di televisi memanfaatkan penonton saat prime time, sedangkan pengiklan di internet melacak riwayat pencarian kita. Ini memang tidak baik, tapi tidak akan mengancam kita,” tutup Peter.


Follow Sam di Twitter

Kalau kamu masih khawatir soal privasimu pas pakai ponsel, sila cek Internet Hygiene supaya kamu tahu cara melindungi data pribadimu di internet.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia

More VICE
VICE Channels