That Was Easy

Tak Perlu Jadi Superhero, Aku Betulan Bisa Mematahkan Besi Pakai Tangan Kosong

Selain membuat kita lebih peka akan kehendak Tuhan, latihan pernapasan membuat siapapun tiba-tiba mampu memecah batu dan mematahkan besi dengan tangan kosong. Kami mencoba membuktikannya bareng perguruan silat di Jakarta.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
12 September 2017, 8:39am

Semua foto oleh penulis.

Obsesi masa kecilku menjadi ninja makin menjadi-jadi. Setelah menemukan makna menjadi ninja sejati dalam ajang lari Naruto, aku pikir ada baiknya jika bisa mengasah kemampuanku pada kendali diri dan tenaga dalam. Jika Naruto punya cakra, maka keyakinanku mengatakan "aku juga punya tenaga dalam" yang bisa aku kelola, bisa aku keluarkan pada saat-saat aku butuhkan.

Kekuatan tersembunyi itulah yang bisa dikelola dan dilatih untuk dikeluarkan kapanpun kita butuhkan. Aku memikirkan opsi mana saja yang bisa aku pilih untuk mengasah kemampuan tenaga dalamku. Banyak saran datang dari kawanku, mulai dari belajar teknik pernapasan hingga ilmu hitam. Namun, sepertinya opsi terakhir bukan untukku. Aku masih belum siap semedi di goa gunung-gunung atau menyiapkan sesajen gagak hitam tiap Bulan Muharram.

Belajar menyatukan nafas dengan kehendak alam

Sepertinya, belajar teknik pernapasan adalah cara paling mungkin yang bisa aku lakukan. Dengan bantuan kawan baikku, aku dikenalkan pada pelatih di perguruan silat Reti Ati di Jakarta, bernama Halilintar Surya. Halilintar merupakan anak pertama dari pendiri perguruan silat Reti Ati. Secara organisasi, perguruan ini didirikan pada 1977, tetapi ilmunya telah diajarkan 50 tahun sebelum yakni pada 1927. Bisa dibilang, inilah salah satu ilmu pencak silat tertua di Indonesia. Setelah menentukan hari dan tanggal yang pas, aku pun datang berguru ilmu pernapasan pada ahlinya.

aku paling tua sendiri

***

Jakarta sudah dua minggu tidak diguyur hujan. Panas menyengat membuat aku agak sedikit ragu melanjutkan tantangan. Belum lagi, semalam sebelumnya aku begadang membuat kepalaku sedikit keleyengan. Namun, bisa jadi ini hanya kesempatan sekali seumur hidup bisa berguru pernapasan pada pendiri organisasi sekaligus pendekar besar Reti Ati, Romo Guntur Merdeka.

Sesuai dengan janji, aku datang pada sore Minggu 10 September. Tepat pukul 15.30 aku sudah berada di Lapangan Tenis Tosiga, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ada 20 siswa dan calon siswa perguruan Reti Ati yang telah berkumpul mengenakan seragam hitam kebangsaan, lengkap dengan ikat pinggang putih dengan tanda-tanda khusus yang menunjukkan tingkatan mereka. Kebanyakan di antara mereka masih sangat muda sekitar usia Sekolah Dasar.

"Arzia, kita akan segera mulai nih hari ini ada sesi pemecahan di akhir kita sudah siapkan," kata Halilintar menyambutku kala aku memasuki lapangan Tosiga. Aku dan Halilintar sebelumnya pernah beberapa kali bertemu dan nongkrong bareng. Namun, baru kali ini aku melihat badan kurus Halilintar dalam balutan seragam hitam pencak silat. Aku mendadak jadi sangat segan.

siap menuruti arahan suhu

Sebelumnya, Halilintar sempat bilang padaku bahwa pada latihan sore itu akan dilakukan pemecahan. Pemecahan merupakan salah satu proses untuk bisa membuktikan tenaga pernapasan yang dipelajari di perguruan silat memang berfungsi mengeluarkan tenaga tersembunyi dalam diri kita. Tidak salah, aku secara khusus datang ke tempat latihan perguruan silat Reti Ati memang untuk belajar pernapasan dan mengeluarkan tenaga tersembunyi dalam diriku.

"Kalau kamu bisa memecahkan, berarti kamu latihan pernapasannya benar. Tapi kalau sakit, berarti latihannya belum benar," Halilintar mengingatkanku. "Masalahnya, kalau materialnya nanti enggak pecah, badan kamu yang akan sakit. Makanya harus pecah, berarti harus benar teknik yang kamu gunakan,"

Duh, ketika Halilintar bilang begitu aku langsung keder bukan main. Masalahnya material yang digunakan betulan. Editorku, sempat tidak percaya aku bisa melakukan hal ini. Dari jauh-jauh hari aku diwanti-wanti untuk memastikan bahwa material yang digunakan bukanlah material mudah belah atau besi palsu. Halilintar memintaku mengecek material apa saja yang akan kami coba pecahkan.


Baca juga eksperimen sosial dari VICE Indonesia lainnya:

Ada beberapa material yang digunakan dalam proses pemecahan. Ada batu pipih berbentuk persegi panjang, yang disebut batu candi. Ada pula semacam bata putih tebal berbentuk balok disebut hebel block yang biasa digunakan sebagai material tembok dalam berbagai konstruksi bangunan gedung, dan terakhir adalah besi dragon, yakni besi berbentuk mirip keris yang pada zaman dulu sering digunakan sebagai pompa air manual di sumur-sumur.

"Coba kamu bisa pegang dan coba patahkan dengan kaki, bisa juga kamu coba ketuk atau pukul-pukul," kata Halilintar yang memintaku mengetes kekuatan benda-benda itu. "Nah ini besi dragon yang paling sulit. Kalau Mbak Arzia pernah mengalami zaman dulu pompa air di sumur, bahannya menggunakan besi dragon ini."

Waduh, aku segera membatin, "pakai sesi mecahin batu, bata, sama besi segala lagi." Keyakinanku berkurang drastis, keringatku dingin bercucuran. Ingin duduk saja di bangku cadangan menonton para siswa berlatih. Namun, seorang ninja tidak pernah dididik menjadi pengecut. Seorang ninja selalu percaya pada diri dengan harapan dan keyakinan~ (nyanyi).

Beberapa saat sebelum berlatih pernapasan, aku bertemu dengan Romo Guntur, pendiri perguruan ini. Ini adalah kesempatan langka dan bisa jadi pertemuan yang bersejarah bagiku. Romo Guntur mengingatkanku bahwa sesi pemecahan ini bukanlah segalanya. Sesi pemecahan baru ada pada tingkat dasar kemampuan seorang manusia yang bisa dipelajari dalam waktu singkat. Baginya pemecahan atau terlihat kuat dan hebat bukanlah tujuan dari Reti Ati. Inti dari mempelajari teknik pernapasan adalah soal hubungan batin suatu individu dengan kekuatan alam dan Tuhan.

"Manusia itu terbuat dari debu dan tanah, dihembuskan napas hidup menjadi manusia, dan berhubungan dengan Tuhan lewat napas itu. Jadi kita selalu ingat Tuhan dalam tiap hembusan napas," kata Romo Guntur berpesan padaku. "Dari situ kita akan peka pada apa yang menjadi kehendak Tuhan, karena reti ati artinya mengetahui isi hati. Sebelum mengetahui isi hati orang lain harus mengetahui isi hati sendiri,"

Si mba memastikan pernafasan saya benar

Keistimewaan silat dibandingkan dengan ilmu pernapasan bela diri lainnya adalah dalam sekali tarikan napas, kita bisa menyalurkan tenaga ke beberapa sasaran. "Kalau tentang pernapasan, ilmu bela diri dari luar negeri, dalam sekali pernapasan langsung habis dalam sekali eksekusi, ketika pemecahan mereka bahkan berteriak. Kalau di silat, satu tarikan bisa sampai sembilan atau lima belas sasaran," kata romo Guntur.

Pesan Romo Guntur akan selalu kuingat, ini mengingatkanku agar aku tetap jadi ninja yang membumi. Ia pun mengingatkanku bahwa aku harus berpikiran positif. Harus meyakini bahwa apapun yang aku lakukan bisa aku lakukan.

***

Tibalah saatnya latihan sesi pernapasan dasar. Aku berlatih teknik pernapasan dasar dengan anak-anak yang rata-rata usianya setengah dan sepertiga usiaku. Jadi yang paling tua di sesi latihan ini bikin aku makin sedih, "kemana aja lu dua puluh tahun ke belakang Zi?". Aku bisa saja memulai latihan semacam ini sejak usia dini dan kini mungkin aku sudah jadi ninja betulan.

Pada sesi awal latihan napas kami semua diminta duduk bersila, kaki dilipat yang kanan di atas yang kiri. Tangan rileks, dan badan harus tegak. Romo pernah memberitahu, bahwa tujuan dari duduk tegak agar posisi tulang ekor bisa menyentuh bumi. Dengan hal itulah, tubuh dan napas kita bisa terkoneksi ke bumi. Sesi ini disebut napas pembersih.

Dalam proses ini aku memilih tidak membeberkan secara detail bagaimana teknik ini dipraktikkan. Namun yang jelas kami diminta untuk menghirup dan menghembuskan napas serta tetap fokus. Pada saat itu sulit bagiku untuk fokus pada satu hal saja yakni: bernapas dengan baik. Pikiranku terbagi antara bayangan soal sate padang Ajo Ramon, utang kartu kredit yang belum kubayar, dan berpikir bahwa aku bisa memecahkan material batu dan besi tersebut.

harus tetap fokus

Sesi terakhir, adalah sesi napas segitiga, sesi ini dilakukan dalam posisi berdiri. Dalam percobaan napas ini, aku didampingi Sarah, salah satu siswa Reti Ati untuk mengecek apakah napasku sudah benar. Tata cara yang dilakukan hampir sama dengan teknik pernapasan sebelumnya, bedanya terletak pada posisi tangan dan tempat tubuh kita menyimpan napas. Tangan ke atas dalam posisi seakan-akan kita hendak mengambil energi dari alam. Tangan harus ditahan sekuat mungkin, dan napas disimpan di area diafragma. Perut dan tangan pun wajib mengencang. Sarah yang berdiri di sampingku memastikan perut dan tanganku sudah kencang. Kemudian secara perlahan napas dikeluarkan. Siapapun dilarang mempraktikan hal ini tanpa pengawasan pelatih, karena hal ini jelas-jelas berbahaya.

"Maaf ya Mbak ini perut sama tangannya saya pukul," kata Sarah sebelum memukulku. Lumayan juga pukulan Sarah, tapi setidaknya Ia mengatakan pada pelatih bahwa teknik napasku sudah benar. Aku siap melakukan pemecahan.

Sarah memastikan teknik napasku sudah benar

***

Siswa perguruan silat Reti Ati yang lain berlatih pukul-memukul sesuai tingkatnya masing-masing. Ada Reza yang dalam satu tarikan napas menyalurkan kekuatan tersembunyi ke empat sasaran tanpa jeda. Pertama ia mematahkan tumpukan tiga batu hebel block dengan tangan, Prakk… Semuanya pecah. Belum lewat sedetik, ia langsung melayangkan tendangan ke hebel lain yang dipegang vertikal setinggi perut orang dewasa. Prakk.. Pecah juga. Segera setelah itu ia menginjak batu di hadapannya dengan tumit. Sama seperti batu-batu lainnya, hebel block yang satu itu sekejap mata terbelah dua.

Setelah semua batu ditandaskan, giliran besi dragon ia patahkan dengan sekali ayunan tangan.

Setelah Reza unjuk aksi, Mentari Dewi, anak bungsu Romo Guntur, menyusul. Ia memecahkan batu candi menggunakan gulungan koran. Gila! Setelahitu murid-murid lain susul-menyusul memecahkan batu hingga akhirnya... ehem, tiba giliranku. Inilah saatnya aku beraksi.

oke baiklah akan kucoba

Masalah Ajo Ramon dan kartu kredit aku simpan sejenak. Fokus pikiranku hanyalah memecahkan batu candi ini. Dengan gerakan tangan aku diminta menentukan posisi tengah batu yang akan jadi sasaran menggunakan samping lenganku, persis seperti posisi mengiris dengan tangan. Pada percobaan ketiga aku tarik napas sedalam mungkin dalam dua hitungan, pada hitungan ketiga aku tahan napas di diafragma dan mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa menghantam batu candi itu. Aku ingat pesan Romo Guntur, bahwa aku jangan segan-segan menghempaskan tenagaku. "Prak!" batu itu pun terbelah dua di titik yang aku lesatkan. Aku senang bukan kepalang! Ternyata sama sekali tidak terasa sakit.

hyattt berhasil

Sesi kedua aku diminta memecahkan hebel block putih. Ukurannya yang besar bikin aku jiper. Pasalnya aku diminta memecahkan hebel block dengan punggung tanganku. Aku yang tidak pernah belajar pencak silat, tidak tahu posisi yang baik menggunakan punggung lengan. Sehingga, sejak awal keyakinanku berkurang drastis. Benar saja, dua kali mencoba, bata hebel block itu tidak pecah. Dan benar saja kata Halilintar, jika gagal maka akan sakit.

Halilintar menghantamkan besi dragon ke lenganku

Sesi terakhir adalah percobaan mematahkan besi dragon. Caranya aku berdiri dengan mengandalkan teknik bernapas, kemudian Halilintar akan menabrakkan besi dragon ke bagian lengan atasku. Dengan posisi berdiri, aku mengambil napas dan memberi aba-aba pada Halilintar melalui hentakan kaki bahwa tubuh dan napasku siap dihantam besi. Dalam hitungan sepersekian detik, Halilintar datang menabrakkan besi dragon ke tubuhku. Besi itu patah menjadi dua bagian. Aku berhasil untuk kedua kalinya.

Halilintar pun memberikan aku review. Ia menyatakan aku masih punya sedikit keraguan. Itu semua terlihat dari posisi tanganku ketika memecahkan batu candi. Halilintar melihat bahwa tanganku masih membal, kurang " hajar bleh" lah. Jika ragu dan gagal, efek yang ditimbulkan pun menjadi sakit. Menurut penjelasan Halilintar, batu tersebut cenderung menahan tenaga yang kita salurkan, sementara jika kita yakin dan pemecahan berhasil tenaga yang kita salurkan akan menembus benda tersebut tanpa meninggalkan rasa sakit.

"Gagal itu enggak masalah, karena itu membuktikan kalau batu itu memang keras, dengan tenaga sebesar apapun, diri kita tidak yakin dan tidak ada bantuan teknik pernapasan, ya enggak akan pecah," jelas Halilintar padaku. "Itu juga jadi proses pembelajaran, karena kita akan tahu sakitnya kalau tidak pecah bagaimana dan nanti kita akan belajar dari rasa sakit itu."

Patah?

Berkali-kali aku disadarkan bahwa cuma ada dua kemungkinan yang bisa mengalahkan segalanya: keyakinan bahwa kita bisa dan rasa takut itu sendiri. Hal yang kita lakukan adalah memilih salah satunya. Sebagai ninja sejati (yang kini mulai menguasai cakra), rasa takut dan ragu-ragu tentu bukanlah pilihan.

"Kalau orang kan mengatakan pemecahan material keras pakai 'isian' (ilmu hitam), enggak sama sekali kok, saya cuma mau menunjukkan bahwa manusia itu punya yang namanya tenaga cadangan," kata Halilintar. "Sebetulnya dari pemecahan itu batinnya yang harus dikuatkan, karena kalau tenaga kuat tapi batin tidak kuat belum tentu akan pecah, kita yakin apapun penghalangnya kita bisa patahkan."

Setelah besi berhasil kupatahkan, apa ya selanjutnya? Memecahkan intan pakai tangan kosong? Mengendalikan benda pakai pikiran? Hmm... menarik.

"That Was Easy" adalah seri artikel di VICE. Penulis kami akan mencoba skill-skill baru yang sulit dan tak biasa dipelajari orang. Kalian punya ide tim kami harus belajar apalagi? mention saja Twitter kami jangan lupa beri tagar "#thatwaseasy."