The Year We Woke Up

Berkenalan Sama Pencipta Kondom Vegan yang Peduli Hewan

"Metode uji coba yang tidak menyakiti hewan sudah ada, lalu kenapa kami tidak mencobanya untuk produksi kondom?"

oleh Junhyup Kwon
17 Desember 2019, 10:24am

Dalam rubrik “ The Year We Woke Up ”, VICE mengangkat kisah sosok-sosok yang tak takut melakukan perubahan sepanjang 2019. Kami merayakan anak muda, seniman, maupun aktivis yang menyadarkan kita semua agar berani memulai langkah mewujudkan perubahan.

Dewasa ini, semakin banyak orang tertarik menerapkan pola makan nabati setelah nonton film dokumenter seperti The Game Changers dan Cowspiracy. Melihat lonjakan popularitas veganisme di seluruh dunia, maka tak mengherankan apabila semakin banyak produk cruelty free atau bebas bahan hewani muncul di pasaran.

Kondom vegan, salah satunya. Percaya atau tidak, sebagian besar produsen kondom masih menjadikan percobaan pada hewan sebagai prosedur standar memperoleh sertifikat keamanan.

Kondom vegan Eve dipastikan aman, tidak mengandung unsur hewani, dan tidak diuji pada hewan.

“Sobekan kondom dimasukkan ke dalam tubuh kelinci untuk menguji iritasi vagina. Rahim mereka diambil untuk dilihat apakah produknya aman bagi manusia,” Gina Park, co-founder usaha sosial Instinctus di Korea Selatan, memberi tahu VICE.

1576463901964-DSC02908
Gina Park. Foto oleh Junhyup Kwon.

Selain produk kesehatan seksual, Instinctus juga menjual kondom vegan pertama di Korea, cangkir menstruasi (menstrual cup), dan lubricant.

Perempuan 27 tahun, bersama co-founder Minhyun Seong dan Seokjung Kim, bertekad menciptakan kehidupan seks yang aman dan sehat di Korea. Inovasi ini mengantarkan mereka ke daftar 30 orang berpengaruh di bawah usia 30 versi Forbes tahun lalu. Ketiga anak muda tersebut berusaha memperluas bisnis di pasar Asia.

Park yakin produk kesehatan seksual seperti kondom tak perlu diuji coba pada hewan. Ada cara lain yang bisa diambil tanpa menyakiti mereka. Instinctus telah diakui People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) sebagai perusahaan Cruelty-Free dan Vegan.

"Ada metode uji coba yang tidak mengorbankan hewan. Kalau prosedurnya memungkinkan, kenapa kami tidak mencobanya? Saya melihat ini [langkah ramah binatang] sebagai suatu keharusan," terangnya. "Bagi saya, mengabaikan keberlanjutan adalah langkah mundur dan dapat menghambat pertumbuhan bisnis."

1576463351445-DSC02964

Strategi Gina dkk. terbukti berhasil. Gina membeberkan, “penjualan Instinctus tumbuh 50 kali lipat sejak peluncurannya pada 2015.” Konsumen tak lagi sembarang membeli produk, mereka juga mementingkan esensinya. Merek-merek internasional mulai memperkenalkan strategi ramah vegan, seperti Beyond Meat atau ayam goreng vegan KFC, produk kosmetik cruelty-free atau pakaian ramah vegan.

“Kami berupaya keras mengembangkan bisnis dengan membuktikan produk kami tak hanya menguntungkan, tetapi juga berarti [bagi lingkungan]. Kami sadar masih banyak yang menentang nilai-nilai yang kami junjung tinggi, tetapi satu yang pasti mereka tidak dapat membantah kesuksesannya di pasar,” terang Gina.

Perusahaan Gina juga menunjukkan sikap yang mendukung komunitas LGBTQ.

“Setiap orang di muka bumi berhak memiliki hubungan seks yang sehat, tanpa memandang usia, jenis kelamin, orientasi seksual, profesi, kewarganegaraan dan seksualitasnya,” bunyi deskripsi di situs Eve Condoms.

“Yang kuat membela yang lemah,” Gina menjelaskan nilai-nilai perusahaannya. Menurutnya, hal ini berlaku untuk promosi veganisme dan pembelaan mereka terhadap minoritas seksual.

Mengambil sikap semacam ini tidak mudah. Biaya produksi kondom cruelty-free bahkan tergolong mahal. “Prosesnya sulit sekali,” kata Gina. “Banyak rintangan yang harus kami hadapi. Produksinya memakan waktu dan biaya karena kami harus mempelajari baik-baik cara alternatif menguji produk.”

Begitu juga dengan dukungan mereka terhadap komunitas LGBTQ, khususnya di tengah masyarakat patriarkis dan konservatif seperti Korea Selatan. “Konsumen kami mengirimi email, mempertanyakan kenapa kami mendukung gay. Mereka puas dengan produk kami, tetapi menyayangkan sikap ini,” ungkapnya. Menjadi sponsor utama Festival Budaya Queer Seoul, Instinctus menerima kecaman dari klien konservatif mereka.

Gina tak takut menghadapi itu semua.

“Bisnis yang sukses itu penting, tapi harus memikirkan jangka panjang juga,” jelasnya. “Saya yakin ini adalah pilihan tepat, dan saya harus berdiri di sisi sejarah yang tepat pula.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Korea