Alasanku Membenci Hari Kartini
Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina.
Feminisme&

Alasanku Membenci Hari Kartini

Gini deh. Kartini itu ikon feminisme terbaik di negara kita. Tapi kenapa hari perayaannya malah diisi acara lomba masak sama dandan?
21 April 2017, 7:26am

Aku langsung bilang terus terang aja deh: Aku benci Hari Kartini.

Maaf-maaf aja nih. Aku engga benci Kartini. Kalau Kartini sebagai sosok historis, penggagas emansipasi perempuan asal Rembang era kolonial Hindia Belanda, jelas aku kagum padanya. Dia keren banget. Aku tuh bencinya sama ritual perayaan hari Kartini yang dilakukan saban tahun di Indonesia. Apa alasannya? Nih, aku jabarkan satu-satu.

Seperti banyak perempuan lainnya di negara ini, aku masuk sekolah negeri. Di lingkungan sekolah itulah, aku mulai mengenal ritual absurd dalam rangka merayakan hari Kartini. Misalnya saja rangkaian perlombaan mulai dari parade kecantikan dan busana adat, menari, lomba memasak, atau membuat kue. Gila ya. Semuanya aktivitas domestik. Bagi yang tidak pernah tertarik dengan semua ajang gemerlap tingkat SD Negeri itu, pilihan paling bijak adalah ikut parade baju adat.

Dengan mengenakan baju adat, aku punya lebih banyak waktu santai serta tidak harus menyanggul rambut. Dalam acara tahunan Hari Kartini, semalam sebelum Hari H aku akan selalu merepotkan keluarga karena kelimpungan mencari baju adat sewaan. Biasanya kalau tidak kehabisan, aku cuma kebagian sisa-sisa baju sewaan. Ini sering bikin nenekku kesal.

"Kenapa engga bilang dari kemarin atuh?" kata almarhumah nenekku. "Kan gurunya udah bilang dari Minggu lalu. Biar bisa nyewa dari kemarin."

Karena selalu dapat sisa, baju paradeku selalu paling apa adanya. Aku masih ingat teman sekelasku bernama Husna pernah memakai kostum tradisional perempuan Bali yang bagus sekali. Sanggulnya memanjang sampai ke pundak, dengan aksen benang keemasan di helai kainnya yang mengkilap dan gelang-gelangnya emasnya serupa helai daun melingkar di tangan. Bibirnya merah sewarna dengan buah cherry, dan bulu matanya tiba-tiba lentik dalam semalam menyapu ruang kelopaknya. Aku jadi seperti gelandangan jika dibandingkan dengannya setiap kali pawai Hari Kartini.

Aku sejak dulu selalu bertanya-tanya. Kenapa sih merayakan hari kelahiran perempuan idola seperti Kartini malah bikin ribet? Acara tahunan itu menyedot banyak uang untuk sewa baju dan dandan. Hari Kartini juga membuatku sebal, karena teringat pada ibuku yang selalu bekerja, jadi aku jarang bertemu dengannya. Aku sebal, karena tak ada ibu yang mendampingiku saat Hari Kartini membuatku kesulitan pinjam riasan, merasa kesal karena tak pernah diajari memasak, menjahit, dan bikin kue. Hal-hal yang tampaknya wajib dikuasai perempuan setiap kali perayaan Kartini.

"Orang tahunya kan imej Kartini membuat sekolah pertama untuk perempuan. Tapi Kartini sebenarnya lebih dari itu." — Maesy Angelina.

Ibuku justru mengajarkan hal-hal yang tidak pernah "berguna" untuk perayaan Hari Kartini. Misalnya saja pelajaran menulis surat, mengatur uang jajan mingguan sejak aku masuk SD (Ibu pulang ke Bandung seminggu sekali), dan memintaku agar berani bertanya kalau tersesat di jalan. Hasilnya, setiap kali lomba tahunan hari Kartini, aku pasti selalu kalah. Jika ukuran sanggul dan lezatnya kombinasi bumbu siap saji dan MSG dalam perlombaan hari "Kartini" adalah ukuran "perempuan seutuhnya" di Indonesia, maka aku jelas-jelas tidak masuk hitungan.

Ternyata bukan cuma aku yang punya sentimen negatif soal cara kita selama ini merayakan Hari Kartini.

Maesy Angelina, feminis sekaligus pengelola toko buku independen POST menyatakan perubahan arah perayaan Hari Kartini dipengaruhi upaya pembangunan narasi oleh Rezim Orde Baru. Rutinitas lomba dandan, memasak, serta keharusan memasang sanggul (yang Jawa-sentris banget) baru muncul pada era akhir 60 dan awal dekade 70-an. Berbeda sekali dari acara pada era Presiden Soekarno masih berkuasa.

"Kenapa sih kita tahunya dia soal perayaan yang terkait sama baju dan hal-hal yang sangat domestik? Kaitannya sama agenda Orde Baru tentang emansipasi perempuan yang diharapkan tetap saja di ranah domestik, bukan ranah politik," kata Maesy.

Pemberdayaan perempuan versi Orde Baru justru dibingkai dalam isu-isu terbatas. Maisy meyakini Hari Kartini di sekolah-sekolah yang dirayakan dengan lomba masak dan baju daerah tak terkait sepak terjang Kartini historis. "Orang tahu kan imej Kartini membuat sekolah pertama untuk perempuan. Tapi Kartini kan sebenarnya lebih dari itu, surat-suratnya lumayan radikal dan dia melakukan lebih banyak dari sekadar membuat sekolah saja," ujar Maesy.

Kartini adalah seorang Raden Ajeng. Dia anak keluarga ningrat Bupati Jepara, terdidik dalam sistem pendidikan sekuler, menguasai Bahasa Belanda, tapi sangat terobsesi memberontak ide-ide feodalisme. Dia kerap berkirim surat pada sahabat penanya di mancanegara, yakni seorang feminis radikal dan anggota Partai Buruh Sosial-Demokrat Belanda, Estella H. Zeehandelaar. Kepada sahabat penanya itu, Kartini rutin membahas ketimpangan kolonialisme yang menindas gender, bicara soal kelas, dan perihal ras berkulit coklat yang berhadapan dengan para kulit putih yang dominan. Ya, kalian tidak salah baca. Kartini adalah perempuan radikal dengan ideologi liberal (kalau bukan kekiri-kirian).

Tidak ada yang salah dari perempuan yang memilih belajar memasak, menjahit, bersolek, atau menjadi ibu rumah tangga. Sama saja seperti perempuan lain yang memilih belajar menyelam, bersepeda, atau beternak lele. Tetapi kenapa sih narasi yang diusung dalam perayaan Hari Kartini hanya ditekankan pada kegiatan bersolek dan memasak?

Kartini menolak sistem kelas yang disematkan di darah dan tulangnya sejak lahir. 'Panggil saya Kartini saja' adalah bagaimana Kartini memilih untuk dipanggil memberontak dari titah lahirnya sebagai anak seorang ningrat. Namun, lirik lagu 'Ibu kita Kartini, putri sejati' yang kami nyanyikan tiap perayaan Hari Kartini, dengan riasan dan baju adat mahal, justru menjadi antitesis bagi semangat pembebasan yang dia usung. Aku pun masih bingung, apa yang dimaksud "putri sejati" di dalamnya. Putri kayak di Disney gitu?

"Kartini enggak bakal senang sih ada lagu yang bilang 'putri Indonesia harum namanya.' Karena (Kartini) enggak suka sama atribut kekelasan," ungkap Maesy kepadaku ketika kami berbincang soal perayaan Kartini yang selama ini dilakukan di Indonesia. "Itu kan cuma kamu lahir dari mana, tapi tidak mendefinisikan kamu sebagai manusia. Jadi kalau menurutku, paling engga ada pihak yang melihat potensi radikal Kartini."

Bagiku, tidak ada yang salah dengan memilih belajar memasak, menjahit, bersolek, atau menjadi ibu rumah tangga. Sama saja seperti perempuan lain yang memilih belajar menyelam, bersepeda, atau beternak lele. Tetapi narasi yang dibawa dalam perayaan Hari Kartini di Indonesia sebaiknya segera diubah deh, karena meleset banget dari cita-cita sosok yang diabadikan di dalamnya.

Gea Citta, feminis sekaligus mahasiswa jurusan Filsafat di Universitas Indonesia mengaku lelah menyaksikan ritual sekaligus perdebatan basi setiap Hari Kartini. Pada momen perayaan itu perempuan seakan kembali diingatkan agar berjuang mencapai cita-citanya sekaligus kembali ke kodrat. Apa sih maksudnya kembali ke kodrat?

"'Selamat hari kartini! gapailah mimpi setinggi mungkin, tapi jangan lupa dengan kodrat kalian sebagai wanita', biasanya, kalau kata kodrat udah muncul, asosiasinya adalah dengan makna tunggal dan final tentang kriteria menjadi 'perempuan sejati' yaitu menjadi ibu, beranak, melayani suami, mengurus rumah tangga," kata Gea. "Buatku penunggalan makna perempuan sejati tadi itu malah bertolak belakang dengan spirit self-liberation yang ada pada surat-surat Kartini pada zamannya."

Aku sepakat dengan Gea. Jika perempuan harus kembali ke "kodrat", artinya "kodrat" perempuan tidak bisa dibekukan hanya pada ritual bersolek, berdandan, ikut parade fashion show, menari, memasak, mengurus suami, dan beranak. Sebab "kodrat" perempuan satu-satunya adalah diperlakukan setara seperti laki-laki.

Aku akan kembali mendukung perayaan Hari Kartini di sekolah dan ruang-ruang publik, jika kemasan acaranya sudah sesuai cita-cita asli sang pemikir radikal asal Jepara itu. Sampai masa tersebut tiba, makasih deh buat tawarannya ikut lomba dandan dan masak.

"Hari Kartini sebaiknya bukan jadi perayaan nostalgik tentang satu figur yang dikultuskan," kata Maesy, mengenai semangat merayakan Hari Kartini yang baginya lebih ideal. "[Perayaan Kartini] harus punya relevansi terhadap hidup perempuan-perempuan Indonesia zaman sekarang. Bukan cuma perempuan Indonesia yang ada di perkotaan."