Apple

Momen Peluncuran iPhone Terbaru Lesu Banget

Tampaknya para pembeli di berbagai negara memang tak berselera sama iPhone 8. Gawatnya, iPhone X yang teknologinya lebih superior juga belum tentu disambut positif pasar.

oleh David Gilbert
02 Oktober 2017, 8:23am

Foto lengangnya peluncuran iPhone 8 oleh Yuan kejia/Imaginechina

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Jam 6 pagi pada tanggal 22 September, puluhan petugas keamanan tiba di pintu toko Apple Kota Hangzhou, Cina. Mereka segera menyiapkan labirin penghalang agar massa yang bernafsu membeli produk terbaru Apple, iPhone 8 bisa berbaris dengan tertib. Sekitar dua jam kemudian, ketika pintu akhirnya dibuka, hanya ada dua orang di antrean.

Toko Apple di Hangzhou bukanlah satu-satunya yang mendapat respon lesu dari pasar di hari peluncuran. Suasana serupa dialami berbagai toko Apple di negara lainnya. Peristiwa tidak menyenangkan ini, ditambah angka penjualan selama triwulan III 2017 yang tertatih-tatih, menyebabkan nilai saham Apple anjlok.

Beberapa pengamat masih optimis terhadap model bisnis Apple. Mereka mengatakan bahwa pelanggan mungkin lebih menunggu peluncuran iPhone X yang akan dilakukan November mendatang. Masalahnya, belakangan muncul laporan dengan masalah produksi iPhone X, dan kini para analis mulai khawatir bahwa Apple memiliki masalah besar dengan produk iPhone.

Mengikuti penurunan dramatis di angka penjualan smartphone dalam beberapa tahun terakhir, para analis memprediksi apa yang dikenal sebagai supercycle—dimana para pemilik iPhone yang menunda-nunda mengupgrade ponsel akhirnya memutuskan untuk membeli ponsel baru sekalian. Ini terakhir kali terjadi ketika Apple meluncurkan iPhone 6 sekitar tiga tahun yang lalu.

Alih-alih terulang kembali supercycle, beberapa analis mengatakan kita justru akan melihat penurunan penjualan di kuartal ini.

"Intinya, apabila Apple tidak bisa memenuhi demand untuk iPhone X di kuartal Desember, kemungkinan besar Apple akan mengalami penurunan penjualan iPhone dalam kuartal yang sama dalam 2 tahun berturut-turut," kata Jan Dawson, seorang analis industri yang bekerja untuk Jackdaw Research.

Apple meluncurkan tiga smartphone baru di awal September kemaren. iPhone 8 dan iPhone 8 Plus hanyalah pengulangan dari desain yang sudah digunakan semenjak peluncuran iPhone 6. Biarpun resensi produk-produk baru ini tidak negatif, publik bisa dibilang kurang antusias terhadap rilisan baru Apple.

Narasi ini semakin diperkuat oleh laporan dari berbagai sumber yang mengatakan bahwa penjualan di beberapa pasar kunci Apple seperti Cina dan AS ternyata tidak sekuat yang diharapkan. Pekan lalu Citi Research baru saja menurunkan angka estimasi penjualan Apple untuk triwulan III. Mereka memperkirakan angka permintaan iPhone 8 akan lebih rendah dari yang diharapkan.

Para analis dari CounterPoint Research di Beijing mengatakan ke VICE News bahwa pola yang serupa juga terjadi di Cina dan menambahkan "responnya lebih kalem dari yang diharapkan."

Apple belum berkomentar soal laporan-laporan ini, tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika mereka berani merilis konferensi pers bombastis tentang angka penjualan produk mereka, kini perusahaan sangat menutup data soal penjualan iPhone 8.

Semua menunggu iPhone X?

Skenario ini mungkin saja benar. Orang tak mengantre demi iPhone 8 karena lebih suka menunggu produk iPhone X diluncurkan. Namun kabarnya, penantian ini akan semakin bertambah panjang dan tanpa kepastian.

Bahkan sebelum iPhone X diumumkan secara resmi, berbagai laporan memprediksi persediaan produk ini nantinya sangat terbatas, akibat komplikasi dengan fitur utama ponsel—display OLED besar dari ujung ke ujung. DigiTimes melaporkan pihak pemasok Apple baru mengirimkan 40 persen dari komponen yang dipesan untuk ponsel premium tersebut.

Wall Street Journal mengklaim bahwa Apple mengalami kesulitan memasang modul yang menjadi bagian dari fitur pemindaian wajah Face ID iPhone X. Sebuah laporan baru dari ahli analis Apple, Ming-Chi Kuo mengatakan bahwa ini berarti iPhone X tidak akan tersedia di banyak wilayah sebelum musim semi 2018 nanti.

Ekosistem eksklusif Apple mulai jadi bumerang

Kemungkinan besar permintaan untuk iPhone X akan tetap tinggi, terutama di pasar-pasar dengan kemampuan ekonomi kuat, dan tidak terlalu terganggu oleh harganya yang terhitung mahal, mencapai $1.000 (sekitar Rp13,5 juta per ponsel). Salah satu pasar yang dimaksud adalah Cina, yang berkontribusi besar terhadap perkembangan Apple beberapa tahun lalu, biarpun kini angkanya sudah jauh menurun.

"Tidak akan mengejutkan apabila Cina adalah pasar yang paling antusias terhadap iPhone X," kata Carolina Milanesi, seorang analis industri teknologi di Creative Strategies saat dihubungi VICE News. "Di Cina ponsel menjadi simbol status, dan orang-orang selalu ingin yang terbaik."

Namun bahkan di Cina sekalipun, negara yang punya budaya beli iPhone terbaru demi pamer status sosial, harga jual iPhone X yang mahal sekali akan menjadi masalah. "Saya merasa biaya iPhone X berada di luar jangkauan banyak pengguna iPhone," ujar Neil Shah, seorang partner di CounterPoint Research kepada VICE News.

Apple menggunakan sistem integrasi yang mendalam untuk perangkat keras, perangkat lunak, dan pelayanan produk mereka. Ini menyebabkan pelanggan setia iPhone terikat dengan ekosistem perusahaan karena telah menginvestasikan banyak waktu dan uang terhadap applikasi seperti iMessage, iTunes, dan Apple Music. Akibatnya, banyak pelanggan enggan pindah hati ke smartphone Android, biarpun perusahaan kompetitor bisa menawarkan produk dengan kualitas yang sama ataupun lebih baik.

Namun di Cina, realitanya tidak seperti ini. Para pemakai ponsel di Cina bisa dengan mudah pindah dari Apple ke produk lain. "Konsumen Cina kekeuh menggunakan app dan layanan lokal seperti WeChat, QQ atau Tencent Music, Ali Pay dan sebagainya. Selain perangkat keras, mereka menghabiskan sebagian besar kehidupan digital mereka di luar ekosistem Apple," kata Shah. "Akibatnya, mereka tidak terjebak dalam ekosistem Apple yang mengikat, dan lebih mudah pindah ke produk lain."

Tren ini bisa terlihat dari meningkatnya popularitas merek ponsel lokal seperti Oppo, Vivo, dan Huawei yang kini mendominasi angka penjualan di Cina.

Di pasar seperti AS, angka pengguna yang pindah dari iOS ke Android masih kecil, tapi harga iPhone yang mahal masih menjadi sebuah masalah. "Resiko terbesar adalah bagaimana pengguna menahan diri untuk membeli iPhone baru, misalnya iPhone 8," jelas Dawson. "Ini adalah skenario yang tidak ideal bagi Apple."

Sebelum kita benar-benar paham sejauh mana Apple mengalami masalah dengan peluncuran iPhone X, dan iPhone 8, sulit untuk memprediksi kondisi perusahaan. Namun sesuai penjelasan Dawson, Apple juga tengah berusaha meneliti masalah ini. "Ada banyak sekali variabel yang terlibat, dan Apple sendiri mungkin tidak yakin apa yang akan terjadi di masa mendatang."