Seni Tato

Cara Fuad Machmud Membangun Identitas Lewat Tato

Salah satu seniman tato yang reputasinya menanjak di Indonesia ini menceritakan metodenya berkarya dan mencari inspirasi. Ia pun berbagi obsesinya pada semua yang serba 'powerfull'.
03 Desember 2018, 9:38am
Ilustrasi ultah ke-2 VICE
Ilustrasi oleh Fuad Machmud

Inspirasi berkesenian dapat datang dari mana saja, entah itu dari lembaran buku, maupun pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Itu prinsip yang dipegang Fuad Machmud saat berupaya menghasilkan karya. Seniman tato 29 tahun tersebut, bersama saudara kembarnya Shiddiq Machmud, bukan lagi nama asing bagi penggemar rajah di Tanah Air. Fuad sendiri baru mulai menjadi full time tattoo artist satu tahun belakangan. Studio tato yang mereka kelola berdua kini tak pernah sepi pelanggan.

Fuad jujur mengakui, awal mula dirinya terjun ke dunia tato dimotivasi uang. "Aku lihat, saudara kembarku cepat dapat uang dari tato. Akhirnya aku coba," ujarnya. Tak disangka-sangka, melalui pekerjaan inilah dirinya menemukan gairah artistik yang tak dapat ditemukannya di bidang lain. Lambat laun, Fuad pun jadi sadar bahwa penguasaan seni rajah bagaikan jalan yang harus ditempuh dengan hati-hati dan kesabaran.

Seiring waktu, Fuad menemukan karakternya sendiri saat membuat tato. Dia mengolah motif ataupun gambar dari berbagai budaya—mulai dari Mesir dan Yunani kuno hingga rajah khas Indonesia—lantas menambahkan sentuhan pribadinya. Berkat itu, reputasinya segera dikenal oleh penggemar tato di Indonesia. Tapi, jika ditilik lagi, apa yang coba dia hasilkan adalah perlambang dari kekuatan alias power. "Selain bentuk bentuk wave, aku juga akhirnya tahu bahwa aku suka bentuk-bentuk yang tajam ujungnya, yang ada power," kata Fuad. "Aku sendiri sih orangnya suka cepet. Jalan cepet, semuanya cepet, nyetir juga ngebut. Aku juga suka sama hal-hal yang powerful."

Simbolisasi power itu juga tergambar lewat sumbangan karya Fuad untuk artwork ulang tahun ke-2 VICE Indonesia yang digelar November lalu (bisa kalian simak di ilustrasi utama artikel ini). Berikut obrolan VICE bersama Fuad Machmud membahas seputar inspirasi, nyawa, dan gaya yang membentuk karya-karyanya, serta apa arti tato dalam mencerminkan identitas seseorang.

VICE : Halo Fuad! Boleh diceritakan gimana awal mula-nya karirmu jadi tattoo artist?
Fuad Machmud: Sebelum aku mulai belajar buat tato, aku kerjanya jadi carpenter, mengolah kayu. Tapi aku capek, aku tinggalin. Habis itu, aku mulai buat kacamata dengan bahan resin, yang akhirnya aku capek juga. Aku lalu kerja sama kembaranku yang waktu itu udah buat tato duluan. Itu September 2017. Dari situ, aku belajar tato. Ya, tapi aku belum dapet karakter atau style tato sendiri, jadi bener-bener belajar tato dalam artian ‘bisa bikin gambar di kulit’ aja. Gitu. Aku belajar dan belajar, sampai akhirnya sekarang aku sehari hari kerjanya buat tato.

Waktu aku belum jadi tattoo artist, aku ngelihat kembaranku yang dalam sisi uang dan gaji lumayan oke. Aku mikir, aku enggak mau capek-capek bikin perabotan atau kacamata yang buatnya ngehabisin tenaga banget. Aku juga kebetulan suka gambar, nah akhirnya dari situ aku mulai.

Lalu bagaimana ceritanya kamu sukses jadi full time tattoo artist?
Awalnya waktu aku mulai bikin desain tato, enggak pelanggan ada yang mau. Padahal aku sudah tawarin beberapa gambar, tapi tetap nggak ada yang mau karena aku sama sekali belum pernah mentato. Akhirnya, kembaranku ngasih aku jarum tato. Ya sudah, aku akhirnya nato diriku sendiri, ala hand poke. Setelah jadi, aku foto dan share. Eh, langsung ada yang mau! Seminggu itu aku nato orang tiga kali. Waktu itu masih di rumah, aku kerjain di kamar. Dari situ aku langsung kepikiran untuk buat di studio orang, dan ternyata dibolehin di Yogya. Sebulan di sana, dan ada satu customer bule yang aku kerjain. Dia ternyata banyak teman, dan dia cerita-cerita tentang tatonya ke teman-temannya karena dia suka sama style aku. Dari situ, aku mulai dapat banyak pelanggan. Sampai sekarang pun aku enggak pernah takut kehilangan pelanggan, karena reputasi seorang tattoo artist itu memang dari mulut ke mulut.

Awalnya kamu dimotivasi uang. Apakah sekarang kamu ada perasaan apresiasi yang baru terhadap tato sebagai kesenian?
Ya. Ternyata setelah aku jalani dan dalami, tato itu adalah kesenian yang luas banget. Tato itu ternyata bukan cuma sekedar gambar-gambar di tubuh; bukan sekedar kita lihat orang tatoan terus ‘ya udah’. Untuk belajar buat tato, awalnya kita harus tahu bagaimana caranya menggambar di kulit. Bahkan teknik untuk buat tato itu banyak dan dipakai tattoo artist-tattoo artist lainnya; seperti hand poke, mesin, ada yang tradisional juga, dan lain-lain.

Kalau style yang kamu suka kayak gimana?
Biasanya kalau ada orang-orang yang datang ke aku dan minta ditato, aku suka yang style-nya Egyptian atau Eropa Timur. Kalau Eropa Timur itu Greek, yang cantik-cantik seperti gambar perempuan bukan yang sangar-sangar, haha. Untuk dapetin karakter juga enggak langsung, tapi aku sendiri suka yang ada bentuk wave (gelombang). Nah, dari tahu apa yang aku suka, aku mulai membentuk karakterku sendiri. Selain bentuk-bentuk wave, aku akhirnya tahu bahwa aku suka bentuk-bentuk yang tajam ujungnya, yang ada power. Soal obyek, aku juga terbuka untuk budaya budaya lain, seperti budaya Indonesia misalnya. Setelah dapat obyeknya, aku gambar dengan style aku sendiri.

Biasanya, seorang seniman pasti punya hubungan tertentu sama karyanya. Dalam cara apa sih karyamu mencerminkan identitas seorang Fuad?
Banyak orang yang kalau lihat tato yang aku buat langsung bisa ngenalin, ‘eh, itu tatonya Fuad kan?’. Kalau aku lihat, ini karena style yang tadi aku jelasin. Aku susah ngejelasinnya, tetapi yang jelas orang-orang yang deket banget sama aku bisa langsung ngeliat cerminan aku di karya-karyaku. Aku susah banget ngejelasin apa itu yang “Fuad Banget”, hahaha. Tapi aku sendiri sih orangnya suka cepet. Jalan cepet, semuanya cepet, nyetir juga ngebut. Aku juga suka sama hal-hal yang powerful. Dari tato-nya pun kelihatan kayak gitu, tapi aku sendiri orangnya flexible. Dan fleksibilitas ini juga aku masukin kedalam karyaku.

Seniman itu harus mendalami apa yang dia suka. Ini dibentuk dari _experience-_nya selama hidup: dari dia kecil sampai besar, apa yang dia suka dan apa yang dia enggak suka. Dan semua ini akan tercermin ke dalam karyanya. Tapi ada juga beberapa seniman yang kayak begini ya, hahaha. Kayak ada beberapa seniman yang aku tahu karyanya tradisional, tapi gaya hidupnya modern dan enggak sinkron. Tapi aku sendiri salut sama orang orang yang totalitas dan semuanya nyambung. Dan sebenernya ini mudah sih. Apa yang kita suka dan apa yang kita lewatin, menurutku gampang untuk membuat karya kita sendiri mencerminkan itu semua.

Biasanya kamu dapat inspirasi dari mana?
Inspirasiku datang dari mana aja, dan juga terbantu dengan aku yang sering gambar request orang. Ini bukan request tato saja juga. Misalnya, ada yang diminta gambar perempuan dengan bunga tertentu. Pas aku gambar, terus tiba tiba aku ngerasa ‘oh, enak juga ya gambar dengan arsiran dan garis yang kayak begini.’ Nah, itu akhirnya kebawa dan aku inget biar besok-besok aku bisa gambar lagi pakai style yang sama dan karakternya enggak berubah. Misalnya, aku setiap gambar rambut selalu garis-garis aja tanpa ada shading. Untuk mata, hanya dua garis dengan bola mata ditengah. Kumis binatang, selalu aku buat bergelombang dan di-block.

Bisa juga dari buku, kayak Indonesia Rebel Art. Buku-buku seni dari 1980-an juga banyak. Atau kalau sedang jalan-jalan, terus ketemu pohon atau bentuk-bentuk lain yang untukku menarik, aku langsung foto dan selanjutnya kalau aku butuh inspirasi aku tinggal ngeliat aja yang udah kusimpan.

Biasanya, tato itu memiliki arti tersendiri untuk mereka yang memakainya. Sebetulnya, apa sih arti tato dalam mencerminkan identitas seseorang?
Ada banyak, sih. Ada banyak orang yang mikirin banget tato apa yang dia mau buat, ada juga yang buat tato ya karena kepingin aja. Misalnya, orang pas lagi mabuk, atau ngefans sama tattoo artist tertentu, makanya mereka bersedia digambarin apa aja. Tapi memang tato itu bisa mencerminkan identitas seseorang. Aku pribadi, sih, tato terakhir yang aku dapetin yang paling berarti, yaitu tato dari orang asli Dayak Iban di leher.

Zaman dulu, tato ini dipakai untuk laki-laki yang sudah siap untuk bertarung dalam sebuah perang. Kalau sekarang sih, tato ini untuk melambangkan anak-anak kecil yang dianggap sudah dewasa. Aku sendiri akhirnya punya privilese untuk mendapatkan tato ini dari orang Dayak Iban asli, dan untukku sendiri ini melambangkan kesiapanku untuk maju kedepan dan bertarung, apapun yang terjadi di masa mendatang.

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca