pengungsi

Begini Rasanya Hidup di Pemukiman Pengungsi Suriah Terbesar di Dunia

Sutradara dokumenter Palestina berusia 23 tahun, Omar Braika, mengabadikan kehidupan sesama pengungsi asal Suriah di Kamp Zaatari, Yordania.

oleh i-D Staff
26 Januari 2018, 8:56am

Semua foto oleh Omar Braika, diterbitkan pertama kali oleh The Road Magazine/IN TRANSIT

Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK.

Oleh: Shukri Lawrence

Menyia-nyiakan dan kurang bersyukur atas apa yang kita miliki memang pekerjaan mudah. Namun, begitu kamu dipaksa meninggalkan kampung halaman dan jadi pengungsi, kita bakal langsung sadar kalau mustahil semua hal yang kita miliki selama ini dapat bertahan selamanya. Omar Braika, pengungsi asal Palestina berumur 23 tahun, saat ini tengah menggarap film dokumenter tentang kehidupan sehari-hari kamp Pengungsi Zaatari di Yordania. Dengan populasi mencapai 83.000 orang, Zaatari dibuka kembali pada 2012 untuk menampung pengungsi perang saudara yang berkecamuk di Suriah. Zaatari merupakan kamp pengungsi Suriah terbesar sedunia. Omar, yang lahir dan dibesarkan di Amman, Yordania, tak pernah melihat kampung halamannya sendiri. Karena itulah dia paham betul perasaan anak-anak Suriah yang lahir di kamp pengungsian.

Kunci menciptakan perdamaiannya terletak pada kesadaran. Dengan kesadaran, orang menyadari kebutuhan akan perubahan. Aku berkesempatan ngobrol bareng Omar tentang proyeknya merekam dokumenter di kamp pengungsian Yordania itu, menyinggung gambaran pengungsi di media massa, hingga harapannya terhadap Timur Tengah di masa mendatang.

Bisa ceritakan awal mula proyek dokumenter di kamp pengungsian Zaatari ini?
Bentuk awal proyek ini adalah sebuah majalah (The Road) yang dibagikan ke seluruh bagian kamp oleh sukarelawan. Begitu aku bergabung dengan lembaha swadaya JEN yang bekerja di kamp Zaatari, Aku mulai bekerja sebagai sutradara proyek video dokumenter IN TRANSIT, di mana aku memberikan lokakarya bagi para pengungsi dan mendokumentasi cerita-cerita yang aku temukan di kamp. Tujuan utama dari proyek ini adalah memberikan suara bagi para pengungsi oleh sesama pengungsi.

Apa pendapatmu tentang gambaran pengungsi selama ini oleh media internasional?
Aku tak sependapat dengan cara media merepresentasikan pengungsi, apalagi media barat suka mengarang-ngarang cerita buat mendukung cara pandang mereka. Mereka biasanya sudah bikin skenario terlebih dulu; mereka meminta pengungsi mengatakan sesuatu yang mereka harapkan. Aku rasa ini jelas bukan jurnalisme betulan. Media barat juga doyan sekali menggambarkan pengungsi sebagai kumpulan orang yang selalu lapar dan membuat mereka seakan cuma mikir tentang makanan. Semua ini dilakukan agar berita mereka laku. Aku jelas tak setuju tentang segala bentuk dehumanisasi dan eksploitasi pengungsi. Jadi, aku berusaha memerangi penggambaran macam itu dengan proyek dokumenter ini. Caranya dengan membiarkan pengungsi mendokumentasikan cerita mereka. Pengungsi adalah manusia seperti kita yang pernah hidup dengan damai dan dipaksa angkat kai dari kampungnya karena perang. Semua pengalaman ini baru bagi mereka.

Setelah kamu selesai mendokumentasikan semua cerita di kamp Zaatari, cerita mana yang paling nempel di ingatanmu?
Ada dua cerita yang selalu aku ingat. Yang pertama tentang seorang bocah 11 tahun yang jadi tulang punggung keluarganya. Anak ini hidup bersama ibu dan saudara-saudaranya. Tiap kali dia melihatku, anak itu akan lahir dan memelukku. Pedih rasanya kalau aku tak bisa membantumu. Yang paling menyedihkan adalah bocah ini percaya kalau bekerja di umur semua itu adalah hal yang wajar dan anak ini adalah seorang pekerja keras. Saat ini, bocah itu sudah masuk sekolah. Kala ditanya kenapa dia suka bekerja, dia menjawab karena dia mencintai ibunya. Dia sangat suka membantu ibunya. Saat aku mendokumentasikan kesehariannya, aku melihat sendiri bagaimana dia mengurusi adik-adiknya. Anak ini punya rasa tanggung jawab menjaga suadara walau usianya baru 11 tahun.

Cerita kedua yang selalu aku ingat adalah tentang seorang pria baya yang sangat menginspirasi. Pria itu—meski sudah melampaui berbagai penderitaan—terlihat muda dan selalu tersenyum. Nyaris semua anaknya meninggal. Dia mengalami beberapa kali bercerai. Istri terakhirnya terjebak di Suriah dan ditembak mati. Kamu tahu lah, ada samacam stereotip di media yang menggambarkan pria muslim sebagai lelaki terlalu serius dan selalu marah-marah. Pria ini malah sebaliknya. Hasil karya terakhirnya sangat berarti bagiku. Dia mengambil Al Qur’an yang nampak sudah lusuh dan membersihkannya agar biasa dibaca orang lain. Kegiatannya ini seakan menyimbolkan keinginannya untuk menghapus masa lalunya dan menciptakan lembaran hidup baru yang lebih baik.

Dengan segala penderitaan yang pernah mereka lewati, menurutmu apa yang membuat pengungsi Suriah tetap punya semangat hidup?
Mereka semua punya semanat hidup. Umumnya, mereka punya hobi untuk mengalihkan perhatian mereka dari apa yang mereka alami. Seperti pria baya tadi yang gemar membersihkan Qur’an dan bocah yang mencintai ibunya. Aku bertemu gadis cantik bernama Farah (namanya berarti kebahagiaan). Waktu aku mendokumentasikan, aku bertanya apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya. Dia menjawab “pengin bahagia!” Dia melakukan semua yang bikin dirinya bahagia dari main sepakbola, pergi ke rumah temannya dan membaca puisi. Dia punya semangat hidup yang besar dalam umur semua itu. Ini benar-benar bikin aku terkagum-kagum.

Kamu sendiri pengungsi Palestina yang tak pernah melihat kampung halaman. Bagaimana perasaamu saat mendokumentasikan anak-anak Suriah yang tak pernah menginjakkan kaki di tanah airnya?
Asal kamu tahu, ada banyak sekali anak-anak yang lahir di kamp pegungsian sehingga mereka menganggap kehidupan dalam pengungsian sebagai hal yang normal. Mereka tak pernah tahu seperti apa kehidupan di luar kamp pengungsian. Ada satu bangunan baru yang kini sedang dikerjakan di dalam kamp Zaataria. Aku bertanya pada seorang bicah laki-laki, “Bagaimana pendapatmu tentang bangunan ini?” dan dia malah balik bertanya “Bangunan itu apa sih?” Ternyata bocah ini terlalu terbiasa melihat karavan sampai tak punya konsep tentang bangunan. Dia bukan hanya belum pernah melihat kampung halamannya, tapi dia bahkan tak pernah melihat negara manapun di dunia ini. Hal yang sama dialami aku dan pengungsi Palestina lainnya. Kami tak pernah melihat tanah air kami. Rasanya ganjil juga disebut pengungsi Palestina padahal aku tak pernah menginjakkan kaki di sana. Yang lebih aneh lagi adalah penjajah yang menduduki tanah kami tak mengakui hak kami kembali ke Palestina. Aku cuma berharap masa depan kamp pengungsi Suriah tak berakhir seperti kamp pengungsi Palestina.

Apa agenda ingin kamu capai dari pembuatan film dokumenter ini?
Dulu waktu aku kecil, ibu suka sekali bilang “kita itu dilahirkan untuk menolong sesama.” Nasehat ibu yang satu ini selalu aku ingat dan jadi tujuan hidupku sejak kecil. Begitu aku tahu passion-ku adalah membuat film dokumenter. Aku ingin menggabungkannya. Aku senang bisa membantu orang lain lewat karya-karyaku.

Pertanyaan terakhir, apakah kamu melihat ada prospek perdamaian lebih baik bagi Timur Tengah memasuki 2018?
Menurut setelah apa yang terjadi di Suriah dan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh Donald Trump, orang akan mulai angkat bicara. Ada diskusi yang mulai berkembang dan sangay penting guna mewujudkan perdamaian. Isu-isu macam ini sekarang sudah dielakkan karena perlahan-perlahan semua orang mulai membicarakannya. Perlahan-lahan pula, orang-orang mulai bersatu dan membongkar kebohongan yang dijejalkan pada mereka selama ini. Aku cuma berharap 2018 akan memberikan arti baru perdamaian bagi semua orang, dan umat manusia lebih bersatu untuk membuat perubahan nyata.