Iklan
kehidupan di Mars

Seorang Insinyur Membangun Habitat Mars di Belakang Rumah

Selain untuk meriset bagaimana bahan pangan bisa ditanam di planet Mars jika manusia benar-benar bisa mengkoloninya nanti, habibat ini juga dirancang untuk diterapkan di kawasan-kawasan yang dilanda krisis gizi.

oleh Daniel Oberhaus
18 Desember 2017, 3:45am

Jeff Raymond difoto oleh Rei Watanabe

Jeff Raymond masih menunggu undangan dari NASA untuk ikut serta dalam sebuah ekspedisi ke Mars. Raymond bukannya tak punya rekam jejak mencengangkan. Mantan insinyur Angkatan Udara punya ketertarikan luar biasa terhadap proyek ekspedisi ke planet merah yang membuat kita pantas pergi ke sana dalam waktu dekat.

Selama satu tahun, Raymond dan istrinya mengelola sebuah tiruan “habibat Mars” yang sepenuhnya berfungsi di belakang rumah mereka. Sejauh ini, mereka berdua sudah menghabiskan $200.000 (setara Rp2,7 miliar) untuk mengongkosi proyek ambisius ini. Malah, menurut perkiraan, dua sejoli ini masih harus merogoh kocek dalam-dalam sebelum proyek habitat Mars ini benar-benar kelar.

Progress pembangunan tiruan habitat Mars ini jadi tayangan utama sebuah kanal Youtube populer yang diurus oleh Raymond sendiri. Lewat kanal Youtube yang memiliki lebih dari 20.000 follower itu, Raymond pernah melakukan reka ulang bagaimana rasanya hidup di Mars seperti yang diperlihatkan dalam film The Martian yang dibintangi Matt Damon. Raymond dan istrinya juga telah berhasil menanam beragam tanaman microgreen—sayuran mini yang penuh nutrisi—yang mereka harap bisa dijual untuk mengembalikan modal membangun habibat Mars mereka. Namun, tetap saja, tujuan akhir proyek adalah menciptakan habitat yang bisa direplikasi dan digunakan oleh berbagai komunitas di seluruh dunia untuk menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.

Sayang, jerih payah mereka belum juga membuka mata NASA.

“Saya sih pengennya mereka datang ke sini dan kami bisa menjelaskan apa yang kamu lakukan di sini,” ujar Raymond lewat sambungan telepon. “Bakal sudah menyuplai makanan bagi banyak orang di Mars. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita bereskan. Saya berharap NASA menelepon dan saya akan siap menawarkan bantuan.”

NASA tahu betul permasalahan logistik yang mereka hadapi ketika berusaha menanam sayuran di luar bumi dan sudah menghabiskan banyak dana untuk membiayai eskperimen pertanian di luar angkasa. Tetap saja, menurut Raymond, NASA harusnya mendengarkan pendapat para petani. Baginya, keahlian mereka dalam hal tanam-menanam mungkin sangat berharga dalam rencana besar membuat koloni manusia di Mars.

“Proyek ini menyadarkan saya kalau saya pernah merendahkan mereka yang menanam makanan kita,” aku Raymond. “Aspek pertanian dalam proyek ini sangat pelik.”

Ternyata, ketertarikan Raymond tak terbatas pada kendala teknis dalam pertanian sayuran di Mars. Lima tahun terakhir, Raymond mencoba hidup swadaya dan menciptakan sebuah rumah berdikari di peternakannya di Washington. Menurut pengakuan Raymond, eksperimen hidup swadaya inilah yang membuka matanya pada masalah-masalah yang merundung populasi manusia dan krisis pangan yang mungkin terjadi di masa datang.

Raymond sadar bahwa guna memenuhi permintaan akan bahan pangan, kita tak cuma harus memperbesar kapasitas produksi pangan, namun juga memastikan bahwa proses produksi bahan pangan bisa berkelanjutan. Raymond lalu mulai bereskperimen dengan sistem aquaponik, di manan kotoran ikan yang dibiarkan hidup lahan pertanin jadi sumber makanan bagi tumbuh dan tamanan berfungsi sebagai permbersih air dan penyedia nutrisi bagi ikan. Dari sinilah, habitat Mars buatan Raymond lahir.

Desain habitat Mars buatan Raymond saat ini belum bisa berfungsi dengan baik—masih belum kedap udara serta belum sepenuhnya terlindung dari radiasi. Meski demikian, bukan itu tujuannya saat ini. Yang penting bagi Raymond adalah sistem pertanian berkelanjutan dalam habitatnya bisa sanget berharga bagi penduduk Mars di masa depan atau komunitas-komunitas di Bumi yang menghadapi krisis gizi.

Ketika saya ngobrol dengan Raymond Maret lalu, dia mengaku bahwa habitat Mars buatannya berjuang keras melewati musim dingin dan dirinya telah melakukan banyak perubahan sejak saat itu. Selama delapan bulan terakhir, Raymond bilang bahwa ada begitu banyak perubahan yang dia lakukan hingga habitat Mars buatannya kelihatan benar-benar baru. Dia menambahkan lantai, dua sistem aquaponik untuk menanam sayuran, menginstal alat penghangat besar dan mengganti atapnya sehingga bisa berfungsi bak sebuah rumah kaca.

Saat ini, Raymond terus memperkaya ilmu pertaniannya sembari terus berusaha menyelesaikan satu dari dua habitat Mars yang dia rencanakan. Di 2018, Raymond mengatakan rencana terbesarnya adalah mengotomatisasi sistem yang penting dalam habitat buatannya sehingga waktunya tak habis terkuras.
“Kami sudah lama tak liburan,” kata Raymond. “Sistem habitat ini harus terus-terusan dimonitor dan itu artinya kami tak bisa pergi kemana-mana dan melakukan hal lain. Kami kadang bercanda kalau habitat ini adalah bayi kami karena semua perhatian kami tercurah padanya.”

Proses otomatisasi juga akan mempermuda pengadopsian desain habitat ini orang lain. Menurut Raymond, menjalankan segala macam proses dalam habitat ini sangat merepotkan dan Raymond masih berada di tahap awal membangun sebuah software untuk mengotomatisasi beragam aktivitas seperti menyirami tumbuhan, memonitor temperatur dan memberi pupuk.

“Kami ingin membuat sistem yang segampang mungkin dikelola jika orang lain benar-benar ingin menanam bahan makanan mereka dengan cara ini,” tutur Raymond. “Kami ingin sistemnya bekerja sendiri sehingga semua orang bisa menggunakannya. Inilah fungsinya proses otomatisasi.”

Begitu program otomatisasi tersedia, habitat Mars buatan Raymond bakal selesai dibuat. Jika ini terjadi, Raymond malah berniat membuat habitat kedua yang lebih kecil dan dirancang berdasarkan pengalamannya membuat proyek pertamanya. Raymond berharap versi yang lebih mungil dari habitat buatannya suatu hari nanti bakal ditemukan di kawasan urban dan menghasilkan sayuran atau buah-buah segar bagi beragam komunitas, entah itu di dalam atau di luar Bumi.

Once the automation is finalized, the habitat will essentially be finished. At that point, Raymond plans on creating a second habitat, which will be smaller and designed with the valuable experience gleaned from building the first. Raymond’s hope is that smaller versions of his Martian habitat will one day be found in urban centers and provide a fresh source of produce for local communities on—and off—of Earth.

Humans of the Year adalah seri berisi cerita tentang sekelompok orang yang membangun masa depan yang lebih baik bagi yang lain.. Temukan cerita lainnya di sini .

Tagged:
Mars
Masa Depan
Insinyur
futuristis