Menjaga Kesehatan

Semua Ini Akan Dialami Tubuhmu Ketika Tiap Hari Minum Air Putih 11 Liter

Kok tahu? Ya karena aku udah mencobanya sendiri sob. Siapa sangka, dalam beberapa kasus minum air putih berlebihan bisa mengirim kita ke alam baka....
21 Maret 2019, 4:22am
Tubuh akan merasakan sensasi ini kalau kamu minum 11 liter air tiap hari
Foto ilustrasi oleh Rialto Images / Stocksy 

Minum air yang cukup terbukti membawa berbagai keuntungan, termasuk peningkatan kinerja fisik seperti energi melimpah, fungsi otak lebih tajam, dan pengaturan suhu tubuh jadi optimal. Kalau kamu mengalami konstipasi alias begah, minum air harus seharusnya menjadi solusi pertama, biar BAB lancar. Air putih terbukti dapat meningkatkan metabolisme dan membantumu mengkonsumsi jumlah kalori yang lebih sedikit (apalagi kalau kamu lagi diet).

Tetap terhidrasi juga membantu mencegah sakit kepala lho. Kalau kamu tipe orang yang sanggup minum segelas air setiap kali minum miras, maka risikomu mengalami pengar akan turun. Begitu pula risiko berak tanpa henti hari berikutnya sebagai efek hangover. Bahkan ada bukti cukup minum air putih bisa memicu ereksi yang lebih memuaskan. Makanya, wajar dong kalau kita semua saling mengingatkan satu sama lain agar mengkonsumsi lebih banyak air putih.

Di YouTube belakangan mulai ramai video challenge 'Minum Air 4 Liter Sehari'. Aku orangnya suka ikut-ikutan tren sih. Tapi, supaya enggak mainstream banget, aku memutuskan meningkatkan taruhannya. Sekalian aja, aku pengin mencari tahu apakah mengkonsumsi lebih banyak air menghasilkan lebih banyak keuntungan.

Aku memutuskan minum air putih 11,35 liter per hari, karena itu jumlah yang dikonsumsi aktor Hugh Jackman pas dia lagi siap-siap tampil telanjang dada dan pamer perut oke di film-film Wolverine. Tujuannya, seperti yang aku jelaskan dalam artikel sebelumnya, adalah memenuhi tubuh dengan air putih, sehingga tubuhmu terpaksa bekerja keras untuk mengeluarkan air tersebut. Habis itu, kamu harus pantang minum air selama 24 atau 36 jam, sebelum tubuhmu sadar akan apa yang terjadi. Kalau sukses, kamu bakal punya perut six-pack dadakan. Hehe, menarik juga ya...

Oke, mungkin aku enggak bisa nyanyi kayak Hugh Jackman. Aku juga enggak secakep dia. Tapi setidaknya ginjalku enggak kalah sama dia. Mengatur jumlah air di tubuh dan menyeimbangkan konsentrasi mineral di darah adalah fungi utama ginjal.

Walau minum air disarankan banget, tapi ada sisi gelapnya yang jarang dibahas lho: tindakan ini bisa mematikan. Pas aku memutuskan minum bergelas-gelas putih setiap hari selama seminggu, karena penasaran aja, aku baru tahu dari narasumberku, kalau harus berupaya mencegah hyponatremia.

"Hyponatremia terjadi ketika mengkonsumsi terlalu banyak air bikin sodium di dalam darah mencair," kata ahli gizi di New York, Amy Shapiro. Sebagai elektrolit, sodium membantu meregulasi jumlah air yang terdapat di dalam dan di sekitar sel-selmu.

Saat tingkat sodiumnya rendah, katanya, sel-sel di tubuhmu tergenang air dan mulai membengkak. Gejala hyponatremia termasuk rasa mual, muntah-muntah, koma, dan bahkan kematian. Kondisi ini sering dialami atlet yang mengeluarkan jumlah sodium yang tinggi melalui air keringat, yang tak tergantikan (dengan mengkonsumsi lebih banyak elektrolit).

Pas aku bilang ke Shapiro, ia menjelaskan sesuatu yang barangkali sesuai dengan apa yang ada di benakmu. "Untuk sebagian besar orang, 11 liter air sebenarnya terlalu banyak sebagai konsumsi harian," ujarnya. Berat badan, tingkat aktivitas, dan iklim dapat mempengaruhi seberapa banyak air yang harus dikonsumsi manusia.

Fenomena ini juga sering dialami pengguna MDMA. Leah Betts adalah orang pertama di Inggris yang meninggal karena ekstasi. Kematiannya menimbulkan panik di kalangan penggemar pesta di Inggris pada 1995. Meskipun koma dan kematiannya dikaitkan sama rumor “MDMA basi”, ternyata hyponatremia lah yang menewaskan Leah. Ia mengkonsumsi tujuh liter air dalam 90 menit saat lagi teler. Dia mati justru karena terlalu memperhatikan saran yang sering diberikan kepada raver, agar minum yang banyak selama dan sesudah berjoget selama berjam-jam.

Aku sadar, untuk mencapai tujuanku tanpa mengalami efek samping apapun (kematian salah satunya), aku harus menyebar asupan air putih tadi secara merata dalam satu hari. Pengalamanku minum air dalam jumlah besar sebelumnya mengajarkanku, walau sudah dibantu aplikasi seperti Waterlogged atau Hydro Coach, aku sering kewalahan memenuhi kuota air yang harus dipenuhi. Sekali tak berhasil memenuhi kuota ini, rencana kita berantakan.

Misalnya, jika kamu gagal memenuhi kuota minum air 7 liter, kamu tak bisa seenaknya menebus dosa dengan minum 11 liter sehari setelahnya. Kenapa? Karena berbahaya. "Jika kamu ingin minum air sebanyak ini selama sehari, aku rekomendasikan untuk membagi jatah minummu menjadi beberapa kali, jadi, tubuhmu bisa menyerap cukup sodium dan potasium dari makanan. Dengan cara ini, kamu tak langsung membuang semua elektronik ke luar tubuh, yang bisa menyebabkan serangan jantung," kata Shapiro.


Tonton dokumenter VICE soal bahaya industri asbes yang dapat memicu kanker. Bahan bangunan ini sayangnya masih sering dipakai di Indonesia:


Dalam sehari, aku melek selama kira-kira 16 jam. Aku membagi 11 liter tadi jadi 16 kali sesi minum air putih berbeda. Artinya, setiap satu jam, aku harus minum sekitar 700 mililiter air putih. Jumlah tersebut tergolong masuk akal karena tiga alasan: 1) jumlahnya sama dengan kapasitas botol air kesayanganku, 2) jumlah enggak melebihi kapasitas perut manusia (asal kalian tahu, perut kita cuma bisa menampung maksimal empat liter air) dan 3) air sebanyak itu masih di bawah ambang batas jumlah air (27-33 ons) yang bisa diolah sepasang ginjal manusia.

Di hari pertama, aku bangun seperti biasanya, maksudnya, kepalaku agak pening. Kemudian, seperti hari-hari biasa, aku menyeduh kopi. Tak terasa, aku sudah menenggak empat gelas kopi sambil menghabiskan satu jam nonton acara monolog semalam sebelumnya. Untungnya, aku langsung ingat “proyek” yang sedang kujalani. Minumku wajib sesuai target. Artinya, aku harus minum 700 ml air—yang harus aku telan bersama 903 gram roti french toast yang hangat.

Untungnya, aku tak sampai muntah. Tapi, sepagian badanku terasa aneh dan bolak-balik WC untuk kencing dalam satu jam. Sarapan? Sudahlah saya tak memikirkannya lagi. Siapa juga yang mau makan dengan perut sekembung itu.

Jam 2 siang, aku merasakan sensasi aneh. Aku kelaparan tapi di saat yang sama, perutku seperti penuh banget. Aku akhirnya masak oseng sayuran, tapi rasanya semuanya udah penuh gitu deh. Gara-gara ini semua, seharian aku memilih ngendon di apartemen.

Aku berusaha menghabis semua air dari perutku dengan kencing sebelum tidur. Usaha itu sia-sia. Aku bangun tiga kali sebelum subuh. Hari kedua misiku di mulai dan aku melihat reminder yang aku tempel di belakang pintu. Tekadku minum 24 ml air per jam mulai luntur. Pagi itu, aku kembali bikin kopi tapi cuma kuat menghabiskan satu gelas saja.

Tak lama kemudian, kepalaku pening (yang menarik, konsumsi kopi ini berhasil keluar dari tubuhku dalam bentuk tinja superbesar yang bikin aku ingin mamerkannya bak pemancing yang baru dapat ikan besar). Dan selain pipis pertama yang aku keluarkan setelah bangun tidur, air seniku sebening air yang aku minum hari itu—baguslah, air seni yang nyaris bening berarti aku cukup minum air.

Sejak saat itu, jadwalku mewajibkan aku keluar apartemen beberapa kali dalam sehari. Keluar apartemen berarti aku harus melewati tantangan ini: minum jatah air per jam, kencing sebanyak mungkin, dan berdoa aku tidak ngompol sebelum sampai ke tempat tujuan. Gara-gara ini, aku jadi terus-terus melihat jadwal yang aku tumpangi sebab jika tidak, ngompol tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, aku jadi tak ragu lagi menanyakan letak kamar kecil, bahkan di tempat asing sekalipun.

Kebiasaan baru lainnya: aku menelepon kawan dua menit sebelum sampai di apartemen mereka. Yang aku tanyakan cuma satu: aku boleh langsung pakai kamar kecil mereka begitu sampai. Kerepotan ini memaksa aku menyingkirkan segala benda yang enggak penting agar selalu bisa dekat toilet. Gym adalah pengecualian. Di tempat ini, aku tak perlu bolak-balik WC karena air dalam tubuhku keluar dalam bentuk keringat. Berkaca pada artikel Tonic yang pernah aku baca, manusia mengeluarkan satu liter keringat per jam.

Hari demi hari berlalu, aku merasa lebih awas dan bertenaga. Belakangan, kualitas tinjaku makin bagus dan itu bikin aku jumawa tiap kali buang air besar. Seperti yang ditunjukkan oleh sebuah riset, minum banyak air adalah cara paling gampang buat mengurangi asupan kalori. Tak heran, makin kemari, aku makin bugar dan frekuensiku bangun malam untuk pipis berkurang, tinggal sekali dalam semalam.

Kawan yang tak tahu aku sedang menjalani eksperimen, menilai mataku lebih berbinar dan istirahatku jadi memadai. Di minggu berikutnya, aku malah merasa perlu minum air lebih banyak lagi. Minum 11 liter air ternyata jadi kebutuhanku sehari-hari.

Setelah aku membuang semua air yang kuminum di Hari Ketujuh, aku menyadari berat badanku turun dua kilo lebih. Penampilan dan bentuk badanku rasanya nampak lebih baik. Belum lagi, urusan boker lancar jaya. Tapi soal kinerja otak, kayaknya aku ya gini-gini doang, hahahaha.

Kira-kira satu minggu setelah bereksperimen, aku menilai minum air dengan jumlah yang lebih sedikit tapi teratur setiap hari, akan memberi kita manfaat terhidrasi setiap saat. Sama sekali enggak ada ruginya. Jadi, minum air putih berlebihan memang lebai. Tapi malas minum air putih jelas tindakan yang bodoh dan sia-sia.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic