Kesehatan Mental

Sori, Sekali Kena Gangguan Makan Kamu Sulit Sembuh Sepenuhnya

Saya sebenarnya sudah sembuh secara medis dari anoreksia. Faktanya, saya masih sering cemas gara-gara makanan.
23.12.17
Ilustrasi oleh Ryan Brondolo.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Gym, bagi saya adalah tempat mencari kedamaian. Kalian pasti gampang menemukan saya pada tiap malam minggu sepanjang tahun pertama saya kuliah. Ketika teman-teman satu kosan saya berganti pakaian, berdandan, dan minum-minum sebelum pesta, kadang-kadang saya hanya duduk sendirian memakai daster tidur di samping mereka. Saat mereka semua sudah pergi, saya menanggalkan daster itu, memakai baju olahraga saya, dan naik lift ke basement, tempat gymnya berada yang terkadang membuat saya merasa terjebak. Saya menggunakan alat elliptical berjam-jam dan baru berhenti ketika mesinnya memberitahu bahwa saya berhasil membakar 2.000 kalori, kadang-kadang hingga lewat tengah malam, untuk menebus perasaan berdosa yang ditimbulkan oleh makan-makan. Banyak sekali penderitaan saya yang berhubungan dengan gangguan makan yang saya alami sepanjang hidup saya sampai musim panas lalu, ketika saya mengikuti cognitive behavioral therapy selama beberapa bulan untuk belajar mengatur gangguan kecemasan saya. (Ucapan terima kasih spesial untuk pacar saya yang selama ini menyemangati saya dan mendorong saya untuk mencari bantuan.) Berat saya 52kg, berat yang tergolong sehat untuk badan saya yang pendek--atau mungil--nya 157cm, jadi penampilan luar saya mungkin bukan seperti yang ada di kepalamu ketika membayangkan seseorang dengan gangguan makan. “Ada banyak orang yang berbadan normal yang juga menderita gangguan makan,” kata Lauren Smolar, ketua program di National Eating Disorders Association. “Gangguan makan banyak bentuknya; mereka adalah kombinasi perilaku yang berbeda, dan semuanya sama seriusnya.” Sebagai seorang anggota tim lari di SMA, saya makan terlalu sedikit, menjadi terobsesi dengan berat badan, dan berat saya turun menjadi 45kg. Tapi bagi saya, masalah yang sudah satu dekade saya hadapi adalah fase binge eating (pola makan dimana seseorang makan sangat banyak di waktu yang singkat). Saya pernah membuat brownies dan menghabiskan satu loyang dalam waktu yang lebih cepat dari Trump at a red-state McDonald's . Saya pernah makan satu box kue kering sirup mapel dalam sekali duduk. Saya pernah ngemil seharian penuh. Saya pernah makan sampai ‘food coma’. Saya pernah mencoba menebus aktivitas binge eating saya dengan berolahraga selama beberapa jam dan mengurangi asupan makan--sebuah apel untuk makan siang dan sebuah apel lagi untuk makan malam. Mood saya tidak karuan, hubungan saya dengan orang lain tidak karuan, dan badan saya, tentu saja, juga tidak karuan.

Jumlah orang yang menderita gangguan makan tidak pernah jelas, karena banyak orang yang tidak berobat. Salah satu survey yang merepresentasikan negara menemukan bahwa 0.9 persen perempuan menderita anorexia nervosa, 1.5 persen menderita bulimia nervosa, dan 3.5 persen menderita binge-eating disorder pada suatu waktu di hidup mereka. (Untuk laki-laki, angka penderita gangguan tersebut masing-masing 0,3 persen, 0,5 persen, dan 2 persen). 20 juta perempuan dan 10 juta laki-laki di Amerika Serikat diperkirakan akan mengalami gangguan makan yang signifikan di waktu tertentu pada hidup mereka. Saya pernah mengalaminya, tapi sekarang saya bisa mengontrol pola makan saya. Saya sudah tidak pernah binge-eating, makan diam-diam, atau membenci diri sendiri ketika kebanyakan makan kue kering. Sekarang saya sudah bisa mencintai makanan lagi--tapi gangguan pola makan selama sepuluh tahun tentunya meninggalkan bekas. Saya terlalu memikirkan pilihan makanan saya, saya selalu memesan makanan yang paling sehat di menu, dan saya masih merasa bersalah ketika saya makan terlalu banyak. Masalahnya bukan lagi tentang apa yang saya makan, tapi apa yang saya pikirkan tentang apa yang saya makan. Begitulah kira-kira. Gangguan makan digolongkan di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DMS-5), standar klasifikasi gangguan mental di Amerika Serikat. Artinya setiap gangguan makan memiliki komponen mental dan fisik: Untuk memenuhi kriteria sebuah diagnosis, kondisimu harus “menyita pikiran sampai mengganggu fungsi sehari-hari,” kata Rachel Goldman, seorang psikolog berlisensi dengan spesialisasi di gangguan makan dan asisten profesor klinis di School of Medicine New York University. Dulu, makanan dan pola makan saya mempengaruhi setiap pikiran dan kehidupan sehari-hari saya--tapi tidak lagi sekarang. Jadi bagaimana dengan orang-orang seperti saya yang berada di tengah-tengah, yang tidak memenuhi definisi klinis penyakit tersebut tapi masih memiliki hubungan yang disfungsional dengan makanan? “Menurut saya, gangguan jiwa memiliki spektrum,” kata Goldman. “Kalau memang tidak terjadi secara rutin, tidak menyebabkan kecemasan yang terlalu besar, dan tidak mempengaruhi fungsi sehari-hari, hal itu masih bisa menjadi kekhawatiran, tapi hal itu berupa gejala gangguan makan dan bukan gangguan makan itu sendiri.” Pola makan yang terganggu mencakup semua perilaku dan pikiran tidak sehat yang berhubungan dengan makanan. Menurut Goldman, gejala itu merupakan kasus problem makanan ringan yang bisa menjadi gangguan serius jika frekuensi masalah tersebut menjadi lebih sering dan mengganggu. Perilaku makan yang sehat terdiri dari “mendengarkan badanmu, makan makanan yang dibutuhkan ketika kamu membutuhkannya, dan berhenti ketika kenyang,” kata Smolar. Kadang-kadang ngemil, makan lebih banyak di hari-hari tertentu, dan mengurangi asupan makan dalam jumlah tertentu juga masih termasuk normal. “Hubungan yang tidak sehat dengan makanan biasanya melibatkan rasa bersalah, atau merahasiakan aktivitas makan.” Hal ini mencakup perasaan bersalah ketika makan dan menurunkan asupan beberapa kelompok makanan dari menu makananmu--seperti melarang keras diri sendiri untuk makan makanan yang mengandung gula, susu, atau roti. Kita semua tahu bahwa trauma masa kecil, obsessive-compulsive disorder, dan genetika meningkatkan resiko timbulnya gangguan makan pada seseorang. Tapi media juga memiliki andil dalam pikiran dan perilaku tentang makanan yang terganggu, tidak hanya dalam memperburuk body image, tapi juga dalam menggembor-gemborkan faktor kesehatan. “Ada banyak perhatian yang tertuju kepada kesehatan, dan kebanyakan memiliki fokus berlebih terhadap perilaku makan yang ekstrim,” kata Smolar. Banyak akun di media sosial yang penuh dengan green smoothie, chia bowl, dan diet makanan mentah. “Hal itu benar-benar menormalisasi gangguan makan sebagai bagian dari budaya kita.” Faktanya, sebuah studi yang terbit tahun ini di Eating and Weight Disorders menemukan hubungan langsung penggunaan Instagram dan orthorexia, pola makan yang ditandai oleh obsesi terhadap nutrisi yang cukup. (Seperti clean-eating, tapi lebih ekstrim.) “Menurut saya, pikiran-pikiran dan perilaku makan yang terganggu mulai menjadi lazim, dan dalam beberapa tahun dari sekarang, kita mungkin akan lebih sering melihat tipe-tipe gangguan ini,” kata Goldman.

Cara makan saya akhir-akhir ini tergolong “normal”--Saya makan dengan konsisten dan tidak merasa kacau seperti sebelumnya. Yang membuat saya cemas adalah pikiran tentang makanan yang terganggu, bukan perilaku. Tapi otak kita adalah sebuah sistem yang kompleks, dan kita tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif semudah membalikkan telapak tangan. Saya sendiri paham seberapa sulitnya mengubah total cara kerja otak kita tentang makanan. Itulah tujuan cognitive behavioral therapy, salah satu evidence-based treatment untuk gangguan makan. “Dasar dari CBT adalah bahwa pikiran, perilaku, dan emosi kita saling terkait,” kata Goldman, dan jika seseorang bisa mengganti pikiran, perilaku, dan emosi tidak sehat dengan yang sehat, yang lain akan mengikuti dengan sendirinya. Sebuah pelajaran yang bisa didapatkan di CBT adalah menolak pikiran negatif seperti “selalu” dan “tidak akan pernah”--seperti, Saya akan selalu memiliki masalah dengan makanan atau Saya tidak akan pernah memperbaiki gangguan makan saya. Pengobatan dan kesembuhan adalah hal yang dapat dicapai, ketika dibantu oleh upaya dari diri sendiri. “Tujuan umumnya sih untuk memiliki berat badan yang sehat dan hubungan yang juga sehat dengan makanan,” kata Goldman. “Gangguan makan bukan tidak mungkin untuk disembuhkan, dan mereka bisa memiliki kehidupan yang sehat jika sudah sembuh.” Selama sepuluh tahun, saya beranjak tidur setiap malam dengan pikiran tentang apa yang saya makan hari itu dan bangun hampir setiap hari dengan keadaan mencemaskan apa saja yang akan saya makan sebelum malam tiba. Hidup seperti itu kadang-kadang menyedihkan. Sekarang, ya, saya masih berhati-hati tentang makanan dan saya masih memikirkannya lebih dari orang lain--tapi sekarang saya menggunakan tenaga saya untuk hal-hal yang lebih penting. Apa yang ada di atas piring saya tidak lagi selalu apa yang ada di pikiran saya. Sejujurnya, itu cara hidup yang baik.