Ancaman Bisnis Kopi

Separuh Varietas Kopi Liar di Dunia Berisiko Punah

Kopi liar memang bukan untuk dipanen, tapi sangat penting bagi keberlanjutan varietas kopi yang biasa kita nikmati seperti Arabika dan Rustica.
29 Januari 2019, 4:47am
Varietas kopi liar terancam punah
Petani kopi di El Salvador. Foto oleh: Adam C Baker

Minum kopi kerap jadi rutinitas pagi bagi kebanyakan orang di dunia. Kopi bahkan tak jarang menggantikan sarapan. Pecinta kopi berasal dari berbagai kalangan, baik muda atau tua. Budaya minum kopi ini menguntungkan 125 juta orang yang mencari rezeki sebagai petani kopi.

Namun, penelitian yang diterbitkan dalam Science Advances pada 16 Januari mengungkapkan bahwa 60 persen spesies kopi liar terancam punah akibat perubahan iklim dan penggundulan hutan.

Dari 124 spesies kopi yang telah didokumentasikan ilmuwan, hanya ada dua varietas kopi, Arabica dan Rustica, yang mendominasi pasar global modern. Sebagian besar dari mereka tumbuh secara alami di daerah tropis seperti Afrika, Asia, dan Australasia.

Aaron Davis, pakar kopi di Royal Botanic Gardens, Kew, memimpin tim peneliti yang membuat katalog spesies kopi dan menguji risiko kepunahannya selama dua dekade. Proyeknya mengungkapkan bahwa 35 galur tumbuh di habitat yang tak dilindungi, sedangkan 75-nya memenuhi standar spesies yang terancam berdasarkan “red list” IUCN. Tim juga menemukan bahwa 45 persen spesies kopi liar tidak disimpan di bank benih.

Meskipun kopi liar biasanya tidak untuk dikonsumsi, tanaman kopi ini sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies yang dibudidayakan, terutama di zaman perubahan iklim ini.

“Spesies ini punya sifat berguna untuk pengembangan kopi, seperti toleransi iklim dan kekeringan, tahan hama dan penyakit, kadar kafein rendah atau nol, dan perbaikan sensorik (rasa),” bunyi penelitiannya.

Dengan kata lain, spesies kopi liar telah mengembangkan beragam adaptasi yang dapat dibiakkan secara selektif menjadi galur varietas kopi yang dapat mengambil manfaat darinya. Sekalipun spesies liar rentan punah dari kekeringan atau deforestasi, tanaman ini mungkin punya daya tahan yang lebih tinggi terhadap hama atau penyakit. Sifat-sifat spesifik tersebut dapat diintegrasikan ke dalam varietas yang dibudidayakan.

Perubahan iklim telah menurunkan produksi kopi dengan mengganggu penyerbuk, menyebarkan hama, dan menyebabkan peristiwa cuaca ekstrem jangka pendek serta perubahan lingkungan jangka panjang.

Menurut penelitian yang terbit 2015 di Jurnal Climatic Change, suhu yang lebih hangat dapat menyebabkan lahan yang digunakan untuk memproduksi kopi berkualitas tak lagi produktif pada 2050.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard