Musik

Mengunjungi Pusat Kesehatan Mental Khusus Musisi

Sejak dibuka pada 2000, yayasan Nuçi's Space menolong lebih dari 1.700 musisi yang mengalami gangguan mental
15.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Di antara asrama-asrama di University of Georgia, para redneck dan musisi pemuja Jeff Mangun, terdapat Nuçi's Space: pusat pencegahan bunuh diri dengan spesialisasi musisi mengidap depresi. Hari Thanksgiving, 1996, penduduk Athens dan musisi Nuçi Phillips bunuh diri. Memperingati kematian Nuçi, sang ibu, Linda Phillips, dan kawan baik sekaligus kolaboratornya, David Barbe ingin melakukan sesuatu untuk memperingati hidupnya dan mencoba menyelamatkan mereka yang berjuang melawan depresi. "Saya rasa untuk menciptakan seni, kita mesti dekat dengan perasaan kita," ujar Barbe pada saya. "Dibutuhkan introspeksi. Entah orang-orang kreatif lebih rentan terkena depresi, atau orang-orang dengan emosi rentan memiliki kebutuhan untuk mencipta. Ada banyak banget album patah hati di luar sana."

Pusat ini berfungsi sebagai penengah bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Ketika kamu mencari bantuan, kamu akan didampingi oleh advokat terlatih, yang menawarkan saran jika dibutuhkan dan informasi mengenai kelompok support tersedia di Nuçi's Space dan menghubungkan kamu dengan terapis atau psikiatris yang ada. Apa yang membuat layanan ini bagus adalah, biaya yang cuma Rp140 ribu, pukul rata terlepas dari status asuransimu. Melalui pengumpulan dana dan donasi pribadi, Nuçi's Space mampu menutup biaya sesi konseling. Biasanya, keyika mereka mengidap depresi dan mencari bantuan, keputusan itu diambil setelah mencapai titik parah gejala—bisa jadi dorongan bunuh diri yang kuat, keinginan menyakiti diri sendiri, atau tidak mampu bangun dari kasur untuk waktu terlalu lama. Sayangnya, untuk sampai ke keputusan itu tidak instan. Proses menemukan seorang terapis yang sesuai bujet, atau dalam jaringan asuransimu, atau bahkan yang jadwalnya sesuai dengan jadwalmu, bisa memakan waktu lama. Kurun waktu mencari informasi yang tidak pasti dapat menjadi pertarungan hidup dan mati bagi mereka yang berjuang melawan dorongan bunuh diri. Nuçi sendiri telah meminta jadwal temu untuk konseling melalui kampusnya, dan meninggal dunia dalam kurun empat minggu saat menunggu. Untuk itu, Nuçi's Space juga menyediakan sesi terapi kelompok informal di tempat untuk mengakomodasi jeda tersebut.

"Tujuan besar saya adalah untuk mematahkan stigma terkait dengan kelainan otak," ujar Philips. "Kami memutuskan bahwa kami tidak ingin Nuçi's Space memiliki format seperti klinik, dan kami tidak ingin ada terapis di lokasi. Kami punya ruang-ruang praktik, sebuah perpustakaan yang menyediakan buku-buku soal bisnis musik dan psikologi musik, kedai kopi, dan kantor-kantor tempat support group. Tujuan saya adalah menjangkau mereka di teritori mereka sendiri. Saya rasa Nuçi akan mau datang ke sini."

Tipe konselor eksternal yang direkomendasikan Nuçi's Space kepada klien-klien adalah orang-orang dengan pengalaman menangangi para seniman secara khusus. Jam kerja yang tidak konsisten, pemasukan yang tidak pasti, frustasi kreatif, dan kesepian saat kerja adalah hal lumrah bagi para musisi. Hampir semua ornag yang pernah bekerja di atau dengan Nuçi's Space juga musisi, jadi mereka memahami bahwa para klien mau menerima sisi buruk dari gaya hidup kreatif macam itu. Banyak terapis mungkin mendorong mereka yang putus asa dalam karir kreatif untuk melakukan sesuatu yang lebih dapat diandalkan, jika kondisi mereka membuat mereka amat depresi. Sedangkan Nuçi's Space paham mengapa para musisi mau mengorbankan banyak hal demi musik, dan mendukung mereka dalam hal itu. Nuansa pikiran seorang musisi amat penting untuk memahami pusat ini. Pusat-pusat fasilitas seperti Nuçi's Space, yang fokus kepada individu kreatif, telah tersebar di seluruh Amerika sejak 90an, di kota-kota seperti Austin, Boise, dan Dallas. "Pikiran kreatif amat lebih tempramental. Saya rasa para seniman merasakan hal dengan cara berbeda, terkadang lebih dalam," ujar Phillips. "Kita punya satu musisi di Athens, dia orang baik dan musisi yang keren, dan dia mengidap bipolar. Ketika dia berada di fase manic, dia bisa pergi ke pusat kota dan menembak orang-orang dengan senapan berisi cat. Tentu saja, hal tersebut bukan perilaku yang dapat diterima. Jadi kami panggil dia ke Nuçi's Space, tanpa senapan catnya. Di sini, dia bisa bilang apa saja yang dia inginkan, dia bisa mencaci maki, dia bisa berteriak, menangis—tapi dia akan aman. Dan semua orang di sana memahami apa yang dia alami dan tidak menghakimi. Kami mencoba merawat dia sampai fase manicnya selesai. Saya ingin ada ruang aman yang dikelola oleh musisi yang adalah pendengar yang baik dan tahu apa yang mesti dilakukan ketika seseorang mengalami masalah." Gedung Nuçi's Space terlihat seperti perpaduan antara pom bensin dan kedai kopi hipster. Kota Athens amat kecil, sebagian besar penduduk akan berpapasan di satu titik lokasi. Barbe (yang juga mengelola program Bisnis Musik di University of Georgia), memprediksikan bahwa hampir setiap musisi di Athens memiliki ikatan dengan Nuçi's Space. Mereka pernah berlatih, mengadakan konser penggalangan dana, mencari bantuan, atau untuk sekadar kongko. Permintaan akan ruang aman meningkat di penjuru negeri. Dan Nuçi dijadikan percontohan.
"Saya sering pergi ke Nuçi's Space untuk berlatih selama bertahun-tahun sejak awal kuliah hingga minggu lalu. Saya juga berkunjung untuk perawatan selama beberapa tahun, dan prosesnya amat mudah," ujar JJ Posway, musisi lokal Athens. "Rasanya seperti mereka memilihkan terapis khusus untuk menangangi orang-orang kreatif. Ketika saya ngobrol tentang pilihan hidup dengan terapis lain, saya merasa dihakimi. Alih-alih didengarkan, saya malah diceramahi." Sebuah penelitian di Islandia terhadap 86,000 orang menemukan bahwa tipe orang kreatif 25 persen lebih mungkin membawa gen yang mengarah pada penyakit mental seperti skizofrenia dan bipolar. Penelitian lain oleh Victoria University di Australia menemukan bahwa orang-orang yang bekerja di industri hiburan Australia berisiko 10 lebih tinggi untuk cemas, dan dua kali lebih tinggi untuk mencoba bunuh diri dibandingkan populasi umum.

Masalahnya adalah, alih-alih mengatasi hal tersebut, kita terus-menerus memandang penyakit mental sebagai efek samping dari karir kreatif, dan bahkan membuatnya tampak glamor. Seniman "sakit jiwa" telah menjadi label yang berlangsung sepanjang sejarah, dan dianggap sebagai norma, atau bahkan sebagai "kebutuhan" agar dapat menciptakan karya seni yang brilian. Barbe menyimpulkan, "Saya rasa kalau kamu mengamati seniman-seniman kegemaranmu, baik musisi atau lainnya, kamu akan menyadari bahwa banyak emotional roller coaster dalam hidup mereka… saya bersimpati pada mereka yang mengalami begitu banyak rasa sakit, sehingga berpikir bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar."

Koreksi: versi awal artikel ini keliru menyatakan biaya jasa Nuçi's Space sebesar US$10 Cek lagi mengenai Nuçi's space di sini.