Beginilah Pengalaman Seniman yang Bisa 'Mendengar' Warna
Pengakuan Seniman

Beginilah Pengalaman Seniman yang Bisa 'Mendengar' Warna

Jack Coulter mengidap kondisi langka yang membuatnya mampu mendengar suara warna. Lewat karya-karyanya, dia melukiskan hal-hal yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan.
4.9.18

Sewaktu kecil, hal-hal seperti memandang langit merupakan pengalaman yang berbeda bagiku. Aku ingat momen duduk sendirian di kamar dan suara degup jantungku memunculkan warna. Warnanya ultraviolet, seperti sinar benderang dari cahaya gelap.

Aku mengidap sinestesia ‘aneh’, jadi pengalamanku barangkali sangat berbeda dari orang yang memiliki gejala sinestesia yang lain. Bentuk yang dominan adalah kemampuan saya untuk mendengar warna. Ini dikenal sebagai chromesthesia, atau sinestesia suara-ke-warna. Pandangan saya berwarna-warni. Jika saya merasa kewalahan atau terlalu bersemangat, warna muncul di depan saya. Jadi ketika saya melihat sesuatu yang indah sambil mendengarkan musik yang indah, warna akan muncul, bergerak dan berputar-putar dalam irama. Ini seperti api hijau dan biru dan merah.

Pengalaman ini semacam kenikmatan visual yang konstan: bahkan benda-benda paling polos pun bersinar seperti berlian atau kristal. Aku tidak punya kendali sama sekali. Saya melihatnya bahkan ketika saya sedang tidur. Aku memiliki mimpi berulang yang datang di malam-malam hujan deras. Ketika mendengar hujan deras, formasi warna mengelilingiku, berdenyut seiring waktu dengan setiap tetes hujan. Memiliki sinestesia adalah pengalaman pribadi yang sangat intim. Unsur-unsur itu bisa sangat seksual seperti perasaan yang luar biasa ketika seseorang pertama kali jatuh cinta pada seseorang.

Iklan

Sejujurnya sulit menjelaskan apa itu sinestesia kepada orang yang tidak mengidapnya. Tidak mungkin bagiku menggambarkan seluk-beluknya—rasanya seperti mencoba menjelaskan dunia kepada seseorang yang tuna netra sejak lahir.

Saat tumbuh dewasa, aku merasa hidup lumayan sulit. Aku dulu berpikir halusinasi warna itu hanya lamunan. Semuanya baru bagi anak-anak, jadi aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepada orang tua atau keluarga dekat. Aku sering merasa malu dan akhirnya banyak menghilang sendirian ketika sedang di kerumunan. Sampai sekarang pun begitu.

'Conscivit'

Aku sering merasa tersesat. Aku tidak pernah bisa fokus di sekolah, dan aku tidak pernah bisa menjelaskan kepada mereka apa yang bisa kulihat. Aku bahkan tidak menghadiri wisuda kuliah gara-gara kelebihan tersebut.

Akibatnya aku bereksperimen dengan obat-obatan dari usia yang sangat muda. Pada usia remaja awal aku sudah menjalani apa yang kebanyakan orang dewasa lakukan ketika mereka mencapai krisis paruh baya—mencoba mengisi kekosongan dan mempertanyakan jati diri. Pernah, baru jam 12 siang, aku hampir mati karena keracunan alkohol yang parah. Dokter mengatakan aku beruntung masih hidup. Itu adalah hal yang sangat menakutkan bagi keluargaku.

Tapi kemudian, aku menemukan seni. Bibiku adalah seorang pembuat cetakan abstrak—ibuku menggantung karyanya di setiap ruangan rumah saat saya tumbuh. Saya ingat pergi ke salah satu pamerannya sewaktu kecil. Aku bisa mendengar suara dari lukisan-lukisan itu. Dialah yang mendorongku melukis. Itu mengubah hidup saya—itu akhirnya adalah cara bagi saya untuk mengekspresikan apa yang dapat saya lihat, dengar, dan rasakan—pelepasan abstrak secara psikoanalitis begitu bebas. Bibi saya bunuh diri sehari sebelum saya mulai kuliah seni. Dia masih menjadi pengaruh terbesar pada pekerjaanku.

Setelah ketahuan kalau aku memiliki kondisi neurologis yang berbeda, banyak hal mulai masuk akal bagiku. Hal sederhana macam sakit kepala kadang disebabkan oleh kelebihan indrawiku. Tapi aku mulai bisa menerimanya.

'Narcotic'

Dosen di perguruan tinggi sempat menyuruhku berhenti melukis abstrak dan melakukan pekerjaan yang lebih konvensional untuk mengatasi sinestesia. Tetapi aku tidak ingin terjebak dalam batas-batas konvensional mereka. Sekarang setelah lulus, aku menggunakan garasi rumah sebagai ruang kerja. Berkat seni, aku merasa benar-benar dapat mengekspresikan diri. Semua pengalamanku, visualisasiku, suara-suara yang kudengar—semua tadi coba kuhidupkan di kanvas. Aku mendengarkan alunan musik dari warna lukisan. Percobaan tersebut meningkatkan pengalamanku merespons sinestesia. Aku sekarang sanggup melihat warna-warna bergerak di depan mataku.

Lukisan adalah ekspresi yang sangat pribadi dari kondisi yang kumiliki. Sinestesia ternyata bisa berdampak luar biasa ketika aku sukses menampilkan hasil kerjaku di depan umum. Baru-baru ini, seorang perempuan muda menghubungiku. Dia mengatakan melihat karya seniku di internet ketika hendak bunuh diri. Dia bilang bahwa karyaku menghentikan niatnya. Hidupku sendiri sedang berantakan ketika perempuan tadi membagi pengalaman luar biasanya.

Kini aku berusia 21 tahun. Aku akhirnya merasa sangat beruntung dapat hidup dengan kondisi neurologis yang langka seperti ini. Membayangkan hidup tanpa sinestesia justru membuatku takut. Aku hidup dalam warna. Maka kelak, aku akan mati pula dalam warna.


Tengok karya-karya Jack di Twitter dan di situs pribadinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US