Kriminalitas

Tiga Pertanyaan buat Pencuri Motor di Solo yang Tinggalkan Vario dan KTP di TKP

Aksi kriminal yang memicu komedi ini bikin redaksi bertanya-tanya. Apakah si maling mengincar hal selain keuntungan finansial? Kepuasan pribadi, misalnya?
9.2.21
GettyImages-1139901923
Foto ilustrasi via Getty Images

Indonesia punya banyak jenis maling, mulai dari maling sandal ibadah jumatan sampai maling uang bantuan sosial, tapi hampir seluruhnya berpegang pada satu prinsip: zero outcome, maximum income. Makanya, kehadiran maling asal Surakarta, Jawa Tengah, ini menjadi anomali dan perlu dapat sorotan.

Alkisah (tapi nyata) di Kota Surakarta, kamera pengintai berhasil merekam terduga pencuri sedang menggondol motor milik karyawan kantor jasa pengiriman SiCepat di Jalan Monginsidi. Aksi pencurian terjadi pada Jumat (5/2) lalu sekitar jam setengah satu siang, membuat satu motor merek Honda Scoopy raib. Diakui pegawai kantor, kunci motor memang tertinggal di kendaraan karena niat pemilik cuma mau ninggalin motornya sebentar sebelum cabut lagi.

Iklan

Pencurian motor ini membuat orang-orang di lokasi kebingungan. Gimana enggak bingung, si pencuri membawa kabur Scoopy orang, tapi meninggalkan Honda Vario miliknya sendiri di lokasi. Lah, ini sih lebih cocok disebut barter paksa.

“Dari rekaman CCTV dia [pelaku] mondar-mandir di sini [sekitar kantor SiCepat]. Tanpa kita sadari motor yang dia bawa ditinggal di sebelah kantor, motor yang kitanya punya dia bawa,” kata Paskal, salah seorang karyawan kantor. Dari saksi, ciri-ciri pelaku yang diketahui hanyalah rambut panjang. Sisanya blur, mengingat pelaku memakai helm dan masker sehingga sulit dikenali.

Kebingungan makin menjadi saat para karyawan kantor menemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang diduga milik pelaku, tersimpan rapi dalam tas yang juga ditinggalkan di motor yang terkhianati itu. Kasus absurd ini sudah ditangani Polsek Banjarsari yang sedang mengejar si pria berinisial BH sebagaimana tertera di KTP dan SIM.

Kasus ini menyisakan beberapa pertanyaan liar nan penting yang bikin kami penasaran. Kalau warganet ada yang tahu jawabannya atau punya teori sendiri, mohon menjawabnya di kolom komentar media sosial VICE.

Pertanyaan ke-1: Doi emang sengaja ninggalin identitas palsu buat mengaburkan penyelidikan. Tap kenapa caranya berisiko amat yak?

Iklan

Meski termasuk benda yang selalu dibawa-bawa, keputusan pelaku meninggalkan KTP dan SIM di motor bisa aja dilakukan dengan sengaja. Dia emang berharap ada orang lain menemukan dua kartu identitas itu. 

Tapi, kenapa harus ada SIM ya? Kalau emang doi mau memfitnah orang lain, KTP aja kan cukup, toh isinya sama. Terlebih, cara yang dipakai pelaku rentan ketahuan. Misalnya di video pelaku kelihatan enggak pakai sarung tangan. Berarti, sidik jarinya bertaburan dong di motor Vario. Bermodalkan identitas dan sidik jari, seharusnya mudah bagi aparat mengonfirmasi kebenaran identitas yang ditinggalkan.

Dibilang enggak sengaja mencurigakan, dibilang sengaja mengkhawatirkan. Ini pasti malingnya antara jenius banget atau amatir banget.

Pertanyaan ke-2: Pelaku meninggalkan identitas aslinya. Mungkin dia berharap dikejar-kejar?

Jangan merasa aneh dulu sama pertanyaan ini. Banyak kasus penjahat kriminal yang meninggalkan jejak secara sengaja agar memberi petunjuk kepada penyelidik ke mana harus mengejar. Serial dokumenter Netflix berjudul Don’t F*ck with Cats: Hunting an Internet Killer adalah contoh bagus. Pengejaran kerap memancing adrenalin pelaku, sesuatu yang membuatnya semangat menjalani hidup. Bisa jadi di lokasi yang tertera di KTP si BH, polisi akan menemukan teka-teki baru yang harus dipecahkan secepatnya sebelum pelaku mengancam akan melakukan pencurian berantai di episode berikutnya. Apakah kita sedang menyaksikan Frank Abagnale versi Surakarta?

Iklan

Itu, atau emang doi murni kelupaan, masih jadi opsi fifty-fifty.

Pertanyaan ke-3: Apa dasar pelaku menganggap Scoopy lebih berharga daripada Vario?

Dari segi finansial, harga baru Scoopy dan Vario enggak jauh beda. Iya, memang dari video terlihat Scoopy yang dicuri masih kinclong dan Vario yang ditinggal tampak lebih usang. Tapi, emangnya bisa laku berapa sih harga Scoopy bekas tanpa surat-surat resmi dibanding Vario milik sendiri yang lengkap dokumennya? Lagian, untuk keiritan bahan bakar, menurut situs ini Scoopy menang tipis doang sebesar 2 kilometer aja per liternya dari Vario.

Jadi, justifikasi pelaku untuk merelakan Vario, jika memang benar itu motornya sendiri, demi Scoopy jelas tidak didasarkan kepentingan finansial. Lantas apa? Bentuk Scoopy yang lebih imut?

Kasus ini terlalu aneh, membuat saya ikut-ikutan merasa aneh gara-gara memikirkannya. Tapi menurut hemat saya, misteri Honda ditukar Honda ini sebenarnya bisa jadi momentum tersendiri buat wali kota baru Surakarta Gibran Rakabuming unjuk kemampuan sembari membersihkan nama baik ayahnya. Melihat kendaraan merek Honda kerap memicu pencurian, emang paling bener beli produk Esemka. Seratus persen anti-kemalingan karena wujudnya tidak bisa dilihat oleh maling mana pun.