Kultur Internet

Cina Akan Hadiahkan Uang Rp1,7 Miliar Bagi Pelapor Konten Pornografi ke Polisi

Pemerintah Tiongkok baru-baru ini melipatgandakan nominal hadiah bagi siapa saja yang mau melaporkan penyebar konten terlarang.
10.12.18
A man watching pornography, split with the People's Armed Police of China
Gambar via Shutterstock (L) danShutterstock (R)

Menjadi seorang miliarder di Cina itu sebenarnya sangat gampang. Kalian cukup memburu penyebar konten pornografi atau ilegal, dan melaporkan mereka ke pihak berwajib. Segala bentuk pornografi dilarang di Cina, dan pemerintah baru saja melipatgandakan jumlah hadiah bagi para “pemburu pornografi” yang melaporkannya.

National Office Against Pornographic and Illegal Publications adalah badan pemerintah yang bertugas membersihkan situs web di Cina dari pornografi. Tech in Asia melaporkan bahwa mereka baru saja mengeluarkan New Measures for Rewarding Reporting on Eradicating Pornography and Illegal Content (Tindakan Baru untuk Menghadiahi Pelapor Dalam Rangka Memberantas Konten Pornografi dan Ilegal). Mulai 1 Desember lalu, penduduk Tiongkok yang mengadukan konten terlarang—baik di internet maupun tidak—akan dihadiahkan uang tunai sebesar 600.000 yuan atau setara dengan Rp1,2 miliar. Hadiahnya cukup menarik, mengingat rata-rata gaji tahunan karyawan di perkotaan hanya 74.318 yuan (Rp156 juta), menurut Statista.

Ini adalah contoh terbaru dari regulator online di Cina yang berupaya keras memberangus penyebar konten terlarang. Misinya sendiri diberi nama “Clean up the Pornographic, Strike the Illegal”. Media lokal melaporkan bahwa sudah ada puluhan ribu situs web ilegal yang dihapus oleh pemerintah. Hadiah uang tunai yang sangat fantastis tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesediaan rakyat untuk membantu pemberantasan pornografi.

“Saya tidak akan kerja hari ini,” tulis seorang informan di media sosial populer Weibo. “Saya akan melacak konten tak pantas yang bisa dilaporkan. Untuk apa saya kerja mati-matian kalau bisa dapat uang hanya dengan melapor?”

Iklan

Times of India mewartakan bahwa regulator juga sudah mengecam platform media sosial seperti Weibo dan WeChat karena telah lalai dan “tidak bertanggung jawab” dalam memberangus konten ilegal. Upaya ini sebenarnya sangat membahayakan pembuat konten — bukan pembuat konten pornografi saja, melainkan siapa saja yang karyanya mendekati konten NSFW (tidak aman untuk dibuka di kantor). Menurut Tech in Asia, beberapa seniman telah memperingatkan pengikutnya di media sosial agar tidak mengunggah contoh karya mereka yang bermuatan dewasa.

Menurut The Guardian, seorang penulis dengan pseudonim Tianyi divonis 10,5 tahun penjara bulan lalu karena telah membuat dan menjual konten pornografi setelah novel erotis gay-nya yang bertajuk Gongzhan menjadi viral. Kepolisian setempat mengklaim bahwa novelnya—yang mengisahkan “hubungan terlarang antara guru dan murid”—penuh dengan “tindakan mesum seperti pelanggaran dan pelecehan.” Hukumannya didasarkan pada penafsiran yudisial yang mengatakan bahwa “keadaannya sangat serius” apabila buku pornonya terjual lebih dari 5.000 eksemplar. South China Morning Post memberitakan bahwa hukuman penjaranya tidak akan melebihi 10 tahun.

Sebulan sebelumnya, menurut Sixth Tone, admin sebuah grup WeChat dijatuhi hukuman enam bulan penjara karena “menyebarkan” konten ilegal. Padahal, foto porno itu dibagikan oleh anggota grup lain.

Hadiah uang memang sengaja digunakan untuk mendorong informan dan warga sipil berpartisipasi dalam serangan anti-pornografi yang diusung pemerintah. Namun, strategi pemberian hadiah kepada warga yang mengadukan perilaku mencurigakan sudah lama berlaku. “The Chaoyang Masses” yang beranggotakan 140.000 informan senior di Beijing sering disebut-sebut sebagai badan intelijen terbesar kelima di dunia. Mereka bahkan punya aplikasinya sendiri.

Business Insider melaporkan bahwa Anquan, perusahaan keamanan internet pihak ketiga di Beijing, membuka lowongan pekerjaan untuk posisi “kepala pendeteksi pornografi” pada 2013 di akun Weibo. Pelamar kerja yang berhasil akan diberi gaji 200.000 yuan (Rp417 juta) setahun untuk “mencari dan mempelajari foto dan video porno, membuat kriteria yang menentukan kecabulan” dan “mengelola dan menilai sumber pornografi.” Mereka juga akan mendapat buah dan yogurt gratis sekali seminggu.

Pemberantasan ini adalah bagian dari kampanye yang lebih besar untuk menyensor kebebasan berbicara dan informasi di internet, karena pemerintah Tiongkok menginginkan “perkembangan internet sehat dan teratur yang bisa melindungi keamanan negara dan kepentingan publik.” Bukan hanya konten porno saja yang akan ditindak. Segala hal yang tidak disukai pemerintah, atau dianggap “membahayakan keamanan ideologis, budaya, fisik dan mental anak di bawah umur” sering dikategorikan sebagai ilegal dan diawasi oleh regulator. Konten sarat politik pun juga dianggap terlarang.

Maksud “ilegal” di sini adalah sesuatu yang “membahayakan persatuan nasional”, “membocorkan rahasia negara”, dan “mengganggu tatanan sosial”. Terpenting lagi, definisi yang kabur tersebut bisa dengan mudah diberlakukan pada aktivis dan pembangkang HAM di Cina, dan dijadikan sebagai pembenaran oleh pihak berwenang untuk menghukum, membungkam, atau menekan siapa saja yang tampak melawan pemerintah.

Follow Gavin di Twitter atau Instagram