media sosial

Bukannya Bebas, Kita Malah Dikerangkeng oleh Ponsel Pintar

Buku terbaru Byung-Chul Han “Psychopolitics: : Neoliberalism and New Technologies of Power” bakal menyadarkan bahwa media sosial adalah penjara besar yang dengan sukarela kita masuki.
23 Januari 2018, 4:28am

Artikel ini pertama kali muncul di VICE UK__.

Pada Juni 2017, Facebook mengumumkan bahwa penggunanya sudah melewati angka Rp2 miliar. Dengan angka sebesar ini, Facebook sudah resmi jadi media sosial terbesar di dunia. Kendati demikian, Twitter dan Instagram masih digunakan oleh banyak penduduk dunia. Secara berturut-turut, kedua media sosial itu digunakan oleh 300 juta dan 800 orang.

Kita mungkin segan memberikan detail pribadi kita pada media sosial, tapi apa mau dikata, kita toh menyodorkannya juga dengan suka rela. Kita menyetujui begitu saja syarat dan ketentuan penggunaan media sosial tanpa memeriksa dengan seksama cuma agar kita mengakses apa yang kita mau. Bagi Byung-Chul Han, penulis buku tentang komunikasi digital berjudul Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power, dengan bertindak demikian kita dengan begitu saja menyerahkan kebebasan kita. Baginya, privasi dan dunia pribadi kita adalah komponen penting dalam kebebasan kita. Han mengangap bahwa begitu kita “menyerahkan informasi pribadi kita dengan suka rela ke internet, tanpa sedikitpun tahu siapa yang bisa mengakses data, kapan dan dalam kondisi apa data kita diakses…konsep melindungi privasi jadi tak relevan lagi-lagi.”

Saya sendiri mengagih foto buku yang sama beli. Saya mengumumkan beberapa opini politik dan ngobrolin pekerjaan di Twitter. Saya lebih mudah memberikan informasi pribadi saya di media sosial ketimbang saat saya ikut sensus pemerintah atau korporat. Kebebasan pada dasarnya adalah kemampuan untuk memanfaatkan kehendak bebas. Sayang, bila saya ingin membuat akun Facebook, biar saya tetap bisa bisa mengamati perkembangan terbaru teman-teman, event-event terdekat dan update terbaru dari keluarga yang tinggal di luar negeri, saya harus menyerahkan privasi saya pada Big Data Facebook. Lantas, sejauh apa saya sebenarnya bisa menikmati kehendak bebas saya?

Han berargumen bahwa inilah sisi jenius ranah digital. Internet membuat kita tergantung padanya dan tak bisa memilih untuk tidak menggunakannya. “pilihan bebas,” katanya. “dihapus demi kebebasan untuk memilih barang yang ditawarkan.”

Han memandang dunia digital sebagai sebuah penjara besar (atau tepatnya sebuah “ panoptikon digital”. Di dalamnya, kita semua adalah narapidana yang dipisahkan dari satu sama lain. Mata kita terpaku pada ponsel pintar kita masing-masing dan gerak-gerik kita diawasi oleh seluruh sipir penjara, seperti Google, Facebook dan Acxiom. Berbeda dengan sel kurungan soliter, penjara digital tetap mengizinkan kita berkomunikasi dengan satu sama lain. Sebaliknya, komunikasi secara terang-terangan dianjurkan. Malah, kita diwajibkan berkomunikasi, mengumbar opini, memberi like, mengagih konten, me-retweet hingga ikut serta dalam segala percakapan online. Kita dengan tanpa paksaan sedikitpun mengemukakan pendapat pribadi kita—atau bahkan data pribadi kita—pada sipir penjara digital, dan “Digital Big Brother, meng-outsource operasi penjara pada para napi.”

Di mata Han, internet adalah Tuhan digital yang maha melihat. Internet bisa merekam dan menunjukkan dosa-dosa kita. Facebok, sementara itu, adalah sebuah gereja modern, semacam balai berkumpul di bawah pengawasan satu Tuhan yang maha mengawasi. Han menyebut ponsel pintar sebagai “alat peribadatan. “Ponsel pintar bekerja bak rosario”: kita men-scroll layar smartphone seperti kita memilah biji roasiao, dan kita mengakui dosa, berbagai dan berdoa lewat antarmuka smartphone. “like,” imbuh Han, “adalah versi digital dari kata Amen.” Dan, tentu saja, semenjak Twitter mengganggu emblem “favorite” (lambang bintang) menjadi “like” (lambang hati), fungsi fitur ini pun berubah. “favorite” mulanya digunakan untuk mem-bookmark tweet (atau kadang link artikel atau video). Kini, “like” digunakan untuk mewakili persetujuan, mirip seperti kata “amin.”

Saat pemerintah menggelar mengadakan sensus, mereka akan meminta data-data demografis, atau data terkait dengan ranah fisik seperti di mana kita tinggal, umur, ras, gender serta pekerjaan kita dan semacamnya. Big Data internet mengincar lebih banyak data. Kita dengan santai membeberkan ketertarikan kita, kebiasaan konsumen, ketakutan dan jenis hubungan yang tengah kita jalani. Han menjelaskan bahwa penjara fisik biasa “tak memiliki akses menuju alam pikiran dan segala sesuatu yang kita butuhkan..intinya, tak punya akses ke alam psikis kita.” Han juga menegaskan bahwa “demografi tak sama dengan psikografi [seperti tanggal sebuah pikiran.]” Ini artinya, ada perbedaaan yang membentang antara data statistik gaya lama dan big data. Terdapat batas jelas dari data-data yang dikumpulkan lewat sensus. Big Data, sementara itu, tak memiliki batas. Dengan demikian, kata Han, “Big Data bisa tak hanya bermanfaat untuk menyusun psikogram individual, namun bisa digunakan untuk menyusun psikogram kolektif.” Psikogram kolektif berisi keinginan dan ketakutan kolektif. Tentu, kita cuma bisa memasrahkan data-data ini pada demokrasi, kapitalisme dan korporasi-korporasi raksasa.

Masyarakat konsumen di negara barat berjalan sepenuhnya dengan menggunakan emosi. Brand dan firma-firma agensi mengeksploitasi emosi untuk memasarkan sebuah produk. Televisi memanfaatkan emosi agar penonton terus terpaku melahap suguhannya. Namun, media sosial punya cara kerja yang serupa. Penelitian menunjukkan bahwa mengakses media sosial bisa memicu produksi kelenjar dopamin. Kamu misalnya bisa merasa sangat bahagia lantaran konten yang kita unggah banyak dilike, di share dan dikomentari. Tentu, ada beberapa faedah dari kasus-kasus sepert ini, namun di satu sisi, kasus yang sama bisa tergolong destruktif.

Han mengatakan bila kita sedang mengarah “kediktatoran emosi.” Penulis Jerman berdarah Korea ini mengatakan bahwa “Proses komunikasi yang dipercepat memicu emosionalisasi. Kecepatan berpikir rasional memang selalu lebih lamban dari emosi kita. Saya tak merasa “rasionalitas” tak hebat-hebat amat. Prasangka dan gangguan psikologis bisa bersembunyi di balik cara berpikir “rasional.”

Dalam sebuah wawancara dengan Guardian, pekerja pabrik meme “Social Chain” Hannah Anderson mengatakan bahwa “emosi yang kurang memancing gairah macam rasa puas dan relaksasi tak berguna dalam hitung-hitungan ekonomi viral. “ Dia lantas mengatakan untuk mendapatkan engagement betulan, kita harus bikin orang frustasi, geram dan terkagum-kagum. Saat ini, Facebook ada di lini depan peperangan emosi, yang hanya mementingkan respon manusia paling spontan dan intens belaka.

Saya tak ingin pensiun menggunakan Twitter dalam waktu dekat. Lewat Twitter, saya bisa memetik pelajaran dari orang-orang yang saya follow. Mungkin saya tak bisa dapat pelajaran yang sama—entah itu tentang identitas, sastra, gender dan musik—dari orang lain di dunia nyata. Sayangnya, Han ada di luar internet. Dia tak punya rekam jejak digital. Meski demikian, Han terus menyigi kehidupan digital kita dan memaksa kita melihat lebih dalam.

Ada beberapa upaya yang tengah digalang pengguna internat untuk memperjuangkan hak-hak privasi di internet seperti “hak untuk dilupakan” yang termaktub dalam undang-undang Proteksi Data serta arah gerakan Me2B yang memperjuangkan hak kita untuk memiliki data digital kita sendiri. Namun, keduanya bukan solusi sesungguhnya. Membaca Pscyhopolitics membuat saya makin awas output media sosial saya dan segala macam permasalah filosofis yang muncul dari perilaku online saya.

Dan, kalianpun kemungkinan besar akan merasakan hal yang serupa.

Follow Kit Caless di Twitter.

Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power is published by Verso.