Terorisme

Menyelami Motivasi Jihadis Membunuh Orang Tak Berdosa

Kita wajib terus mengingatkan publik, masalahnya bukan ajaran agama tertentu. Pangkal persoalannya adalah manusia yang sejak awal berniat mati tertarik pada ideologi kekerasan.
6.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Sabtu malam lalu, tujuh orang dibunuh dengan brutal dalam sebuah serangan jihadis di London Bridge dan Borough market, Inggris. Belasan korban lainnya menderita luka-luka. Insiden tersebut menjadi serangan teroris ketiga yang dialami Inggris dalam beberapa bulan terakhir.

"Situasi keamanan harus segera diubah," kata Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam sebuah pidato, pagi hari setelah serangan terjadi. Dalam hal ini, May ada benarnya. Namun, secara keseluruhan, apa yang didengungkan olehnya sudah jadi cerita ulang. "Meski serangan terakhir tak didalangi oleh jaringan tertentu seperti biasanya, serangan-serangan yang terjadi belakangan ini disatukan oleh satu pemikiran. Serangan-serangan tersebut diikat oleh satu ideologi islam ekstrem yang mengobarkan kebencian, memperlebar perbedaan dan mempromosikan sektarianisme."

Iklan

"Mengalahkan ideologi ini," lanjut May, "adalah salah satu tantangan kita saat ini." May juga menambahkan bahwa ideologi islamis ekstrem ini "hanya bisa dikalahkan jika kita bisa mengalihkan pikiran orang dari kekerasan yang terjadi dan membuat mereka sadar bahwa nilai-nilai yang kita junjung—nilai-nilai pluralistik Inggris—jauh lebih luhur dari apapun yang didakwahkan penceramah dan pendukung kebencian."

May lagi-lagi benar ketika menyitir bahwa "nilai-nilai pluralistik", entah itu dari Inggris atau bangsa lain, jauh lebih superior daripada nilai-nilai yang menganjurkan kekerasan. Sayangnya, titik berat pidato May salah sasaran. Ektremisme tak menyetir sebuah mobil van dan menabrakannya ke sekerumun penduduk tak berdosa. Pun, ektremisme tak mau menusuk sembarang di Borough Market: tiga orang pria—yang namanya masih belum diketahui—lah yang melakukannya; pria-pria tak dilumpuhkan dengan pesan-pasan counter-terorisme. Butuh polisi bersenjata penuh untuk menghentikan mereka.

Hubungan antara kekerasan yang meminta nyawa manusia dan ideologi tak sedangkal yang May kira. Ideologi memberikan wujud bagi kegamangan, kesedihan dan krisis personal. Lantas, ideologi pulalah yang menyiapkan dalih bagi segala macam kekerasan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa ideologi tak dengan sendirinya jadi penyebab sebuah insiden kekerasan. Sebuah serangan mematikan yang mengatasnamakan idelogi baru akan terjadi jika ada agen-agen kompeten yang memiliki niat dan kesungguhan untuk melakukannya.

Iklan

Bagaimanapun, May benar ketika mengatakan bahwa ideologi ekstrem harus dilawan: ideologi penganjur kekerasan harus diblejeti dan dicegah penyebarannya. Tapi, bukan berarti dengan begitu dampaknya langsung menghentikan serangan-serangan para jihadis. Sebab alasan utama mereka melakukan serangan kejam tak bisa seenaknya direduksi menjadi sekadar cuci otak ideologi tertentu.

Serangan jihadis pertama-tama terjadi karena para penyerang memang ingin membunuh dan mati. Segampag itu. Ini, seperti yang dipaparkan dengan menarik oleh Olivier Roy di buku terbarunya Jihad and Death, tak bisa diragukan lagi adalah pesan utama setiap serangan jihad dan ini kentara dalam ucapan atau seruan jihad yang mereka kemukakan. Sayangnya, hanya karena para penyerang ini menggunakan retorika agama—dalam hal ini Islam—untuk menjustifikasi perbuatan mereka seperti teriakan "Allahu Akbar" atau "this is for Allah" pada saat melakoni perbuatan keji mereka, fokus kita beralih pada peran Islam sebagai "kekuatan" pendorong para pelaku melakukan serangan. Ada yang kabur dalam situasi ini: fakta bahwa para pejihad sudah terlebih dulu berkeinginan mati atau membunuh sebelum terpapar ideologi jihadi.

Dengan kata lain, keinginan ini—untuk membunuh dan bunuh diri—yang menggerakan calon-calon jihadis menuju Ideologi jihadisme, bukan sebaliknya. Yang perlu kita lakukan adalah memahami betul-betul keinginan ini. Tapi, rupanya bagi May dan kabinetnya, ini bukanlah hal penting yang perlu diungkap.


TONTON video perjuangan keluarga di garis depan pertempuran Suriah melawan ISIS:


Selama 18 bulan terakhir, ISIS makin terdesak. Daerah kekuasan mereka makin sempit dan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya sendiri. Tapi, Negara Islam Irak dan Syam meninggalkan sebuah warisan yang mematikan: panggilan dan jaminan menggiurkan untuk melakukan tindakan kekerasan di jalanan negara Barat. Beberapa kelompok Jihadi terang-terang sudah merespon panggilan ini—dan banyak lainnya akan segera mencontoh tindakan kekerasan yang sudah kadung terjadi. Yang jelas, jaminan itu sudah tersebar di luar sana. Bukan perkara gampang untuk menghapus dan mengenyahkan jaminan-jaminan yang diumbar oleh ISIS dari ingatan kolektif kita. Dan segetol apapun kita mendakwahkan perlawanan terhadap agenda kelompok Islamis ektrem atau serajin apapun kita mengkampanyekan nilai-nilai adiluhung Inggris, itu semua tak akan menghentikan langkah-langkah para calon pejihad menggampai janji-janji yang disebarkan ISIS.

Biar lebih jelas, mari kita kembali menyitir ungkapan pakar terorisme Peter Neumann yang mengatakan bahwa tak seorang jihadis pun yang teradikalisasi lantaran "menemukan" konten berbau ideologi ekstrem di internet dan seketika langsung "tercuci otaknya". Sebaliknya, para calon pejihad aktif mencari konten ekstrem agar mereka bisa teradikalisasi lantaran mereka memang teradikalisasi, lantaran mereka mencari semacam perizinan agar mereka bisa bebas melakukan tindakan kekereasan. Seperti yang diungkapkan Roy: "Pejihad tak melakukan kekerasan setelah membaca teks-teks suci..mereka tak menjadi kaum radikal karena salah memahami teks tersebut atau karena mereka dimanipulasi. Mereka menjadi radikal karena mereka memilih demikian, hanya radikalisme yang menarik bagi mereka. Dan alasan dasar radikalisme begitu menarik bagi mereka, menurut Roy, adalah karena radikalisme memberikan mereka kanal untuk mengekspresikan ketidakpuasan dan kebencian pada diri mereka sendiri.

Hampir tak ada yang bisa dilakukan pemerintah Inggris—atau negara lainnya—untuk menggoyahkan delusi pada sebagian kecil pemuda muslim yang tak merasa puas dan sangat membenci dirinya sendiri. Yang justru paling penting dilaksanakan sekarag adalah menghentikan plot kelompk pejihad. Dan asal anda tahu, ini juga bukan pekerjaan sepele. Diperlukan sumber daya manusia yang besar, otak yang lebih encer dan sedikit keberuntungan. Usaha ini juga baru akan berhasil jika dibarengi dengan tumbuh suburnya rasa percaya dari masyarakat tempat para teroris berasal. Dan asal anda tahu, anjuran untuk mempertanyakan kembali konservatisme, seperti yang diyakini Theresa May. dalam Islam tak akan membantu di sini. Follow akun penulis di @simonrcottee

Baca juga liputan terorisme VICE Indonesia: Dampak pertempuran Marawi bisa merembet ke Indonesia Mengulas JAD, kelompok terkait ISIS yang mengotaki berbagai aksi teror Indonesia

Bom Kampung Melayu Didalangi Jaringan Teror Internasional