Masa Depan Robot

Di Abad Ini Manusia Menyaksikan Kelahiran Robot Pembunuh

Tonton dokumenter Motherboard menyoroti hubungan antara manusia dan robot. Kita wajib mulai memperhatikan dampak kehadiran mesin-mesin cerdas terhadap kemanusiaan dan perang di masa depan.
3.10.18

Robot sejak lama sudah melayani kebutuhan umat manusia. Namun dua tahun lalu, momok kehadiran mesin cerdas mendominasi diskusi sepanjang acara Convention on Conventional Weapons yang dihelat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beberapa perusahaan teknologi paling kuat di dunia bergabung dengan pemain industri militer menghasilkan robot pembunuh. PBB sampai merasa perlu mengaturnya sejak sekarang, sebelum kelak akan ada perang yang pecah melibatkan robot macam itu.

Iklan

Di Abad 21, kita akhirnya menyaksikan langsung perkembangan hubungan antara manusia dan robot yang memasuki era baru, penuh terobosan menarik sekaligus menegangkan.

Ambil contoh robot humanoid bipedal (menyerupai manusia) setinggi enam kaki dengan berat 330 pound bernama ATLAS dan ESCHER. Fungsi keduanya tidak seperti robot di film Terminator, tetapi mereka sangat mirip dengan robot pembunuh ikonik dari film tersebut. Ketika Motherboard mendapatkan akses eksklusif ke ATLAS dan ESCHER, keduanya didanai oleh militer AS, kami tidak dapat menahan diri untuk bertanya pada sang operator manusia apakah banyak orang membandingkan robot-robot ini dengan yang di film.

"Iya, banyak yang bilang begitu," kata David Conner, ilmuwan senior yang bekerja untuk TORC Robotics Virginia Tech. Dengan jutaan dolar dalam pendanaan dari Defense Advanced Project Agency, laboratorium penelitian di bawah naungan Pentagon (Departemen Pertahanan AS), TORC melayani pengembangan satu dari tujuh robot ATLAS, yang dibangun oleh Boston Dynamics milik Google. Gagasannya, kata Conner, supaya ATLAS dan platform serupa di masa depan dipakai demi membantu—bukan membunuh—manusia.

"ATLAS adalah robot penyelamat humanoid yang ramah dan baik" kata Conner menjelaskan. "Robot ini akan melayani tujuan apapun yang diperintahkan operator manusianya."

Bayangkan robot ini lebih mirip C-3PO seperti di Star Wars, bukan T-1000 dalam Terminator. Itulah referensi budaya pop yang lebih tepat, menurut Brian Lattimer, peneliti Virginia Tech yang bekerja merancang robot humanoid bipedal memakai pendanaan dari DARPA (juga bagian dari Departemen Pertahanan AS). Robotnya, ESCHER, dirancang "melakukan tindakan yang tidak kita inginkan melibatkan orang."

ESCHER bersama ATLAS, adalah salah satu dari 11 robot area darat semi-otonom dari berbagai laboratorium di seluruh dunia. Keduanya hendak bersaing memenangkan tantangan robotika DARPA. Kompetisi ini bebas diikuti sipil dengan hadiah uang tunai besar. Para ilmuwan 'hanya' diminta untuk menghasikan robot yang dapat melakukan tugas sederhana seperti mengambil bor listrik atau memanjat tangga.

Iklan

Pernyataan Conner dan Lattimer yang berusaha menenangkan publik, bahwa robot-robot ini baik, muncul pada saat ketika robot dan kecerdasan buatan semakin akrab dengan keseharian kita. Selama akhir Abad 20, temuan macam ini masih dirasa jauh dan hanya spekulasi. Sementara sekarang, momok mesin cerdas yang bisa mengalahkan manusia lebih teraba dari sebelumnya. Perkembangan ini membuat sebagian orang bersemangat membayangkan kehidupan robot-assisted (artinya nyaris semua kegiatan harian kita dibantu robot) dapat terwujud dalam waktu dekat. Sementara yang lain sangat khawatir membayangkan prospek kelahiran robot cerdas pembunuh. Apa yang akan terjadi ketika perangkat lunak AI berbaur dengan kepentingan militer?

"Andai saya bisa ngobrol bareng petinggi Google, saya ingin mereka membuat janji pada publik untuk tidak terlibat pembuatan robot pembunuh otonom."

Pertanyaan terakhir itu sayangnya sudah memikat hati Google. Boston Dynamics hanya satu dari sekian puluh perusahaan garis depan pengembangan robotik AI untuk kebutuhan tempur, yang sangat diminati pejabat militer beberapa tahun terakhir. Tentu saja, Google bukanlah perusahaan robot sejati; sekitar dua pertiga total pendapatan raksasa teknologi ini masih berasal dari iklan YouTube dan mesin pencariannya, setidaknya menurut laporan The New York Times Januari lalu. Namun, orang kadang lupa, kemampuan Google merancang pencarian prediktif di Internet juga merupakan bentuk lain kecerdasan buatan (AI). Artinya tanpa harus membuat robot otonom sekarang, Google punya kemampuan untuk mengembangkannya di masa mendatang.

DARPA, Boston Dynamics, dan Google menolak diwawancara untuk artikel ini.

Iklan

Melihat perkembangan desain robot dan betapa besar dana untuk menghasilkan robot tempur, Jody Williams ingin sekali duduk bersama pendiri Google, Sergey Brin atau Larry Page. Williams memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1997 untuk karyanya, yang melarang pemasangan ranjau darat di wilayah sipil. Williams merasa robot otonom yang bisa membunuh manusia bukan kemajuan, melainkan kemunduran peradaban. Makanya, dia memeranginya seperti dulu menuntut semua pemerintah menjinakkan ranjau darat. Williams kini mengambil tindakan yang sama untuk menghentikan pengembangan robot pembunuh dengan kampanye yang diberi nama 'Campaign to Stop Killer Robots'.

"Andai saya bisa duduk bareng petinggi Google, saya ingin mereka membuat janji pada publik agar tidak terlibat dalam pengembangan robot pembunuh otonom," kata Williams.

Potensi Google terlibat menjadi bagian industri militer adalah satu risiko menarik. Tapi, dalam hal perkembangan robot militer, fisikawan Max Tegmark berpikir ada preseden yang lebih serius: kita harus ingat sejarah pembuatan bom atom. Future of Life Institute, tempat kerja Tegmark, baru-baru ini mendapat donasi US$10 jutadari Elon Musk dengan target meluncurkan program penelitian global yang agendanya memastikan mesin cerdas di masa depan sejajar dengan kepentingan manusia. Kegiatan macam ini patut dilakukan sebab kita musti ingat ketika para ilmuwan dalam Proyek Manhattan dulu tak pernah dilibatkan dalam diskusi soal apakah AS harus menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.

Untuk itu, Conner, Lattimer, dan lusinan mahasiswa teknik dan profesional yang bekerja pada ATLAS, ESCHER, dan sembilan robot lain yang berpartisipasi dalam tantangan DARPA memiliki niat terbaik: mereka bilang mereka sedang membangun alat yang mereka harapkan akan membantu umat manusia. Ya, kita hanya bisa berharap begitu.


Tonton dokumenter Motherboard soal kebangkitkan bisnis pembuatan robot cerdas untuk kepentingan tempur di tautan awal artikel ini.

Artikel dan video ini pertama kali tayang di Motherboard