The VICE Guide to Right Now

Kisah Aldi Novel Selamat 49 Hari Terombang-Ambing di Laut Akan Membuatmu Jadi Religius

Sejak akhir pekan lalu pengalaman mengerikan sekaligus ajaib dari Aldi, anak muda asal Sulawesi, viral di media sosial. Kalaupun tak terpanggil jadi religius, setidaknya kalian mengagumi kekuatannya menjaga kewarasan selama di samudra.
Drew Schwartz
Brooklyn, US
26.9.18
Rekaman foto via Konsulat Jenderal RI di Osaka

the Indonesian Consulate General Osaka / the Guardian 

Seharusnya Aldi Novel Aldilang pulang lalu menikmati jerih payahnya menangkap ikan hari itu, hari di mana dia secara nahas mendadak terbawa arus, terombang-ambing menuju samudra lepas. Kisah pemuda 19 tahun asal Wori, Minahasa Utara, Sulawesi Utara itu, akan membuat siapapun percaya cerita Life of Pi dapat dialami siapapun—dengan ataupun tanpa ada harimau di sekoci. Situasi nahas itu terjadi pada 14 Juli 2018 lalu.

Iklan

Aldi sebetulnya sudah saatnya ganti giliran menjaga rompong (rumah buatan di laut) di Pulau Doi, Ternate, lalu kembali ke kampungnya di Wori. Dia sudah bekerja d rompong itu selama tiga bulan. Namun pada hari yang akan ia kenang selamanya, rakit Aldi mendadak terhempas dari tambatan akibat angin kencang.

Di rakit, sembari menyaksikan rompong menjauh dari pandangan, Aldi hanya punya sebuah walkie-talkie, Injil, dan peralatan memancing alakadarnya. Dengan benda-benda itulah dia menyambung hidup. Selama nyaris dua bulan dia pun sendirian bertahan di tengah samudra lepas, pasrah saja melihat ke mana angin berembus membawa rakitnya.

Kisah Aldi memang tidak lebih dramatis dari seorang perempuan yang lima bulan bertahan di samudra hanya berbekal pasta, namun ketahanan mentalnya selama mengalami insiden ini patut membuat siapapun terkagum-kagum. Di pekan pertama, ia makan sebagian bahan mentah yang tersedia di rakit. Selama tujuh pekan kemudian, Aldi mengisi waktu sembari bertahan hidup dengan memancing ikan. Sebagian tangkapannya ia masak dengan cara direbus atau dibakar memakai batang kayu yang ia patahkan dari samping rakit.

"Saya mengail terus, ikan manta, ikan rebus, ikan bakar. Itu makanan saya selama hanyut," ujarnya saat diwawancarai BBC Indonesia.

Supaya tidak dehidrasi, dia pun minum air laut yang disaring bajunya supaya kadar garam tidak terlalu banyak masuk ke tubuh.

Aldi terombang-ambing hingga 2.414 kilometer dari tempat semula, hingga perairan Guam di tengah Samudra Pasifik. Selama terbawa arus, rakit kecilnya sebenarnya berpapasan 10 kapal besar, tapi tak ada satupun yang melihat keberadaannya. "Setiap kali dia melihat kapal besar, Aldi merasa bersyukur, tapi tak lama kemudian mereka berlalu begitu saja, tak ada satupun yang melihatnya di lautan," kata diplomat dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia yang mengurus kepulangannya kepada surat kabar The Jakarta Post.

Barulah, setelah mendekati dua bulan terombang-ambing, akhirnya dia selamat. Seorang kru dari kapal MV Arpeggio, berbendera Panama, berhasil menangkap sinyal pertolongan dari walkie-talkie miliknya. Berdasarkan laporan Straits Times, kapal kontainer itu berputar empat kali mengelilingi rakitnya, namun tidak bisa mendekat lantaran angin kencang di tengah samudra. Dalam percobaan terakhir, awak kapal melemparkan tali, dan remaja ini meloncat ke laut, menjangkaunya, dan akhirnya bisa mendaki tangga menuju kesempatan kedua dalam hidupnya. Aldi dibawa ke Jepang, dan dari sana pemerintah Indonesia membantu kepulangannya ke tengah keluarga yang sudah pasrah.

Aldi sebetulnya sudah pasrah, bahkan terpikir untuk bunuh diri, di tengah pengalamannya terombang-ambing. Dia sempat memutuskan meloncat saja ke air. Tiap kali kalut, dia akhirnya membaca Injil dan berdoa. Hal itu yang membuatnya mengurungkan niat mengakhiri hidup dan menjaga asa.

Setelah tahu akhir kisahnya yang bahagia, kita tahu, setidaknya religiusitas membuat kalian tetap menjaga daya hidup di kondisi ekstrem.

Pesan moral lainnya, bagi anak muda lain, jangan pernah gampang menduga hidup kalian yang paling menderita.