Perang Antar Geng Monyet di India Tewaskan Manusia

Setidaknya tujuh orang tewas gara-gara ulah geng monyet sepanjang Juli-Oktober 2020.
SJ
Mumbai, India
12.10.20
kawanan monyet duduk berbaris di tembok

Pada 6 Oktober, pedagang emas Laxman Tulsiani dan pengelola Veera tengah mengontrol proyek bangunan di Kota Agra, Uttar Pradesh, India Utara ketika kawanan monyet menyerbu lokasi dan berkelahi hingga meruntuhkan tembok. Kedua lelaki malang itu menghembuskan napas terakhir setelah dilarikan ke rumah sakit akibat tertimpa tembok.

Tiga bulan sebelumnya, masih di negara bagian yang sama, satu keluarga di distrik Shahjahanpur tewas mengenaskan karena dihantam tembok halaman rumah yang “diguncang hebat” oleh geng monyet. Korban sedang tidur di halaman rumah mereka saat itu.

Ada lebih dari 50 juta populasi monyet yang tersebar di India. Dengan jumlah yang teramat besar, setidaknya 13 orang tewas dalam serangan monyet sejak 2015 lalu. Pusat studi primata negara mengungkapkan setiap harinya, ada sekitar 1000 laporan yang masuk mengenai warga digigit monyet di berbagai kota.

“Serangan monyet telah menghantui India sejak akhir 80-an. Sebelumnya, manusia dan primata dapat hidup berdampingan dengan tentram,” ujar Dr Iqbal Malik, ahli primata yang sudah 40 tahun mendalami spesies monyet di India.

Menurutnya, hubungan manusia dan primata bisa memburuk karena “kurangnya kontrol populasi manusia dan monyet, merosotnya kawasan hutan yang jadi habitat monyet, dan munculnya pertanian monokultur yang meningkatkan persaingan dan agresi di antara kawanan monyet.”

“Agresi ini kemudian dirasakan manusia, khususnya saat habitat monyet dirampas pihak berwenang.”

Sepanjang 2002-2018, telah terjadi deforestasi seluas 310.624 hektar hutan di India. Tergantung skala dan sifat kerusakannya, pemerintah negara bagian melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah. Pemerintah di ibu kota India, Delhi, telah merelokasi monyet ke suaka margasatwa. Mereka juga berusaha memindahkannya ke hutan negara bagian tetangga.

Pada 2016, negara bagian Himachal Pradesh di utara India menganggap monyet sebagai hama, sehingga warga diperbolehkan membunuhnya. Uttarakhand mengikuti jejaknya pada 2019. Sementara itu, para petani di Bihar, India timur membujuk pejabat setempat untuk mengatasi serangan monyet pada lahan mereka.

Kepercayaan masyarakat India memengaruhi cara mereka dalam memperlakukan monyet. Dewa kera Hanoman (atau Bajrangbali) sangat populer dalam mitologi Hindu.

“Saya sering diminta merelokasi monyet ke daerah perkotaan, tapi saya tak sampai hati melihatnya dikurung. Bagaimana pun juga, mereka adalah dewa Bajrangbali,” tutur Ravi Kumar. Menjuluki diri sebagai “satpam-nya monyet”, dia menangkap primata dengan menirukan suaranya.

Yogesh Gokhale, peneliti botani di Delhi yang berspesialisasi dalam pengelolaan sumber daya alam, mengungkapkan, “Lingkungan perumahan saya menerima ancaman monyet serius, tapi warga terus memberi mereka makan karena monyet adalah simbol agama.”

Peran badan sipil lokal diperlukan dalam menangani konflik manusia-hewan. “Di wilayah perkotaan, monyet biasanya berkeliaran di sekitar tempat pembuangan sampah makanan yang berantakan,” kepala advokasi PETA India Khushboo Gupta memberi tahu VICE.

“Solusinya terletak pada perencanaan kota, seperti meningkatkan perlindungan kawasan hutan, menutup tempat sampah dan rutin melakukan pengumpulan sampah.”

Tahun lalu, sejumlah ilmuwan di Delhi berpendapat imunokontrasepsi atau steril dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi monyet. Aktivis hewan menentang usulan ini karena, menurut mereka, dapat memperburuk ancaman. “Program steril bukanlah solusi utama yang tepat, mengingat proses penangkapannya dapat mengganggu dan membuat monyet mengamuk,” terang Khushboo.

Dia menekankan meski sterilisasi adalah cara ilmiah mengendalikan populasi, kita bertanggung jawab mencari cara lain yang lebih manusiawi untuk mengurangi serangan monyet.

Sebagaimana disarankan Dr Iqbal, perang antar geng monyet “bisa diselesaikan dengan membangun rumah atau tempat penampungan di perkotaan yang memiliki lahan hijau agar monyet bisa mencari makan sendiri.”

“Permasalahannya bukan terletak pada monyet,” kata Khushboo, “tetapi pada manusia yang memaksa hewan-hewan ini masuk ke kota.”

Follow Shamani di Instagram.