Jepang

Penjual Roti Keliling Jadi Bintang Baru Lantai Dansa Tokyo

Nachopan adalah bisnis pop-up bakery ide seorang perempuan nyentrik yang kini terpampang mendampingi nama-nama DJ, setiap kali muncul pamflet pesta di klub-klub Ibu Kota Jepang.
25.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi di lantai tiga Aoyama Hachi, sebuah klub remang-remang distrik Shibuya, Tokyo, yang memainkan musik house dan tekno. Setelah beberapa jam berjoget, saya dan teman-teman mulai lapar. Ketika kami turun ke bawah, terlihat di pojokan lantai kedua, seorang perempuan memegang tong berdiri di belakang meja berisikan aneka macam roti dengan papan kecil bertuliskan "Nachopan".

Ajaib? Memang. Tapi di kota yang mewujudkan semua cerita unik Haruki Murakami penuh nuansa realisme magis, kehadiran toko roti keliling di lantai dasnsa seperti ini tidak terlalu mengherankan. Kios kecil yang terletak di tengah booth DJ dan bar shochu tersebut menyediakan sandwich dan toast segar bagi para penggila musik klub.

Nachopan merupakan bisnis pop-up bakery yang dijalankan oleh seorang perempuan yang tengah menjadi bagian dari tren di Tokyo. Klub-klub pun mulai menganggap mereka serius—sampai-sampai pamflet acara pesta pun menampilkan nama mereka di samping nama-nama DJ yang akan tampil. Biasanya pop-up bakery ini hanya muncul di venue-venue kecil dan bukan acara EDM di klub besar atau pasar daging Roppongi. Naho, perempuan di balik Nachopan, merupakan garda depan dari gerakan ini.

Beberapa jam sebelum teman saya dan saya memesan gobo (akar umbi) dan yuzukosho (rempah terbuat dari bumbu yuzu) panini, escabeche ikan putih dengan selada dan kentang krim, Naho harus repot-repot berpergian menggunakan kereta jalur Tobu-Tojo di Tokyo, membawa koper penuh dengan peralatan yang dibutuhkan untuk membuka toko sandwich 'berjalan'.

Nachopan awalnya dimulai ketika Naho mengirimkan makanan hasil panggangannya ke beberapa teman sebagai hadiah ketika mereka semua sedang asik di klub. Sekarang, hampir setiap malam di akhir pekan, anda akan menemukan Naho menyempil di salah satu lantai dansa Tokyo. Ini berarti Naho harus membawa roti-roti panjang hasil fermentasi, kontainer berisikan fillings buatan sendiri, taplak meja, morizawa (piring penyajian) yang terbuat dari kayu, talenan, berbagai pisau, kuas kue, saibashi (sumpit panjang yang digunakan untuk menyiapkan makanan), tong, dan kertas minyak untuk membungkus makanan.

Naho mengatakan dia memulai bisnis pop-upnya karena merasa Jepang memiliki interaksi pelayan-konsumer yang kaku. Tidak seperti cafe atau restoran Barat, karyawan di industri hospitality di Jepang hampir tidak pernah berinteraksi secara kasual dengan konsumer dan akibatnya memiliki hubungan yang lebih formal. Ketika seorang konsumer memesan makanan ke Naho, hubungan ini tidak pernah bersifat transaksional semata. Mereka kerap bertanya ke Naho tentang bahan yang digunakan, metode memasak, dan klub mana yang akan didatangi Naho selanjutnya. Bagi Naho, ini membuat jam kerjanya yang panjang dan melelahkan—dia pulang ke rumah sekitar jam 8 pagi—terbayar lunas.

Naho meraih tumpukan kotak tupperware, dan mengambil karanikumiso, daging cincang yang dicampur dengan miso pedas, dan menaruhnya di atas roti lembut sandwich. Dia mengatakan bahwa menu bikinannya disusun berdasarkan "osake niau otsumami," alias makanan yang cocok dikonsumsi dengan alkohol. Kemampuan Jepang untuk menyusun menu semacam ini luar biasa hebat, jauh melebihi tipikal makanan Amerika yang penuh minyak dengan maksud menyerap efek alkohol yang sedang diminum.

Pemikiran semacam ini dimulai di periode Edo sake no sakana, set makanan umami tradisional yang asin, cocok dikonsumsi bersama sake. Di era itu, makanan-makanan yang dimaksud adalah shiokara (cumi yang diasamkan) dan shuto (jeroan ikan bonito yang difermentasi, dicampur dengan sake, madu dan mirin).

Sayangnya masakan tradisional semacam ini sulit dijual di klub, maka Naho memilih menyajikan bumbu khas Jepang seperti kurosu-buta dan yude-tamago sando, sandwich babi yang diasinkan dalam cuka, telur rebus dan selada; panini toast berisikan karanikumiso dan keju; dan muffin zunda, kue kucil dilapisi adonan manis berwarna hijau yang terbuat dari kacang edamame, bahan makanan spesialis di region Tohoku, yang tentu saja sangat cocok dikonsumsi dengan minuman shochu di Aoyama Hachi.

Roti, biarpun bukan bagian dari makanan tradisional Jepang, "kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak penduduk Jepang," kata Naho, dan "sekarang ada banyak variasi roti yang hanya ada di Jepang." Mirip seperti masakan hasil adaptasi budaya asing lainnya (roti Perancis, Pizza dari Italia), tukang panggang di Jepang berhasil menciptakan versi mereka sendiri yang kreatif: croissant rasa mugwort, pretzel kacang merah, roti terbuat dari sake kasu (ampas) dan donut berisikan kari.

Saat ini, kombinasi makanan dan musik klub sedang menjadi tren. Baru-baru ini di klub Aoyama Zero, kalian akan mudah menemukan sebuah panci besar berisi tonjiru (kaldu miso babi) dipanaskan di atas kompor gas semalaman, siap disajikan bersama sepiring onigiri buatan sendiri. Malam musik soul dan disko di acara Soul Train di Be-Wave ditemani oleh ekiben (kotak masakan bento). Gohan Disco ("disko makanan") merupakan event yang menyajikan tema makanan berbeda setiap malamnya.

DJ setempat dan promotor Hiro mengatakan bahwa makanan adalah cara untuk membuat tamu merasa nyaman. "Mereka yang lelah bisa beristirahat dan ngobrol dengan teman. Jangan lupa, ketika pesta berlangsung lama, banyak orang yang kelaparan."