Google Searchlight

Akankah Pecinan Kya-Kya Surabaya Sanggup Bertahan dari Arus Zaman?

Kawasan legendaris itu bagaikan kota mati sekarang. Regenerasi jadi masalah laten bisnis keluarga Tionghoa setempat.
13 Januari 2017, 9:14am

Jika kamu telah melewati gerbang merah-hijau dengan dua naga meliat pada bagian atasnya, artinya kamu telah sampai pada Pecinan Kya-Kya, Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Beberapa lampion menyala terang, beberapa redup, bergantungan pada atas jalan. Tapi jalanan itu sepi, hampir kosong. Toko-toko telah tutup.

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia, yang memilliki populasi etnis Tionghoa terbesar. Kota ini pernah menjadi pusat segalanya—menjadi pelabuhan pada rute perdagangan global yang membawa barang-barang dan orang-orang, dari segala penjuru dunia ke bagian utara pulau Jawa. Pusat kota Surabaya masih terbagi pada tiga area etnis sebagai pengingat masa lalu. Pecinan berada di dekat distrik yang dulu menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, serta perumahan etnis Arab. Keturunan ketiga komunitas itu sama-sama kompak menyebut Surabaya sebagai rumah mereka.

Tapi, Pecinan, di kala malam setidaknya, terasa bagaikan kota hantu. Saya berjalan-jalan ke Mie Kembang Jepun, lokasi kuliner paling difavoritkan di kawasan pecinan ini. Warung kecil itu membawa kehidupan bertahan di Jalan Kembang Jepun. Toko mie ini menyuguhkan mie goreng babi selama tiga generasi—pertama kali dibuka pada saat Kembang Jepun masih mengalami segregrasi, karena hanya diperuntukkan sebagai komplek perdagangan komunitas etnis Tionghoa di Kota Pahlawan.

Michael, cucu pendiri toko mie Kembang Jepun, berkata bahwa komunitas Tionghoa Indonesia telah melebur bersama para tetangga di Surabaya, meninggalkan Kembang Jepun yang dulu dirasa terlalu eksklusif bagi orang Cina.

"Di sini tadinya adalah komplek Cina besar," ujar Michael, manajer Mie Kembang Jepun, "Tetapi ketika para keluarga sudah sukses dan mapan, mereka menjual usaha mereka dan pindah ke lokasi lain di Surabaya."

  Michael adalah anggota keluarga terakhir yang bekerja di Mie Kembang Jepun. Laki-laki berusia 23 tahun ini terus menjalankan usaha, sementara kakaknya kuliah di Australia. Ini adalah kisah yang menunjukkan sisi lain kesuksesan komunitas Cina Surabaya ini. Ketika warga Tionghoa Indonesia di Kota Pahlawan meraih kesuksesan, banyak dari mereka pindah ke wilayah yang lebih baik dan bekerja di kantoran.

Hal ini menjadikan Michael minoritas di tokonya. Sebagian besar pegawainya adalah orang Jawa. Kalau dipikir-pikir, tidak heran mengapa banyak orang memilih meninggalkan Pecinan. Wilayah etnis tertentu selalu bukanlah wilayah mapan, di kota manapun di dunia ini.

  Tapi kekosongan Pecinan juga berarti minimnya jumlah toko ramah kantong seperti Mie Kembang Jepun. Kondisi ini membuat kita bertanya-tanya: akankah nanti muncul generasi lanjutan meneruskan bisnis di Pecinan Kya-Kya? Setelah mencoba mie buatan Michael, saya benar-benar berharap Pecinan Surabaya dapat bertahan hingga kapanpun.