Satwa Langka

Awak Kapal Pesiar Menembak Mati Beruang Kutub, Memicu Kemarahan Publik

Insiden itu terjadi di pulau terpencil utara Norwegia yang dihuni lebih banyak beruang dibanding manusia. Yang ngganggu siapa, yang mati malah beruangnya...
2.8.18
Inilah sosok Beruang kutub yang ditembak mati awak kapal pesiar MS Bremen di pesisir pantai di Sjuøyane, bagian utara Spitzbergen. Foto oleh Gustav Busch ARNTSEN/AFP/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Penjaga keamanan kapal pesiar berbendera Jerman menembak mati beruang kutub setelah "serangan tak terduga" di sebuah daerah terpencil di Norwegia.

Insiden penembakan tersebut terjadi setelah Kapal Pesiar Hapag-Lloyd mengirimkan sejumlah petugas terlatih ke pulau terpencil di Norwegia untuk memeriksa keberadaan beruang kutub, yang menurut pihak perusahaan dilakukan sebelum menurunkan para turis. Mereka mengatakan ada seekor beruang menyelinap ke dalam kapal dan menyerang petugas. Mereka melepaskan tembakan peringatan untuk menakut-nakutinya, tapi usaha mereka sia-sia. Petugas akhirnya menembak beruang tersebut karena tidak ada pilihan lain.

Petugas yang terluka segera diterbangkan ke rumah sakit dengan helikopter. Menurut pihak perusahaan, kondisinya sudah membaik. Sedangkan para turis tidak ada yang terluka.

Iklan

"Kapal Pesiar Hapag-Lloyd sadar akan risiko melakukan perjalanan ke alam bebas dan kami sangat menghargai alam dan satwa liarnya," kata pihak kapal pesiar dalam sebuah pernyataan. "Kami sangat menyesalkan insiden ini."

Walau meminta maaf, publik tetap tidak terima dengan tindakan yang diambil pihak kapal pesiar. Mereka memaki kapal pesiar tersebut karena cari gara-gara dengan mengganggu habitat beruang dan malah membunuh seekor binatang tersebut.

Anggota kepolisian setempat masih menyelidiki insiden ini, tapi mereka belum memberikan informasi terbaru sama sekali apakah akan ada hukuman untuk manajemen kapal pesiar. "Kami sudah memastikan beberapa fakta dan sedang mendalami apa yang terjadi sebenarnya," ujar Ole Jakob Malmo, inspektur polisi setempat, dalam pernyataan pers tertulis.

Insiden ini terjadi di Spitsbergen, sebuah pulau di kepulauan Svalbard, yang berada di antara daratan Norwegia dan Kutub Utara. Lokasi ini memang banyak didatangi turis, dan menjadi tempat yang populer saat musim panas. Terhitung minggu depan, menurut Associated Press, delapan belas kapal pesiar akan berlabuh di pelabuhan Arktik di Longyearbyen, salah satu kota kecil di kepulauan Svalbard.

Lokasi tempat berlabuh kapal pesiar tersebut terkenal dengan beruang kutubnya. Pemerintah setempat memperkirakan bahwa saat ini ada sekitar 3.000 beruang kutub yang hidup di kepulauan tersebut, sedangkan populasi manusianya hanya ada 2.200 orang.

Akan tetapi, populasi beruang kutub semakin menurun akibat perubahan iklim yang memengaruhi habitatnya, dan kepulauan itu menjadi gambaran yang gamblang akan dampak perubahan iklim. Svalbard juga dikenal dengan Global Seed Vault, bangunan yang sangat terisolasi untuk menyimpan sampel benih dari seluruh dunia. Visi misi mereka yaitu untuk mencegah punahnya benih tanaman di masa depan.

Iklan

Pada Mei 2017, gedung penyimpanan ini dilanda banjir akibat mencairnya permafrost di sekelilingnya. Benih yang tersimpan memang masih aman, tapi peristiwa ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tak akan mungkin menyelamatkan gedung ini.

Pencairan lapisan es juga sangat mengancam habitat beruang kutub. Menurut Earther, jumlah lautan es di wilayah tersebut semakin merosot pada Juni jika dibandingkan dengan rata-rata September lalu, ketika lapisan es berada di titik terendah.

Beruang kutub sangat membutuhkan es untuk mencari makan agar bisa bertahan hidup — mereka membutuhkan sekitar 12.000 kalori setiap harinya. Mereka biasanya mengincar lubang-lubang pernapasan anjing laut, menunggu targetnya muncul ke permukaan dan menghantam kepalanya sampai mereka tak berkutik. Tanpa es, beruang tidak akan bisa mendapatkan makanan, dan para ilmuwan yakin bahwa beruang yang menyerang petugas kapal pesiar itu sedang kelaparan.

"Serangan seperti ini bisa terjadi apabila kondisi beruang sangat buruk dan membutuhkan makanan," kata Andrew Derocher, dosen biologi di University of Alberta yang mempelajari beruang kutub, kepada BuzzFeed News. "Bagi beruang, ini masalah hidup atau mati."