kesehatan pencernaan

Perlukah Kamu Buang Air Besar Setiap Hari?

Lima pakar mempertimbangkan frekuensi BAB yang normal. Kesimpulannya mengejutkan.
Frekuensi Buang Air Besar yang Sehat Setiap Hari
Ilustrasi via Getty Images

Sebagian besar orang beranggapan kalau idealnya kita buang air besar satu kali sehari. Katanya, ada yang salah dengan pencernaanmu kalau BAB lebih dari tiga kali atau malah tidak sama sekali.

Kami tanya lima orang pakar tentang ini. Haruskah kita BAB setiap hari?

Jawabannya? Tidak.

Berikut alasannya:

Christopher Hair, ahli gastroenterologi , Deakin University
Tubuh manusia sangat kompleks, sehingga fungsi normal tubuh setiap orang berbeda-beda. Hal ini termasuk siklus tidur, buang air kecil dan besar. Standar normal orang tidak semuanya sama, terutama untuk buang air besar. Penelitian yang mendalami frekuensi BAB menunjukkan bahwa manusia normal kisarannya buang air tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu. Orang sehat yang BAB satu kali sehari totalnya kurang dari 40 persen.

Iklan

BAB yang tidak normal bisa menandakan gejala penyakit seperti infeksi (terlalu sering BAB) atau kanker (berak darah). Kamu juga harus waspada kalau tidak buang air sama sekali, karena bisa jadi kamu mengalami gangguan metabolisme.

Damien Belobrajdic, peneliti di CSIRO, lembaga sains nasional Australia
Kamu tidak perlu buang air sehari sekali untuk melancarkan saluran pencernaan. Akan tetapi, kamu juga harus paham kalau jarang BAB (kurang dari tiga kali seminggu) dapat menyebabkan sejumlah komplikasi seperti wasir, fisura ani, atau impaksi tinja. Banyak faktor yang bisa menyebabkan sembelit, termasuk kondisi kesehatan, mengonsumsi obat-obatan (seperti opioid dan antasida), suplemen gizi (zat besi), dan kekurangan serat.

Perbanyak minum air mineral dan konsumsi makanan berserat tinggi untuk melancarkan pencernaan secara optimal. Kamu bisa makan roti atau sereal gandum, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan segar.

Dan Worthley, ahli gastroenterologi , South Australian Health & Medical Research Institute
Sebuah penelitian terbaru mengamati pola BAB 4.775 orang, dan menemukan bahwa 95 persen peserta kira-kira bisa buang air besar tiga sampai 21 kali per minggu. Jadi menurut saya berak tiga kali sehari atau seminggu itu "sangat normal."

Bentuk tinja juga sama pentingnya dengan frekuensi BAB. Kami menggunakan Skala Feses Bristol untuk melihat tingkat konsistensinya. Skala ini ada tujuh, mulai dari Tipe 1 “bentuknya keras dan terpisah-pisah, seperti kacang” sampai Tipe 7 “berair dan tidak keras sama sekali.” Tipe 4 (“Bentuknya seperti sosis atau ular, lembut dan lunak”) adalah tipe tinja yang normal. Namun, bentuk tinja 50 persen pasien normal lebih bervariasi dari ini.

Iklan

Jakob Begun, ahli gastroenterologi , University of Queensland
Feses adalah sisa dari proses pencernaan makanan di usus, dan terdiri dari buangan sisa makanan yang tidak dapat diserap, mikroba, dan air. Setiap minggu, orang biasanya mengeluarkan 500 sampai 1.100 gram kotoran. Frekuensi BAB-nya tergantung beberapa faktor, seperti diet, aktivitas motorik usus, kapasitas rektal, faktor perilaku, dan mikrobioma usus. Penelitian umumnya menunjukkan bahwa buang air besar yang normal itu sekitar tiga kali sehari, atau tiga hari sekali.

Kami mengetahui orang yang sembelit dari gejalanya. BAB-nya masih normal kalau jarang buang air tapi tidak pernah mengalami mulas, perut kaku, atau gejala lainnya.

Vincent Ho, ahli gastroenterologi , Western Sydney University
Penelitian di Inggris dan Swedia menemukan bahwa responden biasanya berak antara tiga kali seminggu atau tiga kali sehari. Ini adalah standar idealnya. Frekuensi atau konsistensi BAB yang berubah juga masih wajar. Penyebabnya bisa karena asupan cairan, aktivitas fisik, diet, usia, dan faktor sosial lainnya seperti malu ke kamar kecil saat sedang kerja.

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation . Baca artikel aslinya di sini .