Haruskah Panik Ketika Kepala Terbentur?

Kalian pasti pernah mikir, apakah terbentur bikin gegar otak? Daripada menebak-nebak sendiri, mending dengarkan penjelasan dokter ini.
1.12.17
getty image

Begini skenarionya:
Kalian lagi makan malam di luar, terus temen kamu jongkok buat ngebenerin tali sepatu. Pas dia mau duduk lagi, kepalanya kejeduk meja--keras lagi. Dia ngerasa kliyengan, tapi tetep ngotot bilang gapapa. Parahnya lagi, di TV rumah makannya lagi ada tayangan pertandingan tinju. Tapi temen kamu nggak diabisin sama Manny Pacquiao sih… Jadi dia harus sekhawatir apa?

Faktanya:
“Gegar otak” bukanlah diagnosa medis. “Gegar otak” bukan kayak struk atau serangan jantung, di mana tubuh manusia melalui sebuah proses pasti yang harus segera diinterupsi oleh para ahli medis untuk mencegah kerusakan pada fungsi organ.

“Tidak ada hal spesifik yang dimaksud dengan ‘gegar otak’,” kata Douglas H. Smith, Kepala Center for Brain Injury and Repair di University of Pennsylvania’s Perelman School of Medicine. “Itu hanya sebuah opini bahwa ada suatu kerusakan di jaringan otak.” Karena hal tersebut, istilah ‘cedera otak traumatik’ (‘traumatic brain injury’) lebih sering digunakan.

Trauma kepala yang menyebabkan perubahan kepribadian yang drastis seperti yang sering kita lihat di berita-berita televisi biasanya mengacu kepada efek gegar otak yang terjadi berkali-kali dalam kurun beberapa tahun, seperti yang dialami petinju dan pemain sepakbola. Kata Smith, kasusnya beda jika hanya terjadi satu kali. Beberapa laporan memperkirakan bahwa ada 4 hingga 5 juta kasus cedera otak traumatik baru setiap tahunnya. Tetapi para dokter masih mempelajari cara mencatat dan menggolongkan kasus-kasus cidera tersebut, jadi angka tersebut masih terbilang rendah. Efek dari kasus-kasus tersebut tidak parah, dan mereka hilang dalam beberapa jam saja.

Di beberapa kasus spesial, satu benturan di kepala cukup untuk menyebabkan pendarahan serebral (nanti akan dijelaskan kok). Pendarahan di dalam tengkorak bisa menekan otak, dan biasanya membutuhkan penanganan medis segera. Biasanya temenmu bisa mengetahui ketika dia sedang mengalami hal ini, karena dia bisa kejang-kejang, bicara enggak jelas, dan muntah-muntah. “Kasus seperti ini jauh lebih jarang dari gegar otak biasa, dan tanda-tandanya biasanya lebih ekstrim,” kata Richard A. Figler, wakil ketua medis Concussion Center di Cleveland Clinic.

Kalo temen kamu pusing, sakit kepala, dan nggak yakin kalo kondisinya cukup serius untuk dapet penggantian asuransi dan surat dokter, seenggaknya dia punya kemewahan yang nggak dimiliki oleh korban serangan jantung dan struk: Dia bisa nunggu untuk ngeliat kondisinya makin parah atau nggak. “Coba pantau tanda-tandanya dalam satu jam,” kata Figler. “Hasil akhirnya tidak akan berubah.” Di kebanyakan kasus, efek dari gegar otak akan hilang setelah benturan pertama. Walaupun efeknya bisa bertahan dan memerlukan beberapa bulan rehabilitasi, biasanya nggak banyak yang bisa dilakukan dokter untuk mengatasi cedera kepala ringan secara langsung.

Tanda-tanda yang harus diperhatikan adalah rasa sakit kepala, rasa linglung, lelah, mual, bicara yang terbata-bata, telinga yang pengang, hilangnya kesadaran, dan hilangnya ingatan tentang hal-hal yang terjadi sesaat sebelum terjadinya cedera. Cara mendeteksi gegar otak di tim-tim olahraga biasanya dengan menggunakan Maddocks Score Questionnaire, yang berupa beberapa pertanyaan mendasar: “Dimana lokasi kita bermain hari ini?” “Siapa yang terakhir mencetak angka?” “Apakah tim anda menang di pertandingan terakhir?”

Efek dari gegar otak kadang-kadang baru terdeteksi beberapa hari setelah cedera terjadi. “Kamu mungkin saja merasa baik-baik saja di hari setelah kepalamu terbentur, tapi gejala-gejalanya bisa muncul beberapa hari setelahnya saat sedang melakukan aktivitas lain,” kata Alicia Sufrinko, seorang neuropsikolog dari Sports Medicine Concussion Program di University of Pittsburgh Medical Center.
Menurut Sufrinko, di beberapa kasus, seseorang bisa saja tidak menyadari cedera yang serius sampai dia mencoba melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, seperti membaca atau menggunakan komputer. Gejala-gejala bisa juga muncul ketika orang tersebut ada di lingkungan yang memerlukan kinerja otak yang lebih, seperti di kantor atau jalan yang ramai.

Mereka yang mengalami kerusakan jangka panjang dari gegar otak akan memiliki jadwal yang padat untuk rehabilitasi dan penanganan medis. Menurut Smith, karena otak merupakan organ yang kompleks dan ahli-ahli saraf hanya baru-baru ini mengetahui efek dari trauma otak, belum ada perkiraan pasti tentang kondisi di masa depan.

Risiko terburuknya:
Di tahun 2009, Natasha Richardson tersandung dan kepalanya terbentur ketika sedang bermain ski dekat Quebec. Awalnya, dia terlihat baik-baik saja dan langsung jalan balik ke hotelnya sembari ngobrol-ngobrol santai. Beberapa jam kemudian, Richardson mengeluh karena kepalanya sangat sakit. Dia langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di New York menggunakan helikopter, dan beberapa hari kemudian meninggal karena pendarahan otak.

Kasus Richardson membuat orang-orang berpikir bahwa seseorang bisa saja meninggal karena jatuh kecil. Beberapa berita mencantumkan istilah menyeramkan: “walk and die syndrome.”

Walaupun ada kasus lain seperti kasus Richardson, biasanya pendarahan serebral dapat dideteksi, kata Figler. Kejang-kejang dan muntah-muntah tidak jarang terjadi ketika darah memberi tekanan pada otak. Yang penting adalah mendeteksi pendarahan pada pasien-pasien lansia dan orang-orang yang mengkonsumsi obat-obatan yang menghambat pembekuan darah, tambahnya lagi. Tapi di kebanyakan kasus, kamu biasanya akan tahu kalau kamu sedang berada di situasi yang seekstrim pendarahan serebral.

Yang harus kamu bilang ke temenmu:
Lebih baik rebahan dulu. Kamu nggak buang waktu kok, karena ini bukan struk. Kalau dalam beberapa jam setelah benturan kepala kamu masih merasa pusing, nggak fokus, nggak inget hal-hal yang terjadi pada hari itu, atau kamu merasakan gejala-gejala lain, baru deh meluncur ke UGD.