Olahraga

Seruan Reformasi Aturan Sumo Digaungkan Menyusul Terjadinya Kematian Pegulat

Komunitas penggemar sumo Jepang mendesak dirombaknya protokol pertolongan pertama yang gagap merespons atlet gegar otak tak cepat dirawat.
12.5.21
Dua pegulat sumo bertarung
Foto oleh Bob Fisher via Unsplash

Kepala pegulat sumo Hibikiryu membentur lantai dengan keras ketika tubuhnya dibanting lawan. Dia tergeletak tak berdaya selama lima menit berikutnya.

Insiden pada 26 Maret 2021 itu terekam dalam sebuah video viral. Bernama asli Mitsuki Amano, pegulat kelas bawah itu sempat menggeserkan sedikit kepalanya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit di Tokyo. Sebulan kemudian, tepatnya pada 30 April, lelaki 28 tahun tersebut dikabarkan meninggal dunia akibat gagal napas akut.

Iklan

Kematiannya mengejutkan komunitas sumo dan memicu perdebatan tentang perlunya cabang olahraga direformasi. Amarah publik memuncak setelah mengetahui tak ada satu pun dokter yang berjaga selama pertandingan fatal.

Tim dokter biasanya hadir di turnamen sumo, hanya saja mereka tidak berdiri di sepanjang ring. Tiga tahun lalu, dokter perempuan dihujani kritikan pedas karena menginjak ring untuk menyelamatkan seorang pegulat. Pasalnya, mereka dianggap “najis” di dunia sumo.

Pegulat sumo akan bangkit sendiri setelah terjatuh. Orang di sekeliling Hibikiryu baru memindahkan tubuhnya ketika dia tidak bergerak sama sekali. Kantor berita olahraga Jepang Nikkan Sports melansir, dia bisa berbicara setelah kecelakaan tapi tidak dapat menggerakkan dari leher ke bawah. Dia juga mengeluh mati rasa di dalam ambulans.

Hideo Ito, ahli pijat dan akupunktur yang terbiasa menangani pegulat sumo, menduga Hibikiryu mengalami patah tulang punggung. Dia menyerukan agar tim dokter berjaga di sekitar ring selama pertandingan berlangsung. 

Penggemar sangat terpukul dengan kematiannya. Beberapa mengira keadaannya akan membaik karena media mengabarkan seperti itu. Mereka menuntut jaminan kesehatan yang lebih baik untuk para atlet yang menggeluti olahraga ini. “Saya sedih mendengarnya… Saya berharap kejadian ini dapat menekankan pentingnya mereformasi pelayanan medis darurat bagi rikishi [pegulat] di dalam ring,” seorang netizen berpendapat di Twitter.

Cabang olahraga ini telah dikritik sejak dulu karena gagal mencegah cedera dan gegar otak. Pada Februari, pegulat sumo Shonannoumi mengalami gegar otak saat bertarung. Akan tetapi, dia memaksakan diri untuk melanjutkan pertarungan.

Sejumlah orang melihat ini sebagai bentuk keberanian dan kegigihan. Tapi setelah kematian Hibikiryu, penggemar mulai bertanya-tanya kenapa pertolongan pertama selama pertandingan sangat kurang. Beberapa hari setelah kemenangan Shonannoumi, juri memutuskan yang mengalami gegar otak dapat dikeluarkan dari ring dengan lawan dinyatakan sebagai pemenang. Namun, banyak pihak khawatir keputusan ini dapat membuat pegulat memaksakan diri untuk tetap bertarung meski gegar otak.

Penggemar Hibikiryu memulai kampanye online yang mendesak Asosiasi Sumo Jepang untuk meningkatkan pertolongan pertamanya. Mereka juga menggalang dana di GoFundMe untuk keluarga yang ditinggalkan. Ketua Asosiasi Sumo Jepang Hakkaku turut berduka atas kepergian Hibikiryu. “Semua anggota asosiasi mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Dia berjuang keras seperti rikishi sejati dengan bantuan keluarga dan dokter. Semoga dia bisa beristirahat dengan tenang sekarang.”

Pegulat dan komentator Chris Sumo mengungkapkan keterkejutannya dalam video YouTube. Dia menganggap kematian Hibikiryu sebagai akibat dari pengaturan budaya dan sistem yang membawanya. “Bagaimana bisa pegulat muda meninggal setelah bertanding? Tidak ada yang tahu jawabannya. Ini menyiratkan masalah yang lebih luas,” tuturnya.

Chris menjelaskan, cedera Hibikiryu sangat fatal. Peluang untuk pulih 100 persen sangat kecil, bahkan jika dia menerima bantuan medis tepat waktu. “Dia akan berjuang untuk bertahan hidup meski telah mendapat perawatan yang tepat,” Chris berpendapat. “Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan berpikir ‘Dia kan pegulat, pasti akan baik-baik saja’. Pemikiran ini salah besar.”

Follow Jaishree di Twitter dan Instagram.