Luar Angkasa

Ancaman Sampah Antariksa Bertabrakan di Orbit Bumi Meningkat

Potensi tabrakan satelit & roket semakin intensif, seiring meningkatnya benda-benda yang dikirim ke luar angkasa. Contohnya saat satelit Soviet dan Tiongkok nyaris tabrakan.
19.10.20
Ancaman Sampah Antariksa Bertabrakan di Orbit Bumi Meningkat
iStock via Getty Images

Pekan lalu, dunia dibuat tegang oleh berita adanya potensi tabrakan satelit komunikasi Soviet dan roket Tiongkok di luar angkasa. Untung saja, tabrakannya gagal terjadi.

Jika sampai bertabrakan, peristiwa tersebut berpotensi membentuk awan sampah antariksa yang dapat menimbulkan risiko bagi satelit lain dan misi peluncuran di masa depan.

LeoLabs, perusahaan pelacak sampah antariksa di California, mengumumkan prediksi mereka beberapa hari sebelumnya. Perusahaan melihat potensi tabrakannya “berisiko tinggi”, meskipun kemungkinan tabrakan sesungguhnya relatif rendah. Walau takkan berdampak apa-apa ke penghuni Bumi, prediksi LeoLabs sempat menggemparkan internet.

Iklan

Satelit Soviet dan roket Tiongkok sudah lama tidak berfungsi, sehingga tak lagi bisa dikendalikan dari Bumi. Menurut LeoLabs, kedua benda yang memiliki berat gabungan sekitar 2.800 kg bergerak mendekati satu sama lain pada kecepatan 14,7 kilometer per detik.

Tabrakannya diperkirakan terjadi di orbit Bumi rendah (LEO), sebuah zona yang dipenuhi satelit dan Stasiun Luar Angkasa Internasional. Meskipun begitu, tak ada risiko langsung yang serius bagi kehidupan manusia di Bumi. Yang dikhawatirkan dari tabrakan ini adalah terbentuknya puing-puing yang mengorbit hingga terbakar di atmosfer. Selama belum terbakar, kepingan sampah kecil ini dapat membahayakan benda lain di luar angkasa.

Bukan tidak mungkin skenario Sindrom Kessler dalam film Gravity menjadi kenyataan apabila serpihan tersebut terus menumpuk di LEO. Sindrom Kessler menjelaskan puing-puing dari tabrakan antarobjek dapat meningkatkan potensi tabrakan lain karena jumlahnya terlalu banyak di orbit.

Tabrakan dua objek besar sangat jarang terjadi di LEO. Satelit militer Prancis ditabrak serpihan roket pada 1996, menjadikannya satelit buatan pertama yang berbenturan dengan sampah perangkat antariksa. Tabrakan antarobjek kembali terjadi 13 tahun kemudian — kali ini tabrakan satelit Iridium-Kosmos. Insiden tersebut menyadarkan ilmuwan internasional akan pentingnya menghindari dan melacak arah orbit puing-puing luar angkasa, terutama untuk Amerika Serikat yang sudah bertahun-tahun berbagi data dengan mitra.

Iklan

Ada setidaknya 2.000 satelit yang mengorbit di LEO saat ini, dan jumlahnya akan terus bertambah mengingat perusahaan swasta macam SpaceX, Amazon, OneWeb, dan Telesat berniat mengirimkan satelit mereka sendiri.

Meningkatnya ancaman tabrakan antarobjek luar angkasa, dan tuntutan akan alat pelacak yang lebih canggih, menciptakan peluang baru bagi sektor swasta. Contohnya seperti LeoLabs yang memperingatkan kita tentang tabrakan ini.

“Tak ada yang salah dari peringatan LeoLabs, tapi saya pribadi tertarik mempelajari penilaian mereka sebelum kedua benda bergerak mendekat,” ungkap astronom Jonathan McDowell dari Center for Astrophysics melalui email.

Melacak puing-puing luar angkasa bukan tugas mudah karena membutuhkan prediksi dan perkiraan yang akurat. Begitu pula halnya dengan insiden terbaru ini. Meski tabrakan yang diperingatkan LeoLabs tidak terjadi, potensi tabrakan yang tidak memenuhi kriteria harus dimasukkan ke dalam daftar konjungsi publik Space-Track.org, yang menerima data dari Skuadron Kontrol Luar Angkasa ke-18 Angkatan Udara AS. Salah satu kriterianya adalah potensi tabrakan lebih besar dari 1-in-10.000.

“Kami adalah sumber data independen pertama [yang memantau potensi tabrakan dua objek]. Misi kami adalah menyediakan data-data yang sebelumnya tidak tersedia. Sudah kedua kalinya kami mengumumkan tabrakan berisiko tinggi antara dua bangkai satelit. Semua orang mengakui benda-benda ini bergerak mendekat dan dapat menimbulkan risiko besar bagi lingkungan ruang angkasa. Sejumlah analisis dibuat menggunakan TLE [two-line element sets], tapi TLE kurang akurat dalam penilaian ini,” bunyi pernyataan CEO LeoLabs Dan Ceperley yang dikirim lewat email.

“Transparansi sangatlah penting bagi keberlanjutan luar angkasa. Itulah sebabnya kami juga menyertakan informasi tambahan seperti miss distance, jadwal pengukuran, kovarian dll. Informasi lebih lanjutnya akan kami jelaskan lebih detail di Medium beberapa hari lagi,” imbuh Ceperley.

McDowell mengamini bahwa perbedaan sangat mungkin muncul karena adanya ketidakpastian atau “kovarian”.

“Kalian akan khawatir jika perkiraan miss distance menunjukkan 50 meter plus atau minus 100 meter,” terangnya. “Kalian akan merasa aman jika perkiraannya 50 meter plus atau minus 10 meter. Kalian jadi lebih waspada jika perkiraannya 500 meter plus atau minus 1500 meter karena areanya besar. Kalaupun perkiraannya tepat sasaran, ada lebih banyak peluang yang mungkin terlewatkan. Akan tetapi, perkiraan ini konsisten satu sama lain! Pengukuran berbeda dengan ketidakpastian yang berbeda dapat menciptakan kemungkinan tabrakan yang berbeda pula.”

Dengan bertambah padatnya wilayah orbit Bumi rendah, potensi tabrakan antarobjek bisa semakin sering muncul di masa depan. Peringatan LeoLabs takkan menjadi yang terakhir, tapi setidaknya bisa meningkatkan pemahaman manusia akan risiko sebenarnya.