Bertanya Pada Pakar: Sisa Makanan Kayak Gimana yang Masih Bisa Dikonsumsi?

Contohnya nih, kalau makan kuaci, jangan sering-sering makan kulitnya.
27.8.18
Foto via Flickr akun Jeff Kubina.

Baru-baru ini dalam sebuah jamuan makan malam, seorang teman (yang namanya bakal terus saya rahasiakan) mengatakan bahwa salah satu temannya (yang ini juga namanya tidak akan saya beberkan) makan jagung dengan menggigit bagian tongkol jagung, mengunyah biji-bijinya dan meminum saripati jagungnya. Adapun sisa bagian jagungnya sendiri dilepeh. Saya langsung membayangkan proses makan jagung yang aneh itu. Terus terang, cara makan temannya teman saya ini agak menjijikkan. Biarpun dia memang tidak mengunyah tongkol jagungnya, cerita ini memancing kami berdua ngobrol lebih banyak tentang bagian makanan yang biasanya dibuang tapi tetap kita makan.

Setelah jamuan makan malam itu, saya juga ngetweet tentang hal ini. Alhasil, tweet saya dibalas banyak orang yang mengaku pernah makan kulit, tempurung, bagian tengah buah atau bagian-bagian yang umumnya langsung dibuang tanpa sedikitpun dicicipi. Bagian-bagian yang disebutkan ini tak pernah menerbitkan nafsu makan saya. Saya langsung menyingkirkannya. Saya tahu saya cuma menambah-nambah jumlah sampah makanan. Tapi ya mau bagaimana lagi, saya memang enggak suka kok.

Sebagian orang berdalih bagian dari buah-buahan atau sayuran yang sering kita buang sebenarnya paling kaya dengan nutrisi dan jumlah seratnya rendah. Saya jadi penasaran, apakah pendapat ini benar-benar sahih? Daripada pusing sendirian, saya bertanya kepada seorang pakar, Dr. Bradley Bolling, profesor ilmu pangan di University of Wisconsin-Madison untuk menjelaskan sampah makanan mana yang harus segera dibuang untuk dijadikan kompos dan bagian mana yang seharusnya bisa kita makan.

Bagian Tengah Apel

Banyak yang menyebut bagian tengah apel. Ya sudah, langsung saya tanyakan saja.

Menurut saya sih: Secara pribadi, saya lumayan merasa malu jarang makan bagian tengah apel. Saya sadar ini mungkin buang-buang makanan. Untungnya, kebiasaan buruk ini lumayan diimbangi dengan rasa puas dalam diri gara-gara sudah mengonsumsi buah sehat macam apel sebagai cemilan.

Penjalasan Dr. Bolling: Banyak orang yang makan apel—termasuk mungkin bagian tengahnya—dan sepertinya tak apa-apa. “Bagian tengah apel aman dikonsumsi,” ujar Bolling. “Tapi bukan biji apelnya ya. “ Okay, saya enggak bisa membayangkan para pemakan bagian tengah apel membuang bijinya dulu sebelum mengunyah bagian yang selalu saya buang itu.

"Biji apel mengandung glikosida sianogenik yang membahayakan jika sampai terkunyah.” sebenarnya, biji apel aman-aman saja kalau ditelan tanpa digigit. Lagipula, kita harus makan ratusan atau bahkan ribuan biji dulu baru beroleh masalah karena biji apel. Namun, setidaknya, fakta ini membuat kami kaum anti bagian tengah apel punya dalih untuk terus memelihara kebiasaan kami.

Kulit Biji Bunga Mahatari atau Kulit Kwaci

Entah kenapa, yang ini juga disebut oleh banyak orang yang membalas tweet saya.

Kalau menurut saya sih: saya mengerti kenapa kalian bingung. Kulit kwaci kan asin, kenapa enggak sekalian dimakan saja. Lagian, makan kwaci sambil ngupas kulitnya dari satu biji ke biji lainnya itu menyebalkan. Di Amerika Saja, para pemain baseball langsung memasukan sekepal biji kuaci ke mulut mereka. Tapi, masalahnya, ini cuma menunjukkan kalau mulut mereka memang kuat dan enggak menunjukkan kalau kulit kuaci aman dikonsumsi.

Kalau kata Dr. Bolling sih: “Kulit kuaci harus dihindari. Bagian ini, jika tidak dikunyah dengan benar akan melukai esofagus dan usus karena masih tajam. Kulit biji bunga matahari kaya dengan serat dan kandungan airnya rendah. Jika memang harus makan kuaci dengan kulitnya, kunyah dengan baik dan sertai dengan meminum air.”

Kulit Kiwi

Ada yang bilang kalau kulitnya dimakan, kiwi jadi snack yang bisa dibawa kemana-mana.

Menurut saya sih: Makin banyak bagian kiwi yang bisa dikonsumsi lebih baik. Saya sepakat sama yang satu ini.

Pendapat Dr. Bolling : "Kulit kiwi aman untuk dimakan, sama seperti kulit persik dan apel. Makan kulit menambah 0,5 - 1,0 serat.”

Kulit Jeruk

Kalau menurut saya sih: Ibu saya dulu suka bikin saus cranberry yang proses pembuatannya mencakup mencelupkan kulit buah jeruk ke sirup. Hasilnya adalah hidangan penyerta kue tart yang ciamik. Cuma kalau dimakan, saya kok kurang ridho ya.

Pendapat Dr. Bolling: "Kulit jeruk boleh dimakan dalam jumlah yang sedikit. Belakangan, muncul ketertarikan akan flavonoid yang terdapat di kulit buah. Pasalnya, zat ini dianggap sebagai senyawa anti kanker. Cuma perlu diingat, yang biasanya diuji dalam penelitian (tentang flavonoid) adalah ekstraknya, bukan kulitnya.” Okay deh kalau gitu, silakan berburu flavonoid ya Pak Bolling.

Biji Cherry

Ya siapa juga yang enggak makan kulit persik?

Menurut saya sih:
Yang ini bikin saya khawatir. Saya sih enggak jijik-jijik amat dengan biji cherry. Tapi, satu-satunya alasan cherry tak diberi label “chocking hazard” adalah karena kita memang tak boleh makan bijinya.

Pendapat Dr. Bolling :
"Kalau tidak diolah lebih lanjut, biji cherry itu berbahaya. Seperti biji apel, biji cherry juga memiliki amygdalin, yang mengandung glikosida sianogenik." Setelah itu, dia menunjukkan tautan sebuah artikel tentang seorang lelaki yang mati keracunan sianida cuma gara-gara makan tiga biji cherry. Padahal, selama ini, saya mikir biji ini cuma bisa bikin kita tersedak.

Buntut Udang

Kalau menurut saya sih: udang itu iblis mengerikan dari laut yang enggak boleh dimakan

Pendapat Dr. Bolling: "Saya baru mulai makan cangkang udang tahun lalu karena baru tahu kalau bagian itu bisa dimakan,” kata Dr. Bolling. Dan seperti cangkang serangga, ekor udang mengandung “chitin yang bisa dimakan,” yang menurut penelitian bagus bagi kesehatan perut kita.

Kulit Semangka

Kalau menurut saya sih: eh gimana sih cara makannya?

Pendapat Dr. Bolling: "Kulit semangka aman untuk dimakan, selama dibersihkan dengan benar. Kalau ingin makan kulitnya, National Watermelon Promotion Board menganjurkan diolah dengan dioseng, direbus atau dibikin acar.”

Kulit Kacang

Kalau menurut saya sih: Dari semua benda yang disebutkan, kayaknya kulit kacang rasanya paling enggak enak. Rasio besarnya kacang dibandingkan kulitnya tak bisa mengenyahkan bayangan kalau kulit kacang rasanya seperti kapur berserat yang tidak enak.

Pendapat Dr. Bolling: "Aman-aman saja kok dimakan, asal dalam jumlah sedang. Kulit kacang bisa dijadikan pakan hewan, punya serat tinggi dan mengandung sedikit uap air. Jadi, hal yang perlu dikhawatirkan cuma sembelit jika konsumsi kulit kacang terlalu banyak. Lalu, karena kulit kacang langsung bersentuhan dengan tanah, ada risiko kontaminasi aflatoxin jika kacang tak diproses dengan benar."

Hemat kata, semua sampah makanan yang disebut tadi lebih sehat dari Diet Coke yang doyan saya minum. Jadi mungkin ada benarnya, tak semua sampah makanan jadi kompos, sebagian boleh juga diproses oleh tubuh kita.