Kelangkaan Pangan

Nekat Bikin Brownies Pakai Terigu, Empat Pengusaha Roti Ditangkap Aparat Venezuela

Insiden itu dipicu kelangkaan tepung gandum di seantero Venezuela. Presiden Nicolas Maduro mengancam semua produsen taat aturan tak pakai terigu untuk membuat roti mahal.
20.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Kita rupanya sedang hidup di zaman yang memungkinkan seseorang ditangkap hanya karena membuat brownies. Dalam kasus yang terjadi di Venezuela ini, sepertinya membuat roti isi ganja lebih aman daripada brownies biasa.

Begini certanya. Awal pekan lalu, aparat kepolisian Venezuela menahan empat koki spesialis pastry (roti dan sejenisnya) karena membuat brownies berbahan tepung terigu. Tepung dari bahan dasar gandum itu sedang langka sekali pasokannya di seantero Venezuela. Negara Amerika Selatan ini tiga tahun belakangan mengalami resesi ekonomi parah akibat kejatuhan harga minyak dunia. Kepolisian dan militer dikerahkan memeriksa bakery maupun pabrik produsen roti  di seputaran Ibu Kota Caracas, demi memastikan imbauan Presiden Nicolas Maduro ditaati. Presiden menyatakan semua pasokan terigu yang tersedia wajib dipakai untuk menghasilkan roti tawar untuk kebutuhan pangan masyarakat umum, bukan jenis roti-roti lebih mahal seperti cake, croissants atau brownies.

Iklan

Beberapa media Venezuela menjuluki kebijakan Presiden Maduro itu sebagai "perang roti", menyitir kata-kata yang dipakai sang presiden. Pemimpin 54 tahun ini mengancam akan mengambil alih toko-toko yang nekat menggunakan persediaan tepung terigu tak sesuai peruntukan.

Setelah insiden penangkapan koki itu diberitakan, Kepala Badan Persaingan Usaha Venezuela, Karlin Granadillo, menggelar jumpa pers. Dia menyatakan dua pemilik toko roti yang dicokok polisi terbukti menggunakan terlalu banyak tepung terigu untuk membuat roti manis, brownies, dan cachitos—semacam croissant isi daging yang sangat populer di Venezuela. Granadillo menyatakan dua koki pastry lainnya yang ditahan ditahan karena menggunakan tepung terigu yang melewati masa kedaluwarsa.

Dampak lain dari operasi pasar tepung terigu di Ibu Kota Caracas, satu toko roti diambil alih pemerintah sampai 90 hari ke depan lantaran melanggar imbauan presiden. Wakil Presiden Venezuela, Tareck El Aissami, akhir pekan lalu menyatakan kebijakan serupa akan terus dilakukan pada toko dan pabrik roti manapun yang berlebihan menggunakan pasokan tepung terigu.

Kelangkaan sembako di Venezuela. Foto dari Kyodo via AP Image

Partai Sosialis Bersatu, yang dipimpin oleh Maduro, menyalahkan kalangan oposisi—yang dicap sebagai liberal, kapitalis, dan pro-asing—sebagai biang keladi langkanya pasokan kebutuhan pokok di negara mereka. Venezuela beberapa tahun lalu cukup makmur berkat hasil ekspor minyak. Sejak minyak anjlok di pasar dunia, harga kebutuhan dasar seperti pangan dan obat-obatan meroket. Maduro kemudian menyebut oposisi sengaja menyabotase ekonomi nasional dibantu kekuatan kapitalis asing, dalam hal ini tentu saja pemerintah Amerika Serikat. Adapun pihak oposisi balik menyalahkan Maduro dan kabinetnya yang dianggap tidak becus mengelola perekonomian, sehingga kebutuhan pokok menjadi langka.

Kantor berita  para pengusaha roti mencoba melawan kebijakan pemerintah. Mereka mempertanyakan tuduhan Presiden bila sengaja membuat roti-roti mahal tanpa memenuhi kebutuhan masyarakat. Asosiasi Pengusaha Roti Venezuela () mengklaim 80 persen bisnis bakery tak punya stok tepung terigu sejak beberapa bulan terakhir. Fevipan mendesak pemerintah jika ingin kebutuhan nasional terpenuhi. Pasalnya, impor yang dilakukan sekarang jumlahnya tidak mencukupi proyeksi permintaan pasar. Para pengusaha roti ini juga meminta diizinkan bertemu Presiden Maduro untuk menjelaskan situasi riil di lapangan. Jika toko-toko bakery tidak diizinkan menjual roti yang agak mahal, hampir pasti mayoritas pengusaha segera gulung tikar.

Iklan

Reuters melaporkan

Fevipan

menambah impor terigu

Salah satu karyawan toko roti di Caracas menyatakan kelangkaan terigu ini terjadi berkepanjangan. Posisi manajemen toko jadi dilematis. Jika menaati imbauan pemerintah, bisnis mereka sulit bertahan. Saat mereka berusaha patuh aturan sekalipun, jumlah pasokan terigu di pasaran tidak cukup untuk berproduksi.

"Kami hanya memperoleh pasokan terigu setiap 15 hingga 20 hari sekali," ujarnya seperti dilansir Kantor Berita Agence France Press. "Itupun yang kami peroleh maksimal 20 sak terigu. Padahal di situasi normal, toko kami butuh delapan sak per hari."

Presiden Maduro mengabaikan alasan para pembuat roti. Dia berkukuh, pengusaha roti mulai kongkalikong dengan kepentingan asing menyabotase stabilitas perekonomian nasional Venezuela. "Mereka yang mulai main-main dengan melakukan 'perang roti', otak dari kelangkaan terigu ini, mereka semua akan mendapat balasannya. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika ada yang ditangkap, jangan sampai menuding pemerintah melakukan represi politik," ujarnya.

Perang Roti di Venezuela setidaknya sudah memakan korban. Bukan cuma pengusaha dan koki, tapi juga penikmat roti-roti manis di negara tersebut.