Sekte

Pria Inggris Ini Hidup Bersama Suku Penyembah Pangeran Philip

Sekarang dia menjadi bagian sekte unik suku di kepulauan Samudra Pasifik tersebut.
21.5.18

Masih ingat Tanna, sebuah pulau di Samudera Pasifik bagian Selatan yang menjadi habitat Sekte Kargo yang menyembah Pangeran Philip sebagai Tuhannya ? Tidak ingat? Atau malah belum tahu? Singkatnya, ada suku asal pulau di dekat Fiji yang memuja suami Ratu Elizabeth II dan mereka berharap rohnya bergabung bersama mereka suatu saat nanti.

Ternyata, Pangeran Philip juga meninggalkan kesan yang mendalam bagi Matt Baylis, seorang penulis dari Southport. Sejak kecil, Matt sangat mengidolakan Duke of Edinburgh. Saking ngefansnya, dia sampai memasang posternya di dinding kamar. Dia mengagumi cara hidupnya yang pragmatis, meskipun Pangeran Philip pernah melontarkan ucapan rasis terhadap etnis Tionghoa dan suku Aborigin. Baylis langsung memutuskan terbang ke Tanna saat mengetahui kalau ada yang memiliki keyakinan yang sama dengannya. Di sana, dia juga merasakan bagaimana menjalani hidup sebagai bagian dari sekte penyembah Pangeran Philip.

Tanpa ragu, saya menelepon Baylis untuk mendapatkan cerita tentang pengalamannya bersinggungan dengan sekte kargo di Tanna, malam-malam yang dihabiskan dengan mabuk minuman yang dibuat dari tanaman psychoactive bernama Kava dan bagaimana orang-orang suku Tanna meyakinkannya bahwa dirinya adalah jelmaan Pangeran Philip.

VICE: Hei Matt. Bisa ceritakan bagaiamana kamu bisa sampai di Tanna?
Matt Baylis: semuanya berasal dari obsesi masa kecil. Dari umur 10 atau 11 tahun, saya sudah mengidolakan Pangeran Philip. Saya sangat mengaguminya dan selalu berpikir kalau beliau diberlakukan kurang adil. Seiring saya tumbuh dewasa, saya akhirnya kuliah di jurusan antropologi pada sebuah universitas. Pembahasan tentang sekte kargo subur ditemui di kelas-kelas antropologi. Salah satu dosen saya mengatakan bahwa di pulau Tanna, sekte-sekte pemujaan subur berkembang. Yang asik, dia juga bilang, “Oh ya, ada juga sekte pemujaan Pangeran Philip.” Semua orang di dalam kelas tertawa sementara, saya yang dari dulu menyimpan kekaguman pada beliau malah makin penasaran. Beberapa tahun kemudian, saya masih penasaran dengan sekte kargo tersebut. Saya mikir, “Aku harus ke sana deh.” Begitu uangku terkumpul, saya akhrinya beneran pergi ke Tanna.

Bagaimana tanggapan orang Tanna saat kamu tiba?
Mereka sangat ramah dan sopan. Saya disambut dan mereka bilang saya boleh tinggal di sana selama yang saya mau. Masalahnya adalah kalau kamu pergi ke Tanna sebagai seorang asing, kamu akan mendapatkan sambutan yang agak mistis. Misalnya, saban saya masuk desa, ada saja lelaki yang menyapa saya. “Helo, kamu pasti ke sini buat ketemu saya kan?” dan saya bakal menjawab. “Enggak kok.” Eh dia bakal bilang. “Iya kok, saya memimpikan kamu minggu lalu.”

Iklan

Jadi ada kepercayaan bahwa semua orang barat itu makhluk mistis dan pasti punya hubungan dengan Pangeran Philip?
Benar. Mereka melihatnya sebagai sebuah rencana besar yang mereka yakini bahwa ujung-ujung Tanna akan kedatangan orang asing. Nah, orang-orang asing ini akan membangun “jalan,” yang sebenarnya adalah aliansi simbolis mereka dengan kekuatan di luar Tanna. Orang-orang ini percaya bahwa begitu jalan yang dibutuhkan sudah terbangun, seluruh dunia akan ikut bergabung,

Wah kedengarannya seperti kepercayaan yang rumit ya. Kamu butuh waktu lama untuk memahami?
Begitulah. Saya memahaminya dengan perlahan-lahan. Salah satu hal yang menyulitkan kita memahami sekte kargo ini adalah di Melanesia [sub region Ocenia tempat Tanna berada], pengetahuan diperlakukan bak komoditas. Orang-orang di sana sangat ketat tentang hal ini. Jangan salah loh. Ada yang diracun dan dibunuh karena dianggap mencuri mitos dari orang lain. Saya harus berulang kali ngomong, “Saya boleh nanya tentang ini enggajk?”—intinya saya mesti minta izin untuk mengajukan pertanyaan.

Jadi apa ajaran utama sekte ini?
Mereka percaya bahwa Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth, adalah salah satu anak dari dewa gunung. Mereka sudah punya semacam mitos tentang dewa berkulit terang yang berlayar melewati lautan sebelum mereka memuja Pangeran Philip. Penyebabnya, karena Tanna terletak di ujung gugusan Polinesia jadi mereka mungkin pernah bersinggungan dengan orang berkulit terang. Mereka percaya akan mitos yang menyebutkan bahwa Pangeran Philip berlayar jauh dan menaklukan hati banyak perempuan asing yang penting. Mereka juga mengatakan bahwa Tuhan selalu bekerja secara gaib untuk memakmurkan Tanna. Makanya, tiap kali ada hal baik yang terjadi di Tanna, itu otomatis akan dikaitkan dengan Pangeran Philip. Lalu, mereka juga yakin bahwa makin banyak orang kulit hitam yang menikah dengan orang kulit di dalam dan di luar Tanna adalah juga karena Pangeran Philip. Bahkan, mereka percaya Barack Obama jadi presiden Amerika Serikat juga perbuatan dari Pangeran Philip. Mereka pun percaya bahwa Pangeran Philip menyatukan segala sesuatu yang pernah terpisah.

Perempuan-perempuan dari sekte Pangeran Philip

Dan mereka menunggu kembalinya Pangeran Philip kan?
Betul mereka percaya bahwa jika sudah waktunya, Pangeran Philip akan muncul di sebuah batu kecil dekat pantai. Segera setelah Pangeran Philip tiba, semua hal baik akan terjadi. Hal-hal yang baik itu sepertinya terpengaruh ajaran misionaris Kristen. Menurut para anggota sekte ini, setelah kembalinya Pangeran Philip tak ada lagi yang sakit dan mati. Semua orang akan kembali muda. Cinta yang bebas adalah salah satu hal penting yang akan terjadi. Ketika saya masih di Tanna, mereka percaya kalau seseorang bisa tidur dengan istri orang lain, selama perempuan itu setuju. Namun, kalau sampai tertangkap basah, denda yang besar sudah menanti. Nah, mereka bilang kedatangan kembali Pangeran Philip akan menghapuskan segala macam denda perbuatan tak senonoh macam ini.

Saya dengar sekte ini banyak menggunakan tanaman psychoactive bernama kava dalam ritualnya?
Ya, kava adalah minuman menjijikkan dalam standar orang barat jika disiapkan dengan cara orang Tanna membuatnya. Di Tanna, anak lelaki perjaka yang belum menikah diserahi tugas untuk mengunyah kava dan melepehkannya pada sepucuk daun. Mereka kemudian memerasnya dan mencampurkan hasilnya dengan air dari kaleng minyak berkarat. Rasanya seperti lumpur dan pada dasarnya hanyalah semangkok air ludah. Kadang terasa seperti dibubuhi ramuan. Begitu kamu meminumnya, lidahmu akan kelu dan kamu akan merasakan kava mengalir dalam tubuhmu dan membuat kelu setiap bagian tubuh yang dilaluinya. Sebuah pengalaman yang sangat lembut sih sebenarnya.

Kava di Tanna bisa jadi yang paling kuat di dunia. Di bagian barat daya Tanna—tempat saya tinggal—tumbuh kava yang paling kuat di pulau itu. Setelah meminumnya, kamu akan mudah jadi reflektif. Bar-bar kava banyak ditemui di daerah kota. Pengunjung bar biasanya akan meminum sebanyak-banyak kava biar mabuk. Sebaliknya di kawasan pedesaan, kava digunakan dalam ritual indah yang digelar menjelang terbenamnya matahari. Para anggota sekte akan menyalakan api dan berkumpul dengan satu sama lain menunggu kava selesai dibuat. Mereka kemudian berbaris untuk menerima kava. Setelah menerima kava, masing-masing orang akan pergi dan mencari posisi yang enak untuk duduk. Mereka akan bersama-sama memandangi terbenamnya matahari. Benar-benar sebuah ritual yang hening, indah dan meditatif.

Ada kejadian yang selalu kamu ingat sampai sekarang?
Hal yang paling saya ingat mungkin sesuatu pengalaman yang sebagian orang berpikir terjadi karena saya menenggak terlalu banyak kava. Suatu hari, saya kehilangan kacamata dan saya tak bisa menemukanya di mana-mana. Tak lama, saya diundang untuk menemui dukun setempat yang mereka sebut sebagai “orang pintar” yang akan menemukan keberadaan kacamata saya. Di beberapa bagian Vanuatu (negara kepulauan yang menaungi Tanna), pihak kepolisian memanfaatkan jasa orang pintar untuk menemukan senjata dan mayat dan benda-benda lain sejenisnya. Mereka seakan punya indera penglihatan kedua. Para orang pintar ini menginterogasi panjang lebar. Mereka menyangka saya titisan Pangeran Philip. Saya lantas disuruh pergi. Lalu, begitu saya meninggalkan mereka, saya menemukan kacamata mata di manset baju saya. Saya berpikir keras dan tetap saja tak menemukan cara bagaimana kacamata itu bisa ada di sana. Menurut saya, ini masih belum terpecahkan, meski orang yang lebih rasional pasti punya penjelasan rasional tentang hal ini.

Matt duduk bersama penduduk setelah mencoba kava

Sebentar—mereka menginterogasi kamu gara-gara menyangka kamu sebenarnya Pangeran Philip?
Ya, mereka berulang kali menuduh saya Pangeran Philip. Menurut saya ini tuduhan yang aneh. Ada yang bilang saya Pangeran Philip yang menyamar atau saya adalah salah satu saudaranya. Beberapa orang agak kesal karenanya.

Terus, bagaimana kamu menanggapinya?
Saya terus-terusan menyanggahnya dengan sopan karena tak ada hal lain yang bisa saya lakukan.

Kamu merasa punya sumbangsih apa dalam perkembangan sekte ini?
Sepertinya sih iya. Ketika saya pergi, saya mendengar kabar tentang seseorang yang suci namun berbahaya yang makan dari piring sucinya sendiri lantaran dia tak bisa menyentuh piring-piring mereka. Anggota sekte itu juga mengatakan mereka tak pernah melihat saya buang air besar. Padahal, saya buang air besar dengan teratur. Saya juga sepertinya bertanggung jawab atas upacara peringatan ulang tahun Pangeran Philip. Saat masih di Tanna, saya pernah bertanya kapan ultah Pangeran Philip dan apakah mereka punya ritual khusus untuk hari itu. Mereka bilang, “Enggak, memangnya kenapa?” sakarang mereka punya tari-tarian megah di hari ultah Pangeran Philip. Kayaknya saya deh yang memprakarsainya.

Kamu bisa membaca pengalaman Baylis selama hidup di Tanna dalam bukunya, Man Belong Mrs Queen.