Kisah Awal Karir Motörhead Sampai Bisa Menjadi Legenda
Martin Popoff [kanan] dan Lemmy Kilmister. Foto dari arsip pribadi Martin Popoff.
Musisi Legendaris

Kisah Awal Karir Motörhead Sampai Bisa Menjadi Legenda

Kami ngobrol bareng Martin Popoff, penulis buku 'Beer Drinkers and Hell Raisers: The Rise of Motörhead,' tentang perjalanan Motörhead mencapai ketenarannya.
8.9.18

Motörhead tak pernah berpura-pura. Ya iyalah, buat apa juga. Mereka adalah sekelompok pria paling bengal dalam sejarah rock ‘n’ roll yang menghabiskan hidupnya untuk mabuk-mabukan dan menulis riff-riff yang ngebut. Anggota Motörhead memakai jaket kulit berduri dan ikat pinggang dari peluru karena memang begitulah cara mereka berdandan. Malah berkat Lemmy Cs, dua aksesoris itu kini identik dengan metal. Alhasil, tiap band yang mengaku dirinya sebagai band rock sedikit banyak berhutang pada Motörhead. Di album seperti Overkill, Motorhead mengoplos punk dan metal untuk melahirkan nenek moyang Thrash Metal. Tak hanya ngebut di panggung, Motörhead menjalani hidupnya dengan kaki menghujam ke pedal gas dan membiarkan pedal rem nganggur.

Adalah mendiang Ian “Lemmy” Killmister yang dianggap jantung Motorhead. Lemmy adalah seorang penulis lirik handal yang tak mau peduli tentang jadwal latihan band. Baginya, dengan atau tanpa latihan, Motörhead tetaplah ngebut. Yang perlu dia lakukan untuk memastikan itu hadir di studio atau panggung, dia melakukan tugasnya (menyanyi dan mencabik bass) lalu berharap teman-temannya bakal melakukan hal yang sama. Lagu yang dianggap Magnum Opus Motörhead—sekaligus yang paling berhasil mendefinisikan—adalah "Ace of Spades," lagu ngebut tentang menjalani hidup dengan ugal-ugalan: "You know I'm born to lose, and gambling's for fools / But that's the way I like it baby / I don't wanna live forever.”

Dalam proses EP St Valentines Massacre , drummer Phil Taylor, pacarnya yang sama-sama suka sepeda motor Irene dan dua roadie lainnya ditangkap polisi karena kedapatan membawa narkoba. Ketika polisi London melakukan penggeledahan, mereka menemukan sisa ganja, methaqualone dan kokain di rumah yang kerap dianggap sebagai markas Motörhead. Kasus ini kemudian dikenal dengan insiden "The Great Motörhead Bust." Bukannya redup, ketenaran Motörhead malah makin menjadi-jadi setelah peristiwa itu.

Photo c/o Martin Popoff

Dalam buku terbarunya Beer Drinkers and Hell Raisers: The Rise of Motörhead, Martin Popoff, salah satu jurnalis heavy metal paling disegani merayakan era klasik Motörhead yang—pun intended—dimotori oleh Lemmy, Phil "Animal" Taylor, dan Fast Eddie Clarke. Martin mengenang bahwa ada semacam elemen humor terselubung dalam Motörhead. “Kita benar-benar enggak tahu apakah band ini serius atau sebaliknya.” Buku Martin ini mengabadikan sepak terjang Motörhead sepanjang kurun waktu 1977-1982, tepat saat legenda tentang band ini mulai dibangun.

“Line up Motörhead klasik merupakan sebuah dobrakan,” ujar Popoff. “Tapi, line up itu kelar ketika “Fast Eddie terkunci di sebuah boiler room. Hadiah perpisahannya adalah beberapa larik kokain di atas ampli dan sebuah botol.” Saya ngobrol dengan Popoff guna mengetahui seperti apa Lemmy dalam kehidupan sehari-harinya, efek alkohol dan obat-obatan terlarang terhadap karir Motörhead, dan bagaimana kematian Taylor serta Lemmy memengaruhi proses penulisan bukunya.

Iklan

Noisey: Kapan kamu pertama kali suka Motörhead? Bisa ceritakan bagaimana kamu bisa menemukan band ini? Dan apa pendapatmu tentang musik mereka waktu itu?
Martin Popoff: Saya suka Motörhead sejak album debut mereka. Cover album itu kelihatan sangat gahar. Waktu saya melihatnya, saya cuma berpikir “kayaknya keren nih albumnya.” Sound album pertama Motörhead kotor dan low-fi banget. Tapi, saya lebih girang saat Motörhead melepas album Overkill. Saking senangnya, saya loncat-loncat di sebuah toko plat tua sampai hampir menyenggol lampu. Sampai sekarang, album itu, bagi saya, adalah album paling heavy dari dasawarsa ‘70an. Overkill adalah salah satu album rock yang tak punya lagu ballad sama sekali. Tak lama kemudian, saya masuk fan club Motörhead. Barangkali saya orang pertama di Kanada yang melakukannya. Umur saya waktu itu belum 16 tahun. Dan semua album Motörhead tidak dirilis di Kanada. Jadi, saya harus beli versi impornya.


Tonton wawancara VICE bersama Seringai yang terus menguasai kancah metal di Indonesia setelah berkarir lebih dari satu dekade:


Saya sekarang berumur 46 tahun. Saya masih ingat banget pengalaman masuk toko piringan hitam, menemukan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Menurutmu hal yang sama dirasakan anak zaman sekarang enggak sih?
Kondisinya jelas sudah beda benget sekarang. Sekarang, kamu bisa dapat informasi dengan gampang, cuma lewat ujung jari kamu doang. Dulu, selalu ada dilema karena untuk beli album-album tertentu, kamu harus menghabiskan uang jajanmu. Itupun tanpa kepastian bahwa album bakal bener-bener keren. Di zaman itu, sumber informasi paling utama adalah majalah-majalah musik ternama. Kadang, kamu juga belajar hal baru tentang masuk begitu kamu masuk toko piringan hitam, memilah-milah album yang ingin kamu beli sebelum kamu akhirnya mengambil album dengan cover lima orang gondrong dan berharap album itu akan heavy. Sehabis itu, kamu ambil platnya dan mulai membaca liriknya. kamu juga akan membaca liner note untuk mendapatkan nama semua personel band dan menebak-nebak dari mana mereka berasal. Benar-benar masa paling indah bagi para penyuka musik.

Photo c/o Martin Popoff

Motörhead dikenal karena menjadi karikatur dari apa yang mereka gambarkan dalam lirik-lirik lagu mereka. Bagaimana hal ini memengaruhi tabiat asli Lemmy cs?
Anggota Motörhead enggak pernah berakting. Mereka sangat mencintai musik yang mereka mainkan, atau tepatnya mereka jatuh cinta pada musik Motorhead. Kalau kamu sempat memeriksa wawancara lawas dengan Motörhead atau wawancara Lemmy menjelang dia meninggal, kamu mungkin akan menemukan bagian di mana mereka ngomong “Kami ini semacam band yang bangga menjadi dirinya sendiri. Kami tak pernah berusaha mengamati apalagi meniru band lain.” Okay lah, kamu bisa menemukan ada “corak” Motörhead—meski cuma secuil—dalam band-band macam Girlschool, Tank, Warfare atau bahkan Venom. Tapi, percaya deh, enggak ada band yang kedengaran sama plek-plekan dengan Motörhead.

Lemmy tumbuh di dekade ‘50an. Musik kesayangannya adalah rock ‘n’ roll murni. Ini sebenarnya aneh karena Fast Eddie misalnya menggemari blues dan sejenisnya. Khusus untuk Phil, yang satu ini seleranya misterius. Phil memamah semuanya, dari jazz sampai punk. Nah, yang menarik adalah musik Motörhead itu enggak sama sekali mewakili selera musik masing-masing anggota line pup klasik band itu. Seakan-akan mereka itu mendirikan Gereja Motörhead, mereka melakoni hidupnya sebagai Motörhead dan memainkan musik ngebut. Dan karena musik yang dihasilkan tak mirip dengan koleksi album anggotanya, tak ada satupun band yang bisa meniru musik Motörhead.

Iklan

Terus bagaimana Lemmy—orang yang dianggap sebagai begundal rock ‘n’ roll—menulis tentang ketidakadilan sosial?
Begini, saya berani taruhan setiap penggemar Motörhead tak akan salah mengartikan lirik Lemmy tentang perang dan lainnya sebagai metafora perjuangannya serta cara pandangnya yang sinis. Di sekeliling lirik-lirik ini, ada juga lirik yang menganjurkan pendengarya berhati-hati menggunakan obat-obatan, tentang integritas—dalam hal ini integritas dalam kerangka rock ‘n’ roll. Cuma yang paling istimewa sebenarnya adalah cara Lemmy mencatut kengerian perang untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari betulan.

Bagaimana Lemmy menjustifikasi kebiasaannya menggunakan obat-obatan terlarang dan bagaimana dia membandingkan dirinya dengan para pemadat heroin?
Lemmy sepertinya menjustifikasi kebiasan buruknya dengan bilang obat-obatan tersebut punya fungsi bagi dirinya. Lemmy mungkin bukan orang biasa, tapi juga bukan seorang ilmuwan gila. Yang jelas, dia tahu apa yang berfaedah bagi dirinya. Di samping itu, Lemmy punya batasan jelas mana zat terlarang yang baik dan mana yang buruk. Nah, heroin, baginya, masuk kategori narkoba buruk. Dan Lemmy serius tentang ini. Dia pernah menulis tentang heroin di liriknya. Dalam beberapa kesempatan wawancara, dia bercerita tentang tentang rekan-rekannya yang mati karena heroin.

Saya rasa obat-obatan terlarang memainkan peranan penting dalam pembentukan imejnya sebagai begundal rock ‘n’ roll—dan saya harus garis bawahi kata “begundal” di sini. Lemmy tahu betul mengonsumsi obat-obatan adalah perbuatan yang salah, tapi dia juga sadar bahwa konsumsi obat-obatan terlarang adalah langkah yang benar dalam hidupnya. Dan ya, Lemmy akhirnya tahu obat-obatan mana yang aman dia konsumsi tanpa mengorbankan produktivitasnya. Dalam selama dia masih produktif, Lemmy percaya apa yang dia lakukan baik-baik saja.

Photo c/o Martin Popoff

Apa efek konsumsi obat-obatan dan alkohol pada karir Motörhead?
Pendeknya, kapanpun itu, Motörhead selalu kelihatan mabuk. Mereka pecandu speed (bahasa slang untuk amfetamin). mereka ngeganja juga. Nah, kalau ngomongin pengaruh, speed punya pengaruh besar di awal karir band ini, terutama dalam proses rekaman album pertama mereka. Rencana awalnya, mereka cuma diminta merekam satu single saja. Cuma karena kadung mengkonsumsi speed, mereka begadang semalaman dan menulis satu album dalam semalam. Mereka pergi ke label dan bilang “Bos, kami kan harusnya merekam satu single doang, tapi kami malah punya satu album nih.” Sejak saat Motörhead lekat dengan imej band pesta. Mereka juga senang bertemu dengan fan. Intinya, mereka ini band rakyat.

Bagaimana dinamika hubungan antar Lemmy, Phil dan Eddie? Kenapa kamu menyebut tiga orang ini sebagai line up klasik Motörhead?
Lemmy ya tetap saja Lemmy. Dia seperti orang yang menjalani hidupnya dengan woles. Lemmy itu rock star, meski cuma rock star underground dan Lemmy sadar betul dengan ini. Lemmy adalah sosok legendaris yang hidup menurut aturannya sendiri. Gara-gara gaya hidup seperti ini, salah satu anggota harus mengambil peran sebagai orang mengurus kelangsungan hidup band. Peran ini diambil oleh Eddie. Kalau sudah urusan bisnis, Eddie yang bakal maju dan membereskannya sebab dua yang lainnya enggak peduli-peduli amat sama tetek bengek yang satu ini. Saya suka setiap era Motörhead. Bahkan saya sepakat dengan Lemmy, album-album terbaik Motörhead—apalagi kalau ukurannya kualitas penulisan lagu dan produksi—adalah album-album terakhir mereka.

Saya pernah ditegur Lemmy saat asik mendengarkan lagu-lagu lama mereka “kayaknya, lagunya masih cupu deh.” Lemmy ada benernya. Lagu-lagu lama mereka bisa saja cupu tapi justru itu daya tariknya. Album-album awal band ini terdengar lebih mentah dan sederhana. Mickey D dan Phil nyetel banget di album-album itu. Nah, buku saya sudah jelas cuma berkutat tentang line up Motörhead. Dari semua line up band ini, hanya satu line up yang boleh dianggap sebagai dobrakan dan itu adalah line up yang berisi Phil, Eddie dan Lemmy.

Bukumu ditulis jauh sebelum Phil Taylor dan Lemmy meninggal. Ada enggak pengaruh kematian dua orang ini terhadap proses penulisan bukumu?
Buku saya bisa dibilang beres ditulis bahkan saat keduanya masih hidup. Saya tahu Phil sakit-sakitan, tapi Lemmy masih bugar. Keduanya masih tur kemana-mana, tapi kemudian Lemmy terdiagnosa menderita kanker. Kondisinya menurun drastis. Yang bikin saya khawatir cuma satu: buku ini dianggap memanfaatkan momentum kematian keduanya. Padahal, buku ini sudah beres saat tiga anggota line up klasik Motörhead masih hidup.


Follow Seth Ferranti di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey