Perubahan Iklim

Perubahan Iklim Menyebabkan Babi-Babi Jadi Kurus, Harga Bacon Bakal Naik Nih

Laporan terbaru dari Scientific American menyatakan dampak pemanasan global dapat disaksikan lewat ukuran babi ternak yang tambah mengecil dibanding masa lalu.
26.9.18
Foto ternak babi oleh Michael Quiones Calle / EyeEm

Ingat satu fakta penting ini: ukuran ternak sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Contohnya, ketika terjadi amukan Badai Florence di kawasan pesisir Atlantik, Amerika Serikat minggu lalu, produksi babi di AS langsung menurun. Selain jutaan ayam broiler dan kalkun, ribuan babi diperkirakan telah hilang karena banjir dan bangunan rusak. North Carolina adalah negara bagian penghasil daging babi terbesar kedua di AS. Di sana ada produsen babi besar seperti Smithfield Foods, yang memiliki laguna babi (kolam terbuka yang dirancang untuk mengolah kotoran hewan di peternakan babi) yang akibat badai dibanjiri saluran air dan selokan di dekatnya. Produksi kacau balau, banyak kotoran babi terseret air.

Iklan

Sebagaimana diamati ahli meteorologi dan ahli perubahan iklim selama beberapa musim badai di belahan bumi utara, suhu global yang terus meningkat berkontribusi pada jumlah curah hujan yang semakin dahsyat dan kekuatan badai. Banjir luapan limbah peternaka babi bukan satu-satunya ancaman yang ditimbulkan perubahan iklim pada produksi daging babi di AS dan peran yang dimainkannya dalam keseimbangan sistem pangan global.

Menurut laporan baru dari Scientific American, suhu global yang lebih hangat akan berarti babi-babi yang lebih kecil—dan lebih sedikit—di masa depan. Laporan itu mencatat bahwa semenjak 2013 Dewan Babi Nasional telah mengawasi masalah ini, karena bisa berdampak pada industri babi senilai 20 miliar USD di negara itu.

Isu pertama yang para ilmuwan dari Universitas Iowa (negara bagian dengan produksi babi paling banyak) identifikasi adalah, ketika tubuh babi terlalu panas, tubuh mengarahkan sebagian besar nutrisi dan protein yang biasanya akan digunakan untuk membangun otot guna mempertahankan sistem kekebalan mereka. Kedua, babi yang stres karena panas, menurut penelitian, cenderung makan lebih sedikit. Dan bahkan jika mereka makan lebih sedikit makanan yang dikemas dengan jumlah kalori yang sama, lebih sedikit kalori yang akhirnya dicerna untuk membangun otot dan para petani tetap berakhir dengan babi yang lebih kurus.

Petani lebih suka babi dengan berat mencapai rata-rata 270 poundsterling sebelum dijual ke pabrik pemrosesan, tetapi babi yang stres karena panas belum mencapai berat badan ideal pada waktunya untuk mengakhiri pembantaian musim panas. Jadi, para petani kehilangan uang dari penjualan babi yang kurus, maupun dari pengiriman babi untuk disembelih lebih jarang, supaya mereka punya waktu untuk mencapai berat badan. Bukan hanya ukuran babi yang terpengaruh.


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi festival makan anjing yang menuai protes di Cina:


Efek lain dari meningkatnya suhu pada ternak babi—yang tubuhnya tak mampu mendinginkan diri sebaik ternak lainnya—adalah peningkatan kesuburan, tetapi kesuburan yang menghasilkan keturunan yang lebih sedikit, dan keturunan yang juga mungkin tetap kecil.

Jadi dengan suhu yang lebih panas berarti lebih sedikit daging babi secara keseluruhan di pasar global, di mana permintaan daging babi terus meningkat. Agar petani Amerika tetap kompetitif dengan petani di, katakanlah, Cina, di mana produksi daging babi telah tumbuh stabil dua persen dari tahun ke tahun, mempertahankan produksi yang cukup untuk bisnis ekspor yang sehat sangat penting, terutama mengingat perang perdagangan saat ini berkecamuk antara kedua negara—yang sudah sangat menargetkan ekspor daging babi AS.

AS, menurut para ahli, memiliki posisi yang lebih baik untuk dapat memerangi kenaikan suhu dengan infrastruktur yang dapat membantu menjaga ternak pada suhu yang lebih nyaman. Di negara-negara berkembang dengan sarana yang kurang untuk memberi makan fasilitas makan dengan AC dan ventilasi, produksi babi kemungkinan akan mulai menurun lebih cepat dan harga global nantinya terpicu naik.

Tidak ada solusi yang mudah untuk mengatasi perubahan iklim, tetapi beberapa peneliti melihat harapan untuk menghentikan penurunan produksi peternakan yang terkait dengan peningkatan suhu ini dengan mengembangbiakkan hewan yang paling sesuai dengan panas, serta diversifikasi ternak dan produksi tanaman di lahan individu. Sayangnya gara-gara cuaca hangat di planet kita terjadi lebih lama dari normalnya, jangan kaget jika kelak harga daging dan sosis melejit.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES