Laundry Untuk Orang Miskin Terinspirasi Paus Fransiskus
Semua foto oleh penulis.
Kerja Sosial

Laundry Untuk Orang Miskin Terinspirasi Paus Fransiskus

Seruan konsisten dari pemimpin gereja katolik agar manusia menolong kaum papa telah menginspirasi layanan sosial anyar di Kota Roma.
Matteo Contigliozzi
Rome, IT
13.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia.

Paus Fransiskus—pemimpin tertinggi gereja katolik sedunia—enggak beda-beda amat dari kita orang biasa. Beliau kadang jalan-jalan keluar cuma buat beli sepatu atau kacamata baru; Beliau juga gelisah dengan perubahan iklim dan yang paling penting, beliau turut khawatir ketika Donald Trump terpilih jadi orang presiden Amerika Serikat. Mungkin kita baru berbeda, kalau sudah menyangkut rasa sayang pada orang miskin. Paus Fransiskus punya maqam jauh di atas kita, manusia biasa ini. Sejak terpilih memimpin Tahta Suci, Sri Paus langsung menyatakan perang pada kemiskinan. Tekadnya itu diwujudkan melalui gelar paus yang ia pilih. Fransiskus, sebutan paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini, diambil dari nama Santo Fransiskus Assisi yang memilih hidup miskin. Lebih dari itu, Sri Paus ingin gereja katolik menjadi "gereja miskin untuk kaum papa."

Iklan

Jadi tidak perlu heran deh kalau setiap kali Paus Fransiskus minta umatnya memberikan pertolongan, mereka akan mendengarkan permintaannya. Terinspirasi oleh anjuran Paus untuk menunjukan "kasih sayang sejati" selama Jubilee of Mercy (pemberian belas kasihan di tahun Yobel), Community of Sant'Egidio—sebuah organisasi katolik yang memberikan bantuan bagi mereka yang tak beruntung dari segi ekonomi dan sosial—mendirikan "Binatu Paus Fransiskus". Kalian bisa menemukan laundry ini di bagian selatan kota Vatican, atau tepatnya di jantung kawasan Trasvere Ibu Kota Roma Italia. Dikelola sukarelawan, 'Pope Francis Laundrette' menyediakan layanan cuci baju gratis bagi kaum tunawisma.

Saya kebetulan bisa mengunjungi fasilitas ini di hari pembukaannya. Saya ingin melihat sejauh apa sumbangsihnya pada komunitas di sekitarnya.

Tatkala saya sampai, tempat itu sudah dikerubuti belasan jurnalis. Beruntung Carlo Santoro, manajer tempat itu, masih punya waktu mengajakku berkeliling. Fasilitas 'Pope Francis Laundrette' memiliki 12 mesin cuci dan pengering yang disumbangkan oleh pelaku bisnis setempat. Carlo menjelaskan panjang lebar setiap harinya pasti ada sukarelawan yang datang untuk melayani para pelanggan yang membutuhkan

Carlo mengantar para jurnalis berkeliling laundry.

"Roma adalah kota yang keras bagi kaum miskin, jadi niat baik seperti laundry ini bisa diartikan sebagai teguran yang kuat dan penting." ujar Carlo. "Binatu ini mengingatkan bahwa tak semua orang bisa seberuntung kita dan beberapa orang di luar sana berjuang mendapatkan hal-hal yang kita anggap sepele. Menemukan baju yang bersih untuk dipakai bisa jadi suatu yang sukar dilakukan bagi kaum tunawisma. Hal yang sama mereka rasakan ketima mencoba mencari toilet bersih. Bar-bar di sini bahkan sering melarang mereka masuk."

Laundry kaum miskin pertama kali Tahta Suci Vatikan menggagas iniatif semacam ini. Pada tahun 2015, Vatican membangun fasilitas yang memberikan layanan cukur dan mandi gratis bagi kaum tunawisma serta sebuah pusat layanan kesehatan. Inisiatif-inisiatif ini merupakan bagian dari usaha yang lebih luas untuk menyediakan layanan yang biasa susah diakses oleh kaum tunawisme. Carlo sendiri mengatakan bahwa keputusan menamai tempatnya sabagi Binatu Paus Fransiskus sebagai sebuah langkah yang logis. "Setiap orang bisa membantu ornag lain yang kurang beruntung."

Mesin cuci dan pengering hasil sumbangan pelaku bisnis setempat.

Setelah berkeliling, saya ngobrol dengan salah satu sukarelawan—mantan guru yang menolak disebut namanya. Perempuan ini—seperti sukarelawan lain di binatu tersebut—bekerja riang dan sangat ramah. Saya bertanya pekerjaan apa saja yang dilakukannya di Binatu Paus Fransiskus.

"Aku enggak suka kata "kerja"" ujarnya. "Karena kesannya aku kerja terus dapat upah." Dia lantas menjelaskan bahwa kita tak bisa memberi harga pada apa yang kita terima lantaran menolong mereka yang membutuhkan.

Mantan guru yang kini jadi malaikat berwujud manusia membantu di binatu

Selain awak media dan para sukarelawan, ada tiga orang tunawisma yang saya temui di binatu dalam kunjungan tersebut. Rossella, hidup di jalanan bersama pasangannya, mengaku fasilitas laundry ini sangat membantunya. Setidaknya, dirinya bisa memakai baju bersih dan rapi ketika dipanggil wawancara kerja.

Terlepas dari bagaimana kalian menilai gereja katolik dan agama-agama yang terorganisir pada umumnya, Binatu Paus Fransiskus adalah inisiatif keren. Paus asal Argentina itu mungkin hanya manusia yang tak berbeda dari kita semua untuk urusan duniawi. Tapi kalau sudah berurusan dengan menolong kaum papa dan menggagas inisiatif layanan sosial, beliau patut jadi suri tauladan siapapun.