Caraku Bertahan Hidup Sebagai Pengidap Kepribadian Ganda
Foto ilustrasi © David Brandon Geeting
Kesehatan Mental

Caraku Bertahan Hidup Sebagai Pengidap Kepribadian Ganda

Kalian pasti sulit membayangkan rasanya kehilangan kepribadian pelan-pelan seperti yang kualami.
15.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Hingga usia 40 tahun, Melanie Goodwin tidak memiliki memori sebelum dia berumur 16. Saat itu, sebuah tragedi keluarga menyulut perubahan psikolog yang hebat. Tiba-tiba dia sadar ada banyak identitas di dalam diri, dan garis pembatas di antara mereka mulai runtuh. Identitas yang berbeda-beda ini semuanya milik Melanie, tapi dari berbagai umur yang berbeda, mulai dari 3 tahun, 16 tahun, hingga dewasa.

Iklan

Umur-umur barusan bukan umur acak. Ditengah hiruk-pikuk suara yang berbeda dalam kepala, muncul memori pelecehan anak, pertama kali terjadi ketika dia berumur tiga tahun, dan terakhir saat masih berumur 16. "Saya tidak punya bukti," kata Melanie. "Mau tidak mau saya harus mengikuti ingatan dan realita saya."

Melanie menginap gangguan kepribadian ganda yang kini lebih sering disebut dissociative identity disorder (DID). Perubahan nama ini merefleksikan pemahaman bahwa bukan hanya kepribadian yang berubah. Ingatan, kelakuan, kebiasaan, dan umur identitas semuanya sangat mungkin berubah.

"Kami"—Melanie biasa menggunakan kata tersebut—memiliki banyak sisi dewasa. Namun karena kami tidak tumbuh secara alami, kami harus memperbarui diri…Ada sekitar sembilan pribadi dewasa yang berbeda, masing-masing mengatur satu tahap kehidupan dewasa bebas-pelecehan."

Sebagai usaha menghadapi pengalaman traumatis, seorang anak kemudian 'mendisosiasikan' cara pikir—atau membelah kepribadian—menjadi beberapa bagian.

Menurut Melanie, mengidap DID seperti "neraka". Ini semacam breakdown dari aspek kehidupan sehari-hari yang kerap kita acuhkan—kesadaran sebagai seorang individu. Bagi Melanie, kesadaran bahwa ada banyak identitas dalam dirinya sangat melelahkan. Gimana bisa dia mengakomodasi setiap identitas?

Melanie berbicara sambil duduk di sofa dalam sebuah ruang konsultasi yang sunyi di Pottergate Centre for Dissociation and Trauma di Norwich, Inggris. Tempat ini dijalankan oleh Remy Aquarone, seorang psikoterapi analitis dan mantan direktur International Society for the Study of Trauma and Dissociation.

Iklan

Selama lebih dari 30 tahun karirnya, Aquarone telah bekerja dengan ratusan penderita gangguan disosiatif. Kebanyakan kasus, jelasnya, melibatkan sejarah pelecehan masa kecil, biasanya dimulai sebelum umur 5 tahun.

Sebagai usaha untuk menghadapi pengalaman traumatis, teori mengatakan, si anak 'mendisosiasikan'—membelah diri menjadi beberapa bagian. Satu bagian menyimpan pengalaman pelecehan dan dampak emosional dan fisik buruk yang terjadi karenanya sementara bagian lainnya menjalani kehidupan paska pelecehan. Ada juga kasus dimana satu bagian menyimpan pengalaman pelecehan, bagian lain aktif sebelum tidur, dan bagian lainnya lagi aktif di pagi hari. Apabila pelecehan berlangsung bertahun-tahun, dan ada skenario atau pelaku khusus terlibat, maka bisa semakin banyak cabang dari identitas.

Disosiasi inilah yang membuat sang anak bisa terus bertahan hidup. Faktanya, "Disosiasi adalah sistem adaptasi paling ampuh. Di sini, anda menggunakan kognitif untuk mengadaptasi cara berpikir dan berperilaku agar anda merasa lebih aman," kata Aquarone.

Semua foto ilustrasi oleh David Brandon Geeting.

Berikut penjelasan Melanie: "Kalau kamu berada di dalam situasi yang sulit, disosiasi harus dilakukan untuk bisa bertahan hidup. Trauma bisa membekukan seseorang. Dan karena trauma terjadi berulang-ulang kali, ada banyak memori-memori kecil dalam hidup yang membeku."

Tidak semua yang mengalami pelecehan di masa kecil—atau trauma besar lainnya—otomatis mengidap gangguan disosiatif. Berdasarkan pengalamannya, Aquarone mengatakan ada satu faktor kritikal yang juga terlibat: absensi ketergantungan yang sehat terhadap orang dewasa.

Iklan

Dalam bidang psikologi pengembangan, 'ketergantungan' memiliki makna yang spesifik: Ikatan yang terbentuk antara balita dan sosok dewasa yang mengurus anak tersebut, secara emosional dan praktek, dan juga menolong sang anak belajar merespon. Tanpa ikatan ini—entah karena kematian, diabaikan, atau pelecehan—sang anak akan mengalami trauma berusaha mengurus dirinya sendiri.

Membicarakan mereka-mereka yang mengidap DID, Melanie mengatakan: "Ketika masih kecil, kami tidak mengenal konsep orang tua secara metaforikal menggendong dan membantu kami mengurus diri."

Anak-anak yang memiliki ketergantungan yang sehat cenderung bisa lebih baik menghadapi hidup, kata Wendy Johnson, seorang profesor psikolog di University of Edinburgh. "Pertama, mereka lebih mahir menghadapi orang lain. Hubungan sosial mereka cenderung lebih mulus. Mereka cenderung digaji lebih besar, lebih dihargai dan dikenal oleh orang lain, dan lebih jarang berantem. Mereka juga cenderung lebih mulus menjalani hidup, jadi lebih bisa menikmati."

Tentunya ini bukan berarti kepribadian kita secara tetap terbentuk di masa kecil. Lingkungan yang stabil, dalam hal hubungan sosial dan pekerjaan membantu menjaga kepribadian yang juga stabil. "Lingkungan yang stabil akan mendorong kita untuk hidup lebih stabil juga," jelas Johnson. Tapi ketika pengaruh-pengaruh eksternal ini berubah, kita juga bisa berubah.

Menjadi orang tua, kehilangan pekerjaan—peristiwa-peristiwa besar hidup semacam ini bisa menimbulkan perilaku yang mengejutkan, termasuk perubahan sifat seperti ketelitian dan ekstraversi. Tidak heran banyak anak baru dewasa yang kerap mempertanyakan identitas, tambah Johnson, karena mereka biasanya berada dalam fase ketika banyak hal—rumah, lingkungan, teman—mengalami perubahan.

Iklan

Tanpa rasa harmonis yang dibawa oleh ketergantungan dan stabilitas, identitas disosiatif bisa membuat kepribadian seseorang melenceng kemana-mana. Melanie memiliki identitas yang anoreksik, identitas lainnya pernah mencoba bunuh diri akibat rasa sakit yang luar biasa. Identitasnya yang berumur tiga tahun mudah takut oleh hal-hal yang mengingatkannya akan trauma masa lalu—seperti bau badan atau cara berjalan seorang lelaki—dan dalam situasi ini, dirinya membeku atau mencari tempat bersembunyi. Sebaliknya, identitasnya yang berumur 16 tahun justru kadang genit.

Tidak heran Melanie berubah-ubah perilakunya tergantung identitas mana yang memegang kendali. Dia bukan mencoba meniru perilakunya ketika berumur tiga tahun, atau bahkan ingat seperti apa rasanya berumur tiga tahun. Dia itulah Melanie yang berumur tiga tahun—sampai identitas lain mengambil alih.

Karena memori satu identitas kadang tidak bisa diakses identitas lain, beberapa pengidap DID 'kehilangan' banyak ingatan waktu—mereka merasa seakan-akan ingatan mereka meloncat-loncat secara waktu, bisa beberapa hari, bahkan beberapa minggu. "Ada yang tiba-tiba berselingkuh. Ya tapi bukan niatnya begitu sih, mereka gak inget aja mereka udah menikah," jelas Melanie.

Bagi Melanie, efeknya adalah memori linimasa yang kacau: "Ketika masih bayi, anda dilahirkan dan anda memiliki linimasa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup. Kalau ingatan anda rusak, linimasamu juga kacau."

David Brandon Geeting

Memorinya juga semakin tumpul akibat ada usaha untuk menahan reaksi emosional normal—yang sesungguhnya penting, jelas Melanie dan Aquarone, untuk membantu seseorang menghadapi trauma parah. Namun kekakuan emosi ini terus berlanjut bahkan ketika pelecehan sudah berhenti dan menjadi bagian dari cara kerja otak Melanie. "Saya sadar saya sudah menikah," katanya, sebagai contoh. "Tapi bukannya merasakan, saya lebih ingat menonton dan mengobservasi pernikahan saya sendiri."

Pengidap gangguan disosiatif dilaporkan sering merasa superfisial, kata Aquarone. "Dan sebetulnya ini gak salah juga, karena esensi mereka ditahan di dalam diri." Bagi kebanyakan dari kita, ingatan, dibantu oleh emosi yang kita rasakan id saat itu, menyediakan semacam rantai pribadi yang menjalar hingga masa kecil, dan memberikan kira rasa kesinambungan. "Saya bisa mengingat kelakuan saya di masa remaja, misalnya," katanya, "dan mengerti gambaran besar diri…Harga mahal yang harus dibayar penderita disosiasi adalah tidak tersedianya pelacakan diri ke belakang." Ingatan bersama orang lain, entah keluarga atau teman lama, bisa membantu menguatkan rasa kesinambungan diri. Namun masalah dengan mengandalkan koneksi dengan orang dari masa lalu, adalah, mereka bisa saja pindah tempat tinggal—atau meninggal.

Iklan

Keuntungan psikologis dari kepercayaan terhadap agama, hubungan seseorang pada Tuhan, dan semua memori yang terlibat, semua itu membantu anda melacak identitas dari masa kecil hingga masa tua dimanapun anda berada. Sesuai penjelasan Aquarone, "Iman adalah sesuatu yang tidak bisa direnggut—tidak peduli di mana anda berada."

"Saya saat pergi akan berkemas dalam tiga atau empat tas, karena setiap identitas perlu membawa barang mereka masing-masing."

Ada banyak cara lain untuk membantu diri anda sekarang berhubungan dengan diri di masa lampau. Psikolog dulu menyangka nostalgia—penggunaan memori untuk menggali masa bahagia di masa lalu—itu bersifat negatif dan berbahaya. Tapi sekarang ada penelitian yang menyatakan ini salah. Faktanya, justru nostalgia mendukung rasa kesinambungan diri, dan meningkatkan ikatan anda dengan dunia.

Identitas diri yang konsisten sepanjang waktu membantu seseorang mencari jalan hidup, dan dunia sosial khususnya. Namun apabila identitas ini bisa diperkuat—dan diperlemah—oleh pengalaman, atau bahkan hilang akibat DID, apa iya ini refleksi diri anda sesungguhnya?

"Ingat film musikal legendaris 'Grease', ketika Sandy Sheds mendadak berubah dari pemudi alim menjadi gadis nakal yang memakai baju berbahan kulit dan getol menggoyang-goyangkan pinggul. Jelas, perbuatan nakal tersebut benar-benar dilakukan oleh Sandy. Tapi semuanya hanyalah lakon yan dimainkan Sandy untuk mendapatkan pengakuan dari teman-temannya. Itu bukan Sandy."

Iklan

Kasus ini ditegaskan dalam ulasan makalah yang dibuat oleh Nina Strohminger dan kolega-koleganya di Yale Universitas menyangkut konsep "diri yang sesungguhnya," yang tak hanya terkait dengan penderita DID tapi semua orang di bumi ini.

Atau, Strogminger memberikan contoh, coba bayangkan seorang yang amat relijius namun ternyata punya dorongan homoseksual. "Agama yang dia anut melarangnya menuruti hasrat itu..jadi saban hari dia terus bertarung dengan impuls itu," jelas Strohminger. "Mana pribadi asli pria itu? pria yang melawan hasrat homoseksual atau pria yang memiliki hasrat itu?"

Jawabannya, menurut temuan Strohminger, tergantung pada siapa yang kita tanyai. "Kalau kamu bertanya pada mereka yang berpikiran liberal, maka jawabannya adalah pria yang memiliki hasrat homoseksual itu. tapi coba tanya kaum konservatif, berani taruhan kalau mereka bakal menjawab 'tentunya bagian dari dirinya yang ingin menahan hasrat terlarang itu.' jadi sudut pandanganya, tergantung nilai yang kita pegang. Kalau kita percaya menjadi gay itu bukan masalah sama sekali, kita tak akan melihat bahwa ada yang tak beres dengan hasrat terlarang itu."

Sepertinya, Strohminger belum pernah membaca hasil penelitian yang mencakup jawaban dari orang yang dilanda konflik internal seperti ini. "Namun, dari semua yang saya amati, prediksinya adalah apapun yang kita proyeksikan pada orang lain, bakal jadi standar yang kita junjung. Tapi ingat, saya ini psikolog bukan pakar metafisika." imbuhnya, "tapi kalau ingin mengambil simpulan yang berbau metafisika, kamu harus terlebih dulu mengerti bahwa ketika seorang yang normal atau orang pada umumnya berpikir tentang identitas dirinya, atau identitas orang lain, semuanya berdasarkan nilai yang mereka pegang dan kondisi di sekitar mereka."

Iklan

Dengan kata lain, semuanya relatif.

Kendati demikian Strohminger menemukan bahwa ada satu aspek dalam pola tingkah lalu seseorang yang secara konsisten dianggap sebagai bagian terpenting identitas seseorang—bahkan lebih penting dari memori, atau fakta apakah mereka ekstrover atau introvert, kalem atau gampang naik darah.

Dia memulainya dengan melakukan serangkaian eksperimen pikiran. Dalam salah satunya, dia menanyai sukarelawan untuk membayangkan orang lain berubah-ubah dalam berbagai cara. Mereka menjawab bahwa perubahan sikap moral mereka—jujur jadi culas, setia jadi khianat dan sebagainya—yang mereka ras sebagai perubahan yang paling kentara.

David Brandon Getting

Selanjutnya, Strohminger kemudian meneliti keluarga penderita Demenstia, yang tak hanya bisa menyebabkan kehilangan ingatan namun juga perubahan kepribadian dan kompas moral (perubahannya kadang bersifat negatif, ada yang mendadak menjadi tukang kibul patologis. Ada juga yang berubah jadi jauh lebih ramah dan baik). Anggota keluarga pengidap demensia ini mengatakan bahwa bukan hilangnya ingatan yang bikin anggota keluarganya jadi "orang lain", melainkan perubahan kompas moral mereka.

"Umumnya, moralitas tak begitu diperhatikan dalam penelitian akademis tentang identitas personal. Malah, ingatan dan karakteristik distingtif, seperti kepribadian kita, yang membentuk diri kita," ujar Strohminger. "Penemuan kami berlawanan dengan pemikiran yang berkembang di ranah filsafat dan neuropsikologi."

Iklan

Melanie berujar bahwa beberapa bagian dari dirinya memiliki kompas moral yang berbeda. Namun, Melanie berhasil merunut ulang perbedaan ini dan menemukan bahwa ini ada kaitannya dengan berbagai pengalaman hidup yang dialami tiap bagian dirinya atau juga karena keterikatan dengan masa lalu ketika beberapa kepribadian tertentu muncul.

Sebenarnya, kompas moral pada orang normal pun bisa berubah, seperti dikatakan Wendy Johnson. "Aku percaya bahwa ada orang yang sadar bahwa dia berbuat salah, atau orang yang tahu bahwa dirinya bakal jadi berbeda dengan kawanannya dan memutuskan untuk jadi berbeda," ujarnya.

Bagian paling penting dari hati kita—setidaknya seperti itu orang mengiranya—bisa berubah. Ini berarti bahwa imej diri yang solid dan ajeg yang kita miliki sebenarnya adalah ilusi yang memungkinkan kita menghindari masalah mental gara-gara memiliki identitas lebih dari satu. Dan seperti yang dialami Melanie dan penderita DID lainnya, ilusi ini memainkan peranan yang sangat vital.

Sekitar empat tahun setelah beberapa bagian dirinya benar-benar muncul, Melanie, yang kala itu bekerja sebagai pustakawan, mulai membaca buku The Flock karangan Joan Frances Casey. Lantas, Melanie pun sadar—seperti Casey—bahwa dirinya adalah pengidap DID.

Melanie lantas membahas kemungkinan ini bersama suaminya yang sudah hidup bersamanya selama 20 tahun. "Dia bilang, 'kalau dipikir sih ada benernya juga.' karena kata suami saya suatu hari dia bertanya 'kamu mau kopi enggak? Dan saya jawab. 'Tentu, aku kan suka kopi.' lalu besoknya, dia nanya lagi 'kamu mau kopi enggak?' kali ini saya jawab 'kamu kan tau aku gak minum kopi. Aku alergi kopi.' kepribadian saya yang berumur 16 tahun tak suka kopi dan aku doyan kopi. Suami saya tak pernah siapa yang akan dia temui sepulang ke rumah. Saya sebelumnya enggak pernah ngerti apa maksudnya."

Bukankah mencengangkan bagaimana Melanie bisa berumah tangga begitu lama dengan seorang pria yang tak pernah tahu ada kepribadian lain dalam diri istrinya? "[sekarang] dia berpikir 'kok aku ga sadar ya'..tapi dia sangat mencinta saya. Lagian, saya ibu yang baik..setidaknya aku pintar meniru orang lain bersikap." tak seperti penderita DID lainnya, Melanie tak pernah merasa punya kepribadian yang dominan yang umurnya sama dengan umur biologisnya. Bisakan kita mengatakan bahwa Melanie yang sesungguhnya bukanlah anak tiga tahun yang gampang sakit, atau gadis 16 tahun yang suka flirting, juga bukan nenek 64 tahun yang duduk di ruang konsultasi Remy Aquarone yang curhat tentang bahwa keberadaan yang berbeda dari orang lain?

Tindakan perawatan yang benar akan punya dampak yang berarti. Langkah pertama yang harus diambil adalah mendiagnosa gangguan kepribadian ini dengan benar, karena gejala DID bisa sangat beragam. Seorang pasien yang mendengarkan suara kepribadian lainnya bisa diangap mengidap skizofrenia; orang yang moodnya berganti-ganti dari riang menjadi galau dengan ekstrem bisa disangka mengalami gangguan bipolar. Mereka yang sembunyi karena kepribadian mereka yang beumur tiga tahun ketakutan bisa dikira mengalami episode psikotik. Sementara, seorang yang kondisi mentalnya berubah-ubah bisa saja ditengarai memiliki borderline personality disorder.

Di Inggris Raya, setidaknya DID adalah diagnosa kontroversial. DID masuk dalam buku panduan dasar psikiatris di seluruh dunia ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, diproduksi oleh American Psychiatric Association, dan International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, diproduksi oleh World Health Organization). Namun pada praktiknya, Aquarone bilang, masih ada keengganan di antara psikiatris untuk menerima hal tersebut. DID kini diperkirakan mempengaruhi mungkin satu persen orang (kira-kira sama dengan tingkatan pengidap skizofrenia), namun ada klaim-klaim sekptis bahw amungkin pasien-pasien sekadar mencoba-coba identitas berbeda, dan kerentanan terhadap fantasi tersebutlah yang menjelaskan kelainann ini. Hasil brain imaging mendukung ide bahwa orang-orang dengan DID tidak sedang akting, dan ada beberapa penelitian yang melawan klaim tersebut. Pada 2016, misalnya, sebuah tim di King's College London menerbitkan sebuah penelitian terhadap 65 perempuan termasuk beberapa yang terdiagnosa dengan DID. Mereka menyimpulkan bahwa perempuan dengan DID tidak lebih rentan terhadap fantasi, atau lebih mudah disugesti, atau lebih mungkin memiliki ingatan keliru, jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan tanpa diagnosis. Menurut para penulis, hasil ini menantang inti hipotesis 'model fantasi'. Kini Melanie adalah seorang direktur di First Person Plural, sebuah asosiasi kelainan identitas disosiatif, dan dia sering ngobrol dengan psikologis, psikiatris, dokter, dan perawat, menyebarkan berita bahwa DID nyata. Dia dan Aquarone baru-baru ini membantu menyelenggarakan konferensi pertama soal layanan tersebut untuk orang-orang pengidap disosiasi terkait trauma—konferensi ini menghadirkan dokter rumah sakit swasta maupun relawan. Salah satu tantangan terbesarnya, menurut mereka, butuh waktu berbulan-bulan dengan seorang spesialis bidang kelainan disosiatif untuk membantu seorang pasien.

David Brandon Geeting

Ini adalah jenis terapi yang dapat mengubah segalanya bagi Melanie, ujarnya. Ketika batasan antara bagian-bagian diri ini mulai runtuh, dia kewalahan. Dibutuhkan hubungan kuat dengan seorang terapis yang bisa membantu bagian-bagian diri ngobrol satu sama lain dan menghargai satu sama lain, supaya "perang" dalam dirinya bisa mereda. Selama sepuluh tahun setelah identitas-identitasnya mulai berkecamuk, Melanie merasa mustahil mengelola apapun di samping hal-hal fundamental dalam hidup. Lalu, sebagaimana dia belajar untuk mendengarkan bagian-bagian ini dan kisah-kisah yang mereka miliki, "Kami belajar membagi satu hidup bersama-sama." Ketika dia merasa mampu mulai pergi-pergi dengan suaminya, identitas anak kecil dalamnya akan membantunya mengumpulkan kebutuhannya. "Semua orang akan membantu. Jadi kami akan mengambilnya untuk si anak kecil, seperti boneka beruang dan selimut, dan saya akhirnya berkemas dalam tiga atau empat tas, karena setiap identitas perlu membawa barang mereka masing-masing." Namun tetap saja, jika mereka sampai tujuan dan mendapati dia tidak memiliki pakaian yang tepat untuk momen itu, salah satu identitasnya bisa mengamuk. Dalam sebuah kesempatan, bisa saja si anak berusia delapan tahun yang muncul ke permukaan kesadaran, atau 16 tahun, dan mereka menolak keluar kamar kecuali bisa berpakaian sesuai umurnya. Pada satu titik, dia sempat pernah mengizinkan identitas berusia 16 tahun "mengenakan pakaian," dia sebut begitu, dan pergi ke perpustakaan tempatnya bekerja: "Kami akan naik sepeda, karena anak usia 16 tahun tidak diizinkan menyetir." Ini adalah sebuah pemahaman bahwa si orang dewasa bisa saja bekerja di kantor seharian, lalu malam hari adalah untuk identitasnya yang lebih muda. "Mereka boleh melakukan yang tak bisa mereka lakukan di siang hari—dari yang paling kecil makan cokelat dan nonton Teletubbies, atau membuat sesuatu, bermain dengan boneka beruang, dan lain-lain. "Seiring waktu, kami mulai menyadari bahwa segala hal terjadi secara utuh," ujarnya. Dalam sebuah situasi mengancam, mungkin seseorang yang masuk ke perpustakaan bisa memicu ingatan-ingatan buruk. "Saya akan ngomong sama si kecil, 'Tenang ya, saya akan jagain kamu. Kamu akan aman. Perpustakaan ini aman. Tolong biar saya aja yang urus, supaya bisa tahu apa kita dalam bahaya. Pun kita dalam bahaya, izinkan saya yang menanganinya.'"
Kini, semua bagian identitas saya masih ada, dan mereka hidup berdampingan. "Kami tidak satu, tapi kami semua sepakat untuk hidup harmonis bersama-sama," ujar Melanie. "Setidaknya sejauh ini semuanya lancar-lancar saja."

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Wellcome di Mosaic dan diterbitkan ulang di Tonic atas lisensi Creative Commons.