Perang Mobile Game

Tubirnya Bubar Euy, Pengembang PUBG Cabut Gugatan Terhadap ‘Fortnite’

Gugatan yang dilayangkan PUBG Corporation kepada Epic Games tak lagi terdaftar di Pengadilan Korea Selatan. Padahal ada orang yang menantikan dua produsen game mobile gede itu kelahi lho.
28.6.18

Pengembang game PlayerUnknown’s Battlegrounds, akias PUBG, secara resmi mencabut gugatannya terhadap Epic Games, perusahaan game pencipta game Fortnite.

PlayerUnknown's Battlegrounds, atau dikenal luas dengan sebutan PUBG, adalah game shooting bergenre battle royale yang melahirkan banyak sekali epigon. Januari lalu, PUBG menggugat Epic Game lewat pengadilan Korea Selatan lantaran perusahaan pembuat game shooting free-to-play Fortnite itu telah menjiplak PlayerUnknown's Battlegrounds. Kendati memiliki konsep yang mirip PUBG, Fortnite tak kalah terkenal dan mempunyai pemain-pemain yang fanatik. "Kami mengajukan gugatan ini Januari lalu guna melindungi hak cipta game kami,” ujar salah satu perwakilan PUBG yang menolak menyebutkan namanya kepada The Korea Times saat gugatan terhadap Epic Games resmi diajukan.

Seperti yang dilansir dari Bloomberg, gugatan tersebut sudah resmi dicabut. Berkas gugatan PUBG tak lagi bisa diakses melalui internet. Kabar pencabutan gugatan itu ditegaskan lewat keterangan yang tertera dalam sistem pengadilan Korea Selatan yang mengatakan bahwa kasus itu sudah ditutup. PUBG Corporation juga mengonfirmasi kebenaran berita tersebut dan menyatakan bahwa mereka sudah mengirimkan surat pencabutan gugatan pada tim pengacara Epic. Gugatan PUBG diajukan di Korea Selatan karena negari ginseng itu memiliki undang-undang privasi yang lebih ketat dibandingkan undang-undang serupa di Amerika Serikat.

Alhasil, tak semua detail kasus gugatan ini diketahui oleh pihak ketiga di samping penggugat dan tergugat. Yang bisa diakses oleh publik hanyalah berkas berisi informasi mendasar tentang kasus tersebut.

Iklan

Epic menolak menolak memberi komentar menyangkut pencabutan gugatan terhadap mereka. Sementar itu, baik Bluehole maupun PUBG Corporation, sampai artikel ini dimuat, tak membalas permintaan wawancara yang kami kirimkan.

PlayerUnknown's Battlegrounds memperkenalkan genre baru shooting game. Dalam game ini, semua player—baik yang bermain solo atau beregu—bersaing menjadi pemain terakhir yang tetap hidup di sebuah map yang luas. PUBG sempat menikmati puncak kejayaannya sebelum sejumlah game yang mirip atau yang jelas-jelas menjiplak konsep PUBG mulai merongrong domain ini. Salah satu kompetitor terberat PUBG adalah Fornite, game shooter buatan EPIC yang sama-sama mengambil genre battle royale. Yang membedakannya dari PUBG adalah Fortnite adalah fitur pendirian markas. Kini, Fornite merupakan salah satu game paling banyak dimainkan di seantero jagat, jauh mengalahkan popularitas PUBG. Bulan Mei tahun ini saja, Fornite berhasil mengeruk keuntungan sampai $318 juta (sekitar Rp4,5 miliar).

Seiring makin populernya Fornite dan game sejenisnya. PUBG mulai melayangkan gugatan kepada Epic. Tak tanggung-tanggung, PUBG juga mengincar game-game epigon butut berbasis ponsel pintar dari Cina. Dalam gugatannya, PUBG mengklaim memegang hal intelektual atas semua aspek yang dicolong game-game kw ini dari game mereka, mulai wajan dalam hingga frase “Winner Winner, Chicken Dinner” (kalimat yang muncul saat seorang pemain memenangkan satu game dalam PUBG). Kamu bisa membaca keseluruhan keluhan PUBG di sini. Pastikan kamu punya cukup waktu luang untuk membacanya. Maklum, kumpulan keluhan PUBG ini panjang sampai 155 halaman.

Sebenarnya, PUBG sudah mulai mengeluh tentang betapa konsep game mereka sering dijiplak oleh para pesaing jauh sebelum mereka menggugat Epic. Dalam sebuah rilis pers yang dikeluarkan pada September 2017, Bluehole, developer yang bertanggung jawab atas desain dan coding PUBG, menuding Epic terang-terangan menjiplak sistem PUBG.

“Setelah mendengarkan feedback dari komunitas pemain PUBG dan menelaah Fortnite dengan saksama, kami khawatir bahwa Fornite berusaha meniru pengalaman bermain game yang membuat PUBG populer," kata Chang Han Kim, perwakilan Bluehole dalam pernyataannya.

Iklan

“Kami juga menemukan bahwa Epic Games membawa-bawa nama PUBG saat mempromosikan Fortnite serta dalam keterangan yang mereka berikan pada awak media. Kami tak pernah diajak berdiskusi tentang hal ini dan menurut kami, ada yang salah dengan proses ini.”

Pada bulan Desember 2017, pencipta PUBG Brendan Greene mengatakan kepada BBC bahwa industri video game memerlukan perlindungan hak cipta yang lebih ketat. "Tak ada perlindungan hak intelektual dalam industri video game,” katanya. “Banyak game keren yang tidak diketahui banyak orang. Lalu, ada yang mencontek idenya. Kebetulan orang ini punya budget marketing yang besar. Tiba-tiba saja, game contekan mereka meledak di pasaran. Ini yang menurut saya harus diperhatikan oleh pelaku industri video game.”

Pencipta PUBG boleh saja berang gara-gara genre battle royale di pasaran dan sejumlah game shooting meraup keuntungan lebih besar dari mereka. Namun, pada kenyataannya, PUBG bukanlah perusahaan game pertama yang mempopulerkan genre ini. Tren battle royale populer di Negeri Paman Sam karena suksesnya The Hunger Games, tapi pencetus genre ini sesungguhnya adalah novel jepang berjudul Battle Royale dan film adaptasi novel tersebut yang digarap oleh Kinji Fukasaku pada tahun 2000. Lalu jangan lupa, sebelum tren battle royale berjaya, sudah ada yang namanya pro wrestling. Intinya sih, kita tak bisa mematenkan sebuah genre, seperti yang diungkapkan Ethan Jacobs, pengacara hak intelektual dari Holland Law LLP, San Francisco, lewat sambungan telepon.

“Game dan mekanika game memang tak dilindungi oleh hak cipta,” terang Jacobs. “PUBG Corporation, berdasarkan undang-undang yang berlaku di AS, tak punya hak mengklaim kepemilikan hak cipta atas aspek-aspek yang dijiplak game lain dari PUBG.”


Tonton dokumenter VICE mengenai atlet e-sport yang menjalani hidup bak selebritas:


Hal ini menjelaskan alasan PUBG ngotot membawa kasus ini ke pengadilan Korea Selatan, bukannya di AS.

“Undang-undang hak cipta Korea Selatan jauh lebih ketat dari aturan di AS,” ungkap Ryan Morrison, pengacara hak intelektual dari Morrison/Lee yang banyak menangangi kasus-kasus gugatan di ranah video game. “Korea Selatan memiliki prosedur penindakan kasus pelanggaran hak cipta paling melek internet di seluruh dunia.”

Pada 2009, pemerintah Korea Selatan mengesahkan sebuah beleid yang memungkinkan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata menghabisi produk tiruan dari internet dan memblok akses pengguna internet menuju produk tersebut. “Jika pengadilan Korea Selatan merasa Fortnite telah melanggar hak cipta dalam industri video game, mereka bisa melarang gamer bermain game tersebut di Korea,” kata Morrison. “Saya tak bisa memperkirakan akhir dari gugatan PUBG ini (jika tidak dicabut)."

Setelah gugatan terhadap Epic Games dicabut, PUBG sepertinya akan kehabisan cara untuk membendung Fortnite. Artinya, dalam waktu dekat Fornite siap meraih tahta sebagai game paling kesohor di muka Bumi.